Cinta Yang Takkan Berubah

Cinta Yang Takkan Berubah
Dipersimpangan


__ADS_3

Dipersimpangan tiga arah, kaki mungilnya melangkah menuju tujuan yang masih samar-samar. Dibawah teduh pepohonan yang rindang memberinya kesejukan ragawi. Terdengar kicauan riuh mahluk Tuhan bersayap diantara ranting-ranting hijau yang berayun-ayun menari bersama angin sepoi-sepoi.


Pandangannya lurus kedepan dengan penuh kepercayaan tak menghiraukan bisik-bisik yang mematahkan semangat dan asa. Dengan mengenakan busana sederhana tapi nyaman dan indah membalut ditubuhnya. Bukan juga merek terkenal dan mahal tapi berkualitas dan tidak ketinggalan jaman. Terdengar bocah-bocah mungil dengan tawa riang gembira memecah keheningan alam sambil berlari-lari bermain bersama alam semesta.


Tawa itu bagai tawa malaikat cupid dari surga. Si gadis tersenyum sumringah tertular kebahagiaan bocah-bocah lucu itu atau mungkin juga dia jadi terkenang masa kecilnya sebahagia mereka. Nampak sinar kebahagiaan terpancar dari bola matanya yang dihalangi oleh kaca mata bulatnya yang menggantung manis diatas hidungnya yang tidak mancung itu.


Sebuah sentuhan lembut terasa di kakinya, sentuhan dari salah seorang diantara mahluk kecil itu. Kakinya terhenti dan menatap bocah manis itu dengan senyuman. Si bocah mengulurkan tangannya, memberikannya secarik kertas berwarna biru. Si gadis pun meraih kertas itu dan disana tertulis sebuah kalimat, " Hari ini indah karena kamu bahagia."


Lalu si bocah kembali berlari mengejar teman-temannya. Si gadis tersenyum manis dan menatap kembali bocah-bocah itu sampai hilang dari pandangannya. Kemudian dia kembali melanjutkan perjalanannya. Tapi tiba-tiba langit mulai mendung alam menjadi gelap dan kelabu. Si gadis mempercepat langkahnya karena sepertinya sang hujan akan segera berkunjung. Hingga tanpa sengaja dia menabrak sesuatu. Bukan sesuatu tapi seseorang karena terdengar suara jeritan kecil, " aduhhhh.... ."


Si gadis melihat ke arah suara ternyata seorang pria. Tidak tampan tidak juga buruk rupawan. Akan tetapi terlihat manis dan mempesona dipandang mata. Si gadis terbata-bata, " ma...ma... af... Saya tidak memperhatikan jalan tadi. " Si pria pun turut membalas.


" Oh tidak apa-apa, saya juga tadi tidak memperhatikan jalan saya. "


Memang akibat dari tabrakan tadi tidak terasa begitu sakit, hanya saja sedikit mengejutkan. Lalu keduanya saling menundukkan kepala sebagai tanda permohonan maaf juga permintaan untuk kembali melanjutkan langkah mereka masing-masing. Si pria melangkah berlawanan arah dengan si gadis. Tanpa menoleh sama sekali.

__ADS_1


Dan akhirnya hujan pun menumpahkan titik-titik airnya membasahi bumi membawa kesejukan. Nyanyian hujan kali ini berkisah tentang pertemuan yang akan terlupakan tetapi kelak akan bertemu kembali dalam masa dan cerita yang berbeda. Dan mungkin saja akan menjadi takdir yang mempersatukan dua kehidupan dalam sebuah ikatan yang suci dan sakral.


Karena tidak ada seorang pun yang pernah tahu jalan hidup yang akan dilalui oleh seseorang di kemudian hari. Hanya Sang Empunya Kehidupan yang mengatur segala-galanya dan Maha mengetahui segala yang terjadi.


