Cinta Untuk Majikan Tampan

Cinta Untuk Majikan Tampan
Bab 39


__ADS_3

Kerepotan mama Nabila masih berlanjut. Hari ini ia akan mengunjungi butik langganan keluarganya. Mama Nabila turun dari mobil ketika mereka sudah sampai di depan butik milik temannya. Hari ini hanya Monica yang menemani sang mama, sebab Tina dan Puput di tugaskan mama Nabila menghias hantaran yang kemarin di beli.


Di depan pintu mereka sudah di sambut oleh Bu Sintia pemilik butik. Dengan senyum ramah sang pemilik butik mempersilahkan mereka masuk.


" Mari jeng saya antar untuk melihat koleksi terbaru saya ", kata Bu Sintia.


" Iya mbak ", jawab mama Nabila sambil mengikuti arahan Bu Sintia.


" Nah ini jeng koleksinya, silahkan kalian lihat-lihat dulu ",


" Baik mbak ",


Mama Nabila dan Monica begitu antusias memilih kebaya yang cantik-cantik itu.


" Mah aku mau yang warna hijau ini yah ", kata Monica yang di angguki sang mama.


Setelah hampir satu jam mereka memilih akhirnya pilihannya jatuh pada kebaya berwarna pink yang di padukan dengan bawahan batik yang akan senada dengan kemeja batik untuk Devan nantinya. Setelah selesai dari butik mereka melanjutkan perjalanannya.


Tujuan mereka selanjutnya adalah toko perhiasan. Mereka akan membeli cincin berlian untuk acara tukar cincin dan satu set perhiasan untuk tambahan hantaran.


Mereka menghabiskan waktu hampir satu jam untuk memilih-milih di toko perhiasan tersebut. Setelah keluar dari toko perhiasan raut wajah mama Nabila menunjukkan rasa puas dan bahagia.


.


.


Setelah empat hari berkeliling dari toko satu ke toko lainnya, akhirnya persiapan untuk lamaran Devan sudah selesai seratus persen. Mama Nabila bisa bernapas lega sekarang. Untuk selanjutnya adalah tugas papa rehan untuk membujuk Devan agar mau ikut dengannya.


.


.


Saat makan malam di kediaman Aditama.


" Van, besok kamu ikut papah ya, meninjau lokasi baru untuk membuka cabang perusahaan kita ",


" Tapi pekerjaan Devan masih banyak pa ", jawab Devan yang sedikit malas ikut sang papa. Seharian ini moodnya sedang buruk. Pasalnya sejak tadi pagi nomor handphone Dewi sama sekali tidak bisa di hubungi. Hal itu membuat pikiran Devan tidak karuan.


" Urusan kantor biar di handle Kevin sementara. Hanya sehari Van, sorenya kita langsung pulang ", bujuk papa rehan. Setelah berpikir sejenak, Devan pun mengangguk setuju. Percuma juga ia membantah, karena papa rehan akan tetap memaksanya.


" Baiklah ", jawab Devan sambil menghela napas kasar.


" Yes ", Batin papa rehan. Manik matanya melirik sang istri sambil menaik turunkan alisnya. Mama Nabila justru menyebikkan bibirnya melihat papa rehan menyombongkan diri karena berhasil membujuk Devan.


Setelah menghabiskan makanannya, Devan segera kembali ke kamar. Ia mendudukkan diri di tepian kasur seraya meraih handphone di atas nakas. Ia ingin mencoba menghubungi Dewi kembali.

__ADS_1


Dan untuk ke sekian kalinya sang operator mengatakan bahwa nomor yang dihubungi sedang tidak aktif. Devan yang sangat kesal melempar handphone nya di atas kasur. Ia memijat pelipisnya yang mulai berdenyut karena emosi.


" Kenapa nomor kamu tidak aktif sih wi ", gumam Devan sambil mondar mandir di dalam kamar.


Ting


Terdengar bunyi tanda pesan masuk. Buru-buru Devan meraih handphone yang tadi ia buang dan melihat siapa gerangan yang mengirim pesan.


Saat membaca bahwa pesan tersebut dari sang asisten, dengan malas ia membuka dan membaca isi pesannya.


Setelah membalas pesan tersebut Devan kembali melempar handphonenya. ia menghela nafas kecewa, berharap tadi adalah pesan dari Dewi kekasihnya. Ia merebahkan badannya dan mencoba untuk tidur namun tetap tidak bisa. Setelah begadang semalaman akhirnya ia bisa memejamkan ke dua matanya saat jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari.


.


.


Pagi harinya papa rehan yang sudah siap segera menghampiri kamar Devan.


Tok tok tok


Devan yang sedang mengenakan kemeja kerja segera berjalan ke arah pintu setelah mendengar ketukan dari luar.


Kriieeek


" Sudah siap Van", tanya sang papa.


" Oh ya papa lupa, tolong kamu pakai baju ini ya. Soalnya nanti setelah meninjau lokasi, papa akan ajak kamu ke acara nikahan putri temen papa. Sebentar saja kok Van ", bujuk papa rehan.


Devan menatap baju batik yang di serahkan oleh papanya. Tangannya terulur menerimanya dengan terpaksa. Mau tidak mau ia harus segera memakainya. Setelah Devan siap, papa rehan mengajak putranya itu untuk segera berangkat.


