Cinta Untuk Majikan Tampan

Cinta Untuk Majikan Tampan
Bab14


__ADS_3

Devan melangkah mendekat ke arah pembantunya. Dewi yang merasa takut hanya menunduk tidak berani menatap majikannya.


" Kamu mau kemana ", tanya Devan pelan di liputi rasa penasaran.


" Sa saya mau pulang kampung tuan ", jawab Dewi gemetaran.


" Kenapa ", tanya Devan. Entah kenapa ia sedikit marah mengetahui pembantunya akan pergi tanpa memberi tahu padanya.


" Apa karena saya ", tanya Devan lagi. Sontak Dewi menengadah menatap tuannya.


" Bu bukan tuan. Saya ingin pulang kampung karena bapak sedang sakit ", jawab Dewi kembali menundukkan kepalanya. Jemari-jemari lentiknya sibuk meremat satu sama lain.


Ehem ehem


Tukang ojek yang sedari tadi di anggurin pun memecah ketegangan.


" Neng cantik, ini jadinya gimana? jadi naik ojek saya nggak ?


" Jadi "


" Tidak "


Dewi dan Devan menjawab secara bersamaan membuat tukang ojek menjadi bingung sendiri. Devan segera mengeluarkan selembar uang seratus ribuan, dan memberikannya pada tukang ojek tersebut.


" Pergilah ", kata Devan, Tukang ojek itu menerimanya dengan hati yang riang, Belum juga jalan sudah dapat bayaran batinnya.


" Terima kasih tuan ", jawab tukang ojek sambil berlalu pergi kembali ke pangkalan.


" Tuan, kenapa tukang ojeknya di suruh pergi. Bagaimana saya bisa ke stasiun, saya sedang buru-buru tuan ", Dewi jadi semakin gelisah.

__ADS_1


" Saya yang akan mengantar kamu ", jawab Devan. Dewi terkejut mendengar jawaban tuannya. Devan menarik tangan Dewi menuju mobilnya.


" Tapi tuan ",


" Tidak ada tapi-tapian, jangan membantah. ini perintah dari saya ", Jawab Devan tegas membuat Dewi seketika terdiam. Ingin protespun rasanya percuma.


" Tunggu saya di sini sebentar ", Dewi mengangguk pelan. Terlihat Devan berjalan mendekat ke arah asistennya. Dari jauh terlihat Devan membicarakan hal serius pada asistennya.


" Vin, saya akan mengantar Dewi pulang ke kampungnya. Saya serahkan urusan kantor sama kamu, Nanti kalau papa menanyakan tentang saya, bilang saja saya sedang meninjau lokasi proyek baru di luar kota ", jelas Devan panjang lebar.


" Baik tuan ", jawab Kevin dengan hati yang masih diliputi pertanyaan. Ingin bertanya tapi sepertinya bukan waktu yang tepat. kemudian dia memesan taksi online untuk kembali ke perusahaan. Devan berjalan mendekat ke arah Dewi, dan membukakan pintu depan samping kemudi. Dewi yang masih linglung hanya diam mematung.


" Apakah kamu tidak ingin segera menjenguk Ayahmu", tanya Devan yang membuat Dewi tersadar dan segera masuk ke dalam mobil tuannya. Devan segera menjalankan mobilnya setelah menanyakan alamat lengkap tempat tinggal Dewi.


Di dalam perjalanan keduanya hanya diam membisu. Tiba-tiba Devan menjadi di serang rasa gugup, lidahnya kelu tidak tau harus bertanya apa.


" Terima kasih tuan ", kata Dewi memecah kesunyian. Devan menatap manik mata pembantu kesayangannya yang terlihat merah dan sembab. Ingin rasanya menyentuh pipi itu dan menghapus sisa-sisa kesedihan di wajahnya. Tapi Devan tidak mau mengulang kesalahan yang sama, dan berakhir dijauhi pembantunya lagi.


Setelah tiga jam perjalanan akhirnya mereka sampai di daerah perkampungan. Devan yang tidak tau di mana tepatnya rumah Dewi, mencoba membangunkannya.


" Dewi bangun. Dewi ", kata Devan sambil menepuk-nepuk lembut bahu pembantunya. Dewi yang terusik mengerjapkan kedua mata bulatnya. Mencoba mengembalikan kesadarannya. Astaga aku ketiduran, batin Dewi merasa sangat bersalah pada tuannya.


