
Saat ini Dewi tengah menikmati masa-masa kehamilan pertamanya. Dewi tidak merasakan perubahan yang terlalu berarti pada dirinya. Dewi hanya merasakan sedikit pusing dan mual di pagi hari. Kalau urusan ngidam justru Devan lah yang sering merasakannya. Devan suka sekali meminta makanan yang dulu tidak ia sukai sama sekali.
Seperti hari ini, ia ngidam ingin sekali memakan buah alpukat. Padahal biasanya ia paling benci buah yang satu ini. Kata Devan buah alpukat terlalu hambar tidak ada rasanya sama sekali.
" Sayang cepetan, nanti ke buru siang ", teriak Devan dari bawah tangga.
Dewi yang masih sibuk memoles lipstick di bibirnya sampai kesal di buatnya. Dari tadi Devan terus meneriakinya. padahal baru lima menit lelaki itu turun ke bawah. Ia tidak berani membalas ucapan suaminya dengan teriakan karena merasa hal itu tidak sopan. Ia memilih mengabaikannya dan menyelesaikan kembali make up nya.
Di bawah mama Nabila yang tengah membantu Tina membuat puding sampai kesal mendengar teriakan Devan. Mama Nabila terlihat tengah berjalan ke arah kabinet dan mengambil centong nasi dari bahan plastik. Setelah mendapatkan benda itu ia segera berjalan ke arah Devan dan melemparkannya.
Pletakkk
Centong itu mendarat tepat di kepala Devan. Meski centong nasi itu ringan namun terasa sedikit sakit karena ujungnya duluan yang menyentuh kepala Devan.
" Auuu ", Devan segera mengelus kepalanya yang terasa sakit, setelah itu ia celingukan mencari benda yang terjatuh tadi. Manik matanya mendapati centong nasi di bawah kakinya dan ia segera mengambilnya. Saat Devan menegakkan tubuhnya kembali sudah ada mama Nabila yang berdiri di depannya sambil berkacak pinggang.
" Gimana enak Van ", kata mama nabila sambil mendelik ke arah putranya.
" Mamah apa-apa sih sakit tahu mah ", gerutu Devan sambil mengusap-usap kepalanya.
" Makanya jangan teriak-teriak, kayak di hutan aja kamu van. Satu kampung sampai bisa denger teriakan kamu itu. Lagian istri kamu itu nggak budek, ngapain kamu teriak-teriak kayak gitu ", omel mama Nabila panjang lebar.
Dewi yang tengah menuruni anak tangga terlihat mengulum senyumnya saat mendapati sang suami di omeli mama mertuanya.
Devan yang melihat Dewi segera menghampiri sang istri.
" Yang, mamah jahat masak mas di lempar centong nasi ",
" Ya ampun kasihan suamiku ", kata Dewi sambil mengelus kepala suaminya.
Mama Nabila yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala, kenapa juga anak sulungnya itu menjadi sangat manja. Mungkin anak Devan yang masih di dalam kandungan itu tahu kalau dulu waktu kecil Devan sering di didik keras oleh papa rehan. Jadi sekarang Devan di beri kesempatan oleh calon anaknya untuk bermanja- manja pada istrinya.
" Jadi kan beli alpukatnya mas ? "
" Jadi yang, mas sudah sangat ingin memakannya ",
Akhirnya mereka pun berangkat menuju supermarket yang tidak jauh dari rumah. Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di sana. Setelah selesai memarkirkan mobil Devan segera menggandeng Dewi masuk ke dalam.
Dewi yang sudah hapal letak buah-buahan segera mengajak Devan menuju rak buah. Mata Devan langsung berbinar saat melihat tumpukan buah alpukat di sana.
" Yang itu buah alpukat nya ",
" Mana mas ? "
" Yang itu yang ", tunjuk Devan.
Dewi yang mengerti segera berjalan ke arah rak alpukat. Ia mulai memilih-milih alpukat yang bagus dan besar. Setelah hampir lima belas menit memilih kini ada sekantong plastik alpukat di tangannya.
Setelah membayar alpukat tersebut Dewi segera mengajak Devan pulang.
Sesampainya di rumah Devan segera menuju kamar karena merasa ingin buang air kecil, sedangkan Dewi segera mempraktekkan resep yang kemarin ia dapat di internet. Dewi membuat jus alpukat mix coklat vanila. Setelah selesai Dewi meletakkan minuman itu di atas meja makan. Ia kembali lagi ke dapur untuk mencuci peralatan kotor.
__ADS_1
Dari lantai atas nampak Monica yang tengah menuruni tangga. Ia berjalan sambil sibuk berbalas pesan dengan kekasih barunya. Saat tiba di meja makan ia mendudukkan bokongnya di sana.
Mata Monica tampak berbinar saat melihat segelas jus alpukat di atas meja. Saat tangannya mencoba meraih gelas itu, ia di kejutkan oleh teriakan kakaknya dari arah tangga.
" Monica ",
Teriak Devan yang keras sampai membuat Monica terlonjak kaget.
