Cinta Untuk Majikan Tampan

Cinta Untuk Majikan Tampan
Bab 45


__ADS_3

Di dalam sebuah kamar VIP nampak sepasang pengantin baru yang masih betah bergelung di dalam selimut tebal. Padahal di luar sana matahari sudah bersinar dengan teriknya.


Dewi yang merasa silau dengan cahaya yang menerpa wajahnya menggeliat sambil merenggangkan otot tubuhnya. Manik matanya menyipit tatkala melihat cahaya dari balik gorden kamarnya.


Tangannya mencoba meraih handphone di atas nakas dan menyalakannya. Matanya langsung membola saat melihat jam di layar handphonenya.


" Astaga sudah jam sebelas ", pekik Dewi seraya menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


" Ada apa sih sayang, kok kamu teriak gitu ", tanya Devan yang jadi ikut terbangun.


" Kita bangunnya kesiangan mas, ini sudah jam sebelas siang mas ", jawab Dewi cemberut.


" Ini gara-gara mas sih, masa minta sampai empat kali ", Dewi yang merenggut kesal membelakangi suaminya. Melihat istrinya merajuk devan segera memeluknya.


" Maafin mas ya , soalnya semalam mas keenakan ", jawab Devan sambil menciumi pipi sang istri.


" Bukannya bapak sama ibuk balik ke kampungnya masih besuk siang ? ",


" Tapi Dewi sudah janji sama adik-adik mau ngajakin mereka ke mall yang ada di sini mas ", rengek Dewi yang membalas pelukan suaminya dengan erat.


Devan tersenyum dalam hati, ternyata istri kecilnya ini juga bisa manja seperti sekarang ini.


" Ya sudah, sekarang kita mandi ya. Setelah makan siang kita pulang dan langsung ajak mereka jalan-jalan. Bagaimana hem ?


Dewi hanya mengangguk dalam pelukan suaminya. Entahlah kenapa setelah melakukan penyatuan kemaren malam, membuat rasa canggungnya pada sang suami banyak berkurang. Dia tidak malu lagi mengekspresikan rasa marah, kesal, maupun manjanya.


" Mandi bareng yuk ", ajak Devan.


" Nggak mau, mas duluan saja. Ntar kalau mandi bareng mas pasti minta jatah lagi, badan Dewi masih lemes mas ", jawab Dewi yang sudah bisa menebak isi kepala suaminya.


Devan hanya nyengir kuda karena ketahuan niat mesumnya.


Setelah selesai bersih-bersih mereka melanjutkan makan siang di dalam kamar. Tepat pukul dua belas siang, Devan melajukan mobilnya menuju rumahnya. Tidak butuh waktu lama, kini mobilnya sudah memasuki halaman rumahnya.


Saat keduanya turun dari mobil nampak Amel yang berlari ke arah mereka.


" Mbak Dewi, om Devan ", teriaknya yang langsung memeluk sang kakak. Dewi berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan adiknya.


" Mbk kok lama banget. Amel sudah nungguin mbk Dewi dari tadi. Kata Mamah Nabila mbak Dewi sama om Devan masih capek karena pesta kemarin. Jadi Amel nungguin mbak Dewi sambil nonton tv ",


" Maafin mbak ya ", kata Dewi yang di angguki Amel.

__ADS_1


Kemudian mereka masuk ke dalam rumah. Nampak Ridwan dan Rani yang sudah rapi sedang menonton tv di ruang tengah. Mama Nabila yang baru keluar kamar, segera menghampiri mereka.


" Duh duh yang bangunnya kesiangan, pasti semalam habis lembur ya ", goda mama Nabila pada putra dan menantunya.


Dewi yang malu di goda mertuanya hanya menunduk menutupi rona di pipinya.


" Mamah, ada anak kecil jangan ngomong sembarangan ", kata Devan kesal. Mama Nabila hanya cekikikan sambil menutup mulutnya.


" Ya sudah mamah panggil dulu mertua kamu, mereka masih siap-siap di dalam kamar ",


" Mamah gak ikut ", tanya Dewi pada mertuanya.


" Nggak deh wi, mamah masih capek banget ", Dewi hanya tersenyum mendengar jawaban mertuanya.


Setelah semua siap, Devan segera melajukan mobilnya menuju salah satu mall yang letaknya paling dekat dengan rumahnya. Setelah menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit, tiba lah mereka di depan mall yang sangat besar.


Ketiga adik Dewi menatap bangunan megah itu dengan mulut ternganga. Mall yang dilihatnya ini empat kali lebih besar dari mall yang ada di kota dekat kampungnya.


Mereka memasuki mall tersebut dengan Devan sebagai pemandunya. Devan membelikan beberapa oleh-oleh untuk adik-adiknya dan juga mertuanya. Awalnya Bu Surti menolaknya karena merasa tidak enak terlalu merepotkan mantunya itu. Namun Devan terus membujuknya hingga akhirnya bu Surti mengalah. Kata orang tidak baik menolak rejeki.


Setelah puas berjalan-jalan mengelilingi mall sampai menjelang malam, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Di sepanjang perjalanan pulang mereka mendengarkan celoteh Amel yang tidak ada habisnya. Gadis kecil itu memang sedikit cerewet di bandingkan dengan saudaranya yang lain. Entahlah Amel itu menuruni sifat cerewet dari siapa batin pak Danu yang mendengar ocehan putri bungsunya.


