
Pagi-pagi sekali Devan datang ke rumah Dewi untuk berpamitan. Ia juga menjelaskan alasannya kenapa harus segera pulang kepada pak Danu dan Bu Surti. Setelah itu ia segera kembali ke kota. Di perjalanan Devan terus memikirkan mamanya. Jujur dalam hati Devan sebenarnya, ia tidak ingin membuat mamanya sampai sakit seperti ini. Hatinya juga ikut terluka. Tapi ia juga tidak bisa bila harus menyerah pada cintanya.
Setelah cukup lama di perjalanan akhirnya Devan sampai di kediaman Aditama. Ia segera turun dari mobil dan bergegas menuju kamar mamanya.
" Mah ", panggilnya pada sang mama yang sedang di suapi papa rehan. Mama Nabila menoleh pada sumber suara yang sangat ia kenal. Devan menatap wajah mamanya yang terlihat pucat. Tiba-tiba rasa sangat bersalah bersarang di hatinya.
" Devan, kamu sudah pulang nak ", kata mama Nabila yang matanya mulai berkaca-kaca. Devan segera menghampiri sang mama dan memeluknya. Mama Nabila menangis sesenggukan memeluk putranya.
" Mama makan dulu ya, setelah itu minum obat ", bujuk Devan setelah melerai pelukannya. Kemudian ia mengambil alih mangkok bubur yang di pegang papa rehan. Ia dengan telaten menyuapi mamanya. Kemudian ia mengambilkan obat sang mama dan membantu meminumkannya.
" Mama istirahat dulu ya, Devan juga mau istirahat. Capek mah habis perjalanan jauh. Devan akan temani mama sampai mama tertidur ", kata Devan yang di angguki mama Nabila.
.
.
Setelah mamanya sudah tertidur, papa rehan menarik pelan Devan untuk keluar kamar.
" Ada apa pa ? "
" Papa hanya ingin memastikan, apa benar kamu pacaran dengan Dewi seperti yang mama kamu bilang ", Devan hanya mengangguk menanggapi pertanyaan papanya.
" Apa papa juga tidak mau merestui hubungan kami ",
" Apa kamu tidak mengenal papa kamu ini. Papa bukanlah orang seperti itu Van. Apalagi Dewi adalah gadis yang baik, dia juga anak yang berbakti ", kata papa rehan yang membuat hati Devan lega. Setidaknya ia hanya perlu membujuk sang mama karena ia sudah mengantongi restu dari papanya.
" Mama kamu sepertinya terlalu memikirkan omongan teman-temannya. Ia takut semua orang akan mencemoohnya jika kamu menikah dengan Dewi. Secara semua orang di komplek ini tahu kalau Dewi adalah pembantu di rumah kita Van. Jadi papa harap kamu yang sabar menghadapi mama kamu. Jangan pergi-pergi lagi, hadapi masalahmu dengan berani ", kata papa Rehan sambil menepuk bahu putranya.
" Iya pah "
" Ya sudah kamu istirahat saja dulu, biar besok bisa langsung kembali mengurus perusahaan. Kevin sudah kuwalahan menangani perusahaan sendirian ",
" Baik pah ", Devan pun berlalu meninggalkan papanya. Ia butuh mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya. Saat akan memejamkan mata, ia teringat belum mengabari Dewi jika ia sudah sampai. Ia segera mengambil handphonenya dan mengirim pesan.
**Sayang aku sudah tiba di rumah**
Begitulah kira-kira pesannya yang juga di bubuhi tanda love yang besar. Kemudian ia meletakkan hpnya dengan asal dan mulai memejamkan matanya.
.
__ADS_1
.
Malam harinya mama Nabila sudah terlihat membaik. Monica membantu sang mama bangun dari ranjang. Mama Nabila ingin makan malam di meja makan bersama anak-anaknya. Meski papa Rehan sudah melarangnya, mama Nabila tetap tidak mau mendengarkan.
" Mamah mau makan apa, biar Devan ambilkan ", kata Devan yang membuat hati sang mama menghangat.
" Mama mau makan sama rendang saja Van ", Devan pun segera mengambilkannya dan menaruhnya di piring sang mama. Mama Nabila memakan makanannya dengan lahap.
