Cinta Untuk Majikan Tampan

Cinta Untuk Majikan Tampan
Bab 34


__ADS_3

Mama Nabila memasuki kamarnya dan segera menutup pintunya. Tubuhnya merosot ke bawah dan punggungnya bersandar pada pintu kamar yang telah tertutup. Tangannya menangkup wajahnya yang sudah basah oleh air mata. Sebenarnya hatinya juga sakit melakukan semua itu, melihat betapa gigih putranya itu memperjuangkan cintanya. Tapi rasa takut di gunjingkan oleh tetangga dan juga teman-temannya membuat dirinya menjadi egois.


" Maafin mama Van, mama belum siap menerima hinaan dari orang-orang. Mama sayang sama kamu Van ", mama Nabila menangis tergugu di dalam kamarnya sendirian.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Pagi hari di teras rumah sederhana, terlihat gadis cantik yang tengah termenung. Ia menggenggam sebuah pisau yang ia gunakan untuk mengupas wortel dan kentang.


" Wi, wortelnya sudah selesai di kupas belum ? Tuh ibukmu manggil kamu dari tadi kok kamu diam saja ", kata pak Danu dari arah dalam rumah.


" Dewi "


" Belum pak ", jawab Dewi murung.


" Kamu kenapa lagi sih nduk, kangen sama nak Devan ? ", goda pak Danu pada putrinya.


" Ih bapak kok ngomongnya gitu "


" Tapi benerkan tebakan bapak ? ", Dewi melengos tidak menanggapi candaan bapaknya. Muncul semburat merah di pipinya karena malu.


" Bagaimana apa nak Devan sudah berhasil mendapatkan restu dari orang tuanya ? ", tanya pak Danu yang langsung mendapat gelengan dari Dewi.


" Sepertinya nyonya kekeh tidak mau merestui hubungan kami pak ", keluh Dewi menghela napas panjang.


" Yang sabar nduk. Semua butuh waktu, tidak mudah mengubah hati seseorang. Banyakin berdoa sama Yang Maha Kuasa, minta agar di permudah segala urusan kita ", nasehat pak Danu pada putri sulungnya.


Bu Surti yang menyuruh suaminya untuk memanggilkan Dewi tidak kunjung nampak, segera menyusul ke depan rumah.


" Oalah pak pak, bapak itu ibuk suruh manggil Dewi supaya ke dapur, kok dewinya malah di ajak ngobrol ", omel Bu Surti pada sang suami.


" Maaf buk, bapak tadi lihat Dewi belum selesai ngupas jadi bapak bantu sekalian ",


" Alasanmu saja pak pak ", jawab Bu Surti kesal. Tangannya menyambar ember berisi wortel dan kentang yang sudah di kupas lalu melenggang pergi. Melihat istrinya marah-marah pak Danu hanya geleng-geleng kepala.


" Ibukmu itu wi "


" istrimu itu pak "


Anak dan bapak itu saling pandang dan sedetik kemudian terdengar gelak tawa keduanya.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ.

__ADS_1


Di kediaman Aditama.


Pagi itu mama nabila sibuk membantu mbak Tina menyiapkan sarapan. Tampak sang suami yang terlebih dulu turun dan di susul anak bungsunya Monica.


" Pagi mah "


" Pagi sayang "


" Kak Alex belum pulang mah ? "


" Belum sayang, padahal sudah satu Minggu di sana. Biar nanti mama telepon kakakmu itu. Kebiasaan kalau sudah sibuk lupa sama keluarga ", omel mama Nabila.


" Punya pacar kali mah di sana " mama Nabila hanya menggendikkan bahu menjawab omongan putrinya.


Tak Tak Tak


Terdengar suara sepatu menapaki lantai dari arah tangga. Devan yang sudah rapi turun menuju meja makan. Ia mendudukkan tubuhnya di dekat Monica. Biasanya ia akan duduk di sebelah kiri mamanya.


Melihat itu membuat mama Nabila terasa tercubit hatinya. Apakah putranya itu kembali mengibarkan bendera perlawanan. Di amatinya wajah putra sulungnya yang semakin dingin dan datar. Aura yang keluar dari tubuhnya membuat orang takut mendekatinya. Lidah mama Nabila terasa kelu untuk sekedar menyapa putranya.


" Kak Devan, Monic nebeng ke kampus ya "


" Hemm " jawab Devan singkat.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Devan segera beranjak dari duduknya. Ia menyalami ke dua orang tuanya dengan wajah datar dan tanpa sepatah kata. Hati mama Nabila semakin berdenyut nyeri melihatnya.


