Cinta Untuk Majikan Tampan

Cinta Untuk Majikan Tampan
Bab 40


__ADS_3

Devan menatap kedua calon mertuanya yang tengah tersenyum padanya. Raut bahagia tampak terpancar dari wajah keduanya. Adik-adik Dewi juga nampak ceria menyambut kedatangan mereka. Nampak Amel yang tengah melambaikan tangan ke arahnya sambil meneriakinya.


" Om Devan ", panggilnya sambil meringis memperlihatkan gigi ompongnya.


Devan membalas lambaian tangan Amel sambil tersenyum melihat tingkah polos calon adiknya. Mama Nabila segera menggamit lengan putranya dan mengajaknya berjalan menuju rumah sederhana itu. Keluarga pak Danu menyambut kedatangan para tamu dengan suka cita.


Karena rumah dewi yang mungil tidak mampu menampung banyak orang, maka sebagian tamu di persilahkan duduk di teras rumah.


Devan memasuki rumah Dewi dengan dada yang berdebar kencang. Tangannya sampai berkeringat dingin. Kejutan yang di berikan sang mama sungguh sukses membuatnya shock.


Manik matanya melebar tatkala mendapati sang kekasih yang tengah duduk bersimpuh di dekat pak Danu. Dewi nampak sangat cantik dengan balutan kebaya bewarna pink. Riasan natural yang menghiasi wajahnya membuatnya semakin mempesona.


Untuk sesaat Devan terpaku dengan kecantikan calon istrinya. Ia baru tersadar ketika mama Nabila dengan sengaja menyenggol lengannya.


" Mulutnya gak usah sampai melongo gitu kali Van, malu di lihatin banyak orang ", kata mama Nabila mengulum senyumnya.


Devan yang tersipu malu hanya bisa garuk-garuk tengkuknya yang tak gatal. Kini tiba saatnya untuk papa rehan memberi tahukan maksud dan tujuannya datang. Papa rehan yang nampak sangat gugup memulai pembicaraannya.


" Pak Danu, kedatangan saya hari ini ingin melaksanakan niatan saya yang kemarin saya sampaikan ke bapak. Kedatangan saya kesini hari ini ingin melamar putri bapak Dewi Maharani untuk putra kami Devan Aditama. Saya harap niatan baik kami ini dapat diterima ", kata papa rehan yang sangat gugup sampai dahinya berkeringat.


" Terima kasih sebelumnya atas niatan baik bapak. Untuk di terima tidaknya lamaran ini, saya serahkan sepenuhnya keputusannya pada putri saya Dewi ", kata pak Danu.


" Bagaimana nduk, apa kamu menerima lamaran dari nak Devan ini ", tanya pak Danu menatap putrinya.


Dengan malu-malu Dewi menganggukkan kepalanya pelan.


" Alhamdulillah ", terdengar ucapan rasa syukur dari semuanya.


Selanjutnya adalah acara untuk bertukar cincin. Devan meraih tangan Dewi yang sangat dingin karena saking gugupnya. Devan yang juga sangat gugup sampai gemetaran ketika memasang cincinnya. Setelah kedua cincin sudah terpasang di jari keduanya, terdengar tepuk tangan meriah dari anggota keluarga.


Acara berikutnya adalah menjamu para tamu undangan dengan aneka menu khas kampung. Meski sederhana keluarga Devan sangat menikmati semua hidangannya.


Di sisi lain Devan nampak sibuk memperkenalkan Dewi pada seluruh anggota keluarganya yang hadir. Oma dan opa terlihat sangat menyukai calon cucu mantunya itu. Mereka tidak mempermasalahkan dengan status sosial keluarga Dewi. Bahkan ketika mereka tahu mama Nabila sempat melarang hubungan cucunya, mereka meluapkan amarahnya pada mama Nabila.


" Terima kasih, kamu sudah mau menerima cucuku yang kaku ini nak Dewi. Kamu yang sabar ya menghadapi Devan, dia itu mudah emosian ", kata Oma Devan sambil melirik cucunya. Devan yang dilirik sang Oma menatap sebal ke arah Omanya.


" Nyonya besar tidak perlu kawatir, saya menerima tuan baik kelebihan maupun kekurangannya ", jawab Dewi yang membuat hati Devan langsung meleleh.


" Loh kok masih manggil saya nyonya, kamu itu calon cucu mantu saya loh. Panggil saya Oma mulai sekarang ya ?",

__ADS_1


" Baik nyo eh Oma ", jawab Dewi tersenyum canggung.


Karena semua rangkaian acara telah terlaksana, papa rehan pamit undur diri. Untuk acara pernikahan telah di sepakati akan di laksanakan satu bulan lagi.


" Pak Danu terima kasih atas jamuannya. Kami sekeluarga mohon pamit ", kata papa rehan menyalami calon besannya.


" Sama-sama pak. Hati-hati di jalan ",


Mama Nabila mendekati calon mantunya dan membelai lembut bahu Dewi .


