Cinta Untuk Majikan Tampan

Cinta Untuk Majikan Tampan
Bab 17


__ADS_3

" Ma mama "


Devan sangat terkejut, untung devan tidak membuka sepenuhnya pintu kamarnya, sehingga sang mama tidak dapat melihat Dewi yang berada di dalam kamarnya.


" Sayang kamu sudah bangun. Tadi mamah suruh Dewi buat bangunin kamu, dewinya sekarang mana ?", tanya mama Nabila yang membuat Devan kelimpungan.


" emm a ada ma. Dewi ada di dalam sedang membereskan tempat tidur Devan. Soalnya tadi Devan gak sengaja menumpahkan air di atas tempat tidur ", kata Devan sedikit gelagapan. Dewi yang mendengar alasan Devan segera mendekati ranjang tuannya dan pura-pura melepas sprei itu untuk segera di cuci.


" oohhh, mana Dewi mama ada perlu sama dia ", mama Nabila pun mendorong pintu kamar Devan sedikit lebar dan mendapati Dewi yang sedang memasukkan sprei ke dalam keranjang pakaian kotor. Devan yang melihat gadisnya begitu cekatan, tersenyum bangga.


" Sudah selesai wi ", tanya mama Nabila.


" Sudah nyonya, ini saya mau cuci ",


" Itu kamu bawa turun dulu, cuci nanti saja. Saya butuh bantuan kamu untuk membereskan buku-buku di ruang kerja suami saya ", terang mama Nabila. Dewi yang ketakutan sampai gemetaran. jika tadi mama Nabila tidak mengetuk pintu terlebih dulu, mungkin sekarang dia sudah di pecat dari pekerjaannya. Dewi berjalan keluar mengikuti mama Nabila. Saat berpapasan di pintu, ia pun menatap tuannya yang juga sedang menatapnya. Devan terlihat mengucapkan kata maaf yang bisa di baca dari gerak bibirnya. Dewi mengangguk pelan tanda memaafkan, karena ini bukan sepenuhnya salah tuannya.


.


.


Malam harinya saat makan malam,


" Van, besok kamu jangan pulang malam ya. Soalnya mama sudah mengundang Tante Anita sama Liliana ke rumah untuk makan malam ", kata mama Nabila yang membuat Devan menghentikan makannya. Ia menatap manik mata mamanya yang terlihat penuh harap, membuat ia tidak tega menolak.

__ADS_1


" Baiklah ", hanya makan malam saja batin Devan.


" Makasih ya sayang ",


" Hemm, Devan ke kamar duluan ", pamit Devan setelah selesai menghabiskan makanannya.


Devan berjalan menaiki anak tangga dengan pikiran kemana-mana. Sebenarnya ia punya keinginan untuk mengutarakan perasaannya pada Dewi dalam waktu dekat. Ia juga akan meminta restu pada orang tuanya, jika Dewi sudah menerimanya. Ia tidak mau membayangkan apa yang akan terjadi, karena semakin di bayangkan akan semakin sulit di lakukan. Lebih baik menjalaninya terlebih dahulu, perkara bagaimana hasilnya biar waktu yang menjawab.


.


.


Di dalam kamar Dewi merenungi kejadian tadi siang. Hampir saja bibir tuannya menyentuh bibirnya. Di rabanya bibir itu dengan perasaan yang sulit di jelaskan. Ada rasa bahagia, takut, tidak percaya dan juga bersalah. Ini pengalaman pertama bagi Dewi berdekatan dengan seorang pria. Wajar jika setiap sentuhan yang di lakukan Devan mampu membangkitkan rasa penasaran dalam dirinya. Apalagi umurnya yang masih terbilang muda. Di sisi lain Dewi juga merasa takut, kejadian tadi siang membuat jantungnya hampir lepas. Jika dia nekat menjalin hubungan dengan tuannya, maka kejadian seperti tadi dapat dipastikan akan terulang. Dewi akhirnya memilih untuk tidur, tidak mau terlalu memikirkannya. Biarlah semua berjalan mengikuti alur saja.


🌸🌸🌸🌸


Terlihat mobil Anita memasuki halaman rumah keluarga Aditama. Lili keluar dari mobil dengan menenteng buah tangan untuk calon mertuanya. wanita cantik itu mengenakan dres selutut berwarna navi yang terlihat pas di badannya. Sang mama yang baru saja keluar dari mobil menggandeng lili masuk ke rumah mewah calon besannya. Terlihat mama Nabila yang sedang berdiri di depan pintu menyambut kedatangannya.


