
Pagi ini cuaca sedikit mendung. Bahkan rintik-rintik hujan sudah mulai membasahi bumi. Devan yang semalam tidak bisa tidur nyenyak terlihat berjalan lesu menuruni anak tangga. Mama Nabila yang melihat putranya pagi-pagi sudah rapi ada sedikit ketakutan di hatinya. Ia tidak mau kalau putranya itu sampai menyusul Dewi di kampung halamannya.
" Mau kemana Van ? "
Devan menatap mamanya dengan ekspresi datar. Mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan aneh dari mamanya.
" Mengapa mama bertanya seperti itu! Bukankah dari penampilanku mama sudah bisa menebaknya sendiri. Atau mama juga ingin memecatku dari perusahaan? tanya Devan tanpa mengalihkan pandangannya.
Mama Nabila melengos mendapatkan pertanyaan yang menohok dari putranya. Devan yang melihat mamanya terdiam segera melangkahkan kakinya menuju teras. Sudah ada Kevin sang asisten yang menunggunya di sana.
Setelah melihat mobil Devan meninggalkan halaman rumah. Mama Nabila menghela napas lelah, ia begitu sedih mendapati sikap putranya semakin dingin padanya. Apakah yang ia lakukan ini salah, ia hanya ingin memilihkan perempuan terbaik untuk mendampingi putranya kelak.
.
.
Di dalam mobil Devan hanya diam menatap ke luar jendela. Pikirannya melayang entah kemana. Kevin yang melihat bosnya murung ikut merasa prihatin. Baru juga ia melihat kebahagiaan di wajah bos datarnya itu, sekarang senyum itu sudah menghilang lagi.
Setelah hampir satu jam mobil yang di kendarai Kevin akhirnya sampai juga di depan perusahaan. Devan segera turun dan berjalan dengan cepat menuju lift khusus atasan. Aura suram dapat di rasakan oleh para karyawan yang berpapasan dengannya. Setelah sampai di dalam kantor, ia segera mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Kepalanya seketika berdenyut mendapati tumpukan berkas di atas meja kerjanya.
" Sial ", umpatnya kesal.
🌸🌸🌸🌸
Di kampung halamannya Dewi nampak sibuk membantu pak Danu menjemur gabah. Ia ingin menyibukkan diri dengan membantu bapaknya agar pikirannya tidak terus memikirkan sang majikan. Dua hari tidak bertemu membuat hatinya merasakan rindu pada tuannya. Setelah selesai meratakan gabah-gabah itu di halaman rumah, pak Danu mengajak putrinya istirahat di teras.
" Rencana kamu setelah ini apa nduk ?
" Dewi belum kepikiran soal itu pak. Kemungkinan besar Dewi akan kembali bekerja di pabrik ", jawabnya dengan pandangan menerawang jauh ke depan.
" Apa kamu masih belum siap menceritakan masalah kamu sama bapak ? tanya pak Danu pada putrinya.
" Bapak hanya ingin kamu membagi kesedihan kamu sama bapak. Meski nantinya bapak tidak bisa membantu, setidaknya beban yang kamu rasakan bisa sedikit berkurang ", Dewi menatap bapaknya yang tengah mengelap peluh di dahinya. Manik matanya mulai berkaca-kaca. Dewi menunduk menyembunyikan air matanya yang mulai menetes turun. Haruskah ia bercerita.
__ADS_1
" Dewi membuat kesalahan yang fatal pak. Dewi telah lancang menjalin hubungan dengan tuan Devan ", Pak Danu sangat terkejut mendengar pengakuan dari putrinya.
" Dewi malu sama ibuk sama bapak. Dewi malu pak , Dewi egois, tidak seharusnya dewi mementingkan perasaan Dewi saja. Sekarang Dewi pulang tidak membawa apa-apa ", akhirnya ia menumpahkan segala kegundahan hatinya dengan menangis di bahu sang bapak.
Pak Danu menepuk-nepuk bahu putri sulungnya dengan lembut. Seakan menyalurkan kekuatan untuk Dewi agar tegar menghadapi kenyataan.
" Kamu itu tidak salah nduk. Kamu tidak meminta cinta itu hadir dalam hati kamu. Kamu juga tidak bisa menyuruh cinta itu pergi begitu saja. Semua sudah ada yang mengatur. Yang penting kamu tidak merebut milik orang lain. Kamu tidak usah memikirkan tentang biaya sekolah adik-adikmu. Doakan saja bapakmu ini tetap sehat, agar tetap kuat mencari nafkah untuk kalian semua ", kata pak Danu sambil menyeka air mata sang anak .
