Cinta Untuk Majikan Tampan

Cinta Untuk Majikan Tampan
Bab 31


__ADS_3

Devan menatap penampilannya di depan cermin. Kaos dengan tulisan merk cat nampak melekat sempurna di badan atletisnya.


" Tidak buruk, tetap terlihat tampan ", gumam Devan sambil tersenyum narsis.


Setelah cukup lama mematut diri di depan cermin, dengan percaya diri ia keluar dari kamar. Dewi menatap penampilan tuannya yang tetap saja terlihat tampan meski memakai kaos murahan.


" Ayo tuan nanti keburu siang, bapak sudah berangkat duluan ", kata Dewi sambil membawa tas jinjing yang berisi teh dalam botol dan juga bekal makan siang. Mereka segera berangkat mumpung hari masih pagi. Biasanya jam segini Devan masih asyik bergelung dalam selimut di temani mimpi. Ia jadi merasa bersalah karena sering menyia-nyiakan makanan. Ia sekarang sadar bahwa ada perjuangan para petani di balik makanan yang ia makan selama ini.


Dewi berjalan menyusuri gang sempit demi menuju sawah tetangga yang sedang di garap oleh bapaknya. Ia menatap tuannya yang terlihat bersemangat sekali.


" Tuan, apa anda tidak takut kepanasan. Nanti kulit anda yang putih itu bisa menghitam loh ", kata Dewi yang di balas senyum oleh Devan.


" Saya tidak takut hitam, saya lebih takut di tinggalin sama kamu ", jawab Devan sambil melirik sang kekasih. Mendengar ucapan tuannya membuat Dewi tersipu malu. Ternyata di balik wajahnya yang dulu datar, tuannya itu juga pandai menggombal.


Setelah lima belas menit berjalan, akhirnya mereka sampai juga. Devan menatap takjub pada hamparan padi hijau yang membentang sepanjang mata memandang. Udara yang segar dan sedikit dingin menerpa dengan lembut kulit tubuhnya. Ia mulai turun membantu pak Danu menanam padi. Awal-awal ia sangat kesusahan berjalan di lumpur yang lengket itu. Tapi setelah cukup lama dan dengan bantuan pak danu yang sangat telaten membuat hasil kerjanya menanam padi tidak terlalu buruk.


Hari semakin siang, matahari bersinar semakin terik. Akhirnya mereka memutuskan beristirahat di saung yang terletak di tengah sawah.


" Bagaimana nak Devan, capek ? ", tanya pak Danu seraya menatap majikannya putrinya yang badannya di banjiri keringat.


" Lumayan pak, lumayan menguras tenaga", jawab Devan yang mengundang gelak tawa pak Danu dan Dewi.


Dewi menata makan siang itu di atas tikar yang baru ia gelar. Ada nasi, sayur asem, sambal terasi, ikan laut dan tempe. Devan menatap makanan di depannya dengan mata berbinar. Rasa lelah yang menguras tenaganya, membuat nafsu makannya bertambah. Akhirnya mereka makan sambil mendengarkan cerita pak Danu tentang cara menanam dan merawat padi.


.


.

__ADS_1


Sore harinya pak Danu mengajak Devan duduk-duduk di depan rumah.


" Sebelumnya bapak minta maaf nak Devan, bukan maksud bapak ikut campur urusan nak Devan. Tapi karena ini menyangkut putri bapak, jadi bapak tidak bisa berdiam diri saja ", kata pak Danu hati-hati.


" Ya pak saya mengerti. Silahkan jika bapak ingin menanyakan sesuatu pada saya ", jawab Devan mulai serius.


" Kemarin Dewi sudah bercerita sama bapak mengenai hubungan kalian yang tidak mendapatkan restu dari orang tua nak Devan. Menurut bapak, sebaiknya nak Devan jangan lari dari masalah. Selesaikan dulu masalah nak Devan dengan orang tua nak Devan. Saya tidak ingin orang tua nak Devan berpikir kalau Dewi membawa dampak buruk pada putranya ", kata pak Danu. Devan terdiam mencerna omongan calon mertuanya. Saat Devan hendak bicara, nampak Dewi berjalan menghampiri mereka dengan membawa dua gelas kopi.


