Cinta Untuk Majikan Tampan

Cinta Untuk Majikan Tampan
Bab 38


__ADS_3

Mentari pagi bersinar berseri-seri. Seperti wajah-wajah perempuan yang berbeda generasi itu. Mereka adalah mama Nabila, Monica ,Tina dan Puput. Pagi ini setelah Devan terlihat meninggalkan rumah untuk pergi ke kantor, ke empat perempuan itu nampak riweh mempersiapkan diri untuk pergi mencari hantaran untuk acara lamaran.


" Monica cepat dong sayang, nanti ke buru siang nih ", teriak mama Nabila dari lantai bawah.


" Iya iya mah ", jawab Monica berlari menuruni tangga.


Setelah semua sudah siap mereka segera menaiki mobil untuk menuju salah satu Mall ternama yang terletak di pusat kota.


Di dalam mobil nampak mama Nabila yang duduk di samping kemudi sedangkan Monica, Tina dan Puput duduk di kursi penumpang belakang.


" Tin catatannya sudah kamu bawa kan tadi ", tanya mama Nabila sambil menoleh ke belakang.


" Sudah nyonya "


" Semalam kamu sudah minta ukuran badan dan jari Dewi kan tin ", tanya mama Nabila memastikan lagi.


" Sudah nyonya, kalau ukuran badan Dewi kayaknya hampir mirip nona Monica deh nyonya. Jadi nanti biar di coba nona Monica saja ", jawab Tina memberi pendapat.


" Iya mah, nanti biar aku yang coba. siapa tahu setelah itu aku yang ketularan di lamar xixixi ", kata Monica yang membuat mama Nabila mengerutkan dahinya heran.


" Memangnya kamu sudah punya pacar ? Sudah siap nikah ? tanya mama Nabila yang kemudian di jawab gelengan plus cengiran dari Monica.


" Astaga ", kata mama Nabila, Tina dan Puput serempak.


Setelah hampir setengah jam, akhirnya mereka sampai di depan Mall tujuan mereka.


Satu -persatu mereka turun dari mobil. Mama Nabila yang berjalan paling depan memberi arahan.


Pertama-tama mereka memasuki toko baju branded. Setelah hampir setengah jam memilih dan di warnai pergulatan argumen akhirnya mereka memilih dua buah gaun. Kemudian perburuan mereka berlanjut menuju toko alat make up. Untuk kali ini mereka bertiga menyerahkan urusan ini kepada suhunya, yaitu mama Nabila yang jago ber make up. Tidak perlu waktu lama mereka sudah keluar dari toko dengan satu set alat make up lengkap.


Langkah mereka berlanjut ke toko tas branded yang cukup terkenal. Saat masuk ke toko yang bernuansa elegan itu mata Puput dan Tina di suguhi aneka tas mewah dengan harga selangit.


" Astaga mbk tin, ini tas harganya sama dengan motor yang baru aku kredit ", bisik Puput pada Tina memperlihatkan bandrol harga tas tersebut.


" Iya put, kita mah belinya di pasar aja. Murah meriah dan gak bikin kantong kita menangis. Lagian modelan kayak kita ini kalau pakai tas harga jutaan juga tetep di kira tas lima puluh ribuan ", kata Tina cekikan.

__ADS_1


Mereka berdua bukannya membantu malah sibuk mengomentari harga-harga tas mewah tersebut.


Mama Nabila dan Monica yang sudah terbiasa membeli barang branded dengan cepat memperoleh pilihan. Tina dan Puput yang tidak paham hanya ngikut majikan mereka.


Kini giliran toko sepatu ternama dari desainer dalam negeri menjadi pilihan mama Nabila. Itu juga merupakan toko langganan mama Nabila. Jadi sudah pasti di jamin kualitas produknya.


" Kalian boleh memilih sepasang nanti biar saya yang bayar", kata mama Nabila pada puput dan Tina.


" Beneran nyah ",


" Iya beneran, sudah jangan sungkan kalian pilih-pilih dulu ", jawab mama Nabila.


Tina dan Puput dengan bersemangat menuju etalase tempat sepatu-sapatu itu di pajang. Mereka memilih sepatu yang harganya tidak terlalu mahal. Meski mama Nabila tidak melarang, mereka cukup tahu diri.


Setelah hampir satu jam di sana, akhirnya mereka keluar dari toko. Karena hari sudah cukup siang mereka beristirahat dulu untuk mencari makan. Setelah selesai mengisi perut hingga kenyang mereka keluar dari mall pukul dua siang. Tujuan terakhir mereka adalah toko kue langganan. mama Nabila memesan beberapa jenis roti dan kue kering yang menjadi pilihan mereka berempat.


