
Devan memasuki rumah dengan tidak bersemangat. Seminggu di hindari oleh Dewi membuat dunianya menjadi suram. Devan jadi menyesal telah mencuri ciuman dari pembantunya itu. Tau begitu dia tidak akan melakukan hal bodoh itu. Dia terus melangkah tanpa memperhatikan jika sang mama sedang duduk manis di ruang keluarga.
" Kamu kenapa sayang, kok lemes gitu. Sakit? ", tanya mama Nabila cemas. Devan hanya menjawab dengan gelengan kepala.
" Devan hanya lelah ma ", jawabnya sambil berlalu naik ke lantai atas. Mama Nabila yang melihat putranya seperti kelelahan tidak jadi bertanya lagi.
Tiga puluh menit kemudian, terlihat Devan yang sudah berganti baju menuruni anak tangga. Bukankah tadi katanya lelah, kok mau keluar lagi, batin mama Nabila melihat Devan menuruni tangga.
" Mau kemana Van ", tanya mama Nabila.
" Keluar sebentar ma ", katanya sambil menyalami sang mama dan segera menuju garasi.
Mobil mewah Devan melaju menelusuri jalanan tanpa arah dan tujuan. Niatnya tadi hanya ingin menenangkan pikirannya di suatu tempat. setelah cukup jauh, ia melihat ada sebuah cafe yang cukup sepi dengan nuansa alam yang sejuk, Devan segara membelokkan mobilnya.
Setelah turun dari mobil, ia mencoba mencari tempat yang paling nyaman. pilihannya jatuh pada kursi paling ujung dibawah pohon yang rindang. Sesaat setelah Devan mendudukkan bokongnya, seorang pelayan menghampiri nya untuk menanyakan pesanan. Devan memesan secangkir capuccino dan cemilan.
Beberapa menit kemudian, pesanannya pun datang. Devan menikmati capuccinonya sambil mengecek pekerjaan yang tadi ia tinggal. Saat Devan sibuk dengan handphonenya, terlihat seorang perempuan cantik menghampirinya.
" Dev, kamu juga di sini ", sapa perempuan itu yang ternyata adalah Veronica. Tanpa bertanya Vero segera duduk di kursi kosong di depan Devan.
" Hem ", jawab Devan singkat dan kembali menatap layar handphonenya. Devan menjadi merasa sangat kesal, karena ketenangan nya telah terusik.
" Aku nanti malam ada parti ulang tahun temen. Kamu mau kan jadi pasangan aku, sampai saat ini aku belum nemu pasangan. Mau ya Dev ", kata Vero sambil meraih tangan Devan. Devan yang dari tadi uring-uringan membuat emosinya mudah terpancing. Dengan kasar Devan menepis tangannya, membuat Vero terkejut bukan main. Devan kemudian berdiri dari duduknya, mencondongkan sedikit tubuhnya di depan wajah Veronica.
__ADS_1
" Mulai hari ini jangan pernah lagi menggangguku. Atau kamu akan merasakan akibat yang tidak bisa kamu bayangkan ", ucap Devan dengan penuh tekanan. Vero yang mendengar ancaman Devan sampai gemetaran. Ia tidak pernah berpikir bahwa Devan bisa berubah mengerikan. Devan segera meninggalkan Veronica yang masih shock tanpa mempedulikannya.
Karena bingung harus kemana Devan akhirnya kembali ke rumah. Saat memarkirkan mobilnya di garasi, ia berjalan masuk melewati pintu yang terhubung ke dapur. Mata Devan memindai aktifitas di dapur sambil berjalan. Manik matanya menangkap siluet gadis yang sudah mengusik hatinya. Terlihat Dewi yang sedang sibuk membantu mbok Sumi menyiapkan makan malam. Rasanya ia ingin segera merengkuh Dewi ke dalam dekapannya. Namun ia urung melakukannya. Takut Dewi akan semakin menjauhinya. mungkin butuh pendekatan pelan-pelan, batin Devan. ia pun melanjutkan langkahnya menuju lantai atas.