Rasanya melelahkan sekali sepanjang hari ini, bermain dan belajar bersama dengan anak-anak jalanan dan anak-anak Panti di Sanggar Panti Asuhan "Kasih". Namun meski terasa lelah si gadis tetap tersenyum bahagia karena melakukannya bukan demi sebuah pekerjaan semata tetapi karena cinta dan kasihnya kepada bocah-bocah malang itu. Cinta dan kasih itu datang dari ketulusan hati yang paling dalam. Betapa bahagianya bocah-bocah lugu, polos dan mengagumkan itu dengan segala tingkah laku mereka yang jujur dan apa adanya. Mereka tidak mengingat-ingat lagi akan masa lalu, tidak mempersoalkan masa yang akan datang, yang terbersit dalam pikiran mereka adalah saat ini. Menikmati kebahagiaan yang takkan lagi sama baik kemarin, hari ini ataupun besok. Itulah mengapa betapa indahnya masa kanak-kanak. Ada kegembiraan, persahabatan, pertengkaran kecil, tertawa dan air mata.


Tak ada dendam ataupun amarah. Tidak mengerti apa itu kebencian dan kesombongan. Dan mungkinkah orang dewasa masih memiliki kepolosan dan kejujuran seorang anak-anak dalam diri mereka? Sehingga orang-orang dewasa itu mampu mencinta bukan karena sesuatu alasan ataupun cinta yang bersyarat. Melainkan mampu mencinta dengan apa adanya dan menerima dengan tulus dan ikhlas.


Si gadis sedang merapikan buku-buku cerita anak yang ada di dalam rak buku. Lalu seorang anak kecil muncul dihadapannya. Laki-laki kecil tampan dan menggemaskan. Baru beberapa hari ini dia bergabung di Sanggar. Kata Bu Maria pemilik Panti dan pemimpin Sanggar, anak kecil ini diantar oleh seorang wanita paruh baya yang mengaku sebagai neneknya. Dilihat dari penampilannya sepertinya wanita paruh baya itu adalah orang yang berada. Pakaiannya begitu mewah dan bermerek. Dandanannya juga blink-blink nampak dari aksesoris yang dikenakannya.


Umurnya baru saja 4 tahun. Hanya karena orang tua yang tidak mau bertanggung jawab, anak-anak yang harus menjadi korban.


Si pria kecil itu hanya berdiri saja sambil menatap si gadis dengan tatapan kosong. Semenjak dia hadir hingga saat ini sekalipun dia tidak pernah tersenyum. Melihat si pria kecil itu si gadis menghentikan aktivitasnya, dihampirinya pria kecil itu. Si gadis membungkukkan badannya dan mulai mengajaknya berkomunikasi.


" Hai anak pintar. Lagi buat apa kamu disini? sembari tangannya membelai rambutnya yang hitam halus.

__ADS_1


" Mama. " ucapnya datar tanpa ekspresi. Tapi sekilas terdengar pilu.


" Kenapa sayang? tanyanya lagi sambil memegang tangan mungilnya.


" Mama. " ulangnya lagi dengan begitu lirih.


Tanpa terasa air mata menetes dari kedua bola matanya yang bening.


Melihat ekspresi si pria kecil yang menyayat hati, si gadis langsung memeluknya dengan perasaan haru penuh kasih dan kehangatan.


Si pria kecil membalas pelukan itu dengan sangat erat seakan tidak ingin melepaskannya lagi.


Lalu kemudian ibu Panti muncul dari balik pintu. " Mateo sayang, kamu kenapa sayang? Dibelainya pundaknya yang rapuh itu. Si pria kecil yang dipanggil dengan nama Mateo itu hanya menjawab dengan terus menerus memanggil kata," Mama... mama... ". Tidak bisa dipungkiri jika si pria kecil ini pasti sangat merindukan ibunya. Ibu yang melahirkannya ke dunia ini.


Dan tanpa terasa juga si gadis terlihat berkaca-kaca. Dia bisa merasakan kesedihan yang dialami olah bocah malang ini. Dipeluknya semakin erat dan erat. Ditumpahkannya seluruh kasih sayangnya kepada pria kecil yang malang ini lewat pelukannya yang begitu menghangatkan.

__ADS_1


Karena kata-kata tidak akan berarti apa-apa. Meski hanya lewat sebuah pelukan si pria kecil ini bisa merasakan jika dirinya diterima dan disayangi olah orang-orang ditempat ini.


__ADS_2