" Sini nduk duduk dulu ", kata pak Danu di angguki Dewi. Putrinya itu dengan segera duduk di samping sang bapak.


" Nak Devan tidak usah kawatir. Saya yakin Dewi pasti mau menunggu nak Devan sampai berhasil mendapatkan restu dari orang tua nak Devan. Betulkan nduk ", tanya pak Danu pada putrinya, yang di angguki malu-malu oleh Dewi.


" Apa itu berarti bapak merestui hubungan kami ? ", tanya Devan dengan serius.


" Semua saya serahkan pada Dewi nak, kalau Dewi menerima maka kami sebagai orang tua juga akan mendukung keputusannya. Apalagi kami sudah mengenal nak Devan. Nak Devan adalah laki-laki yang baik dan bertanggungjawab. Kami akan tenang melepas Dewi untuk nak Devan ke depannya ", kata pak Danu yang membuat hati Devan lega seketika. Devan segera menyalami pak Danu dan mencium tangannya.


" Tapi bolehkah saya tinggal di sini untuk beberapa hari lagi. Saya merasa nyaman dan tenang tinggal di sini. Saya janji setelah itu akan segera kembali ke kota ", tanya Devan penuh harap.


" Boleh saja nak Devan, tapi nak Devan harus mencari penginapan terdekat. Saya tidak ingin timbul fitnah jika nak Devan menginap lagi di sini. Maaf ya nak Devan, bapak harap nak Devan mengerti ",


" Iya pak tidak apa-apa, saya mengerti ", kata Devan seraya melirik Dewi yang juga tengah menatapnya.


🌸🌸🌸🌸


Pagi hari di kediaman Aditama.


" Mamah makannya kok sedikit ", tanya papa rehan melihat istrinya yang hanyak mengaduk-aduk sarapannya.

__ADS_1


" Mamah gak selera makan pah ", jawab mama Nabila lesu.


" Kalau gak makan nanti mama sakit loh ", kata papa rehan mulai kawatir.


" Mamah kangen sama Devan pah. Kenapa Devan gak pulang-pulang sih pah ", tanya mama Nabila yang mulai terisak.


" Kalau mama pengen Devan cepat pulang, gampang kok caranya ",


" Bagaimana pah caranya? tanya mama Nabila bersemangat.


" Ya tinggal mama restui saja hubungan Devan sama Dewi ", kata papa rehan yang langsung di tatap tajam oleh istrinya.


" Nggak, mama nggak akan kasih restu buat mereka ", kata mama Nabila yang beranjak dari duduknya dan berjalan cepat menaiki tangga menuju kamar. Melihat kelakuan istrinya papa rehan menghela napas kesal.


Mama Nabila menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur menangis terisak. Kenapa semua orang di rumah ini tidak ada yang mendukungnya. Kemarin Monica juga menyalahkan dirinya yang membuat sang kakak pergi dari rumah. Ketika ia meminta dukungan Alex putra keduanya, malah tidak di tanggapi dan alex malah pergi ke Bandung mengurus cafenya.


Papa rehan yang berdiri di ambang pintu jadi tidak tega melihat istrinya menangis. Dengan pelan ia mendudukkan dirinya di tepian ranjang. Tangannya dengan lembut menepuk-nepuk punggung sang istri.


" Semalam papa sudah menelepon Devan mah. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri. Apa mama tidak kasihan pada putra kita itu. Setelah sekian lama, baru sekarang ia bisa membuka hatinya lagi ", bujuk papa rehan pada sang istri.


" Mama akan kasih restu kalau Dewi bukan pembantu di rumah kita pah. Papa jangan bujuk mama lagi, mama tetap gak akan mau merestui hubungan mereka ", kata mama Nabila yang kemudian menutupi telinganya dengan bantal. Papa rehan menghela napas kasar. Ia mulai bosan membujuk istrinya yang keras kepala itu.


" Terserah mama ", kata papa rehan beranjak pergi. Ia harus segera ke kantor untuk menggantikan Devan sementara.


*Sabar ya papa rehan*


🌸 Like komen dan bintangnya jangan lupa ya kakak 🌸

__ADS_1


__ADS_2