🌸🌸🌸🌸
Seminggu telah berlalu semenjak Devan berniat mendekati dewi pelan-pelan. Namun niatnya itu bukannya berhasil malah membuat Dewi semakin menjauh dari dirinya. Pikirannya semakin kacau, dan pekerjaan di kantor pun menjadi berantakan. Devan sampai mendapat teguran dari papanya. Kevin sang Asisten juga tak luput dari amarah bos besarnya.
Di sisi lain, Dewi sebenarnya juga tersiksa menjauhi majikannya itu. Rasa bersalah bergelayut di dalam hatinya. Akan tetapi rasa takut akan di pecat jauh lebih besar. Saat istirahat makan siang, Dewi yang bingung dengan perasaannya hanya bisa uring-uringan di dalam kamar. Saat sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba handphone jadulnya berbunyi. Tertera nama Ridwan sang adik di layar. Dengan senang Dewi mengangkat panggilan tersebut. Namun belum sempat Dewi menyapa sudah terdengar Isak tangis adiknya.
" Ridwan kok kamu nangis, ada apa ", tanya Dewi mulai cemas.
" Bapak sakit mbk, sudah dua hari nanyain mbk terus ", kata Ridwan disela Isak tangisnya. Dewi berusaha menenangkan adiknya, dan berjanji akan segera pulang meski tadi Bu Surti sudah melarang.
" Ada perlu apa wi ", tanya mama Nabila pada pembantu yang ada di depannya.
" Sa saya minta ijin pulang kampung nyah. Bapak sakit ", katanya yang mulai berkaca-kaca. Mama Nabila yang tidak tegaan itu menjadi iba melihatnya.
" Ya sudah, kamu boleh cuti selama empat hari. Tapi untuk cuti berikutnya, hanya boleh kamu ambil setelah 4 bulan setelahnya. Gimana wi ", tanya mama nabila. Dengan cepat Dewi menggangguk tanda setuju. Segera ia mencium tangan sang majikan. Tak lupa mama Nabila memberi Dewi sedikit uang untuk berobat bapaknya. Awalnya Dewi menolak, tpi karena mama Nabila memaksa akhirnya Dewi menerimanya. Setelah itu ia segera merapikan pakaiannya dan memasukannya ke dalam tas punggungnya. Demi keamanan, Tina menyarankan Dewi untuk naik kereta api saja.
Tina mengantar Dewi sampai depan gerbang, membantunya memanggilkan tukang ojek langganannya. Sebenarnya Tina ingin ikut mengantar Dewi, akan tetapi besok dia sibuk menyiapkan masakan untuk acara arisan mama Nabila. Sehingga tidak mungkin baginya untuk meninggalkan pekerjaannya.
" Kamu hati-hati ya wi, titip salam buat pak Danu dan buk Surti ", kata Tina yang terlihat khawatir.
__ADS_1
" Iya mbak Tina, terima kasih ",
Dewi menaiki ojek itu dan keluar dari komplek perumahan elit dengan perasaan tidak karuan. Terlihat mobil Devan yang melaju dari arah berlawanan. Devan yang dari tadi menatap keluar jendela melihat Dewi melintas di samping mobilnya. Devan yang melihat Dewi naik ojek serta membawa tas di punggungnya menjadi berpikir yang tidak-tidak. Mungkinkah Dewi pergi karena ulahnya kemarin, batin Devan.
" Kevin berhenti ", kata Devan tiba-tiba. Kevin yang kaget mendadak mengerem mobilnya . Dalam hati Kevin mengumpati bosnya, untung bukan di jalan raya, batinnya kesal.
" Ada apa bos",
" Kejar dan salip motor ojek itu. Cepat Vin ", bentak Devan yang melihat Kevin hanya diam.
" Ba baik bos ", Kevin segera putar arah dan melaju menyalip motor ojek yang melaju tidak terlalu kencang. Kevin menikung motor ojek itu hingga berhenti.
" Dasar sopir semprul, berhenti kok gak kira-kira ", omel tukang ojek.
" Ada apa ya pak " tanya Dewi bingung.
" Gak tau non, mabuk kali sopirnya ", jawabnya asal.
Namun sedetik kemudian mata Dewi melotot melihat lelaki yang turun dari dalam mobil tersebut.
" Tu tuan Devan ", gumam dewi gemetaran.
🌸Like dan komennya dong kakak 🌸
__ADS_1