Cinta Untuk Majikan Tampan

Cinta Untuk Majikan Tampan
Bab 44


__ADS_3

Pesta resepsi yang di gelar di hotel bintang lima itu berjalan lancar sesuai harapan. Tampak suasana di sana mulai sepi, tinggal anggota keluarga dan saudara jauh saja. Mama Nabila mendekati mantunya untuk berpamitan.


" Mama pulang dulu ya wi. Jangan... ", belum selesai mama Nabila bicara Devan buru-buru menyela.


" Jangan apa lagi mah ? ", tanya Devan dengan menatap tajam mamanya. Ia tidak mau mamanya bicara macam-macam lagi yang bisa menggagalkan malam pertamanya lagi.


Mama Nabila yang di tatap tajam Devan bukannya takut malah mengulum senyum.


" Kamu itu ya Van, terlalu negative thinking. Mamah itu cuma mau bilang jangan lupa makan. Dari tadi siang kalian kan belum makan ", kata mama Nabila. Devan masih melirik mamanya dengan tatapan tidak percaya. Melihat tingkah putranya membuat mama Nabila menghela napas panjang.


" Ya sudah mama gak akan ganggu acara kalian lagi. Mama mau ajak besan mamah dan keluarganya pulang dulu ya. Tadi mamah sudah suruh pegawai hotel untuk menyiapkan makanan di kamar khusus kalian. Mamah pulang dulu ya wi ",


" Iya mah hati-hati di jalan ",


" Iya sayang ", jawab mama Nabila sambil berlalu pergi.


Devan segera mengajak istrinya menuju kamar hotel setelah suasana gedung itu sepi.


Saat Devan membuka pintu kamar itu dengan lebar. Dewi sangat terkejut dengan dekorasi kamar pengantin yang di siapkan mamah mertuanya.


Nampak kelopak bunga mawar berwarna pink bertaburan di lantai membentuk seperti karpet menuju ranjang. Di atas ranjang terdapat selimut putih berbentuk dua angsa dan masih dengan taburan kelopak mawar pink di atasnya.


Dewi dengan pelan memasuki kamar hotel yang begitu luas dengan balkon yang menghadap sinar rembulan. Ia kemudian berjalan ke arah cermin untuk melepas riasan di rambutnya. Tampak Devan yang duduk di pinggir ranjang sambil melepas jas dan juga jam tangannya.


" Sayang , baju kamu ada di dalam lemari. Tadi mamah yang memberitahu lewat pesan ",


" Iya mas ", jawab Dewi sambil berusaha meraih resleting gaunnya yang berada di bagian belakang. Ia nampak kesusahan membukanya. Devan yang melihat itu melangkahkan kakinya mendekati sang istri.


" Kenapa ? ", tanya Devan sambil memeluk Dewi dari belakang.


" Ini mas resletingnya, tangan Dewi gak sampai ", jawab Dewi yang terdengar manja di telinga Devan.


Tangan Devan mulai menarik resleting itu turun. Karena gaun itu cukup berat membuatnya langsung jatuh ke bawah. Devan meneguk salivanya susah payah menatap punggung putih mulus milik istrinya.


Tangannya terulur untuk merabanya. Bibirnya pun mendekat untuk mengecup setiap inci kulit mulus istrinya.

__ADS_1


Dada Dewi berdebar kencang mendapat perlakuan tak biasa dari suaminya. Sekarang kecupan suaminya itu semakin naik ke tengkuk dan juga lehernya. Dewi dengan susah payah menahan agar bibirnya tidak mendesah.


Kemudian setelah puas mengecup permukaan kulit istrinya, Devan mengangkat tubuh sang istri menuju ranjang pengantin.


Ia meletakkan Dewi dengan begitu lembut, Devan mulai merayap di atas tubuh Dewi dengan perlahan. Setelah wajah mereka saling beradu pandang, ia mulai mendekatkan bibirnya pada bibir manis sang istri yang membuatnya kecanduan.


Memberikan ******* lembut dan sesekali menyesapnya kuat. Kemudian ciuman itu turun menelusuri leher jenjang sang istri dan terus turun menuju sesuatu yang kenyal. Benda yang membuat Devan penasaran akan rupanya itu masih terbungkus bra berwarna merah muda.


