Cinta Untuk Majikan Tampan

Cinta Untuk Majikan Tampan
Bab 9


__ADS_3

Tak terasa sudah sebulan saja Dewi bekerja di kediaman keluarga Aditama. Selama sebulan bekerja di sana , Dewi merasa sangat nyaman. Memiliki majikan yang nggak rewel, serta teman-teman yang serasa seperti keluarga. Belakangan ia jarang melihat majikan tampannya. Dengar-dengar sang majikan tampannya itu sedang menggarap proyek di luar kota. Sebenarnya ia merasa rindu melihat wajah tampan sang majikan. Terakhir melihat wajah itu, dua Minggu yang lalu saat sang majikan sedang sarapan bersama keluarganya.


Sebenarnya Dewi sudah berusaha menepis perasaannya sendiri. Ia sadar betul, tak seharusnya menaruh hati pada sang majikan. Tapi siapalah dia, bahkan melawan perasaannya sendiri saja ia tak mampu. Semakin ia berusaha menepis perasaannya, semakin tumbuh suburlah perasaan rindu itu di hatinya.


Hari ini rasa rindu Dewi pada sang majikan sedikit teralihkan. Pasalnya, pagi tadi ia menerima amplop gaji dari mama Nabila. Ini gaji pertamanya bekerja di keluarga Aditama. Ketika amplop terbuka, Dewi begitu bahagia mendapati banyak lembaran warna merah bergambarkan presiden nomor satu Indonesia sedang tersenyum padanya. Bahkan gajinya itu tiga kali lipat lebih besar dari gajinya di pabrik dulu. Karena asyik menghitung uangnya, Dewi sampai tidak menyadari kedatangan Tina ke kamarnya, Tampak Tina bersandar pada daun pintu yang terbuka.


" Cie cie yang lagi seneng, serius bener ngitungnya ", goda Tina sambil menarik turunkan alisnya.


" mau dong wi di traktir ",


" boleh. Mbk Tina mau Dewi traktir apa ? ", tanya Dewi yang membuat Tina jadi salah tingkah.


" hehehe nggak kok wi cuma bercanda ", padahal aslinya ngarep 😁


" Tapi Dewi serius Lo mbk. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih Dewi sama mbk Tina karena sudah di ajak bekerja di sini ",

__ADS_1


" Ya kalo kamu maunya gitu ya gak apa-apa. Gimana kalau makan bakso yang dekat perempatan itu", usulnya yang senang mendapat traktiran.


" Boleh, Dewi ngikut mbk Tina saja kapan ya mbk enaknya?


" gimana kalo besok malam saja wi. Nanti aku deh yang minta ijin sama nyonya", kata Tina bersemangat.


" Siap mbk tin. Jangan lupa ajak Puput sekalian",


" beres, ya sudah aku mau balik ke kamarku dulu", kata Tina beranjak pergi dari kamar Dewi.


Keesokan harinya tepat pukul 7 malam, terlihat Tina, Dewi dan Puput keluar dari arah belakang rumah utama. Terlihat ketiganya sedang asyik bercanda sambil sesekali saling mendorong. Pak Ahmad yang melihat mereka bertiga hendak menuju pintu gerbang, segera keluar dari pos berniat untuk menggoda.


" eheem ehem, cewek-cewek cantik ini mau kemana kok ceria bener", tanya pak Ahmad sumringah. Tina yang kurang suka dengan pak Ahmad, menatap satpam itu dengan sebal.


" Mang Ahmad nanya atau bertanya-tanya", kata Tina dengan aksen yang dibuat-buat. Mendengar pertanyaan balik dari Tina, senyum lebar pak Ahmad seketika sirna. Pak Ahmad melengos dan berlalu masuk ke dalam pos satpam. Hilang sudah niatnya untuk menggoda wkwkwk. Melihat reaksi pak Ahmad membuat ketiganya tertawa cekikikan kemudian berjalan kembali menuju gerbang. Baru juga akan melangkahkan kaki keluar gerbang, kini giliran abdi yang datang.

__ADS_1


" eh ada dek Dewi, mau kemana? tanya abdi yang tertarik dengan Dewi sejak pertama kali bertemu.


" ish ish ish mas Abdi. kita juga ada disini, kenapa yang di sapa cuma mbk Dewi ", protes Puput.


" Maaf dek Puput, soalnya kalo ada dek Dewi yang lainnya jadi tak kasat mata ", kata abdi mengulum senyum sambil menatap sang pujaan hati.


" Tak kasat mata", tanya Tina sambil garuk-garuk kepala. sedetik kemudian,


" Setan dong ", teriak Tina dan Puput bersamaan. Pak Ahmad yang berada di dalam pos, seketika tertawa terbahak-bahak mendengarnya.


Tina yang mendengar suara tawa pak Ahmad mendengus sebal. Di tariknya tangan Dewi juga Puput keluar gerbang. Lama-lama di dekat duo satpam edan itu bisa kumat darah tingginya.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi tingkah laku mereka telah diawasi oleh seseorang dari balkon. Orang itu tak lain adalah Devan sang majikan. Sebenarnya Devan sudah pulang sejak tadi pagi, namun karena kelelahan ia memutuskan untuk beristirahat di dalam kamar.


Awalnya ia tadi berniat memeriksa email di laptop sambil merokok di balkon. Akan tetapi konsentrasinya jadi terganggu mendengar obrolan absurd para pembantunya. Terlebih lagi matanya mendapati sosok gadis manis yang beberapa hari ini ia rindukan. Melihat tawa ceria di wajah pembantu barunya itu, hati Devan tiba-tiba menghangat. Ia juga tidak mengerti dengan dirinya, bisa-bisanya dia tertarik pada pembantu di rumahnya. Setelah ketiga pembantunya itu keluar gerbang dan berjalan menjauh dari rumah, Devan meneruskan kembali pekerjaannya yang tertunda.

__ADS_1


__ADS_2