
" Terima kasih atas kesediaan tuan William untuk berinvestasi di proyek saya kali ini ", kata Devan sambil menyalami tuan William.
" Sama-sama pak Devan. Justru saya senang bisa bekerja sama dengan anda. Saya yakin perusahaan anda ini ke depannya memiliki prospek yang sangat bagus ",
" Baiklah pak Devan, saya harus segera undur diri. Saya harus segera kembali ke Singapura, ada meeting yang sangat penting ", kata tuan William beranjak dari duduknya.
" Sekali lagi terima kasih tuan ", kata Devan yang dibalas senyum ramah oleh tuan William.
Setelah kepergian tuan William Devan menghela napas lega. Ia mendudukkan kembali tubuhnya dan menyeruput kopi yang tadi tidak sempat ia minum.
" Apakah setelah ini aku sudah bisa pulang ?", tanyanya pada sang sekretaris.
" Tentu bos ", jawab sang asisten.
Mereka pun meninggalkan restoran yang tadi di jadikan tempat meeting. Mobil Yang di tumpangi Devan melaju dengan cepat membelah jalanan. Sepanjang perjalanan Devan terus berusaha menghubungi nomor handphone Dewi. Namun tetap sama seperti kemarin, tidak ada jawaban. Pikiran Devan sungguh kalut. Rasa kawatir membuatnya berpikir yang tidak-tidak.
" Dewi kamu dimana ? " gumamnya sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
" Kevin cepat sedikit ", perintahnya pada asistennya.
" Siap bos "
🌸🌸🌸🌸
Di sebuah kamar yang sangat sederhana, nampak Dewi menggeliat terbangun dari tidurnya. Ia menatap suasana di sekelilingnya. Rupanya ini semua bukan mimpi. Ia sudah di pecat oleh nyonya Nabila. Dewi menghela napas kasar sambil beranjak turun dari ranjang. Saat hendak berdiri tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.
" Mbak Dewi " teriak Amel dan Rani sambil berlari menghambur memeluk sang kakak.
" Mbak Dewi libur lagi ya ", tanya Amel dengan mata berbinar. Dewi mengangguk seraya tersenyum pada adik bungsunya.
" Mbak Dewi kemarin pulang kok nangis, ada yang nakal sama mbk Dewi ya. Nanti biar Amel sama mbak Rani yang cubit orang yang sudah bikin mbak Dewi nangis ", celoteh polos Amel yang menerbitkan senyum tipis di bibir Dewi.
" Bukan sayang, mbak Dewi nangis karena kangen banget sama kalian semua ", bohong Dewi.
__ADS_1
" Kalau begitu mbak Dewi gak usah kerja di kota, kerja di sini saja ",
" Gimana ya, hmmmm akan mbak pikirkan ", jawab Dewi seraya menoel pipi adik-adiknya.
Di ambang pintu nampak Bu Surti membawa kresek yang berisi sayur mentah.
" Amel, Rani jangan ganggu mbakmu, biar mbak Dewi mandi dulu ", kata Bu Surti. Rani dan Amel segera turun dari ranjang sang kakak dan berlari keluar kamar.
" Kamu mandi dulu ya nduk, setelah itu sarapan bareng-bareng ",
" iya buk ", jawab Dewi dengan senyum tipis di bibirnya. Kemarin ia belum menceritakan masalahnya pada orang tuanya. Mereka juga tidak ingin memaksa Dewi yang belum siap untuk bercerita. Melihat putri mereka pulang dengan selamat saja sudah cukup bagi mereka.
Dewi segera keluar dari kamar menuju kamar mandi yang letaknya di belakang rumah. Terlihat pak Danu yang sedang membersihkan cangkul yang akan di pakai lagi menggarap ladang maupun sawah tetangga.
" Sudah enakan wi ", tanya sang bapak yang sedikit cemas.
" Dewi gak apa-apa kok pak. Bapak jangan terlalu banyak berpikir ",
" Baik pak ", jawab Dewi berlalu masuk ke kamar mandi.