Dalam hati Dewi sangat bersyukur memiliki orangtua yang begitu menyayanginya. Meski tanpa materi yang berlimpah, ia tidak kekurangan apa-apa. Karena kasih sayang kedua orangtuanya telah memenuhi hati dan jiwanya.
🌸🌸🌸🌸
Di kantor Aditama,
" Apa mas Devan ada ", tanya Liliana pada elena sekretaris Devan. Elena menatap perempuan di depannya.
" Pak Devan hari ini berpesan tidak ingin di ganggu siapa-siapa. Jadi saya sarankan nona kembali lain hari saja ", jawab elena dengan was-was. Hari ini mood bosnya sangat buruk. Bosnya itu sudah memarahi semua karyawan yang melaporkan pekerjaannya.
" Kamu tahu saya siapa, saya calon istri bos kamu. Jadi pesan itu tidak berlaku buat saya ", kata Liliana kesal. Elena memutar bola matanya malas mendengar ucapan perempuan di depannya.
Kreekkk
" Mas Devan ", Sapanya dengan senyum merekah.
" Maafkan saya pak, saya sudah berusaha mencegahnya.
" Hem ", jawab Devan dengan mengibaskan tangannya. Elena segera undur diri dari ruangan bosnya. Devan menatap tajam ke arah Liliana yang membuat bulu kuduk perempuan itu seketika meremang.
" Ada apa ", Tanya Devan masih dengan tatapan tajamnya. Tiba-tiba nyali Liliana menciut.
" A a aku hanya ingin mengajak mas Devan makan siang ", jawabnya sedikit takut.
" Bukankah saya sudah sering mengatakan, jangan lagi mengganggu saya. Saya sama sekali tidak tertarik denganmu ",
__ADS_1
Liliana yang mendengar jawaban Devan sangat kesal. Dengan memberanikan diri ia berjalan mendekati Devan. Karena cara halusnya gagal, maka ia melancarkan aksinya dengan menggoda Devan. Tangannya merayap meraba dada bidang pria datar itu. Berharap pria itu tergoda dan mau menerimanya.
Devan yang sedari tadi menahan emosinya agar tidak meledak, segera mendorong tubuh Liliana hingga membentur tembok. di cengkramnya dagu itu dengan kuat sehingga membuat Liliana kesakitan.
" Mas Devan lepasin, sakittt ",
" Saya bisa melakukan hal yang lebih menyakitkan dari ini jika kamu masih terus mengusik hidup saya. Apa kamu ingin mencobanya ? " tanya Devan dengan menekan lebih kuat membuat Liliana semakin kesakitan. Lili segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. Devan yang di kuasai emosi itu menghempas cengkramannya hingga membuat Liliana tersungkur ke lantai.
" Cepat keluar ", teriaknya penuh amarah membuat Liliana yang ketakutan segera berlari keluar.
Devan memijat pelipisnya yang mulai berdenyut lagi. Pikirannya yang kacau membuat pekerjaannya semakin berantakan. Ia beranjak dari duduknya menuju ruang istirahat yang ada di dalam kantornya. Percuma juga melanjutkan, yang ada akan semakin berantakan pikirnya.
🌸🌸🌸🌸
Hari ini Devan kembali pulang larut malam. Mama Nabila yang kawatir pada sang putra, nampak mondar mandir di ruang tamu menunggu kepulangan Devan.
Kreeekkk
Terdengar suara pintu yang terbuka membuat mama Liliana menatap ke arah pintu itu.
" Ya ampun Van, kamu kenapa jam segini baru pulang ",
" Memangnya kenapa ma? Bukankah dulu Devan juga sering pulang larut malam. Hanya karena ada Dewi lah Devan pulang lebih awal ", jawabnya dengan ketus yang memancing emosi sang mama.
" Apa sebegitu berartinya perempuan itu di bandingkan mamamu ini Van. Apa mama tidak ada artinya di hidup kamu ",
" Devan sedang tidak ingin berdebat ma, Devan sangat lelah ", jawab Devan sambil berlalu naik ke lantai atas.
" Van tunggu, mama belum selesai bicara Van ", teriak mama Nabila sangat kesal.
Devan tidak menggubris omongan mamanya. Ia tetap berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa dekat jendela saat sampai di dalam kamarnya. Sudah cukup selama ini mamanya memaksakan perjodohan pada dirinya, mulai hari ini ia harus memperjuangkan cintanya. Dalam hati ia bertekad akan menyusul Dewi ke kampung halamannya.
" Tunggu aku wi, kita akan segera bertemu ", gumamnya menatap gelapnya langit malam dari balik jendela.
__ADS_1
🌸 Jangan lupa like dan komennya ya kakak biar aku semangat up datenya 🌸