Cinta Untuk Majikan Tampan

Cinta Untuk Majikan Tampan
Bab 18


__ADS_3

Rembulan malam ini bersinar terang ditemani ribuan bintang-bintang. Angin semilir malam menerpa rambut anak gadis yang sedang termenung-menung sendirian. Dewi yang melihat Tina duduk manis di kursi taman belakang, berjalan mengendap-ngendap dari arah belakang


" Ada kodok mbk Tin "


" aaaaaaaaaa ", jerit Tina kaget dan langsung naik ke atas kursi. Melihat Dewi tertawa cekikikan, ia baru sadar Dewi telah mengerjainya.


" Ya ampun wi, kalau jantungku copot gimana ", kata mbk Tina sambil berkacak pinggang. melototi Dewi yang masih tertawa cekikikan.


" Aku bantu pasangin deh. Lagian mbk Tina malem-malem kok melamun. Sudah jam 9, gak baik duduk di luar ",


" Aku tuh lagi galau wi ", kata Tina yang mulai curhat.


" Kenapa mbk " tanya Dewi penasaran.


" Kemarin malem aku di ajak mas Deni ketemu sama orang tuanya ",


" Ya bagus dong mbk, berarti mas Deni serius sama mbk ", kata Dewi menyela.


" Kalau ada orang ngomong itu di dengerin dulu sampai selesai wi ", sewot Tina.


" hehehe iya maaf mbk tin. Terusin mbk ",


" Orang tua mas Deni gak suka sama aku wi. Katanya aku cuman pembantu, gak bisa naikin derajat mas Deni. Katanya mas Deni itu anak satu-satunya harus dapat perempuan yang luar biasa ", Tina nampak kesal dan matanya mulai berkaca-kaca.


" Sabar mbk tin, mungkin lebih baik mbk Tina cari yang lain aja deh. Emang mbk Tina mau punya mertua serem kayak gitu ? tanya Dewi yang langsung di balas gelengan oleh Tina.


" Bener kata kamu wi, mulutnya aja julid banget. Ngeri aku bayangin tinggal serumah. Lagian anaknya itu bukan bos, emang mau cari mantu kayak gimana! geram Tina.


" Makanya mbk Tina gak usah sedih. Mungkin bukan jodoh mbk ", kata Dewi di angguki Tina cepat.


" makasih ya wi, aku jadi sedikit tenang. Aku pinjam ikat rambut kamu wi gerah ini ", kata mbak Tina sambil menarik ikat rambut Dewi.

__ADS_1


" Ya sudah Dewi tidur dulu ya mbk, mbk Tina juga cepetan tidur. Nanti masuk angin kalau lama-lama di luar ", kata Dewi menasehati.


" ya ya ya... Nanti ya aku balikin iket rambutnya ",


" iya mbk ", jawab Dewi berlalu pergi.


🌸🌸🌸🌸


Di dalam sebuah ruangan nampak seorang lelaki yang tengah sibuk dengan berkas-berkas di tangannya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


" Bos, ini sudah malam sebaiknya di lanjutkan besok saja ", kata Kevin pada atasannya.


Devan menghela napas lelah, direnggangkannya otot-otot tubuhnya yang kaku.


" Baiklah, saya juga sangat mengantuk ", jawabnya sambil beranjak dari duduknya. Sang asisten dengan cekatan mengekor di belakang bosnya. Jalanan malam ini tidak terlalu macet. Membuat mobil yang dikendarai Kevin dapat melaju dengan tenang. Hanya butuh waktu tiga puluh menit, mereka sudah sampai di halaman rumah Devan.


Devan segera masuk ke dalam rumah, dirinya tidak sabar ingin segera membaringkan tubuh lelahnya. Saat melewati ruang makan, manik matanya menangkap sinar lampu dapur yang masih menyala. Siapa gerangan jam segini masih berada di dapur, pikir Devan. Langkahnya yang pelan mendekati pintu penghubung ruang makan dan dapur. Bibirnya mengukir senyum, ketika mendapati pembantu kesayangannya yang berada di sana.


" Tuan Devan ", dewi nampak terkejut. langkah kaki Devan mendekat ke arahnya.


" kamu sedang apa wi ",


" Saya lapar tuan, ingin membuat mi instan. Tapi sepertinya habis, saya cari dari tadi tidak ada ", kata Dewi yang terus menunduk tidak mau menatap tuannya.


" Apa tidak ada masakan yang tersisa ",


" Ada tuan. Tapi saya tidak berani memakannya ", jawabnya jujur.


" Sekarang kamu angetin makanannya. Anggap saja ini perintah dari saya ", ucap Devan.


