
Di sebuah kafe bernuansa kekinian nampak seorang pria tampan tengah duduk sendirian sambil menikmati capuccinonya.
Dia adalah Kevin, lelaki berusia dua puluh delapan tahun dengan wajah tampan khas orang Asia. Ia baru saja pulang dari rumah keluarga Vira. Kedatangannya ke sana adalah untuk membatalkan acara pertunangan mereka yang tinggal beberapa hari lagi.
Awalnya orang tua Vira sangat marah dengan keputusan sepihak dari Kevin. Namun setelah Kevin memperlihat video dimana Vira tengah bergandengan tangan sangat mesra bersama pria lain, kedua orang tua Vira akhirnya dengan pasrah menyetujuinya.
Kedua orang tua Vira nampak begitu kecewa dengan putri mereka. Padahal acara pertunangan tinggal beberapa hari lagi. Namun mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Kesalahan yang putri mereka lakukan sungguh sangatlah fatal.
Setelah pulang dari rumah keluarga Vira, di sinilah Kevin sekarang. Pikirannya Yang suntuk membawa mobilnya menepi di sebuah cafe bernuansa kekinian yang tidak terlalu ramai.
Sekarang hatinya merasa sangat lega setelah berhasil membatalkan acara pertunangannya. Apalagi sang mama sangat mendukung penuh keputusannya. Mamanya tidak mau jika anak semata wayangnya itu harus menikah dengan perempuan seperti Vira.
Di saat Kevin tengah sibuk dengan pikirannya, nampak segerombolan muda mudi tengah memasuki cafe tersebut. Mereka memilih duduk di kursi panjang yang tidak jauh dari Kevin. Mereka terlihat begitu berisik dengan suara canda tawanya.
Kevin yang merasa terusik mengalihkan tatapan matanya ke depan. Ia merasa kesal karena ketenangannya yang baru sebentar telah terganggu.
Terlihat di depannya ada Empat orang perempuan dan dua orang lelaki yang usianya di bawah Kevin. Manik mata Kevin semakin menyipit mendapati siluet seseorang yang sangat ia kenal. Namun karena posisi duduknya yang membelakangi Kevin membuatnya tidak bisa melihat wajahnya.
Namun saat perempuan itu menoleh untuk memanggil pelayanan, membuat Kevin yakin bahwa perempuan itu adalah Monica.
" Sedang apa gadis itu jam segini masih keluyuran di luar ", gumam Kevin tidak senang. Ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul Sembilan malam.
Dari jauh nampak salah satu teman lelaki Monica itu merapatkan duduknya pada Monica. Bahkan tangannya dengan berani mulai merangkul gadis itu. Nampak Monica yang berusaha melepas rangkulan pria di sampingnya.
Kevin yang melihat itu mengepalkan kedua tangannya dengan emosi. Tanpa berpikir panjang ia mulai bangkit dari duduknya. Apalagi saat manik matanya mendapati pria itu kembali merengkuh pinggang Monica membuat emosinya semakin membuncah.
Tak tak tak
Dengan langkah lebar ia menghampiri meja Monica.
" Monica "
Merasa namanya di panggil membuat Monica menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya ia saat melihat asisten kakaknya tengah berdiri di belakangnya.
" Kak Kevin ",
" Sedang apa kamu malam-malam begini masih kelayapan ",
Monica yang mendengar kata kelayapan merasa sedikit kesal. Dia tidak sedang kelayapan, ia saat ini tengah mencari makan karena merasa lapar sehabis menonton bioskop.
" Itu bukan urusan kak Kevin ", kata Monica yang kembali menghadap ke depan mengabaikan Kevin.
Kevin yang kesal menarik tangan Monica agar ikut dengannya.
" Ikut aku Monica, biar aku antar kamu pulang ",
" Nggak mau kak, aku masih ingin berkumpul bersama mereka ", mohon Monica sambil berusaha melepas genggaman Kevin di lengannya.
" Wah bro, jangan kasar dong sama cewek ", ujar salah satu lelaki teman Monica.
" Kamu jangan ikut campur ", geram Kevin.
__ADS_1
" Monic kamu ikut saya atau saya kasih tahu mama kamu kalau kamu keluar bersama pria. Aku yakin kamu meminta ijin sama mama kamu hanya keluar dengan teman perempuan kamu kan ? ",
Monica yang mendengar ancaman Kevin merasa takut. Meski apa yang di katakan Kevin tidak sepenuhnya benar. Ia sebenarnya tadi keluar bersama ketiga sahabatnya, namun saat di depan bioskop kedua pria yang merupakan teman kampusnya itu mengajak untuk bergabung.
" Ya sudah Monic ikut kak Kevin "
" Kita gimana Monic, baru juga jam sembilan ", protes salah satu temannya.
" Maaf ya, lain kali kita bisa atur ulang lagi buat kumpul-kumpul ", kata Monica yang merasa tidak enak hati.
Belum selesai Monica bicara Kevin sudah menarik tangan gadis itu keluar cafe. Teman-teman Monica hanya bisa menahan kesal melihat kelakuan Kevin.
Setelah sampai di dekat mobil, Kevin segera membuka pintu dan menyuruh Monica masuk. Dengan kesal Monica masuk ke dalam dan membanting pintu mobil itu sangat keras.
Braaakkkk
Kevin yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala. Ia segera masuk dan melajukan mobilnya ke arah jalan raya. Di dalam mobil keduanya sama-sama diam. Kevin sendiri tengah bingung dengan apa yang barusan ia lakukan.