Setelah semua berkumpul, mereka memulai makan malam dengan di selingi obrolan ringan dan terkadang sesekali terdengar gelak tawa mereka.


.


.


Esok harinya keluarga pak Danu berpamitan pada besannya untuk pulang kembali ke kampung halamannya.


" pak rehan saya ucapkan terima kasih atas semua kebaikan keluarga bapak pada kami. Maaf bila selama beberapa hari ini keluarga saya merepotkan keluarga bapak ",


" Pak Danu tidak perlu sungkan, kita sekarang ini sudah menjadi satu keluarga. Bahkan kami sangat senang, karena suasana rumah kami yang biasanya sepi jadi rame begini. Ya kan mah ", tanya papa rehan pada istrinya.


" Iya pak Danu, saya tidak merasa di direpotkan. Justru saya merasa senang bisa mengenal lebih jauh keluarga bapak ",


" Sekali lagi saya ucapkan terima Bu Nabila. Saya titip Dewi di sini ya Bu, kalau Dewi melakukan kesalahan, bapak ibuk jangan sungkan-sungkan menasehatinya ",


" Iya pak pasti, saya sudah menganggap Dewi seperti putri saya sendiri ", jawab mama Nabila.


Dewi segera menghambur pada kedua orangtuanya. Air mata nya menetes membasahi kedua pipinya sejak tadi.

__ADS_1


" Sudah sudah jangan nangis lagi, kamu sekarang sudah menjadi seorang istri nduk. Jadilah istri yang baik dan patuhilah perkataan suamimu,karena sekarang kamu bukan lagi tanggungjawab bapak. Sekarang kamu sudah menjadi tanggung jawab nak Devan. Mengerti kan nduk ?" tanya pak Danu yang di angguki Dewi pelan.


Setelah selesai berpamitan akhirnya keluarga pak Danu pulang dengan di antar pak Salim supir pribadi papa rehan.


Dewi menatap mobil yang di tumpangi keluarganya hingga menghilang dari pandangan. Matanya masih saja menyisakan lelehan air mata.


" Sudah jangan menangis, kapan-kapan kalau mas gak sibuk kita bisa berkunjung ke sana ", bujuk Devan pada istrinya.


" Makasih mas ", jawab Dewi yang di angguki Devan. Ia segera merangkul sang istri masuk ke dalam rumah.


🌸🌸🌸🌸


Waktu berjalan begitu cepat, genap sebulan sudah Dewi menjadi menantu di keluarga Aditama. Meski begitu sifatnya yang ramah dan mudah bergaul tidak pernah berubah. Kekayaan sang suami tidak lantas merubahnya menjadi sombong dan serakah.


Terkadang masih terdengar gunjingan dari tetangga yang masih suka menggosipkannya. Mereka yang iri selalu mengibaratkan nasib Dewi seperti Cinderella. Si miskin yang berubah status menjadi orang kaya. Namun Dewi tidak pernah mempermasalahkannya. Toh ia hidup tidak meminta makan dari mereka.


Mamah Nabila juga sering menasehati mantunya itu untuk tidak terlalu mempedulikannya. Baik buruknya seseorang pasti slalu ada celah untuk mencela jika orang itu tidak suka pada kita.


Dewi menjalankan runititas barunya sebagai seorang istri dengan sangat bahagia. Seperti pagi ini, ia sudah mempersiapkan kebutuhan sang suami dari Air mandi, pakaian hingga sarapan.


" Mas hari ini jangan pulang malam ya, kita keluar jalan-jalan merayakan satu bulan pernikahan kita ", kata Dewi sambil membenarkan letak dasi suaminya.


" Mas akan usahakan ya, tapi kalau mas gak bisa kamu jangan marah ya ", Dewi segera menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


" Kalau gak bisa, besuk juga gak apa-apa ",


" Ya sudah, mas berangkat dulu ya ", kata Devan sambil mengecupi seluruh wajah istrinya. Dewi yang merasa malu dengan tingkah suaminya itu lebih memilih memejamkan matanya. Kemudian ia menyalami punggung tangan suaminya itu dan mengecupnya pelan.


Devan berjalan menuju mobilnya dengan wajah sumringah. Kevin sang asisten tersenyum melihat bosnya sekarang yang nampak jauh lebih bahagia. Ia segera membukakan pintu belakang untuk devan saat lelaki itu tiba di dekatnya. Setelah Devan masuk Kevin berlari kecil memutari mobil dan segera masuk mendudukkan diri di kursi kemudi. Saat Kevin akan melajukan mobilnya terdengar teriakan cempreng dari arah belakang.


" Kak Devan aku nebeng ", teriak Monica sedikit berlari. Setelah tiba di dekat mobil, ia segera masuk dan mendudukkan bokongnya di kursi samping kemudi.


" Hai kak Kevin ", sapa Monica sambil tersenyum lebar.


" Hem" balas Kevin singkat padat dan jelas.


Mendengar jawaban singkat lelaki tampan di sampingnya itu membuat Monica mendengus.


" Dasar kulkas yang isinya batu es semua ",batin Monica merengut kesal.


* Kasih vote dan bintang dong kak untuk karya author ini 😁 terima kasih ☺️.

__ADS_1


__ADS_2