
Hari ini Devan mengantar sang istri untuk memeriksakan kandungan Dewi yang sudah memasuki bulan ke empat.
Masa mual dan ngidam kali ini Dewi rasakan lebih parah dari kehamilan vindra dulu. Bahkan setiap hari Dewi selalu mengikuti Devan bekerja. Bahkan kantor Devan sudah seperti rumah kedua bagi istrinya itu.
" Apa Bu Dewi masih merasakan mual ? ", tanya dokter Cantika yang memeriksa kehamilan Dewi dulu.
" Sedikit dok, tapi tidak separah kemarin ", jawab Dewi seraya tersenyum.
" Tapi manjanya dok yang bertambah parah ", goda Devan pada sang istri. Dewi yang mendengar itu langsung melayangkan cubitan pada pinggang suaminya.
Dokter Cantika yang melihat itu di buat tergelak.
" Tidak apa-apa pak kalau nambah manjanya, asal nutrisi Bu Dewi dan calon bayinya tercukupi ",
" Tentu dok. Oh ya bagaimana dengan hasil pemeriksaannya dok ? ", tanya Devan yang membuat dokter cantika tertawa canggung.
" Ya ampun sampai lupa saya. Calon bayi pak Devan sangat sehat pak. Berat badan ibunya juga sudah mulai naik. Tapi harus menambah porsi makannya ya Bu Dewi kalau mualnya sudah mulai berkurang ",
" Baik dok "
" Ini saya resep kan vitamin dan tablet penambah darah ",
" Terima kasih dok. Kalau begitu kami permisi dulu ",
" Baik pak Devan, sama-sama ",
Devan dan Dewi yang sudah selesai melakukan pemeriksaan segera pulang. Mereka sedikit kepikiran pada putra mereka yang mereka titipkan pada sang nenek.
Karena mereka perginya cukup lama, takut kalau-kalau vindra rewel dan membuat kuwalahan neneknya.
Saat mobil yang Devan kendarai memasuki halaman rumah, nampak mama Nabila yang tengah menggendong vindra yang tengah menangis.
Melihat itu Dewi buru-buru turun dan bergegas menghampiri mertuanya.
" Vindra kenapa mah ? ",
" Ini loh wi, tadi minta megang ikan koi di belakang. Ya mamah gak bolehin, eh malah nangis gak diem-diem. Untung kalian segera pulang ", lapor mama Nabila sambil menyerahkan vindra pada ibunya.
" Cup cup kak vindra mau ikan koi ya. Nanti mamah belikan ya yang besar banget ", kata Dewi membujuk sang anak. Vindra yang seakan mengerti yang di ucapkan ibunya segera menganggukkan kepala.
" Anak pinter, sekarang waktunya mandi sore. Kita main air yuk ", kata Dewi sambil berjalan masuk ke dalam rumah yang di ikuti oleh mama Nabila dan Devan.
" Van, gimana hasil pemeriksaannya tadi ? ", tanya sang mama.
" Bagus kok mah, cuman Dewi harus lebih banyak makan, untuk mengganti nutrisi yang kemarin karena Dewi mual terus ",
" Kamu harus sabar ya Van, keadaan ibu hamil itu tidak sama ",
" Iya mah, Devan cuman kasihan lihat Dewi muntah-muntah. Untungnya sekarang sudah nggak lagi ", kata Devan yang terlihat lega.
__ADS_1
" Ya sudah mamah bantu Dewi mandiin vindra dulu. Kamu juga mandi gih, nanti Tante Yuni sama om Mahendra mau datang makan malam ",
" Siap mah ",
Devan pun segera berlalu masuk ke dalam kamarnya.
*
*
Malam harinya tepat pukul tujuh malam keluarga Mahendra sudah tiba di kediaman Aditama.
Kini kedua keluarga itu nampak sudah berkumpul di meja makan. Berbagai hidangan telah tersaji di atas meja dan juga beberapa buah dan cemilan.
" Gimana wi kandungan kamu ", tanya Tante Yuni pada Dewi.
" Alhamdulillah sudah lebih baik Tante. Sudah berkurang banyak rasa mualnya ",
" Baguslah kalau begitu ",
" Trus kalau kamu gimana Monic, apa masih suka ngambek ", ledek mama Nabila pada putrinya.
Mama Nabila yang selalu bercerita dengan Tante Yuni itu jadi tahu kelakuan putrinya. Selama kehamilan ini Monica memang tidak mengalami morning sickness. Justru kehamilan ini membuat nafsu makan Monica bertambah besar.
