Cinta Untuk Majikan Tampan

Cinta Untuk Majikan Tampan
Bab 15


__ADS_3

Akhirnya malam itu Devan menginap di rumah Dewi di kampung. Karena kamar di rumah Dewi hanya ada tiga dan penuh semua, Devan akhirnya tidur di ruang tamu. Sebenarnya Ridwan adik Dewi meminta Devan tidur di kamar nya, tentu saja Devan tidak mau. Apakah dia lelaki yang kejam membiarkan seorang anak kecil tidur di lantai sedang dirinya tidur di atas ranjang.


Dewi dibantu Devan sedang memindah kursi dan meja untuk dirapatkan ke dinding. berharap ruang tamu itu menjadi sedikit lega. Setelah semua rapi, Dewi menggelar tikar yang di lapisi kasur tipis di atasnya. Setelahnya ia masuk ke kamar mengambil bantal untuk sang majikan.


" Tuan ini bantal anda. Maaf kami tidak bisa menjamu tuan dengan baik. Bahkan tiba bisa memberikan tempat tidur yang layak untuk tuan ", kata Dewi menunduk malu.


Devan mengambil bantal dari tangan Dewi dan duduk berselonjor di kasur tipis tersebut. punggung tegabnya ia sandarkan pada kursi yang sudah merapat pada dinding tadi.


" Tidak apa-apa. Jangan minta maaf terus saya bosan mendengarnya ", kata Devan seraya tersenyum.


" Wi ", panggilnya pelan


" Ya tuan ", jawab Dewi menatap wajah tampan majikannya.


" Saya belum bisa tidur. Kamu mau kan menemani saya mengobrol sebentar ? Tanya Devan penuh harap. Dewi menatap jam dinding tua di rumahnya, masih pukul setengah sepuluh batinnya.


" Baiklah ", jawab Dewi seraya duduk bersimpuh di depan sang majikan. Melihat Dewi sudah duduk, Devan memberanikan diri untuk bertanya. pertanyaan yang dari kemarin ingin dia lontarkan pada pembantunya.


" Boleh saya menanyakan sesuatu ", Dewi diam lalu mengangguk tanda setuju.


" Tuan ingin menanyakan apa ", Sebelum bertanya Devan menghela napasnya pelan. Takut kalau jawabannya tidak sesuai harapan.


" Kenapa kemarin kamu menghindari saya wi. Apa apa karena saya yang telah mencuri ciuman di pipi kamu kemarin ", tanya Devan dengan hati-hati. Dewi yang mendengar itu jadi teringat kembali dengan kejadian tersebut. Muncul rona merah di pipi mulusnya karena malu mengingatnya.


" Bu bukan tuan ", jawabnya menunduk menyembunyikan rona merah di pipinya. Devan tersenyum lega, apa yang ditakutinya ternyata salah.


" Lalu kenapa kamu menghindari saya wi ",

__ADS_1


" Saya takut di pecat nyonya tuan. Saya tidak mau itu terjadi, saya masih harus membantu orang tua saya menyekolahkan adik-adik saya ", jawabnya dengan tatapan sendu. Sekarang devan mengerti, apa yang dikatakan Dewi ada benarnya. Mamanya pasti akan menolak mentah-mentah jika Devan menjalin hubungan dengan pembantunya sendiri.


" Maaf kan saya tuan, tidak seharusnya saya menghindari tuan ", Dewi merasa bersalah pada tuannya. lelaki yang ternyata begitu baik pada keluarganya. Padahal derajat mereka berbeda sangat jauh, tapi Devan tidak terlihat seperti orang-orang kaya yang angkuh seperti dalam pikirannya.


Devan mendekat ke arah Dewi, diraihnya jemari lentik pembantunya itu.


" Boleh saya meminta sesuatu sama kamu ",


" Apa tuan", tanya Dewi sedikit heran. Tuannya itu sudah punya segalanya. memang apa yang bisa ia minta dari dirinya yang hanya seorang pembantu.


" Tolong, jangan jauhi saya lagi, kamu mau kan wi ", nampak Dewi terdiam. Terlihat kebimbangan yang tergambar jelas di wajahnya. Dewi memberanikan diri menatap manik mata tuannya, terlihat kesedihan di dalamnya yang membuat Dewi tidak mampu menolak. Dan Dewi pun mengangguk pelan.


