Cinta Untuk Majikan Tampan

Cinta Untuk Majikan Tampan
Bab 26


__ADS_3

" Sejak kapan wi ", tanya mama Nabila mulai menaikkan oktafnya.


" Se sejak "


Dewi tidak mampu meneruskan kata-katanya. Ia menunduk takut dan mulai terdengar tangisnya yang tertahan. Mama Nabila yang sebenarnya bukan perempuan berhati keras mulai terenyuh. Ia segera memalingkan muka tidak ingin membuat keputusannya goyah.


" Jujur saya sangat kecewa sama kamu wi. Kamu gadis yang rajin dan juga baik. Saya juga suka dengan hasil kerja kamu selama di sini. Tapi saya tidak bisa mentolerir kesalahan fatal yang kamu buat ini. Mulai hari ini kamu bisa berhenti bekerja di rumah saya ", kata mama Nabila mencoba tegas terhadap pembantunya.


Dewi yang mendengar itu langsung bersimpuh di depan nyonya Nabila. Dengan menangis tersedu-sedu ia memohon pada majikannya.


" Saya mohon nyonya, jangan pecat saya. Saya akui saya salah telah berani dengan lancang menjalin hubungan dengan putra nyonya. Saya janji akan memutuskan hubungan ini asal nyonya jangan pecat saya. Saya masih sangat membutuhkan pekerjaan ini nyonya. Saya mohon ", tangis Dewi semakin terdengar pilu.


Mama Nabila yang tidak tegaan, sampai merasakan nyeri di dada mendengar tangisan Dewi. Manik matanya sudah mulai berembun. Sekuat tenaga ia menahan agar air matanya tidak terjatuh. " Aku tidak boleh goyah demi masa depan Devan ", batinnya meyakinkan dirinya sendiri.


" Saya tidak bisa wi, saya tahu betul siapa putra saya. Jika kamu masih di sini, Devan pasti akan terus mendekati kamu. Jadi saya berharap kamu mengerti ",


Dewi yang mendengar itu semakin tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya ada rasa menyesal telah mengambil keputusan menerima Devan. Tapi ia tidak pernah menyesali cinta yang telah tumbuh untuk majikannya itu. Mama Nabila yang melihat Dewi tertunduk dengan tangis yang masih terdengar merasa kasihan. Tapi ia juga terlalu gengsi menerima hubungan Dewi dengan putranya. Dia tidak siap mendengar cemoohan dari orang-orang.


" Saya sebagai orang tua hanya ingin yang terbaik buat putra saya. Kamu pasti mengerti dengan apa yang saya maksud wi ",


Dewi yang mendengar ucapan mama Nabila mulai menghentikan tangisnya. menyeka air matanya dengan lengan bajunya. Dewi berusaha menatap majikannya yang sedang berdiri bersandar pada meja kerja di ruangan itu. Berusaha untuk tegar menghadapi resiko yang selama ini menghantuinya.


" Saya tahu nyonya, saya memang tidak pantas untuk tuan Devan. Saya hanyalah gadis kampung yang berasal dari keluarga miskin. Tapi cinta yang saya miliki untuk tuan Devan tulus dari lubuk hati saya. Bukan karena apa yang tuan Devan miliki ", kata dewi sambil menyeka kembali air matanya yang terus mengalir.


" Terima kasih atas kebaikan keluarga nyonya selama ini. Saya tahu diri untuk tidak berharap lebih. Saya akan berhenti bekerja sesuai keinginan nyonya. Saya minta maaf apa bila ada kesalahan yang saya perbuat selama saya bekerja di sini. Saya permisi ", Kata Dewi sambil beranjak dari lantai.


" Ini gaji kamu bulan ini dan juga pesangon kamu ", kata mama Nabila sambil menyerahkan amplop coklat itu pada Dewi.


" Terima kasih ", Dewi segera mengambil gaji terakhirnya itu dan segera meninggalkan ruang kerja papa rehan.


Sepeninggalan Dewi, mama Nabila terduduk lemas di kursi kerja suaminya. Tugasnya belum selesai, ia masih harus mencari cara agar Devan tidak mendekati Dewi lagi.


.


.

__ADS_1


Di dalam kamar, nampak Dewi sedang mengemasi pakaiannya. Mbak Tina yang mencari Dewi sejak tadi terkejut melihat Dewi menangis sambil memasukkan baju-bajunya ke dalam tas.


" Wi kamu ngapain ",


" Mbak Tin ", Dewi yang melihat Tina berdiri di ambang pintu segera berlari memeluk teman yang sudah ia anggapnya kakak sendiri. Ia kembali menangis tersedu-sedu.


" Nyonya sudah tahu mbk, dan aku aku sekarang sudah di pecat ", kata Dewi semakin tersedu-sedu. Tina yang mendengar itu menuntun Dewi masuk dan menutup pintu. Di dudukkannya Dewi di tepian tempat tidur.