" kakak tunggu di depan " kata Devan pada Monic sambil berlalu pergi.


" Siap kak "


.


.


Di kantor Aditama groub.


" Bos hari ini akan ada jadwal rapat pukul sepuluh pagi ", Kevin yang tidak mendapat jawaban mendongak menatap bosnya yang terlihat melamun.


" Bos "


" Ya Vin ada apa ? "

__ADS_1


" Apa bos baik-baik saja. Sepertinya bos sedang ada masalah. Bagaimana kalau rapat kita tunda besuk saja ? " usul kevin yang tidak tega melihat bosnya.


" Tidak perlu. Rapat harus tetap dilaksanakan Vin, saya harus profesional. Kamu siapkan semua berkas-berkas yang di butuhkan. Dan, suruh elena untuk membuatkan saya kopi ",


" Baik bos ", kevin pun keluar dari ruangan bosnya. Sepeninggalan Kevin, Devan memijat tengkuknya yang terasa sakit sampai ujung kepala.


.


.


Waktu berlalu begitu cepat, sekarang waktunya Devan untuk pulang. Devan segera mengakhiri pekerjaannya dan merapikan berkas-berkas di atas meja kerjanya. Kemudian ia memakai jasnya yang tadi ia letakkan pada sandaran kursi.


Sore itu hujan gerimis turun menemani perjalanan Devan menuju rumahnya. Saat menatap ke arah luar jendela, pandangannya tertuju pada toko mainan. Seulas senyum terbit dari sudut bibirnya. Mengingatkan kebersamaannya bersama keluarga Dewi di kampung.


Saat mobilnya melintasi sebuah cafe, Devan meminta Kevin membelokkan mobilnya ke sana. Ia ingin bersantai sejenak menikmati suasana sore di cafe dengan nuansa jadul itu. Devan melangkah masuk mencari tempat yang sekiranya nyaman dan jauh dari keramaian.


Namun tanpa sengaja netranya melihat sekumpulan wanita yang seumuran mamanya. Matanya semakin memicing tajam tatkala melihat Tante Anita di sana.


" Mungkin itu teman-teman arisan mama" batin Devan.


Kaki jenjangnya berjalan menuju meja kosong di dekat kumpulan wanita tadi. Posisinya saat ini terhalang oleh vas bunga besar. Sehingga tidak akan terlihat dari posisi duduk Tante Anita. Akan tetapi Devan dapat mendengar dengan jelas percakapan mereka.


" Tahu gak jeng Nita, masa kemarin itu jeng Sonya ngajak menantunya yang penjaga kantin itu datang ke kumpulan arisan kita-kita ",


" Masa sih jeng ", tanya Anita tidak percaya.


" Iya benar jeng. Kamu tahu gak jeng penampilannya itu ya ampun kampungan banget deh. Kamu sih jeng gak ikut kemarin ",


" Iya bener, kita jadi gak respek sama jeng Sonya ", timpal Nelly.


" Aku juga gak mau deket-deket lagi sama jeng Sonya, takut ketularan punya mantu kampungan ", kata salah satu dari mereka yang di sambut gelak tawa dari teman-temannya.


Devan yang mendengar semua pembicaraan mereka mengepalkan kedua tangannya. Jadi ini yang membuat pemikiran mamanya berubah. Rupanya sang mama telah salah memilih teman. Devan jadi geram sendiri, ingin sekali ia membalikkan meja tempat wanita-wanita itu bergosip.


" Vin, foto semua wanita-wanita di sana. Cari tahu dengan detail identitas suami mereka. Setelah itu kamu blacklist perusahaan suami mereka dari daftar perusahaan yang mau bekerja sama dengan kita ", perintah Devan yang tersulut emosi. Kenapa ada wanita bermulut kotor seperti mereka.


" Tapi bos untuk apa... " Kevin tidak jadi meneruskan ucapannya karena mendapat tatapan mengerikan dari bosnya.


" Ba baik bos " jawab Kevin pasrah.


Devan pun berlalu pergi meninggalkan cafe tersebut. Hilang sudah moodnya tadi yang ingin bersantai di sana. Kevin mengikuti langkah bosnya dengan banyak pertanyaan di benaknya.

__ADS_1


* Sabar ya mas Kevin wkwkwkwk *


๐ŸŒธJangan lupa like komen dan juga vote nya kakak. Tak tunggu Loh ya ๐Ÿ˜๐ŸŒธ


__ADS_2