Cinta Untuk Majikan Tampan

Cinta Untuk Majikan Tampan
Bab 51


__ADS_3

Siang itu cuaca sangat terik, membuat orang-orang enggan beraktifitas di luar ruangan.


Di sebuah kampus ternama nampak Monica yang tengah berdiri di dekat gerbang menunggu jemputan. Kali ini ia tidak sendirian, ia meminta Nana temannya untuk menemaninya menunggu jemputannya sampai datang.


Setelah menunggu hampir setengah jam, tampak mobil yang biasa di bawa kevin berhenti di depannya.


Kevin yang berada di dalam mobil segera turun menghampiri Monica. Monica mengernyitkan dahinya karena heran kenapa kak Kevin yang menjemputnya.


" Maaf menunggu lama " kata Kevin.


" Loh kok kak Kevin yang jemput. Pak Salim kemana ? tanya Monica penasaran.


" Pak Salim sedang mengantar nyonya arisan. Tadi nyonya yang meminta saya untuk menjemput kamu ",


" Ohhhhh.. Ya sudah aku duluan ya na. Makasih sudah ditemenin ", kata Monica seraya melambaikan tangannya. Teman Monica itu juga turut membalas melambaikan tangannya.


Di sepanjang jalan nampak Monica yang diam tak bersuara. Ia lebih suka menatap keluar jendela mobil dari pada harus berbicara dengan lelaki di sampingnya. Hatinya masih sangat sakit mengingat sebentar lagi orang yang ia cintai akan bertunangan.


Kevin sesekali menatap Monica dengan sorot mata penuh tanya. Biasanya dia tidak begitu peduli dengan gadis di sampingnya. Namun melihat Monica yang biasanya ceria dan banyak tanya menjadi diam membisu, membuat hati Kevin tidak nyaman. Entah kenapa terasa aneh jika gadis itu diam saja.


" Ehem-ehem ", dehem Kevin untuk mencairkan suasana.


Mendengar deheman Kevin membuat Monica menoleh menatap lelaki itu. Namun itu hanya sesaat dan Monica kembali membuang pandangannya keluar jendela. Kevin jadi serba bingung harus bagaimana mencairkan suasana.


Hingga sampai halaman rumah pun, Monica masih saja diam. Saat membuka sabuk pengamannya Monica merasa kesulitan. Ada apa ini kenapa sabuk itu tidak bisa di ajak kerjasama. Padahal Monica ingin segera turun untuk menghindari lelaki es batu di sampingnya.


" Biar aku bantu ", kata Kevin yang langsung meraih sabuk pengaman itu tanpa menunggu persetujuan Monica.


Posisi Kevin yang menyondong ke arahnya membuat jarak keduanya semakin dekat. Aroma shampo di rambut Kevin menguar menggelitik Indra penciuman Monica.


Aroma wangi itu membuat Monica tanpa sadar mendekatkan hidungnya untuk mencium aroma rambut Kevin. Namun saat hidung monica hampir menyentuh rambut itu, Kevin yang sudah selesai melepas sabuk pengaman Monica mendongakkan kepalanya.


CUP


Bibir keduanya pun saling bertemu. Monica mendelik kaget dengan apa yang terjadi. Begitu juga Kevin, ia tertegun mendapati bibirnya yang menempel pada permukaan bibir Monica. Hal itu membuat jantung keduanya berdebar-debar.


Monica segera menarik mundur kepalanya yang membuat ciuman itu segera terlepas. Ia buru-buru membuka pintu dan berlari tanpa mengucapkan terima kasih.


Kevin masih saja mematung di dalam mobil menatap punggung gadis itu menjauh dari pandangannya. Ia kemudian meraba bibirnya dengan mengulas senyum samar.


" Manis ", gumam Kevin yang masih betah merasai bekas bibir Monica.

__ADS_1


.


.


Di dalam kamar Monica segera menjatuhkan diri di atas ranjang. Ia merutuki kebodohannya. Kenapa juga ia terlena dengan aroma rambut lelaki itu yang membuatnya berakhir dengan ciuman tak di sengaja.


Ia meraba bibirnya dengan senyum-senyum sendiri.


" Ya ampun kenapa sih di saat aku mau menghindar malah terjadi hal kayak gini. Ciuman ini kan ciuman pertamaku ", gerutu Monica sambil terus meraba bibirnya. Namun sesaat kemudian ia tersenyum-senyum kembali mengingat ciuman tadi.


