
Minggu pagi di ruang makan kediaman keluarga Aditama nampak sepi. Monica yang akan keluar jalan-jalan dengan teman-temannya nampak sudah selesai menghabiskan sarapannya. Saat ia akan beranjak pergi, sang kakak justru berjalan ke arahnya.
" Tumben kak Devan hari Minggu gini sudah bangun ", batin Monica.
" Kamu mau keluar ? ", tanya Devan pada adiknya.
" Iya kak, aku sudah minta ijin kok sama mama papa ",
" Mereka kemana ? ",
" Kata mbok Siti pagi-pagi mamah sama papah keluar kota di antar pak Salim ", jawab Monica yang sudah menggamit tasnya.
" Aku pergi dulu ya kak, bye ",
" Hemm ", jawab Devan yang menatap adiknya berlari keluar karena mendengar suara klakson dari depan.
Devan jadi kepikiran dengan omongan Monica barusan. Kemana kedua orang tuanya itu pergi ? Tidak biasanya mereka pergi terburu-buru tanpa pamit seperti ini. Karena suasana meja makan yang sepi, membuatnya tidak bersemangat menyantap sarapannya.
Setelah menghabiskan sarapannya dengan susah payah Devan beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya lagi. Entahlah hari ini ia tidak bersemangat melakukan apapun.
Sesampainya di dalam kamar ia segera merebahkan kembali badannya di atas kasur. Kedua tangannya ia jadikan bantalan kepalanya. Manik matanya menerawang menatap langit-langit kamar.
Sudah seminggu ini Devan tidak menghubungi Dewi. Ia terlalu malu mengakui bahwa sampai sekarang usahanya membujuk sang mama belum juga berhasil. Sebenarnya di dalam hatinya terbesit rasa bersalah pada sang kekasih. Namun ia tidak ingin terus memberi kabar yang membuat Dewi kecewa untuk ke sekian kali.
Meski Dewi tidak pernah mengeluh menunggunya, Devan yakin di hati kecil Dewi juga sangat berharap usahanya membujuk sang mama segera berhasil.
" Wi aku kangen banget sama kamu " gumam Devan lirih. Tangannya meraih handphone di sampingnya dan menatap foto sang kekasih yang menjadi wallpapernya.
Sering sekali ia ingin kembali menyusul Dewi ke kampungnya, namun ia selalu urung melakukannya. Ia ingat betul ucapan pak Danu waktu itu. Bahwa ia tidak boleh lari dari masalah. Karena pak Danu tidak akan mengijinkan Devan menemui Dewi jika belum mendapatkan restu dari mamanya.
Pak Danu melakukan semua itu semata-mata demi menjaga hati mereka agar tidak terluka semakin dalam.
🌸🌸🌸🌸
Di kampung halaman Dewi.
" Pak Danu Bu Surti, kami mohon pamit, maaf bila kedatangan mendadak kami mengganggu aktifitas keluarga bapak ", pamit papa rehan.
" Tidak mengganggu kok pak rehan. Justru kedatangan bapak dan ibu Nabila telah membawa kabar baik buat putri kami. Terima kasih sudah menerima putri kami yang berasal dari keluarga miskin ini ",
" Bapak jangan bicara seperti itu. Kami justru beruntung mempunyai calon menantu seperti Dewi ", jawab Bu Nabila seraya mengelus bahu Dewi lembut.
" Saya pulang dulu ya wi ",
__ADS_1
" Iya nyonya, hati-hati di jalan ", kata Dewi yang di angguki mama Nabila.
" Ingat pesan saya tadi ya ",
" Baik nyonya ", jawab Dewi seraya tersenyum.
Mama Nabila dan papa rehan berjalan beriringan menuju mobil. Mama Nabila menoleh ke belakang menatap pada keluarga Dewi seraya melambaikan tangan. Setelahnya ia menghela nafas lega. Akhirnya niat baiknya sudah tersampaikan. Kini tinggal melaksanakan rencana berikutnya.
Dewi menatap mobil majikannya sampai menghilang dari pandangan. Ia masih tidak percaya jika nyonya Nabila datang ke rumahnya untuk meminta maaf sekaligus melamarnya.
" cie cie anak bapak yang hatinya sedang berbunga-bunga ", goda pak Danu pada putrinya.
