
Pagi itu Dewi nampak duduk termangu di bangku usang di belakang rumahnya. Ia memikirkan tuannya yang sudah seminggu ini tidak menghubunginya. Apakah tuannya itu sudah mulai menyerah. Memikirkan hal itu tiba-tiba dadanya terasa sesak. Mata bulatnya berembun dan meneteskan air mata. Buru-buru tangan mungilnya itu menghapus jejak air matanya.
" Tuan, apa tuan baik-baik saja di sana ", batin Dewi bertanya-tanya.
Bu Surti yang hendak mencuci pakaian di belakang menghentikan langkahnya melihat Dewi melamun sendirian.
" Nduk pagi-pagi jangan melamun. Kamu sudah sarapan ? "
" Belum buk, Dewi belum lapar ", jawabnya seraya memaksakan senyum di bibirnya.
" Ibuk tahu kamu lagi sedih memikirkan nak Devan. Tapi kamu gak boleh mengabaikan dirimu sendiri. Di sana nak Devan sedang berjuang demi kamu, kalau kamu sakit nanti malah menambahi beban pikiran nak Devan. Sekarang kamu makan ya nduk ? Bujuk Bu Surti.
Dewi menganggukkan kepala dan beranjak dari duduknya. langkahnya memasuki dapur dan membuka tudung saji di atas meja.
Dewi mengambil sedikit nasi dan juga lauknya. Ia memakan dengan malas makanan di piringnya. Entahlah selera makannya hilang entah kemana. Setelah selesai sarapan Dewi membantu ibunya menjemur pakaian yang telah selesai di cuci.
" Kamu lanjutin ya wi, ibu mau nyuapin adikmu Amel di depan. Ia lagi pengen manja-manja sama ibuk ", kata Bu Surti seraya mengulum senyumnya. Dewi yang mendengar itu ikut tersenyum juga.
" Iya buk, beres ", Dewi dengan sigap mengangkat ember berisi baju menuju tempat jemuran.
Baru juga Dewi akan menjemur bajunya di kawat jemuran, terlihat ibunya yang berjalan tergopoh-gopoh dari dalam rumah.
" Wi Dewi ", panggil ibunya yang membuat Dewi terjengit kaget.
" Ada apa sih buk, kok ibu kayak di kejar setan gitu ", tanya Dewi heran.
" Hust mulutmu wi ", kata Bu Surti yang membuat Dewi reflek menutup mulutnya.
" Itu wi, ada yang cari kamu di depan ",
" Siapa buk ? "
" Ibuk juga nggak tahu, cepat kamu temui sana. Nggak enak kalau mereka menunggu terlalu lama ", jawab Bu Surti. Dewi yang penasaran segera mencuci tangannya dan bergegas ke depan menemui tamunya.
__ADS_1
Langkah Dewi yang tadinya tergesa-gesa langsung berhenti seketika saat netranya menatap siluet seseorang yang sangat ia kenal.
" Nyonya ", gumam Dewi menatap mantan majikannya yang tengah duduk di bangku teras membelakanginya.
Tiba-tiba kakinya terasa berat untuk melangkah. Ribuan pertanyaan muncul di otaknya. Ada apa ini kenapa nyonya kemari ? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan tuannya ? Atau nyonya datang untuk menyuruhnya menjauhi putranya ? Semua itu membuat jantung Dewi berpacu sangat cepat. Rasa takut mulai membayangi dirinya.
Mama Nabila yang dengan samar mendengar suara dewi segera menoleh ke belakang. Bibirnya menyunggingkan senyum penuh harap. Kemaren setelah menyadari kesalahannya, mama Nabila segera meminta papa rehan untuk mengantarnya ke kampung halaman Dewi. Ia tidak mau menunda-nunda niat baik di hatinya.
" Dewi ", panggilnya seraya berdiri dan berjalan ke arah mantan pembantunya itu. Dewi masih diam mematung di tempatnya.
" Maafin saya wi ", kata mama Nabila sambil merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
" Kenapa nyonya meminta maaf, nyonya tidak mempunyai salah apa-apa "
Mendengar itu mama Nabila melerai pelukannya pada Dewi. bagaimana bisa gadis muda ini mengatakan ia tidak bersalah. Apakah hatinya tidak terluka dengan perbuatannya.
" Saya yang seharusnya meminta maaf pada nyonya. Saya yang sudah membuat hubungan nyonya dengan tuan Devan menjadi merenggang ", kata Dewi yang mulai berkaca-kaca. Mama Nabila menatap Dewi dan meraih jemari tangan gadis di depannya.
