
Tak tak tak
Terdengar langkah kaki seseorang yang tengah berjalan menuju sebuah ruangan.
" Apa tuan Devan ada di dalam ? " tanya seorang wanita cantik pada elena sekretaris Devan.
" Apa nona sudah membuat janji sebelumnya ? ",
" Saya model yang di tunjuk tuan William untuk mempromosikan resort di Bandung ",
" Dengan nona siapa ? "
" Amira putri "
Elena mengamati wanita cantik yang ada di depannya. Kemudian ia menelepon atasannya untuk memastikan.
" Pak ada yang ingin bertemu bapak. Katanya nona ini adalah model yang di tunjuk tuan William ",
" Baiklah, suruh saja masuk ", jawab Devan di seberang telepon.
" Baik pak ",
Setelah menutup teleponnya elena mempersilahkan perempuan itu untuk masuk ke ruang atasannya.
Cekleeek
" Selamat siang tuan Devan Aditama ", sapa perempuan itu yang membuat Devan yang tadinya menunduk langsung mendongak menatap tamunya.
" Amira ",
" Apa kabar Dev, lama kita tidak bertemu ", sapa amira pada mantan kekasihnya. Devan yang terlihat terkejut itu terdiam sesaat. Ia menatap tidak percaya kedatangan mantan kekasihnya. sesaat kemudian ia kembali berusaha menguasai dirinya.
" Baik. Aku tidak menyangka model yang di tunjuk oleh tuan William adalah kamu Amira "
Amira menatap lekat mantan kekasihnya yang masih saja tampan bahkan jauh lebih tampan dari sebelumnya.
Ia menyunggingkan senyum manisnya sambil berjalan lebih mendekat pada meja kerja Devan.
" Di mana manager mu, kita bisa langsung membahas kerja sama kita sekarang juga ", kata Devan dengan tenang.
Meski saat ini luka lama di hatinya kembali terbuka, ia tidak mau terlihat lemah. Walau bagaimanapun Amira pernah mengisi relung hatinya selama empat tahun lamanya.
" Aku ke sini bukan untuk membahas kerja sama kita. Aku hanya ingin mengunjungimu Dev ", ucap Amira yang berdiri di dekat Devan. Ia kemudian mendudukkan bokongnya di meja kerja mantan kekasihnya itu. Lalu ia membungkuk mendekatkan bibirnya di telinga Devan.
__ADS_1
" Apa kamu tidak merindukan aku ? "
πΈπΈπΈπΈ
Dewi terlihat duduk melamun di ruang tengah. Televisinya di biarkan menyala dari tadi tanpa ada niatan untuk menontonnya.
Mama Nabila yang tengah menuruni tangga melihat menantunya melamun segera menghampirinya.
" Sayang, kok melamun ada apa ? "
" Tadi mas Devan telepon katanya nanti malam akan lembur lagi mah. Padahal Dewi sudah memesan kue tart untuk merayakan satu bulan pernikahan kami ", kata Dewi sedikit murung. Mama Nabila membelai lembut punggung menantunya yang terlihat bersedih.
" Kenapa kamu tidak ke kantor suamimu saja. Bawa kue tart sekaligus makan siang. Bagaimana ? "
Mendengar usul sang mama mertua membuat mata Dewi langsung berbinar. Ia segera memeluk mama Nabila dengan senyum merekah di bibirnya.
" Makasih sarannya mah ",
" Ya sudah kamu siap- siap gih, nanti keburu Devan makan di luar ",
" Iya mah. Sekali lagi terima kasih ",
" Iya ", jawab mama Nabila sambil tersenyum.
Dewi segera menuju dapur untuk mengambil makanan yang sudah di masak mbok Sumi dan mbak Tina. Sebenarnya ia ingin memasak sendiri untuk suaminya, namun waktunya tidak cukup jika dewi harus memasak. Setelah makanan sudah siap Dewi segera naik ke atas untuk berganti pakaian.
Dewi menuruni tangga sedikit berlari. Setelah berpamitan pada mertuanya ia mencari pak Salim di pos satpam.
" Pak Salim, tolong antarkan saya ke kantor mas Devan ",
" Baik nyonya muda ", kata pak Salim segera berlalu mengambil mobilnya.
Di dalam pos satpam, nampak mas abdi yang tengah menatap Dewi dengan raut wajah sedihnya. Ia merasa kecewa karena cintanya yang harus layu sebelum berkembang. Mang Ahmad yang melihat rekan kerjanya tengah patah hati segera menghampirinya.
" Sudah jangan di pikirin terus. Kalau Dewi gak dapet kan masih ada dek Puput ", kata mang Ahmad yang langsung mendapat pelototan dari mas abdi.
