
Saat ini Devan dan Dewi tengah menikmati makan malam di restoran yang berada di resort tersebut. Setelah berolah raga sore di atas ranjang membuat keduanya merasakan kelaparan.
Devan sangat pantai memilih tempat. Pemandangan di restoran tersebut saat malam hari sangatlah indah. Di temani lilin-lilin di sekitar mereka menambah suasana romantisnya semakin terasa.
Ting
Terdengar suara notifikasi pesan dari handphone Devan. Devan yang mendengar ada pesan masuk segera meraih handphonenya di atas meja.
Rupanya pesan itu di kirim oleh tuan William yang memberitahukan bahwa ia sedang berada di resort tersebut. Tuan William mengajak Devan bertemu untuk membahas tentang resort ini lebih lanjut. Ia mengajak bertemu di kamarnya pukul delapan malam.
" Sayang, tuan William sekarang berada di sini. Beliau mengajak bertemu di tempatnya menginap jam delapan nanti. Apa kamu tidak apa-apa aku tinggal sendiri ? ",
" Nggak apa-apa mas. Itu kan tentang pekerjaan, siapa tahu penting ", jawab Dewi seraya tersenyum.
Devan meraih tangan sang istri dan menciumnya dalam.
" Terima kasih sayang ", kata Devan yang diangguki Dewi pelan.
Setelah makan malam romantis itu selesai, Devan mengantar Dewi kembali ke dalam kamar mereka.
" Ya sudah mas pergi sebentar ya ", kata Devan seraya mengecup kening istrinya di ambang pintu.
" Mas itu kayak mau pergi ke mana aja, padahal tempatnya di sini juga " Kata Dewi cekikikan. Devan yang gemas mencubit hidung Dewi seraya menariknya.
" Au sakit mas ",
" Itu hukuman kamu karena sudah berani mengolok mas ", kata Devan sambil menarik tengkuk Dewi dan mencium bibirnya sekilas.
" Ih mas, nanti di lihat orang ", omel Dewi sambil menengok ke kanan kiri takut ada yang melihat.
" Ya sudah mas tinggal dulu ya ",
" ok ", jawab Dewi tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Devan berjalan pelan menuju kamar tuan William di antar oleh pegawai resort, karena ia kurang tau letak kamar tersebut. Dalam benaknya Devan sebenarnya merasa heran, tidak biasanya tuan William mengajak bertemu di tempat pribadi seperti itu. Biasanya tuan William lebih suka bertemu di tempat yang ramai dan terbuka. Entahlah mungkin tuan William sedang malas keluar batin Devan.
Langkah kaki Devan berhenti tepat di depan bangunan dengan pintu kamar nomor xxxx.
" Terima kasih ", kata Devan pada pegawai resort.
" Sama-sama pak ", kata pegawai tersebut sambil berlalu pergi.
Tok tok tok
Devan mengetuk pintu tersebut, sesaat kemudian terdengar suara gagang pintu yang di putar.
Cekleeek
Saat pintu itu terbuka lebar, Devan menatap heran pada seseorang yang tengah berdiri di depannya. Nampak Lah seorang wanita memakai masker dan handuk di kepalanya. Ia juga memakai handuk kimono untuk menutupi tubuhnya.
" Tuan Devan kan? silahkan masuk, tuan William sedang mandi ",
" Terima kasih " Kata Devan sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar itu dengan sedikit ragu.
" Silahkan duduk tuan, sebentar saya ambilkan minum dulu ",
__ADS_1
" Tidak perlu nona ",
" Tidak apa-apa, hanya sebentar saja kok ",
Devan pun mendudukkan tubuhnya di sofa yang berada di kamar VIP tersebut. Setiap kamar VIP di resort tersebut memang di desain memiliki ruang tamu, kitchen mini, kamar pribadi dan toilet di setiap bangunannya. Sesaat kemudian wanita itu kembali dengan dua cangkir teh di tangannya.
" Silahkan di minum tuan, saya panggilkan tuan William sebentar ",
Setelah wanita aneh itu berlalu masuk ke dalam kamar pribadi, Devan menyeruput sedikit teh tersebut. Namun baru juga teh itu masuk kerongkongannya, perempuan itu kembali keluar.
" Enak kan Dev teh buatanku ? "
Devan yang tengah menyeruput teh tersebut, sampai tersedak mendengar suara yang sangat ia kenal.
" Uhuk uhuk.. Amira ", gumam Devan terkejut. Rupanya perempuan tadi adalah Amira. Ia menatap heran pada Amira yang tengah berdiri di depannya.
" Apa kamu terkejut Dev ", kata Amira seraya tersenyum menggoda.
Belum selesai dengan rasa terkejutnya tiba-tiba kepala Devan terasa sedikit pusing. Ia menatap pada mantan kekasihnya yang masih setia berdiri di depannya.
" Kamu kasih apa teh ini Amira ", kata Devan menggeram menahan emosi. Bukannya menjawab Amira malah berjalan mendekat ke arah Devan. Ia melepaskan handuk kimono nya hingga terjatuh ke lantai.
Mata Devan membeliak lebar menatap Amira yang hanya mengenakan lingeri seksi berwarna hitam.