Devan tersenyum senang, tangannya terulur membelai lembut pipi pembantunya itu. Saat nalurinya ingin bertindak lebih. Mereka di kejutkan dengan sesuatu yang terjatuh.


Gubrak


" Kalian sedang apa? kenapa belum tidur ? tanya Dewi sambil berkacak pinggang. Amel si bungsu berlari memeluk Dewi.


" Tadi Amel mau tidur sama mbk Dewi, tapi saat mau keluar kamar Amel lihat mbk Dewi sama om lagi ngobrol. lalu bang Ridwan ngajakin ngintip dari balik pintu ", jawab Amel dengan polosnya. Dewi yang mendengar itu melototkan matanya ke arah Ridwan. Ridwan hanya meringis sambil garuk garuk kepala. Devan hanya mengulum senyumnya melihat tingkah calon adik-adiknya. Akhirnya mereka bertiga malah tidur di lantai menemani Devan.


🌸🌸🌸🌸


Keesokan paginya Devan mengantar pak Danu memeriksakan diri ke rumah sakit di kota tempat Dewi tinggal. Dokter memberitahukan bahwa pak Danu hanya kelelahan, dan terlalu banyak pikiran. Dewi menjadi merasa bersalah. Di dalam mobil menuju pulang, Dewi menggenggam tangan bapaknya.


" Bapak jangan terlalu banyak pikiran, Dewi di sana baik-baik saja. semua orang sangat baik sama Dewi. Bapak lihat sendiri, tuan Devan begitu baik pada keluarga kita ", kata Dewi yan g membuat Devan melayang karena dipuji di depan calon mertua.


" Bapak kamu itu memang susah dibilangin wi, dulu aja berangkat ibuk yang ditenang-tenangin. Eh giliran kamu jauh dia yang mikir tiap hari ", kata Bu Surti mengeluarkan uneg-unegnya.

__ADS_1


" Iya maaf ya buk. Sekarang bapak lega, ternyata Dewi bekerja di keluarga yang sangat baik seperti tuan Devan ", kata pak Danu menggenggam erat jemari anaknya. Devan melirik Dewi dari spion, bibirnya tersenyum tipis melihat wajah Dewi sudah kembali ceria.


.


.


Sore harinya setelah mengajak adik-adik Dewi jalan-jalan, Devan pamit untuk kembali ke kota. Sebenarnya Devan masih ingin tinggal dan kembali ke kota bersama Dewi. Namun tadi siang Kevin menelepon mengabarkan bahwa besok pagi tuan William dari Singapura akan datang. Karena ini proyek yang sangat penting, Devan tidak bisa mengabaikannya.


" Tuan Devan hati-hati di jalan. Terima kasih banyak atas kebaikan tuan pada keluarga saya ", kata pak Danu menjabat tangan Devan.


" Iya pak sama-sama. Tapi jangan panggil saya tuan panggil saja Devan ",


" Baiklah nak Devan hati-hati di jalan ", kata pak Danu seraya tersenyum. ketiga adik Dewi mendekat ke arah Devan.


" Kak Devan kalau disana nanti tolong jagain mbk Dewi ya ", pinta Ridwan.


" om Devan, kapan kapan kesini lagi ya. Amel mau di ajak naik mobil lagi ", kata Amel manja. Rani yang pemalu hanya diam saja di belakang Ridwan.


" Ok, om akan jaga mbk Dewi dan om janji akan datang lagi ke sini ", jawab Devan sambil membelai kepala mereka satu-satu.


" Terima kasih mainannya yang kemarin. Besok kalau kesini lagi amel juga mau dibeliin mainan lagi ", celoteh Amel yang mengundang gelak tawa semuanya.


Akhirnya sore itu dengan berat hati Devan meninggalkan rumah pak Danu. Dewi menatap kepergian mobil Devan dengan perasaan haru. Dalam hati mendoakan majikannya itu agar selalu dilimpahi kesehatan dan salamat sampai tujuan.


Di dalam mobil Devan menyunggingkan senyuman, hatinya merasa sangat bahagia.


Dalam hati dia berjanji akan memperjuangkan perasaannya. Dimulai dari meyakinkan hati Dewi pembantunya agar mau menerima cintanya.

__ADS_1


🌸 like dan komen ya kak biar semangat up date nya. 😁 🌸


__ADS_2