" Maaf jeng, agak terlambat. Tadi butik lili sangat ramai, jadi lili harus turun tangan juga " kata Anita tidak enak hati.


" Gak apa-apa kok jeng, santai saja. Ayo masuk ", kata mama Nabila sambil mempersilahkan masuk tamunya. Terlihat Devan dan papa rehan yang duduk di sofa ruan tamu langsung berdiri menyapanya.


" Langsung ke ruang makan saja ya, pasti sudah pada lapar semua ",

__ADS_1


Mereka pun menuju ruang makan bersama-sama. Sudah terhidang berbagai macam menu mewah di atas meja. Mereka menikmati makan malam sambil di selingi obrolan ringan. Devan memilih fokus pada makanannya, sesekali melirik Dewi yang sedang melayani mereka. Devan menangkap segurat kesedihan di wajah pembantu kesayangannya. Apa dia sedih karena kedatangan lili batin Devan


" Dev, kamu ajak lili jalan-jalan di taman belakang gih ", kata mama Nabila setelah acara makan malam usai. Devan dengan malas beranjak menuju ke taman belakang di ikuti Liliana di belakangnya.


" Mas Devan pelan sedikit jalannya ", rengek Liliana. Devan menatap malas pada gadis di belakangnya.


" lili saya ingin bicara serius ", kata Devan mengajak Liliana duduk di kursi taman dekat kolam renang.


" Mas Devan mau bicara apa ? " tanyanya antusias.


" Saya tahu maksud kedua orang tua kita, mereka ingin melakukan perjodohan bukan ", lili hanya mengangguk pelan.


"Saya ingin mengatakan bahwa saya tidak ingin menerima perjodohan ini. Jadi saya harap kamu tidak lagi mengganggu kehidupan saya. Masih banyak pria baik di luar sana yang bisa kamu dapatkan ", setelah mengatakan itu Devan berlalu pergi meninggalkan Liliana. Liliana menggeram kesal mendengar ucapan Devan barusan.


" nggak aku nggak akan berhenti sebelum dapetin kamu mas, lihat saja nanti ", batin Liliana. lili yang di buat kesal oleh Devan, menendang vas bunga di dekatnya hingga jatuh ke kolam. Ia segera berlalu masuk ke dalam rumah menemui mamanya.


" loh nak lili devannya mana ", tanya mama Nabila heran.


" Katanya capek Tante, jadi mas Devan langsung istirahat ", kata lili lesu. Mama Nabila yang mendengar hal itu menggeram. Akhirnya Tante Anita dan lili pamit pulang dengan menelan rasa kecewa di hati mereka. Setelah Anita dan lili pulang, papa rehan menarik istrinya dan mendudukkannya di sofa ruang keluarga.


" Papa kan sudah sering bilang sama mama, jangan suka ikut campur urusan jodoh anak-anak kita. Devan saat ini sedang sibuk mengurusi proyek yang sangat penting ma. Jangan mama menambahi beban pikirannya. Apa mama tidak bisa melihat kalau Devan sama sekali tidak tertarik dengan Liliana. Apa mama mau Devan keluar dari rumah dan memilih tinggal sendirian seperti dulu ", kali ini papa rehan benar-benar marah pada istrinya.


Mama Nabila tidak berani membantah kata kata suaminya. Apa yang di katakan suaminya, mengingatkan kembali kejadian tiga tahun silam. Dimana Devan memilih kabur dari rumah karena tidak mau terus-terusan bertengkar dengan sang mama yang suka menjodoh-jodohkannya. Bukannya berhasil mendapat mantu, justru putranya malah pergi dari rumah. Saat itu papa rehanlah yang bersusah payah membujuk Devan untuk kembali ke rumah.

__ADS_1


" Maafin mama pa ", kata mama Nabila memeluk suaminya. papa rehan membalas pelukan sang istri dan membelai lembut punggung mama Nabila.


" Pernikahan itu bukan sekedar mencari keturunan atau karena usia yang sudah cukup ma. Kesiapan hati dan mental itu lebih penting. Mungkin sekarang devan masih belum siap membuka hatinya. Kita sebagai orang tua hanya bisa memberi dukungan. Dan jangan lupa, berdoa agar jodoh Devan di dekatkan ", nasehat papa rehan pada sang istri. Mama Nabila menangis sesenggukan di dalam pelukan suaminya. Ia sadar yang ia lakukan terlalu memaksakan kehendaknya.


__ADS_2