Dengan pelan Devan menarik ke atas penutup itu hingga terpampang lah sesuatu yang sangat luar biasa. Dewi yang malu berusaha menutupi kedua aset berharganya dengan telapak tangannya.


" Jangan di tutup sayang, mas mau menikmatinya ",


" Dewi malu mas ",


Devan tidak menanggapi omongan Dewi, ia menyingkirkan tangan itu dengan pelan. Setelahnya bibirnya mulai bekerja menyesap dengan lembut benda kenyal itu bergantian. Dewi yang merasakan tubuhnya seperti tersengat listrik membusungkan dadanya. Tangannya meremat rambut suaminya untuk menahan gejolak di dalam tubuhnya.


Devan terus memberikan sentuhan pada setiap inci tubuh istrinya. Ia menyalurkan semua hasrat yang selama ini ia pendam. Penyatuan itu akhirnya terjadi secara lembut dan perlahan. Mereka menghabiskan malam itu dengan saling memberikan kenikmatan sampai tengah malam.


Setelah lelah mendaki puncak kenikmatan, keduanya tertidur dengan saling berpelukan.


.


.


Ia menggeliat merasakan tubuhnya yang terasa remuk redam. Otaknya mengingat kembali kejadian tadi malam. Tiba-tiba pipinya merona membayangkan adegan dewasa yang ia lakukan.


Devan yang merasakan pergerakan sang istri juga mulai membuka mata.


" Pagi sayang ", Sapanya pada sang istri dan menarik tubuh Dewi kembali dalam pelukannya.


" Ini bukan pagi mas, tapi sudah siang ",


" Benarkah ? ", Devan pun beranjak bangun dari tidurnya. Matanya tidak sengaja menatap pada makanan di atas meja.


" Astaga sayang, dari semalam kita belum makan. Apa kamu lapar ? " pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Dewi pun mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


" Ya sudah mas bantu kamu bersih-bersih di kamar mandi ya ", Dewi tersenyum sebagai jawaban. Karena ia merasakan tubuhnya sangat lemas tidak bertenaga.


Dengan keadaan yang masih sama-sama polos Devan mengangkat tubuh sang istri menuju kamar mandi.


Mereka mandi tidak lama, mengingat tubuh sang istri masih sangat kelelahan. Devan tidak ingin khilaf jika terlalu lama menatap tubuh indah milik istrinya itu.


Ia segera memesan makanan dan meminta agar di antarkan ke kamarnya. Beberapa saat kemudian terdengar ketukan pintu.


Tok tok tok


Devan segera membukakan pintu dan mempersilahkan masuk pegawai hotel tersebut. dan pegawai hotel itu dengan cekatan menyiapkan makan siang di atas meja hingga tertata rapi.


" Selamat menikmati tuan dan nyonya ",


" Terima kasih ", jawab Devan.


Setelah pegawai hotel itu keluar Devan membantu sang istri untuk duduk di kursi. Mereka makan dengan sangat lahap, mengingat tenaga mereka semalam terkuras habis untuk berperang.


" Mas kita menginap di sini berapa hari ? "


" Mungkin sampai besuk. Kenapa ? Apa kamu masih ingin di sini lebih lama ? Goda Devan yang langsung mendapat gelengan dari sang istri.


" Dewi ingin cepet pulang mas, soalnya besuk lusa bapak sama ibuk sudah balik ke kampung ",


" Kalau begitu kita keluar besuk pagi saja ya ? Mas masih mau menikmati malam pengantin kita semalam lagi tanpa ada gangguan dari mama. Mau ya sayang ? ", jawab Devan.


Dewi pun mengangguk menyetujui keinginan suaminya. Ia merasa kasihan pada sang suami, mengingat malam pertama kemaren yang gagal dua kali.


Setelah memakan habis makan siang itu, mereka ingin kembali tiduran di atas kasur. Saat akan naik ke ranjang manik mata devan menatap pada bercak darah di seprei. Bibirnya mengulas senyum bahagia karena sang istri telah menyerahkan harta paling berharganya untuk dirinya.


" Terima kasih sayang, telah menjaga mahkotamu untukku " kata Devan sambil mengecup sayang kening istrinya. Dewi membalasnya dengan senyuman manis dan menghambur memeluk suaminya.


* Akhirnya mas Devan malam pertama juga 😁*


Like komen dong kakak biar author semangat up datenya. Terima kasih ☺️.

__ADS_1


__ADS_2