Ia tidak mengerti kenapa dirinya begitu kesal melihat Monica di sentuh pria lain. Padahal Monica bukanlah siapa-siapanya. Kevin menoleh menatap Monica yang tengah cemberut menatap ke arah luar jendela.
" Maaf ", kata Kevin memecah keheningan.
" Kak Kevin keterlaluan, ngapain coba ngajak Monic pulang. Monic masih ingin bareng teman-teman Monic ", kesal Monica yang mulai memukul-mukul lengan Kevin.
" Cukup Monica, nanti kita bisa celaka ",
" Nggak mau, pokoknya Monica mau kembali ke cafe tadi ", kata Monica masih tetap memukul lengan Kevin.
Kevin yang tidak ingin terjadi apa-apa segera menepikan mobilnya. Setelah mobil berhenti ia dengan cepat meraih tangan Monica yang sibuk memukulinya.
Kevin yang sudah habis kesabaran, segera meraih tengkuk Monica dan ******* bibirnya.
Monica langsung terdiam karena perbuatan nekat Kevin. Melihat Monica terdiam Kevin dengan berani mulai menggerakkan bibirnya. Ia mulai menyesap bibir manis itu bergantian. Memperdalam ciuman itu yang membuat Monica mau tidak mau membalas ciumannya.
Kevin yang merasa tubuhnya mulai di kuasai oleh gairah segera menyudahi ciumannya. Ia mengelap bibir Monica yang basah menggunakan ibu jarinya. Muncul rona merah di kedua pipi Monica yang tengah merasa malu karena ciuman Kevin barusan.
" Maaf Monic, tadi aku berbuat seperti itu karena aku melihat kamu yang di raba-raba oleh teman lelakimu. Bahkan aku bisa melihat kamu yang mulai tidak nyaman dengan perlakukan temanmu itu ", jelas Kevin.
Monica yang masih di Landa rasa canggung hanya diam membisu. Ia merasa aneh dengan sikap lelaki di sampingnya. Bukankah kak Kevin akan bertunangan sebentar lagi. Lalu kenapa ia sekarang malah menciumnya.
Namun tak dapat ia pungkiri bahwa sekarang hatinya sangat bahagia. Ciuman pertamanya telah ia berikan untuk lelaki yang sangat di cintainya.
Saat sibuk dengan pikiran masing-masing tiba-tiba terdengar suara dari perut Monica.
Kruyukkkk
Monica yang terkejut dengan suara perutnya sendiri segera memegangnya. Ia menatap Kevin sambil nyengir menahan malu.
Kevin yang melihat ekspresi lucu Monica nampak mengulum senyumnya.
" Sepertinya cacing-cacing di perutmu sedang kelaparan Monic.Kita cari makan di dekat sini saja ya ",
__ADS_1
Monica yang masih malu hanya menganggukkan kepala. Kevin yang gemas mengelus rambut Monica dan mengecupnya.
Monica di buat terpana dengan perlakuan lembut Kevin. Hatinya semakin bingung antara harus senang atau sedih. Mengingat sebentar lagi pria di sampingnya itu akan di miliki oleh perempuan lain.
🌸
🌸
Pagi hari di kediaman Aditama.
Di sebuah ranjang mewah berukuran king size nampak Devan yang tengah menggeliat. Dengan mata yang masih terpejam tangannya sibuk meraba ranjang di sisinya.
Tidak mendapati sang istri di sampingnya ia segera membuka kedua matanya. Di lihatnya jam di atas nakas yang menunjukkan pukul lima pagi. Kemana istrinya ?
Samar-samar Devan mendengar suara Isak tangis dari dalam kamar mandi. Ia buru-buru turun dari ranjang dan melangkah menuju ke sana.
Ceklek
Saat Devan membuka pintu kamar mandi itu nampak Dewi yang tengah duduk di atas closet sambil menangis. Buru-buru Devan menghampiri istrinya itu.
" Sayang ada apa ? " tanyanya cemas.
Dewi mendongak menatap wajah tampan suaminya yang tengah memeluknya.
" Mas ",
" Ada apa sayang ? Kenapa menangis ?
Dewi tidak menjawab pertanyaan suaminya, namun ia malah menyerahkan benda pipih ke tangan Devan.
Manik mata Devan menatap benda pipih itu yang terdapat garis merah berjumlah dua di tengahnya. Ia mencoba mengenali benda apa itu. Dan beberapa detik kemudian.
" Sayang kamu kamu ",
" Sayang kamu hamil ", Dewi mengangguk membenarkan suaminya.
" Ya Tuhan terima kasih ", kata Devan sambil memeluk lagi istrinya.
Devan merangkul istrinya dan mengajaknya keluar dari sana. Di dudukannya Dewi di pinggir ranjang.
Ia berjongkok di depan sang istri sambil mengelus perut Dewi yang masih rata.
" Halo calon debay nya papah " Kata Devan yang membuat Dewi tersenyum.
" Sayang nanti kita ke dokter kandungan ya. Aku pengen memastikan kabar bahagia ini ",
" Iya mas, Dewi juga pengen melihat calon anak kita nanti ", jawab Dewi sambil mengusap sisa air matanya.
Devan yang sangat bahagia segera memeluk istrinya dan mencium puncak kepala dewi berulang kali.
Senengnya papa Devan ☺️
__ADS_1
Tak tunggu loh Like dan komen nya kakak-kakak semua 😁
Terima kasih