.


.


Di resort


Di dalam kamar yang bernuansa putih itu nampak dua orang saling berpelukan sambil bergelung selimut. Meski hari sudah siang tidak membuat keduanya lantas segera bangun.


" Sayang, terima kasih. Kalau kamu tidak segera datang, mas tidak tau apa yang akan terjadi ", kata Devan yang semakin erat memeluk istrinya di dalam dekapannya.


" Iya mas sama-sama. Mas juga hebat bisa berpikir sampai sejauh itu untuk segera menyelamatkan diri ", puji Dewi pada suaminya.


Mendengar jawaban suaminya, membuat Dewi tersenyum bahagia.


" Lalu bagaimana dengan Amira sekarang ",


" Dia sudah Dewi suruh pergi semalam. Untung saja syutingnya sudah selesai, kalo tidak dia pasti punya seribu alasan untuk mendekati mas Devan lagi ", kata Dewi sedikit kesal mengingat tampilan Amira semalam.


" Meski belum selesai pun mas tetap akan menghentikan kerja sama ini. Kali ini Amira benar-benar keterlaluan ", kata Devan yang terlihat mulai emosi.


" Biarkan saja mas, yang penting sekarang mas tidak perlu bekerja sama lagi dengannya ",


" Iya wi ", jawab Devan sambil membelai lembut lengan istrinya. Sebenarnya di pikiran Devan muncul banyak pertanyaan. Kemarin jelas-jelas tuan William lah yang mengirim pesan padanya. Lalu kenapa Amira yang berada di dalam kamar itu.


Apa sebenarnya hubungan Amira dengan tuan William ? Kalau Amira sudah bersama dengan tuan William, kenapa juga Amira masih harus bersusah payah mengejarnya. Kekayaan tuan William juga tidak sedikit hampir sebanding dengan kekayaannya.


" Mas ",


Devan Yang sibuk dengan pikirannya sendiri tersentak kaget.


" Ya "

__ADS_1


" Kenapa melamun ? " tanya sang istri.


" Nggak apa-apa. Mas cuma kepikiran pekerjaan mas di kantor ", kilah Devan.


" Kalau begitu kita pulang nanti sore saja gimana mas ? Dewi juga sudah kangen sama suasana di rumah ",


" Ya sudah mas setuju. Kalau begitu sebaiknya kita segera mengemasi baju-baju kita ", jawab Devan seraya mendudukkan diri.


" Baiklah ", Dewi pun segera turun dari ranjang dan mengambil koper yang terletak di samping lemari. Ia mulai memasukkan baju-baju itu kedalam koper.


Devan pun segera turun dan duduk di samping sang istri.


" Biar mas bantu ", kata Devan menawarkan bantuan. Dewi pun menyambut bantuan sang suami dengan senyum mengembang.


.


.


Di tempat lain nampak Amira yang tengah menerima panggilan telepon dari tuan William .


" Sayang, kenapa semalam pergi tanpa bilang padaku ",


" Maaf Will, aku terburu-buru sekali. Aku baru ingat kalau siang ini aku harus menghadiri acara Fashion show di Jakarta. Maaf ", kilah Amira dengan suara dibuat memelas.


" Tidak apa -apa. Yang terpenting kamu baik-baik saja. Ya sudah mas harus bersiap-siap kembali ke Singapura. kamu berhati-hatilah di sana. Jaga kesehatan kamu ",


" Kamu tidak usah khawatir. Aku akan menjaga diri dengan baik di sini ", jawabnya berpura-pura lemah lembut di hadapan william. Padahal kelakuan aslinya membuat orang di luar sana mengelus dada.


Amira meletakkan handphone itu kembali di atas nakas. Mengingat kejadian semalam membuat emosinya membuncah. Namun saat ini ia tidak bisa berbuat banyak. Ia takut ancaman Dewi akan terjadi jika ia macam-macam.


Ia mengelus pipinya yang masih terasa sakit dengan sorot mata yang penuh emosi.


" Aku akan membalas perbuatan kalian ini. Terutama perempuan udik itu yang telah berani menamparku. Tunggu saja kamu akan merasakan tamparan juga dari kedua tanganku ", batin Monica menggeram kesal.


Like dan komennya ya kak


Biar author semangat up date tiap hari


Terima kasih juga buat kalian yang masih setia mengikuti novel ini ☺️


Yang baru membaca novel ini semoga kalian suka dengan ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2