🌸🌸🌸🌸
Mobil yang di tumpangi Devan akhirnya sampai di halaman rumah kediaman Aditama. Dengan tergesa-gesa Devan turun dari mobil dan segera masuk ke rumah. Kevin yang melihat kelakuan bosnya hanya menghela napas pelan. Bosnya yang dulu kaku sedang terpesona dengan pembantunya sampai bucin setengah mati.
Sesampainya di dalam rumah Devan segera menuju dapur mencari gadis yang selama dua hari ini membuatnya menggila. Matanya sibuk memindai setiap sudut dapur, namun hanya ada mbok Siti dan mbak Tina di sana.
" Mbak Tina mana Dewi ? ", tanya Devan dengan suara parau.
" Anu anu tuan Dewi "
" Dewi sudah mama berhentikan", jawab sang mama yang berdiri di dekat tangga. Devan sangat terkejut dengan perkataan mamanya.
" Apa maksud mama ", tanya Devan tidak mengerti.
__ADS_1
" Ikut mama ", mama Nabila berjalan menuju ruang kerja suaminya yang di ikuti Devan. Setelah sampai di dalam ruang kerja, mama Nabila mendudukkan bokongnya di sofa yang ada di ruangan itu.
" Kenapa mama memecat Dewi, apa salah dia ma ? ",
" Kamu nanya sama mama salah dia apa! Sampai kapan kamu akan bohongi mama tentang hubungan kamu sama Dewi hah ? ", kata sang mama mulai emosi.
Degg
Jadi mama sudah tahu hubungannya dengan Dewi. Akhirnya sesuatu yang dia sembunyi-sembunyikan selama ini terbongkar juga.
" Maaf. Bukan maksud Devan membohongi semuanya, tapi Devan hanya ingin mencari waktu yang tepat untuk bicara sama mama juga papa ",
" Apa yang kamu pikirkan sih Van, mama kasih kamu banyak pilihan perempuan dari keluarga yang punya latar belakang yang baik, kamu malah milih pembantu. Mau di taruh mana Van muka mamamu ini ! Teriak sang mama yang mulai tersulut emosi.
" Mah, Dewi gadis yang baik ma. Devan sangat mencintai Dewi, jadi Devan mohon restui hubungan kami !
" Nggak, mama nggak akan memberikan restu mama. Kamu jangan bikin mama malu Van ", ucap sang mama yang mulai menangis.
" Devan gak peduli, Devan akan susul Dewi sekarang ", kata Devan handak beranjak pergi.
" Apa kamu lebih memilih gadis yang baru kamu kenal beberapa bulan dari pada mama kamu Van. Mama yang sudah lahirin kamu, besarin kamu, merawat kamu sepenuh hati, mengorbankan karir mama demi bisa melihat kamu tumbuh dengan baik. Apa kamu akan melawan mama demi gadis yang belum kamu kenal sepenuhnya ! Jawab mama Van, kamu milih mama atau dia ? Bentak sang mama sambil menangis.
Devan yang mendengar ucapan sang mama menjambak rambutnya frustasi. Lidahnya kelu jika harus menjawab omongan sang mama. Ia segera berlalu keluar dari ruangan papanya dan naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Mama Nabila terisak seorang diri di ruangan itu. Sebenarnya ia tidak ingin berkata kasar pada sang putra. Ia terlalu terbawa emosi sehingga sulit mengontrol kata-katanya.
Sedangkan di dalam kamar, Devan meringkuk di atas tempat tidur. Menatap foto sang kekasih di layar handphonenya. Kenapa perjalanan cintanya begitu menyedihkan. Dulu Amira mengkhianati dirinya, sekarang ketika ia mulai membuka hati dan mencintai justru sang mama menentang hubungannya. Ingin sekali ia menyusul Dewi ke kampung halamannya. Akan tetapi hati kecilnya tidak ingin melawan sang mama. Ia sadar betul akan kasih sayang yang melimpah yang di berikan mama nabila untuknya. Ia tidak ingin menjadi anak durhaka.
" Wi, aku kangen banget sama kamu. Kamu yang sabar ya di sana, aku akan berjuang untuk mendapatkan restu dari mama ", katanya sambil membelai pipi sang kakasih di layar handphonenya.
*Kasihan banget Devan*
🌸Like dan komen ya kakak. Terima kasih 🌸
__ADS_1