
Monica yang baru pulang kencan dengan Kevin, nampak berjalan memasuki rumah sambil bersenandung. Ia yang terlalu fokus ke depan tidak menyadari keberadaan sang mama yang tengah duduk di kursi ruang tamu.
Tadi mama Nabila buru-buru pulang karena ingin sampai di rumah lebih dulu. Ia tidak mau keduluan oleh putrinya. Saat ini mama Nabila dapat melihat raut bahagia di wajah putrinya.
Ehem
Monica yang mendengar deheman sang mama menoleh ke sumber suara.
" Eh ada mamah ", katanya sambil berjalanan menghampiri sang mama dan mencium tangannya.
" Dari mana kamu Monic ? ",
" Habis jalan-jalan Ama temen mah. Tadi Monic udah minta ijin kok sama papah ",
" Kamu kok kelihatannya seneng banget hari ini ", tanya mama Nabila memancing.
" Oh e nggak, Monic biasa aja kok. Perasaan mamah aja kali ", jawab Monica salah tingkah.
" Itu apa Monic ", tanya mama Nabila melihat paper bag kecil di tangan Monica.
" Oh ini ", kata Monica sambil mengangkat paper bag itu di depan sang mama.
" iya itu ",
" ini kalung mah ",
" tumben beli kalung, bukannya kamu gak terlalu suka pakai kalung ", tanya sang mama yang terlihat curiga.
" Oh itu itu, karena model kalungnya bagus mah. iya karena modelnya bagus ", jawab Monica sambil cengengesan tidak jelas saking gugupnya.
" Wah nih anak sudah mulai pinter bohong ya ", batin mama Nabila.
" Emm Monic ke kamar dulu ya mah ",
" Y sudah, sekalian kamu panggilan Dewi yah. Mamah mau ajak masak resep baru buat makan malam ",
" ok mah ", jawab Monica yang segera berlalu dari sana. ia tidak ingin sampai mamahnya itu terus bertanya. Bisa ketahuan nanti kalau ia bohong.
🌸
🌸
Keesokan harinya Dewi yang tengah menyiram bunga di taman belakang, di kejutkan oleh tangan yang melingkar pada pinggangnya. Tidak lama setelah itu sebuah kecupan hangat mendarat di pipinya.
" Sayang, jadi kan kita cek kandungan kamu ? ",
" Jadi dong mas, ini aku juga mau siap-siap. Mas juga belum mandi kan ? ", tanya Dewi membelai pipi suaminya.
" Ya sudah kita ke kamar yuk buat siap-siap. Mas sudah gak sabar pengen ketemu dedek bayi lewat layar monitor ", kata Devan sambil merangkul istrinya masuk ke dalam.
__ADS_1
Mbak Tina dan Puput yang tengah duduk di depan paviliun sambil mengupas bawang-bawangan hanya bisa gigit jari melihat keromantisan kedua majikannya.
" Mbak Tina, aku juga mau punya suami kayak tuan Devan. Sudah ganteng, kaya, baik, perhatian lagi ", kata Puput sambil duduk bersila menopang dagunya menatap ke arah Dewi dan Devan berada.
" Kamu kira cuma kamu tok yang mau, aku juga mau put. Masalahnya orang kayak tuan Devan itu mau gak sama orang kayak kita ini "
" Ya barang kali ada yang matanya sedikit buram, jadi mau sama kita mbak ", jawab Puput sambil tertawa ngakak.
" Yang matanya buram yang ada yang sudah bangkotan kali put ", jawab Tina ikut tertawa.
" Nggak apa-apa mbak Tin yang penting kaya raya ",
" Emang kamu mau, gituan Ama aki - aki ? "
Mendengar pertanyaan Tina membuat Puput langsung terdiam. Pikiran Puput jadi membayangkan ketika malam pertama dengan suaminya yang sudah tua Bangka.
Saat pikiran kotornya membayangkan adegan ciuman bibir dengan aki-aki membuat Puput bergidik ngeri.
" Ih ya ampun " gumam Puput memukul-mukul mulutnya sendiri.
" Kenapa put ? " tanya Tina heran.
" Aku gak mau mbak Tin nikah sama aki-aki kaya, ngeri aku bayanginnya ",
Mendengar jawaban Puput membuat Tina tertawa ngakak. Tina jadi ikut-ikutan membayangkannya.
.
.
" Wah ini anak bapak sudah kelihatan jenis kelaminnya. Saya kasih tahu sekarang atau mau buat kejutan ", tanya dokter Brenda.