" Emang barang mang bisa di pindah sesuka hati. Ini tuh perasaan mang, perasaan ", pekik abdi di telinga mang Ahmad dengan kesal.
" Busyet dah, gak usah teriak di telinga juga kali ", omel mang Ahmad sambil meninggalkan abdi di depan pintu pos satpam.
Dari jauh terlihat pak Salim yang membukakan pintu mobil untuk Dewi. Dewi pun segera masuk dan meletakkan bekal makan siang itu di sampingnya. Saat melewati pos satpam Dewi mengangguk seraya tersenyum pada mas Abdi yang masih saja berdiri menatapnya. Bukannya menjawab mas abdi malah semakin lekat menatap Dewi. Dewi yang melihat sikap mas Abdi tidak terlalu menghiraukannya.
Mobil yang di tumpangi Dewi melaju di jalanan dengan lancar. Dewi yang duduk di dalam mobil terlihat tidak tenang. Ini adalah kali pertama baginya mengunjungi kantor suaminya. Hatinya saat ini tengah berdebar-debar karena gugup.
__ADS_1
Setengah jam kemudian mobil yang di tumpanginya berhenti tepat di depan pintu perusahaan. Dewi segera turun dan menenteng bekal sekaligus kue yang ia ambil saat perjalanan menuju kantor tadi.
Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia melakukan itu sampai beberapa kali. Setelah sedikit tenang ia segera melangkah masuk menuju meja resepsionis.
" Apa mas devannya ada di dalam ? ", tanyanya pada dua resepsionis itu.
" Bu Dewi bisa langsung naik ke lantai 10 menggunakan lift khusus. Mari Bu saya antar ", kata resepsionis itu sopan. Meski ini kali pertama Dewi datang ke kantor, kedua resepsionis itu tau kalau Dewi adalah istri atasannya. Karena kemarin mereka turut membantu acara resepsi atasannya.
Setelah sampai di lantai 10 Dewi segera melangkah menuju meja sekretaris. Namun netranya tidak mendapati elena di sana. Manik mata Dewi beralih menatap pada pintu ruangan suaminya yang sedikit terbuka.
Dewi melangkah menuju pintu itu. Tangannya terulur untuk membuka pintu itu dengan pelan.
Deg
Manik matanya melebar saat mendapati pemandangan di depannya. Terlihat seorang wanita dengan pakaian seksi tengah duduk di meja kerja suaminya. Yang membuat hati Dewi nyeri adalah posisi wanita itu yang tengah membungkuk dan terlihat tengah mengecup pipi suaminya.
Ingin sekali Dewi berlari keluar karena tidak kuat melihatnya. Namun urung ia lakukan. Ia harus memberi kesempatan suaminya untuk menjelaskan.
Devan yang terkejut dengan apa yang di lakukan Amira segera memundurkan kursinya. Saat ia beranjak berdiri dari duduknya ia lebih terkejut lagi saat melihat istrinya yang tengah berdiri di ambang pintu ruangannya.
" Dewi ", kata Devan lirih.
Amira yang mendengar Devan menyebutkan nama seseorang segera menoleh. Ia merasa heran melihat wanita asing yang tengah berdiri menenteng kue di tangannya.
" Ah mungkin dia seorang kurir makanan ", batin Amira menebak.
Namun sedetik kemudian matanya membelalak lebar saat mendengar Devan memanggil perempuan itu.
" Sayang ", panggil Devan sambil berjalan ke arah istrinya.
Dewi menatap suaminya dalam.Ia tidak mau sembarangan mengambil kesimpulan. Ia akan menanyakan masalah ini nanti saja. Ia tidak mau jika perempuan di depannya itu mengambil keuntungan di saat dirinya gegabah mengambil keputusan.
Ia segera memasang senyum di bibirnya menyambut uluran tangan suaminya.
" Kenapa datang kok gak bilang mas, hemm ", kata Devan sambil memeluk pinggang istrinya dan mendaratkan kecupan di pipi Dewi.
Mata Amira semakin melotot menyaksikan kebucinan Devan pada perempuan yang tidak jelas di depannya itu.
" Siapa dia Van ? " Tanya Amira penasaran.
Mendengar pertanyaan itu, Dewi melepaskan pelukan suaminya dan berjalan ke arah Amira. kemudian ia mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.
" Perkenalkan saya Dewi Maharani, istri mas Devan ", kata Dewi sambil menatap perempuan di depannya dengan lembut namun penuh tekanan.
__ADS_1
" Istri ? " ulang Amira sambil menatap Devan tidak percaya.
πΈ like komen jangan lupa kak, biar aku semangat up date tiap hari ππΈ