Timbangan badannya bahkan sudah bertambah lima kilo saja. Monica yang takut gendut itu menjadi was-was jika sudah di hadapkan dengan makanan.
" Sudah tidak separah kemarin mah. Ya meski setiap pagi Kevin harus menyiapkan segala keperluan Monica ", jawab Kevin mengulum senyum sambil melirik ke arah Monica.
" Ish kak Kevin, ember banget sih ", kesal Monica pada suaminya.
" Astaga Monic, itu mah terbalik. Harusnya kamu yang nyiapin keperluan suami kamu. Bisa kualat kamu "Omel mama Nabila pura-pura marah.
" Itu kan bawaan bayi mah ", elak Monica beralasan.
" Alasan aja kamu "
Semua orang yang melihat debat mama dan anak itu hanya mengulum senyum saja.
" Sudah-sudah sekarang kita makan ya ! Kasihan tuh mie nya jadi keriting dengerin debat kalian ", kata papa rehan melucu.
" Dari dulu mie juga keriting pa ", sewot mama Nabila.
" Ada kok mah yang gak keriting ",
" Apa ? "
" Mie yang habis rebonding ", jawab papa rehan yang membuat semua orang tertawa.
.
__ADS_1
.
Hari berlalu begitu cepat, kini kehamilan Dewi dan Monica sudah memasuki bulan ke delapan. Mereka yang sudah melakukan ritual adat tujuh bulanan segera pergi ke mall untuk berbelanja.
Ke empat wanita beda generasi itu segera masuk ke dalam toko perlengkapan bayi. Mama Nabila yang menggendong vindra bersama dengan tante Yuni, dan Dewi bersama adik iparnya Monica.
" Wah, kak Dewi itu lihat bagus-bagus banget bajunya " pekik Monica yang langsung menarik tangan kakak iparnya.
" Ya ampun imut banget warna pink ", kata Monic gemas melihat baju-baju mungil tersebut.
" Ini juga bagus Monic, modelnya simpel tapi elegan gitu ", timpal Dewi.
Kemarin saat pemeriksaan, Dewi dan Monica sepakat untuk mengetahui jenis kelamin calon bayi mereka. Dan hal yang benar-benar mereka tidak duga, ternyata calon anak mereka sama-sama perempuan.
Tentu hal itu membuat keduanya sangat senang. Maka dari itu mereka sepakat untuk belanja kebutuhan bayi mereka bersama-sama.
" Kakak mau pilih warna apa buat dedeknya ",
" Warna-warna yang soft aja Monic, gak harus warna pink sih ", jawab dewi sambil menatap baju cantik yang ia pegang.
" Itu juga bagus kak ", kata Monica memberi masukan.
" Kalau begitu kakak ambil. Kamu mau juga Monic, warna lainnya masih banyak tuh. Biar bisa kembaran gitu, pasti lucu ",
" Iya kak, mau mau ", pekik Monica senang. Ia tidak menyangka bahwa belanja perlengkapan calon buah hatinya sungguh sangat menyenangkan.
Tanpa terasa mereka sudah berada di dalam toko itu hampir dua jam. Dan akhirnya mereka pulang dengan membawa banyak sekali paper bag di tangan mereka.
Papa rehan yang melihat mama Nabila, Monica dan juga menantunya memborong belanjaan sampai geleng-geleng kepala.
" Astaga kalian, kenapa gak sekalian toko-tokonya kalian beli. Kalau perlu pabrik-pabriknya juga ",
Devan yang sedari tadi duduk di dekat papanya di sofa ruang tamu sampai tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan papanya.
" Ish papa, bikin kesel aja. Kalau gak ngerti diem gak usah banyakan protes ", kesal mama Nabila yang mendapat dukungan dari putrinya.
" Betul, bikin mood Monic jadi jelek aja ", kesal Monica.
Devan yang melihat kertas pembayaran di dalam paper bag Monica segera mengambilnya.
" Astaga, dua puluh juta pah ", kata Devan yang membuat papa Devan geleng-geleng kepala.
" Itu belum semua pa, besuk masih lagi ", teriak mama Nabila dari lantai atas.
" Astaga ", kata papa rehan dan Devan bersamaan sambil menepok jidat mereka masing-masing.
Like dan komen selalu author tunggu.
Terima kasih.
__ADS_1