" Mau apa kamu mir ", kata Devan sambil berdiri dari duduknya dengan susah payah. kepalanya terasa semakin pusing sehingga membuatnya sulit melihat.
" Mau kemana Van, di sini saja temani aku malam ini ", kata Amira seraya mendorong dada Devan hingga membuatnya jatuh dan kembali terduduk di sofa.
Amira mulai meraba dada bidang sang mantan kekasih dengan gerakan menggoda. Devan menatap nanar mantan kekasihnya itu.
Dengan sisa-sisa tenaganya Devan mendorong kuat tubuh Amira hingga jatuh terjerembab. Devan segera berlari ke arah kamar dengan sempoyongan. Ia segera menutup dan mengunci kamar tesebut. Dari luar terdengar Amira yang sedang berteriak sambil mengedor-gedor pintu itu.
Brak brak brak
" Devan sayang buka pintunya, buka Dev"
" Devan ", teriak Amira mulai kesal.
Devan tidak mempedulikan teriakan Amira, ia segera merogoh handphone di sakunya dan menekan nomor milik sang istri.
Tutt
" Halo mas ",
" Sayang tolongin mas, kamu segeralah datang ke kamar xxxx ",
" Mas, mas Devan kenapa mas ",
" Cepatlah wi " kata Devan di ambang kesadarannya yang mulai hilang. Rupanya Amira telah menaruh obat tidur ke dalam minuman Devan tadi. Entah apa rencana perempuan itu sampai melakukan hal tersebut.
" Halo mas, mas Devan ",
Dewi yang panik segera ke luar dari kamarnya. Ia segera berlari ke arah resepsionis memintanya menunjukkan letak kamar xxxx. Dengan langkah panik Dewi mengikuti pegawai yang menunjukkan jalan.
Tepat di depan pintu kamar xxxx tersebut Dewi mencoba membukanya namun ternyata pintu itu terkunci dari dalam.
__ADS_1
" Mbak saya minta kunci cadangan kamar ini, suami saya ada di dalam ", kata Dewi yang segera di angguki pegawai tersebut.
" Baik Bu ", pegawai itu bergegas pergi mengambil kunci cadangan.
Dewi yang panik hanya bisa mondar mandir di depan pintu menunggu pegawai tadi kembali. Sesaat kemudian terlihat dari jauh pegawai tadi berlari ke arahnya dengan membawa dua orang pegawai lelaki.
" Cepat mbak ", kata Dewi seraya meraih kunci tersebut. Ia segera mengambil kuncinya dan mulai membuka pintu tersebut. dan setelah pintu itu terbuka ia segera berlari masuk ke dalam.
Degg
Dewi sangat terkejut mendapati Amira yang tengah berdiri di depan pintu kamar dengan mengenakan pakaian yang sangat terbuka.
Amira yang mendengar langkah seseorang menoleh ke belakang.
" Ka kamu ", kata Amira tergagap.
Dewi tidak menggubris Amira, ia merasa jijik melihat penampilan perempuan tersebut.
Ia mencoba membuka pintu kamar itu namun terkunci dari dalam
" Mas Devan, mas apa kamu ada di dalam ", teriak Dewi memanggil suaminya.
" Kamu apakan suami saya ", tanya Dewi menatap nyalang pada Amira.
" Aku tidak melakukan apa-apa, kami hanya ingin menghabiskan waktu bersama. Kamu kenapa datang, mengganggu saja ",
Mendengar jawaban Amira membuat Dewi menggeram.
" Mas tolong dobrak pintu ini ", perintah Dewi pada pegawai lelaki tadi.
" Baik Bu ", pegawai itu segera mendobrak pintu itu.
Brak brak brak brak
Setelah lima kali tendangan akhirnya pintu itu terbuka lebar. Tampak Devan yang terkulai lemas di samping pintu yang terbuka. Dewi yang melihat suaminya tidak berdaya segera berlari menghampirinya.
" Mas, mas Devan ", panggil Dewi yang mulai terisak.
" Sayang ", kata Devan yang terlihat lemas. untung devan tadi hanya meminum sedikit, sehingga ia masih terjaga dari rasa kantuknya.
" Kita ke rumah sakit ya mas ", kata Dewi panik dengan berurai air mata.
" Nggak usah yang, bantu mas kembali ke kamar. Mas butuh istirahat ", kata Devan pelan.
Dewi meminta pegawai tadi untuk memapah suaminya. Saat melangkah keluar dari kamar Dewi menatap ke arah Amira.Ia berjalan mendekatinya dan melayangkan tamparan sangat keras ke kedua pipi Amira.
Plakkkk plaakkk
" Sebaiknya kamu kemasi barang-barang kamu sekarang sebelum saya laporkan ke polisi atas tindakan kamu ini ", kata Dewi sambil berlalu pergi.
Amira memegangi kedua pipinya yang terasa panas dengan menggeram kesal.
" Aaaaaaa kenapa harus gagal, padahal tinggal selangkah lagi",
" Aaaaaaa ", Amira yang kesal melampiaskan emosinya dengan membanting semua barang yang ada di ruangan tersebut.
__ADS_1