" Ih bapak, apa-apaan sih ", kata Dewi sambil tersenyum malu-malu.
" Ternyata anak ibuk sudah besar, sebentar lagi akan menikah ", kata Bu Surti menatap wajah putrinya yang berseri-seri.
" Iya ya buk, padahal kayak baru kemarin Dewi itu nangis-nangis kelesotan minta boneka beruang ", kata pak Danu yang ditanggapi kekehan oleh Bu Surti.
" Ih bapak itu kan udah lama. Dewi juga masih kecil ", jawab Dewi sewot.
" Oh sekarang sudah besar, sudah mengenal namanya cinta -cintaan ", kata pak Danu seraya tertawa.
Dewi yang malu di goda terus oleh bapaknya tidak menjawab. Ia segera berlari masuk ke dalam rumah.
" Ibuk iri ya, Ibu pasti mau juga di goda sama bapak ya kan ? ", kata pak Danu sambil menarik turunkan alisnya.
" Malu pak sama umur ",
" Bu mur lagi kerja buk di Korea ",
" Umur pak bukan Bu mur ", kata Bu Surti yang geleng-geleng kepala menanggapi omongan suaminya.
🌸🌸🌸🌸
Malam harinya mama Nabila dan papa rehan sudah sampai di rumah. Saat memasuki rumah nampak anak-anaknya yang sedang menikmati makan malam.
" Mamah dari mana sih, pergi kok gak bilang-bilang ", protes Monica.
" Maaf sayang, mama tadi habis menghadiri pernikahan anak temen papa. Karena jam acaranya di majukan, jadi mama gak sempat bilang sama kalian. Soalnya rumah teman papa kamu itu di luar kota ", bohong mama Nabila.
" Mama sudah makan ? Tanya Alex lembut.
" Belum sayang ", jawab mama Nabila sambil melirik Devan yang tengah berpura-pura sibuk dengan makanannya.
__ADS_1
" Ya sudah mama mau bersih-bersih dulu ", kata mama Nabila berlalu naik ke lantai atas bersama suaminya.
.
.
Ke esokan harinya Devan pergi bekerja seperti biasa. Bahkan pekerjaannya semakin bertambah banyak karena seminggu yang lalu ia memenangkan proyek besar. Mungkin dengan menyibukkan diri akan membuat pikirannya teralihkan. Ia sudah memutuskan akan menelepon Dewi nanti malam. Ia tidak mau membuat kekasihnya itu kawatir lebih lama.
.
.
Sedang di kediaman Aditama,
nampak mama Nabila yang tengah memberi tahukan rencananya pada Monica, Tina dan Puput. Ia membutuhkan mereka untuk membantunya menyiapkan semua keperluan lamaran karena waktunya cukup singkat.
" Mama ini beneran, mama gak bohong kan ? tanya Monica tidak percaya.
" Iya sayang kemarin mama sudah kesana menyampaikan langsung pada kedua orang tua Dewi ",
" Wah mama hebat, kak Devan pasti akan shock menerima kejutan ini ", pekik Monica memeluk mamanya.
" Saya nanti boleh ikut kesana kan nyonya. Saya ingin melihat proses lamarannya ", tanya Tina yang di angguki oleh mama Nabila. Tina yang merasa senang langsung memeluk Puput di sampingnya.
" Saya juga ya nyonya ? tanya puput penuh harap.
" Boleh "
" Ye aku juga ikut mbak Tina ", kata Puput girang sambil memeluk kembali mbak Tina.
" Kapan nyonya acaranya "
" Empat hari lagi tin ",
" Apaaaa " teriak Puput, Monic dan Tina bersamaan.
" Maka dari itu mama minta bantuan kalian untuk menyiapkan semua yang di perlukan buat acara lamaran besuk itu, karena waktu kita sudah mepet ini ", kata mama Nabila.
" Mama sudah beli cincin belum. Trus ukuran buat mbak Dewi mama sudah minta ? ",
" Astaga mama lupa Monic",
" ish ish ish mama nih kebiasaan lupa dari dulu gak ilang-ilang ", kata Monica berkacak pinggang sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
* jangan lupa like, komen dan juga vote nya kakak ☺️*