Perasaan Devan saat ini benar-benar kacau. Dia ingat janjinya pada Dewi untuk memperjuangkan cinta mereka. Namun di sisi lain ketika melihat mamanya jatuh sakit , hatinya sungguh merasa berdosa. Di tambah lagi, kemarin pak Danu berkata tidak akan mengijinkan Dewi menikah dengannya jika ia tidak mendapatkan restu dari orang tuanya.
Ingin sekali ia segera kembali meminta restu pada mamanya, namun mengingat mamanya yang belum sembuh benar membuat Devan mengurungkan niatnya. ia tidak ingin membuat mamanya sakit lagi.
" Van, kok melamun. Ayo cepetan di makan, nanti kalau dingin nggak enak loh ", Devan pun mengangguk seraya tersenyum pada mamanya.
Mereka pun melanjutkan makan tanpa ada lagi yang bersuara. Devan lebih memilih diam karena pikirannya yang tidak karuan.
🌸🌸🌸🌸
Empat hari telah berlalu, kesehatan mama Nabila sudah berangsur pulih. Hari ini Devan membulatkan tekad untuk kembali meminta restu pada sang mama. Ia tidak bisa jika harus menunggu lebih lama lagi.
Hari ini Devan sengaja pulang cepat. Selama beberapa hari ini ia dengan giat menyelesaikan semua pekerjaannya yang tertunda. Dengan tergesa ia segera berdiri dari duduknya.
" Baik bos ", jawab Kevin. Kemudian Kevin menghela napas panjang. Alamat pulang naik ojek, batinnya.
.
.
Sesampainya di halaman rumah, Devan menaruh mobilnya dengan asal. Kemudian ia bergegas masuk ke dalam rumah. Melihat sang mama duduk bersantai di ruang tengah, Devan segera mengatur napasnya. Ia tidak ingin terlihat terlalu bersemangat.
" Mah ", Sapanya seraya mendudukkan bokongnya di sofa. .
" Tumben pulang cepet Van ", kata mama Nabila lembut.
" Ada yang Devan ingin bicarakan sama mama ",
Mendengar itu, mama Nabila tahu ke arah mana putranya itu akan berbicara.
" Kalau kamu mau membicarakan hubungan kamu sama Dewi, jawaban mama masih tetap sama dengan kemarin. Mama tidak akan merestui ", jawab mama Nabila tegas. Mendengar jawaban sang mama, Devan segera bangkit dari duduknya dan bersimpuh di depan mamanya.
__ADS_1
" Devan mohon ma, sekali ini saja mama kabulkan permintaan Devan ",
" Tidak Van, mama tidak akan merubah keputusan mama titik ", kata mama Nabila setengah berteriak. Ia segera berdiri meninggalkan Devan dan berlalu menuju lantai atas.
" Mah, mamah dengerin omongan Devan dulu mah ", teriak Devan yang di abaikan oleh mamanya.
" Aaaaaaaa sial ", teriak Devan sambil menjambak rambutnya frustasi.
Dengan lesu ia berdiri dari lantai dan berjalan masuk ke kamar tidur tamu yang ada di lantai bawah. ia terlalu malas menaiki tangga.
Di ambilnya handphone di saku celananya dan mendeal nomor sang kekasih.
" Halo tuan " tak terdengar suara dari tuannya, Dewi kembali menyapa.
" Tuan, ada apa ? tanyanya yang mulai cemas.
" Wi, sepertinya saya akan lama mengunjungi kamu kembali. Mama masih tidak memberikan restunya ",
Suara tuannya terlihat begitu lelah dan tidak bersemangat. Membuat Dewi di seberang telepon mulai kawatir.
" Tuan jangan menyerah, saya yakin tuan pasti bisa meluluhkan hati nyonya. Tuan hanya perlu bersabar. Bukankah saya pernah bilang akan menunggu tuan sampai mendapatkan restu dari nyonya ",
" Terima kasi ya wi, kamu selalu bisa menenangkan hati saya ",
" Sama-sama tuan " jawab Dewi dari seberang telepon.
" Dewi ",
" Ya tuan "
" Boleh minta cium seperti kemarin ", goda Devan pada kekasihnya. Dewi yang mendengar ucapan tuannya jadi terdiam. tidak lama kemudian ia mematikan sambungan teleponnya.
Tut
" Astaga ",
Devan menebak pasti saat ini pipi kekasihnya itu sedang merona karena malu.
" Jadi kangen lagi " batinnya seraya tersenyum.
__ADS_1
🌸 Ayo dong kak like dan komennya, biar author semangat up date nya😁🌸