" Biar buat kejutan saja dok ", jawab Devan yang masih betah menatap layar monitor tersebut. Bibirnya terus mengulas senyum bahagia
" Baiklah kalau itu keinginan bapak ", kata dokter tersebut sambil menyudahi pemeriksaannya.
Suster tadi membantu Dewi merapikan pakaian Dewi kembali. Devan dengan cekatan membantu sang istri untuk bangun dari atas ranjang. Mereka pun duduk di kursi di depan dokter Brenda.
" Sejauh ini kandungan Bu Dewi sangat baik. Kenaikan berat badan juga sudah sesuai. Bayi di dalam kandungan Bu Dewi juga sangat sehat. Saya akan meresepkan beberapa vitamin dan obat penambah darah buat Bu Dewi. Mungkin ada yang ingin di tanyakan ? ",
" Tidak ada dok ",
Setelah menerima resep dari dokter Brenda Devan segera menebus resep tersebut. Dewi yang mudah lelah jika harus berdiri lama lebih memilih menunggu Devan di dalam mobil.
Saat manik matanya menatap ke luar jendela nampak seorang wanita cantik yang tengah berjalan ke arah yang berlawanan dengan suaminya. Perempuan tadi dengan sengaja menjatuhkan tas jinjingnya di depan Devan. Devan yang terkejut reflek segera membungkuk untuk mengambilnya.
Perempuan tadi juga ikut menunduk mengambil tasnya. Karena belahan baju depan wanita itu cukup rendah, membuat buah kenyalnya terpampang nyata di depan mata Devan.
Devan yang tidak sengaja melihatnya buru-buru mengambil tas tersebut dan menyerahkannya. Tampak perempuan itu menerima tasnya sambil menggenggam tangan Devan. Bibirnya mengulas senyum menggoda berharap lelaki di depannya akan terpesona.
__ADS_1
Plakk
Dewi yang tampak sangat kesal menampik tangan perempuan itu dengan kasar, hingga tas tadi jatuh kembali sehingga isinya berserakan di lantai.
" Hey apa-apan kamu, gak sopan banget ", kata perempuan tadi dengan nada tinggi.
" Saya yang seharusnya bicara seperti itu. Ngapain anda pegang-pegang tangan suami saya " Balas Dewi dengan emosi.
" Suami "
Ya, dia ini suami saya ", jawab Dewi sambil merangkul lengan suaminya.
" Oh maaf kalau begitu "perempuan itu pun segera memunguti barangnya dan bergegas pergi dengan perasaan kesal karena gagal menggoda lelaki tampan itu.
Setelah perempuan itu pergi, Dewi segera melepas rangkulannya dan pergi menuju mobil meninggalkan Devan yang diam mematung dengan raut wajah bingung.
" Wah, alamat cemburu ini " gumam Devan sambil sedikit berlari menuju mobilnya.
Di sepanjang jalan, Dewi nampak diam dan menatap ke luar jendela mobil.
Devan yang melihat istrinya ngambek segera meraih tangan Dewi dan menciumnya.
" Sayang kita jadi ke supermaket untuk membeli susu? ",
" Nggak usah mas, Dewi sedikit capek mau istirahat aja ",
" Kamu kenapa sih yang. ", tanya Devan pada sang istri yang nampak cemberut.
" Kamu marah sama mas ? Atau cemburu sama perempuan tadi ? "
" Nggak, siapa yang cemburu ", jawab Dewi sambil membuang muka.
Tak terasa mobil yang di kendarai Devan sudah tiba di depan rumahnya. Dewi nampak tergesa-gesa masuk ke dalam rumah. Ia menaiki anak tangga dengan hati yang bergemuruh kesal. Ia sangat kesal mengingat Devan yang diam saja saat perempuan tadi memegang tangannya.
Setelah sampai di dalam kamar, Dewi membanting pintu kamarnya dengan kencang.
Braakk
Devan yang baru sampai di lantai dua sampai terlonjak kaget.
" Astaga ",
Devan mengelus dadanya sendiri guna menetralkan detak jantungnya yang berdetak kencang. Ia tidak marah dengan sikap istrinya itu. Karena ia juga dapat merasakan bagaimana mood seorang ibu hamil itu bisa naik turun.
Itu lah yang terjadi pada dirinya saat awal kehamilan Dewi dulu. Dan kini justru di usia kandungan sang istri yang menginjak empat bulan lebih, perubahan mood secara drastis justru tengah dirasakan oleh Dewi.
" Huuuh, alamat gak dapat jatah ini ", gumam Devan sambil menghela napas panjang.
Sabar ya mas Devan 😁
__ADS_1
Like yang banyak dan komen juga ya kak
Terima kasih