Mama Nabila yang melihat mobil suaminya sudah keluar dari gerbang segera bersiap siap untuk berangkat bersama rombongannya. Hanya keluarga inti lah yang akan ikut. Termasuk orang tua dari papa rehan dan juga mama Nabila.


Setelah semua keluarga berkumpul mereka berangkat menuju kampung halaman Dewi. Kevin yang kebagian membawa hantaran mengemudikan mobilnya paling belakang. Lalu siapa yang mengurus perusahaan ? Jangan kawatir papa Rehan sudah menyuruh asistennya untuk menghandle sementara.


Di dalam perjalanan, Devan yang semalam begadang akhirnya tertidur pulas di samping sang papa. Melihat putranya tertidur, ia menyuruh pak Salim untuk memelankan mobilnya sambil menunggu rombongan di belakangnya.


Setelah tertidur hampir dua jam, Devan akhirnya bangun. Ia mengerjapkan kedua matanya berulang kali. Setelahnya ia menoleh ke samping tempat papa rehan duduk.


" Sudah puas Van tidurnya " goda papa rehan. Devan hanya tersenyum canggung pada sang papa.


" Apa kita sudah sampai pa ",


" Sebentar lagi Van ", jawab papa rehan yang membuat Devan kembali menyandarkan bahunya.


Manik matanya menatap ke arah luar jendela mobil. Pikirannya kembali teringat pada Dewi yang tak bisa di hubungi. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphone miliknya. Mencoba menelepon nomor Dewi kembali.

__ADS_1


Dan ia harus menelan rasa kecewanya untuk ke sekian kali. Nomor Dewi tetap saja tidak bisa di hubungi. Rupanya itu adalah akal-akalan mama Nabila yang menyuruh Dewi mematikan handphonenya. Mama Nabila hanya ingin membuat kejutan ini lebih berkesan.


Devan yang kesal kembali melemparkan pandangannya ke luar jendela. Rasa rindunya pada Dewi sungguh sangat menyiksanya.


Saat asyik dengan lamunannya, ia merasa heran dengan jalan yang sedang mereka lalui. Mengapa jalan ini sangat mirip dengan jalan menuju rumah Dewi.


Ia menatap wajah papanya, sorot matanya seakan menuntut penjelasan. Papa rehan yang di tatap Devan seperti itu hanya tersenyum aneh.


Semakin lama semakin dekatlah mereka dengan kampung halaman Dewi. Devan juga semakin yakin bahwa ini memanglah jalan menuju rumah Dewi.


Akhirnya tebakan Devan terjawab sudah, ketika mobil yang ia tumpangi berhenti tepat di halaman rumah Dewi. Ia jadi termangu dengan pemandangan rumah Dewi di depannya.


" Van, kamu gak pengen turun. Gak pengen menyapa calon mertuamu gitu ?


" Hahhh apa pah, calon mertua ? tanya Devan tidak mengerti.


" Kalau kamu mau tetap di sini ya sudah. Papa mau turun mau melihat calon mantu papah ", goda papa rehan sambil mengulum senyum.


Setelah papanya turun dari mobil, Devan pun buru-buru keluar. Matanya semakin membeliak lebar tatkala melihat ada beberapa mobil yang ikut berhenti di sana. Apalagi Devan sangat mengenali mobil siapa saja itu.


Dari jauh terlihat mama Nabila yang keluar dari mobil dan berjalan menuju ke arahnya.


" Mamah ", panggil Devan dengan sorot mata yang di penuhi pertanyaan.


Mama Nabila menatap putranya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Tangannya terulur membelai lembut pipi putra sulungnya.


" Sayang maafin mama. Maafin kesalahan mama selama ini yang sudah menentang hubungan kalian. Mama sadar apa yang mama lakukan sudah membuat kamu menderita. Maafin mama ", air mata yang menggenang di sudut matanya, akhirnya jatuh juga. Ia kembali menatap manik mata putranya.


" Mama hari ini akan menyatukan kalian. Mama sama papa akan menemani mu melamar Dewi untuk menjadi calon istrimu sayang ", kata mama Nabila yang air matanya Sudah menganak sungai.Ia tidak peduli dengan make up nya yang berantakan.


Devan yang mendengar ucapan mamanya, segera merengkuh sang mama dalam pelukannya.


" Makasih mah. Makasih mamah sudah mau merestui hubungan kami. Makasih ", ucap Devan yang juga tidak mampu menahan air matanya. Mama Nabila hanya bisa mengangguk di pelukan putranya.


Semua orang yang berada di sana juga merasa terharu melihatnya.


" Sudah sudah, sekarang kita lanjutkan lamarannya. Kasihan pak Danu dan keluarga sudah menunggu terlalu lama ", kata papa rehan yang di angguki Devan dan mama Nabila.


Devan menatap rumah yang tampak ramai. Netranya menatap pak Danu dan Bu Surti yang tengah berdiri di depan rumah menyambut kedatangan keluarganya.


Rasa bahagia menyeruak dari dalam hatinya. Ternyata perjuangannya selama ini tidaklah sia-sia. Devan mengucap beribu syukur di dalam hatinya.


" Akhirnya kita bisa bersama wi ", gumamnya sambil menggenggam tangan kedua orang tuanya.


🌸 like, komen dan vote nya ya kakak

__ADS_1


biar author semangat up date nya 😁🌸


__ADS_2