" Kamu gak salah apa-apa wi, saya yang salah. Saya seharusnya malah berterima kasih sama kamu. Berkat cinta kamu Devan bisa kembali tersenyum bahagia. Tidak seharusnya saya memisahkan kalian ", kata mama Nabila yang mulai menangis.
" Maaf Bu menyela. Bapak dan ibu silahkan masuk di dalam, jangan berdiri di luar saja. Ayo wi di ajak masuk bapak sama ibunya ",
" Iya tuan nyonya mari masuk, maaf rumah kami berantakan ",
" Tidak apa-apa wi, terima kasih ", jawab mama Nabila yang melangkah masuk dan mendudukkan diri di kursi rotan yang terlihat tua. Papa rehan duduk di sebelah istrinya, tangannya menggenggam jemari sang istri untuk menguatkan. Mama Nabila menoleh pada suaminya seraya tersenyum.
Pak Danu yang baru pulang dari mencari rumput menatap heran pada mobil mewah yang terparkir di halaman rumahnya. Apa mungkin mobil nak Devan, batinnya bertanya-tanya.
" Nduk ini mobil siapa ? ", tanya pak Danu pada Amel dan Rani yang tengah asyik bermain.
" Nggak tahu pak ", jawab Amel sambil geleng-geleng kepala.
Karena penasaran pak Danu bergegas menaruh rumput dan mencuci tangan. Kemudian ia segera masuk ke rumah.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum"
" Wa'alaikum salam ", jawab mereka yang di dalam rumah serempak.
Papa Rehan dan mama Nabila segera berdiri dan menyalami pak Danu.
" Maaf bapak sama ibuk ini siapa ya ", tanya pak Danu sopan.
" Kami orang tua dari Devan pak ", jawab papa Rehan seraya tersenyum.
DEG
Pak Danu menatap putrinya, sorot matanya seakan meminta penjelasan.
" Saya pak Danu, bapaknya Dewi. Silahkan duduk kembali pak buk ", merekapun mulai duduk.
" Maaf ada perlu apa ya bapak dan ibuk jauh-jauh berkunjung ke gubuk kami ini ",
Mama Nabila menggenggam ujung kemeja suaminya karena takut untuk menjelaskan. Papa rehan yang paham akan ketakutan istrinya lebih dulu membuka suaranya.
" Kami kesini karena ingin meminta maaf pada putri bapak. Terutama istri saya, maaf atas tindakan istri saya yang telah menyakiti perasaan bapak dan ibuk selaku orang tua Dewi. istri saya telah menyesali perbuatannya ",
Pak Danu tersenyum mendapati niat baik mantan majikan putrinya.
" Saya mengerti pak. Kami sudah memaafkan, karena memang itu bukan kesalahan istri bapak. Semua orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Saya sebagai orang tua Dewi juga akan melakukan hal yang sama. Memberikan yang terbaik untuk masa depannya, ya walaupun terkadang tidak sesuai dengan harapan ", kata pak Danu seraya menatap putrinya dengan sorot mata sendu.
" Apalagi bapak sama ibuk tidak pernah memperlakukan Dewi dengan buruk. Bahkan saat ibu meminta Dewi berhenti, kata Dewi ibu memintanya dengan kata-kata yang sopan. Jadi tidak ada yang perlu kami maafkan. Di sini saya lah yang seharusnya meminta maaf, karena kelancangan Dewi yang telah berani menjalin hubungan dengan putra bapak dan ibuk ",
" Tidak pak, Dewi tidak bersalah sama sekali. Justru kami yang harusnya berterima kasih. Berkat cinta tulus dari Dewi, putra kami Devan bisa kembali tersenyum bahagia ", kata mama Nabila seraya melempar senyum tulus pada Dewi di depannya.
" Sebenarnya maksud kedatangan kami kesini, selain meminta maaf pada Dewi. Kami juga ingin menyampaikan maksud baik kami untuk melamar putri bapak Dewi untuk putra kami Devan ", kata papa rehan sedikit gugup.
DEG
__ADS_1
Pak Danu dan Bu Surti saling pandang. Sedang Dewi yang sedari tadi menunduk seketika mendongak tidak percaya. Apakah dia tidak salah dengar ? matanya menatap pada kedua orang tuanya dengan sorot mata tidak percaya, bu Surti dan pak Danu mengangguk meyakinkan putri mereka.
" Tuan, tuan anda sudah berhasil meyakinkan hati nyonya ", batin dewi yang di iringi lelehan air mata bahagia di kedua pipinya.