" Sabar ya wi, bukankah sebelum kamu menerima tuan Devan kamu sudah tahu hal ini akan terjadi ", tanya Tina yang di angguki Dewi pelan.


" Perbedaan kita dengan keluarga tuan Devan sangatlah jauh wi. Kita tidak pantas bersanding dengan mereka. Kamu yang sabar ya, nanti kalau ada pekerjaan yang bagus lagi pasti mbak akan hubungi kamu ", kata Tina menenangkan Dewi.


" Iya mbak Tina, terima kasih ", jawab Dewi sambil memeluk Tina lagi.


" Kamu pulang naik apa ",


" Naik bus saja mbk ", jawab Dewi yang kembali mengemasi pakaiannya.


" Kamu hati-hati ya wi. Ini ada sedikit uang buat bekal perjalanan kamu ", kata Tina sambil menyerahkan uang itu ke tangan Dewi.


" Sudah kamu terima, kalau kamu masih anggep aku kakakmu jangan di tolak ", ancam Tina yang membuat Dewi akhirnya menerimanya.


" Terima kasih ",


.


.


Pukul tiga sore Dewi meninggalkan kediaman keluarga Aditama. Setelah acara perpisahan dengan teman-temannya ia segera keluar dari rumah mewah tempat ia mengais rejeki selama beberapa bulan ini. Mungkin bukan jodohnya bekerja di sana pikirnya. Dengan membawa seribu luka ia meninggalkan kediaman majikan tampannya. Tidak lupa ia juga memblokir nomor hp sang majikan.


" Selamat tinggal tuan, semoga tuan menemukan perempuan yang lebih baik dari Dewi ", batinnya yang kembali membuat manik matanya berkaca-kaca.


Sepanjang perjalanan menuju kampung halamannya ia terus melamun menatap keluar jendela. Kedua orang tuanya pasti sangat kecewa jika mengetahui masalahnya.


" Maafin Dewi pak buk, Dewi gagal jadi anak yang baik. Dewi sudah buat ibuk sama bapak kecewa ", gumamnya sembari melihat foto keluarganya di layar hp jadulnya. Setelah menempuh perjalanan hampir 4 jam Dewi akhirnya telah sampai di terminal. Ia segera memanggil tukang ojek untuk mengantarnya sampai depan rumah.Butuh waktu tiga puluh menit menaiki ojek menuju rumahnya.

__ADS_1


" Terima kasih pak ", kata Dewi memberikan uang pada tukang ojek tersebut.


Saat berjalan memasuki halaman rumahnya, nampak pak Danu sedang mengangkat gabah yang di jemur di depan rumah. Gabah-gabah itu upah dari kerjanya membantu memanen sawah milik tetangga.


Dewi menatap bapaknya yang kulitnya semakin terlihat menghitam saja. Hatinya semakin sakit mengingat janjinya kala itu yang ingin membantu ekonomi keluarganya. Matanya kembali berembun dan menjatuhkan air mata.


Pak Danu yang menegakkan badannya, terkejut melihat Dewi. Ia menatap Dewi di depannya dengan rasa tidak percaya.


" Loh Dewi, kamu pulang nduk ", katanya sambil berjalan mendekat ke arah putri sulungnya. Dewi dengan tersedu-sedu berlari memeluk bapaknya.


" Pak, maafin Dewi ",


" Ada apa to nduk ", tanya pak Danu sambil membelai lembut punggung putrinya.


🌸🌸🌸🌸


Di tempat lain


Tampak Devan yang mondar-mandir di kamar hotel tempat ia menginap. Sejak tadi ia berusaha menghubungi Dewi tapi tidak ada jawaban. Dari pagi hingga malam Dewi tidak juga bisa dihubungi.


" Kamu kemana Dewi, aku tuh kangen banget sama kamu. Angkat teleponnya wi ", kata Devan yang mulai emosi. Di cobanya kembali menelepon sang kekasih. Namun sekali lagi hanya terdengar sang operator yang memberitahukan bahwa nomor yang dihubunginya sedang tidak aktif.


" aaaaaaaaa", Devan membanting hp nya hingga pecah berantakan. Hatinya merasa semakin tidak enak.


" Di mana kamu wi ", Gumamnya kawatir.


" Kevin ", Teriaknya yang membuat Kevin yang sedang bersantai di balkon terkejut bukan main.


" Ada apa bos "


" Kita pulang sekarang",


" Tapi bos, tuan William besok akan kesini. Dia akan kecewa jika tuan pulang sekarang. Ini menyangkut masa depan perusahaan kita bos " Jelas Kevin sedikit takut menatap bosnya.


" aaaaaaa sial " , teriak Devan sambil membanting gelas di dekatnya.

__ADS_1


" Astaga " gumam Kevin sambil mengelus dada.


__ADS_2