" Maafkan saya tuan, saya ketiduran ", kata Dewi sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


" Tidak apa-apa. Saya membangunkan kamu karena saya tidak tau arah rumah kamu. Ini kita sudah sampai di kampung yang kamu maksud ", kata Devan menjelaskan. Dewi yang mengerti pun menunjukkan arah jalan menuju rumahnya.


" Dari sini lurus saja tuan sampai mentok lalu belok kiri. Rumah saya di sisi kanan jalan ", Devan mengangguk dan kembali melanjutkan perjalanan. Setelah lima belas menit akhirnya mereka sampai di depan rumah Dewi. Devan menatap rumah sederhana di depannya. Tidak ada sesuatu yang istimewa di sana. Entah kenapa tiba-tiba hatinya mencelos. Beginikah kehidupan gadis yang ia sukai?


Dewi yang senang sudah sampai rumah segera turun meninggalkan Devan. Ia segera berlari ke arah pintu rumahnya.

__ADS_1


" Assalammu'alakum "


" Wa'alaikum salam ", jawab adik-adik Dewi dan kedua orang tuanya serempak.


" Mbak dewi ", Teriak ketiga adiknya. Melihat kakak kesayangannya pulang, ketiga adiknya pun menghambur ke dalam pelukan sang kakak. Dewi memeluk ketiga adiknya dengan erat. Menyalurkan rasa rindu yang sudah lama ia tahan. Manik matanya menatap ke arah pak Danu yang duduk di kursi ruang tamu. Dewi melerai pelukan adik-adiknya dan berjalan mendekat ke arah bapaknya duduk.


" Kenapa bapak duduk di sini. Di sini udaranya kan dingin ", kata Dewi bersimpuh di depan bapaknya. Matanya berkaca-kaca menatap raga sang bapak yang sedikit kurus dari sebelum Dewi berangkat ke kota.


" Kata ibu kamu, hari ini kamu mau pulang. Jadi bapak nunggu kamu di sini nduk bapak kangen sama kamu",


" Ya ampun pak ", kata Dewi langsung memeluk sang bapak sambil terisak-isak.


" Bapak kangen sama kamu nduk. Bapak khawatir kamu di sana tidak ada yang menjaga ", kata sang bapak yang menangis memeluk erat putri sulungnya. Ibunya yang duduk di samping mereka pun menghambur memeluk keduanya.


Devan yang sedari tadi berdiri di ambang pintu, memalingkan mukanya. menengadah wajahnya ke atas, menahan agar air matanya tidak terjatuh. Rani yang melihat Devan di ambang pintu berbisik pada sang kakak. Ridwan sang kakak memberanikan diri untuk bertanya.


" Om siapa ", tanyanya dengan wajah keheranan. Dewi yang tersadar menatap ke arah majikannya berdiri. Buru-buru ia berdiri dari lantai dan mendekat ke arah tuannya.


" Tuan maaf, saya sampai melupakan tuan ", kata Dewi sambil sibuk menyeka air matanya. Kemudian Dewi memperkenalkan Devan kepada orang tuanya.


" pak buk ini tuan Devan, majikan Dewi di kota ", pak Danu menatap lelaki yang berdiri tidak jauh darinya. Begitu gagah dan juga tampan, batinnya. Devan segera berjalan mendekat dan menyalami kedua orang tua Dewi.


" Tuan Devan terima kasih telah mengantar putri kami pulang ", kata Bu Surti.


" Iya Bu sama-sama. Saya kebetulan ada pekerjaan di dekat kampung sini. Jadi sekalian mengantarkan Dewi ", jawab Devan. Dewi menatap tuannya seakan meminta penjelasan. Devan yang di tatap Dewi hanya melengos sambil garuk-garuk tengkuknya.


" Tuan pasti lelah, menginaplah di sini. Tapi rumah kami ya begini tuan, usang dan kotor ", kata pak Danu. Ia merasa kasihan melihat majikan putrinya yang terlihat kelelahan.


" Apa tidak merepotkan ", kata Devan merasa tidak enak.

__ADS_1


" Tentu saja tidak tuan, kami malah merasa senang jika tuan bersedia ", kata Bu Surti menatap lelaki tampan di depannya. Dalam hati kecilnya, ia berdoa semoga nanti Dewi bisa mendapatkan jodoh sebaik majikannya.


" Baiklah, saya akan menginap di sini ", jawab Devan sambil melirik ke arah Dewi. Itung-itung menyenangkan hati calon mertua, batinnya sambil mengulum senyum.


__ADS_2