" Astaga kak Devan, kalau Monic sampai jantungan gimana ", kesal Monica.
" Bodo amat, itu jus punya kakak. Jangan berani-berani nya kamu minum ", ucap Devan sambil menatap tajam adiknya.
" Dasar pelit ", ejek Monica sambil mencebikkan bibirnya.
Devan tidak mempedulikan ejekan adiknya ia segera mengambil jus itu dan mulai meminumnya. Devan tidak menyangka jus alpukat buatan istrinya sangat enak.
Ia berjalan ke arah dapur meninggalkan Monica yang terus menggerutu. Devan menghampiri Dewi yang tengah sibuk mencuci. Ia segera melingkarkan tangannya di pinggang sang istri sambil mengecup pipinya berulang kali.
" Sayang jus buatanmu ini enak sekali ",
" Benarkah ? ",
" Iya yang ", jawab Devan sambil menarik dagu Dewi dan mengecupnya sebentar.
Tina yang baru datang dari arah belakang rumah langsung syok melihat majikannya yang tengah berciuman.
" Astaga ",
Dewi memberi isyarat pada devan untuk segera pergi dari dapur. Devan yang mengerti segera beranjak pergi menuju ruang makan lagi.
Melihat Devan berjalan pergi Tina segera menghampiri Dewi.
" Wi, suamimu itu kalau nyium kamu gak tahu tempat banget sih. Bikin orang pengen aja, mana aku lagi jomblo lagi ", omel mbak Tina.
" Makanya mbk Tina cepetan cari pacar baru ",
" Belum ada yang cocok wi ",
" Sama mas Abdi aja mbak "
" Nggak mau, la wong dia aja belum bisa move on dari kamu. Tiap hari kerjaannya itu nyanyi lagu galau di pos satpam. Tuh mang Ahmad curhat mulu sama pak Salim, ia sampai bosen dengerin abdi nyanyi ",
Mendengar perkataan mbk Tina membuat Dewi cekikikan. Ia tahu betul bagaimana suara mas Abdi saat nyanyi. Karena dulu setiap ia akan ke pasar mas abdi pasti bukain gerbang buat Dewi sambil bernyanyi. Kasihan banget kuping mang Ahmad wkwkwkwk.
🌸
🌸
Di tempat lain tampak seorang pria tampan tengah duduk di balkon kamarnya sambil berkirim pesan.
Kadang-kadang ia tersenyum sendiri membaca balasan pesannya. Lelaki itu adalah Kevin, ia tengah berbalas pesan dengan Monica.
__ADS_1
Setelah selesai berbalas pesan Kevin nampak buru-buru mengambil kunci mobilnya di atas nakas dan bergegas keluar dari kamar. Kevin segera menuju garasi dan mengendarai mobil kesayangannya itu meninggalkan halaman rumah.
Sepanjang perjalanan menuju cafe tempat ia membuat janji temu dengan Monica, bibir Kevin tak henti-hentinya tersenyum.
Sesaat kemudian ia sudah tiba di halaman cafe, Kevin segera memarkirkan mobilnya dan bergegas turun untuk menemui sang kekasih.
Dari jauh nampak Monica yang tersenyum bahagia menyambut kedatangannya.
Kevin pun membalas senyuman Monica sambil melambaikan tangan. Sepertinya Kevin terkena karma karena dulu pernah menghina Devan. Sekarang giliran dia yang tengah terbucin-bucin pada adik bosnya itu.
" Sudah lama ? ",
" Baru saja sampai ",
" Langsung nonton, atau makan dulu ",
" Langsung nonton saja ya kak. Monic dah makan tadi ",
" Baiklah ",
Kevin pun segera menggandeng tangan Monica menuju parkiran cafe. Ia membukakan pintu mobil tersebut untuk sang kekasih. Setelah di dalam mobil Kevin juga yang memakaikan sabuk pengaman untuk Monica.
Hal itu sontak membuat jarak di antara keduanya menjadi sangat dekat. Kevin yang begitu gemas dengan bibir mungil kekasihnya, dengan cepat mencuri kesempatan untuk mengecup bibir itu kembali.
Cup cup cup cup
" Ih kak Kevin mesum ", protes Monica.
" Tapi kamu suka kan ? ",
" Nggak " jawab Monica cepat.
" Ohhh jadi gak suka ",
Cup cup cup cup
Kevin pun mengecup kembali bibir Monica sambil menggelitik pinggang kekasihnya itu membuat Monica tertawa kegelian.
" Hahaha ampun kak ",
" Sekarang masih berani bilang nggak suka hah ",
" hahaha iya iya ampun, Monic suka kak Monic suka ", kata Monica di tengah tawanya menahan geli.
" Anak pinter ", kata Kevin menghentikan aksinya sambil menyeka bibir Monica yang basah dengan ibu jarinya.
" Dasar om-om mesum ", gumam Monica lirih sambil mengulum senyum malu-malu.
Cie cie
Like dan komennya jangan lupa
__ADS_1
Terima kasih