Sebelum pulang ke rumah mama Nabila menghubungi orang rumah untuk memastikan jika Devan belum pulang. Ia tidak mau rencana kejutan itu gagal karena ketahuan duluan.


Hampir pukul setengah lima mereka baru sampai rumah. Mama Nabila segera menyuruh pak Salim, di bantu Tina dan Puput untuk segera membawa barang belanjaan itu masuk ke rumah.


" Sama-sama nyonya ", jawab keduanya yang kemudian pamit undur diri. Di sofa nampak Monica yang duduk menyandarkan kepalanya. Wajahnya menunjukkan raut kelelahan.


" Capek ya "


" Banget mah, kaki Monic rasanya kayak mau copot", jawab Monic yang di senyumi mama Nabila. Mama Nabila menghela napas lega, karena persiapannya sudah mencapai lima puluh persen lebih.


🌸🌸🌸🌸


Di kampung halaman Dewi juga tidak kalah repotnya. Saat ini pak Danu sibuk mengecat ulang rumah mungilnya. Ya meski hanya ruang tamu saja, karena waktunya tidak cukup untuk mengecat semua.


Sedang para wanita sibuk membeli keperluan dapur di pasar untuk menjamu tamu-tamu dari keluarga Aditama. Mama Nabila sebenarnya ingin mentransfer uang untuk kebutuhan Dewi. Namun dengan sopan Dewi menolak. Ia masih punya tabungan hasil kerjanya di keluarga Aditama. Ia tidak ingin memaksakan diri terlihat mewah, ia akan menjamu para tamu sesuai dengan kemampuan mereka.


Selesai dari pasar, Dewi mampir ke toko kue yang tidak jauh dari rumah mereka. Ia memesan beberapa kue yang akan mereka berikan untuk tamu-tamu yang datang nanti.


Mereka tiba di rumah saat pak Danu sudah menyelesaikan tugas mengecatnya.

__ADS_1


" Wah, rumah kita jadi terlihat luas ya pak kalau di cat warna putih ", kata Dewi senang.


" Iya wi, makanya bapak ngeyel harus di cat ya supaya rumah kita jadi sedikit layak untuk menerima tamu-tamu dari keluarga nak Devan ",


" Makasih ya pak ", kata Dewi memeluk bapaknya.


" Iya nduk ", jawab pak Danu membelai Surai rambut putrinya.


🌸🌸🌸🌸


Kalau kedua belah keluarga nampak tengah bahagia mempersiapkan lamaran, berbeda dengan Devan yang sedang sibuk dengan berkas-berkas di meja. Ia nampak lesu mengerjakan pekerjaan yang saat ini menumpuk di meja kerjanya. Pikirannya yang tidak fokus malah teringat pada kekasih hatinya.


Kemarin ia sudah menghubungi Dewi dan meminta maaf karena sudah lama tidak memberi kabar. Untungnya ia memiliki kekasih yang sangat pengertian. Dewi tidak marah padanya bahkan selalu memberinya semangat agar lebih bersabar.


Di sela-sela kesibukannya, ia mengetikkan sebuah pesan singkat pada sang kekasih


** Aku kangen banget sama kamu wi **


Setelah pesan terkirim, untuk sesaat Devan menunggu balasan. Tidak butuh waktu lama Dewi sudah membalas pesannya. Buru-buru Devan segera membuka pesan balasannya itu. Bibirnya melengkung sempurna tatkala netranya melihat pesan balasan Dewi yang berupa gambar hati yang begitu besar.


Devan segera membalas pesan itu dengan emot jari membentuk hati. Setelah pesan itu terkirim, bibirnya terus saja menyunggingkan senyuman berharap ada pesan balasan lagi.


Tok tok tok


Devan yang mendengar suara ketukan pintu buru-buru merubah ekspresi wajahnya menjadi datar.


" Masuk ", jawabnya setelah membenarkan posisi duduknya. Tampak Kevin asistennya itu memasuki ruangan.


" Maaf bos, jadwal pertemuan kita dengan pak William sebentar lagi ", kata Kevin mengingatkan.


" Baiklah ", jawab Devan yang segera beranjak dari duduknya. Manik matanya menatap kembali pada layar handphone dan jemarinya mengelus lembut wajah Dewi di sana.


" Sayang aku kerja dulu ya ", Batin devan sambil memasukkan handphone itu ke saku celananya.


* like komen dan vote jangan lupa ☺️*

__ADS_1


__ADS_2