" Mama pamit pulang dulu ya wi, nanti kalau sudah waktunya fitting baju atau mengurus keperluan yang lainnya biar Devan yang menjemput kamu ",


" Baik nyonya ",


" Mamah wi ",


" I iya mah " jawab Dewi malu-malu.


" Nah begitu ", kata mama Nabila tersenyum hangat pada Dewi.


Mereka pun meninggalkan kediaman pak Danu dengan hati bahagia. Niat baik yang di sampaikan telah di terima. Tinggal mempersiapkan pernikahan mereka. Kedua belah pihak keluarga sepakat untuk melaksanakan akad dan juga resepsi di kediaman Aditama.


" Tuan apa masih ada yang perlu di bicarakan ", tanya Dewi lembut seraya menatap manik mata tuannya.


" Saya masih kangen sama kamu wi ", jawab Devan dengan raut wajah memelas. Tangannya meraih jemari tangan Dewi dan menggenggamnya.


" Saya juga sangat merindukan tuan. Setelah ini kita pasti akan sering bertemu, karena banyak keperluan yang harus kita urus bersama. Saya harap tuan mau bersabar ", kata Dewi yang membuat hati Devan sedikit lega.


" Sebaiknya tuan sekarang pulang, kasihan orang tua tuan yang terlihat sangat kelelahan ", kata Dewi yang membuat Devan menoleh ke arah orang tuanya. Memang nampak raut kelelahan pada wajah kedua orang tuanya itu.


" Baiklah ", kata Devan yang mendekatkan wajahnya hendak mengecup pipi Dewi. Namun tiba-tiba terdengar deheman dari calon mertuanya.


" Ehemm ehemm ", Devan yang mendengar deheman pak Danu menjadi Salah tingkah tidak jadi melancarkan aksinya.


Akhirnya dengan berat hati Devan meninggalkan kediaman keluarga calon istrinya itu tanpa oleh-oleh kecupan sayang.


.


.

__ADS_1


Di dalam perjalanan pulang Devan Yang semobil dengan ke dua orang tuanya nampak begitu bahagia.


" Makasih ya mah, kejutan yang mamah berikan sungguh luar biasa ",


" sama-sama sayang. Anggap saja ini sebagai cara mama meminta maaf sama kamu. Mama bahagia jika kamu juga bahagia ", kata sang mama membelai lembut rambut putranya.


.


.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka sampai di kediaman Aditama. Devan segera melangkah masuk menuju kamarnya. Monica yang kelelahan langsung merebahkan diri di sofa. Mama Nabila juga ikut mendudukkan bokongnya di dekat Monica.


" Ternyata mengurus sendiri acara seperti ini sangat melelahkan ya Monic ", tanya mama Nabila sambil melepas sepatu high heelsnya.


" Bener banget mah ",


" Sepertinya untuk acara pernikahannya akan mamah serahkan ke EO saja ", kata mama Nabila sambil menyandarkan punggungnya ke sofa. Meski kelelahan namun tak dapat di pungkiri hatinya sungguh merasa lega. Terlebih lagi melihat raut wajah bahagia putranya membuat hatinya juga turut merasakan kebahagiaannya.


Di dalam kamar Devan segera mandi dan berganti pakaian. Saat keluar dari kamar mandi terdengar suara tanda pesan masuk.


Tinggg


Buru-buru Devan meraih handphone yang ia letakkan di atas tempat tidur. Di lihatnya pesan itu yang ternyata di kirim oleh calon istrinya. Dengan cepat ia membuka isi pesannya itu. Rupanya Dewi menanyakan apakah dirinya sudah sampai rumah atau belum. Devan yang tidak ingin membuat Dewi kawatir segera membalas pesannya.


Kemudian terdengar lagi nada pesan masuk. Dengan cepat pula Devan membukanya. Namun saat membaca isi pesan tersebut membuat dahi Devan mengkerut.


*Tuan sepertinya anda melupakan sesuatu*


Devan merasa heran dengan pesan yang di kirimkan dewi. Ia mencoba mengingat-ingat kembali apakah ada sesuatu yang ia lupakan.


Saat pikirannya sibuk mengingat kembali, tiba-tiba ada pesan masuk lagi, dan Devan yang penasaran segera membukanya.


* *Tuan anda melupakan ini* *


Bunyi pesan Dewi yang di ikuti emoticon bibir banyak sekali. Devan yang melihat pesan itu jadi senyum-senyum sendiri mengingat kecupan yang gagal tadi siang. Rupanya calon istrinya itu mulai berani menggodanya.


" Awas kamu ya wi, nanti kalau ketemu pasti aku tagih ", gumam Devan sambil senyum - senyum sendiri di dalam kamar.


🌸 like komen vote subscribe semua juga boleh kak, biar author semangat up date 😁🌸

__ADS_1


__ADS_2