" Baik tuan ", Dewi lalu menghangatkan lauk dan sayurnya. Saat Dewi sibuk mengaduk sayur di panci, Devan mendekat. memeluk pinggang ramping pembantunya. Dewi yang kaget hendak melepas pelukan itu, tapi Devan malah memeluknya lebih erat.

__ADS_1


" Apa kamu marah sama saya wi " tanya Devan yang membalikkan tubuh Dewi agar menghadap dirinya. tangannya terulur mematikan kompor di belakang Dewi.


" Tidak tuan. Kenapa saya harus marah ", kata Dewi sambil menoleh kesamping tidak berani menatap majikannya. Devan menangkup kedua pipi Dewi dan mengarahkan agar menghadap padanya.


" Mungkin kamu cemburu dengan perempuan yang datang semalam ", goda Devan mengulum senyum. Mendengar itu Dewi kembali melengos.


" Asal kamu tahu saya sudah menolaknya, saya tidak mau dijodohkan sama dia wi. Karena hati saya sudah ada yang menempati ", Dewi yang terkejut langsung menatap ke arah majikannya. Apakah tuannya sudah memiliki kekasih batinnya. lalu ia kembali membuang muka dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Melihat reaksi Dewi yang terlihat sedih Devan justru bahagia.


" Kamu tidak ingin tau, siapa perempuan yang mampu merebut hati saya ", Dewi dengan cepat menggelengkan kepalanya.


" Perempuan itu ada di hadapan saya sekarang ", Dewi yang mendengar ucapan Devan langsung menatap manik matanya.


" Perempuan cantik, polos dan menggemaskan yang sekarang di hadapan saya inilah yang membuat dunia saya penuh warna. Yang dulunya gelap sekarang menjadi terang. Dia juga yang sudah mencuri seluruh hati saya ", kata Devan menangkup kembali pipi Dewi.


" Mak maksud tuan ", tanya Dewi memastikan.


" Saya mencintai kamu Dewi Maharani. Apakah kamu mau menerima saya jadi pacar kamu ! Tanya Devan seraya tersenyum menatap wajah cantik pembantunya.


Air mata Dewi yang ia tahan-tahan dari tadi akhirnya luruh juga. Pengakuan majikanya sungguh tidak pernah ia sangka.


" Tapi saya takut tuan. Orang tua tuan pasti akan marah dan memecat saya ", kata Dewi terisak.


" Kita jalani dulu saja wi, biar kita bisa saling mengenal satu sama lain. Beri juga saya waktu agar menemukan momen yang tepat untuk membicarakan hubungan kita nanti kepada kedua orang tua saya ", kata Devan meyakinkan gadisnya. Dewi menatap mata majikannya, mencoba menyelami isi hatinya. Terlihat ketulusan yang terpancar dari manik mata majikannya. Dengan pelan Dewi menganggukkan kepalanya. Devan yang bahagia langsung merengkuh Dewi ke dalam pelukannya. Kemudian Devan kembali menangkap kedua pipi Dewi.


" Terima kasih wi, kamu sudah menerima saya ", Tiba-tiba suasana menjadi hening ketika keduanya sama sama diam. Devan yang terbawa suasana menunduk mengecup bibir pembantunya. Awalnya hanya ingin memberikan kecupan. Namun saat bibirnya mendarat pada bibir ranum Dewi ia justru enggan melepaskan. Dengan lembut ia ******* bibir pembantunya, menyesap dengan pelan merasakan setiap getaran yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Dewi hanya diam mematung tidak tau harus bagaimana. Yang pasti dadanya saat ini berdebar-debar tidak karuan.


Tanpa mereka sadari Tina yang tadi berniat mengembalikan ikat rambut Dewi, menyaksikan aksi mereka berdua.


" Oh my God, astaga ya ampun mata aku telah ternodai ", pekik Tina tertahan. Tangannya sibuk membekap mulutnya sendiri. Kemudian kembali mengintip dari balik pintu. Mencoba menutup matanya dengan telapak tangan. Namun dirinya yang penasaran mencoba mengintip lagi dari balik sela sela jarinya.


" Astaga aku kok kayak lagi nonton syuting drama Korea ", batinnya. Ia sibuk membuka menutup jari-jarinya. Ingin menutup tapi penasaran, Ingin membuka takut pengen juga. Gitu aja terus tin Sampek tahun depan πŸ˜‚.

__ADS_1


🌸 setiap lihat like dan komen kakak aku makin semangat up date nya. jadi jangan lupa tinggalkan jejaknya 🌸


__ADS_2