
Siang itu cuaca terasa terik sekali. Hiruk pikuk lali lintas menjadi pemandangan sehari-hari di kota besar itu.
Di kantor Aditama Groub nampak Devan tengah di sibukkan dengan setumpuk berkas di atas meja kerjanya. Saat dirinya sibuk meneliti berkas di tangannya, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka lebar. Terlihat sesosok wanita cantik memasuki ruangannya dan disusul sang sekretaris yang terlihat panik.
" Maaf pak Devan, nona ini memaksa masuk. Saya sudah berusaha mencegahnya ",
Devan menatap wanita cantik di depannya, ia ingat siapa wanita itu.
" Tidak apa-apa Elena, kamu bisa kembali ke meja kerjamu ", kata Devan sambil menutup berkas di tangannya. Elena pun segera keluar dari ruangan Devan.
" Nona Veronica, apa ada yang bisa saya bantu. Apakah ada hal penting yang ingin anda sampaikan pada saya ", mendengar Devan berbicara secara resmi padanya, membuat Veronica merasa kesal. Ia berjalan mendekat ke arah meja kerja Devan dan berdiri di sampingnya. Tangan Veronica hendak memeluk lengan Devan, namun dengan cepat Devan menepisnya.
" Maaf nona tolong bersikaplah yang sopan ", geram Devan. Vero yang mendapat penolakan dari Devan bedecak sebal, ia beralih duduk di kursi yang berada di depan meja Devan. Ia masih belum menyerah juga.
" Ayolah Dev, jangan kaku seperti itu. Mama kamu berharap perkenalan kita kemarin bisa berlanjut ke hubungan lebih serius. Mama kamu tadi yang menyuruhku datang ke sini ", padahal dia datang atas kemauannya sendiri. cih dasar pembohong.
__ADS_1
" Bagaimana kalau sekarang kita makan siang bersama", usahanya masih saja berlanjut.
" Maaf nona Veronica, tetapi saya sama sekali tidak berkesan dengan pertemuan kita kemarin. Saya juga tidak tertarik untuk menjalin hubungan lebih serius dengan anda. Dan sebaiknya anda segera keluar dari ruangan saya. Hari ini pekerjaan saya sangat banyak ", kata Devan dengan ekspresi dinginnya.
Veronica yang mendengar jawaban dari Devan begitu geram. Baru kali ini dirinya di tolak mentah-mentah oleh lelaki. Awas saja kau Devan, aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku dan menyesali ucapanmu barusan, batin Veronica meradang. Veronica segera berdiri dari kursi dan keluar dari ruangan Devan sambil membanting pintu.
BRAKK
Devan tak mempedulikan hal itu, ia justru kesal pada sang mama. Gara-gara kelakuan sang mama yang suka menjodoh-jodohkan dirinya, ia harus menghadapi wanita-wanita itu. Tak mau semakin pusing, Devan kembali menyibukkan dirinya dengan berkas-berkas di atas meja.
Waktu berlalu begitu cepat, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Hari ini pekerjaan Devan tidak terlalu banyak, sehingga tidak mengharuskan dirinya lembur sampai malam. Ia segera menyambar jas di kursi dan segera turun menuju parkiran.
Kevin sang Asisten yang baru pulang meeting menggantikan Devan, sudah siaga di dekat mobil. melihat Devan keluar, Kevin segera membukakan pintu belakang.
Devan segera masuk, mendudukkan bokongnya di kursi penumpang. Menyandarkan kepalanya yang sedikit pusing karena kurang istirahat. Tangannya sibuk memijat mijat tengkuknya yang pegal.
__ADS_1
Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Membelah kemacetan yang cukup panjang. Satu jam kemudian, mobil yang di kemudikannya telah sampai di halaman rumah bosnya, Devan segera turun dan masuk ke rumah tanpa menghiraukan asistennya.
" ckk dasar bos, selalu seenaknya ", gerutu Kevin berlalu pergi mengendarai mobilnya meninggalkan rumah mewah atasannya.
Devan melangkahkan kakinya dengan sedikit tergesa, namun tiba-tiba pandangannya tertuju pada Dewi yang sedang membersihkan area ruang makan.
Eheem
Dewi yang mendengar deheman seseorang segera menoleh. Manik matanya mendapati sang anak majikan yang sedang berdiri tidak jauh darinya.
" A ada yang bisa saya bantu tuan ", tanya Dewi sopan.
" Tolong buatkan saya kopi dan antarkan ke kamar saya segera ",
" Baik tuan ", Dewi bergegas ke dapur setelah sang majikan naik ke lantai atas. Ia bahkan tidak melanjutkan pekerjaannya. Ah, nanti bisa aku kerjaan lagi, pikirnya.
__ADS_1
🌸 jangan lupa like dan komennya kakak 🌸