
Virginia sedang memikirkan sebuah ide untuk bisa menarik perhatian Stephen. Wajah tampan Stephen memang begitu menggoda. Dan untuk seorang wanita seperti Virginia, tidak mungkin dia melewatkan kesempatan ini.
Jika dibandingkan dengan Sophia, gadis itu tidak ada apa-apanya. Masa sih seorang Virginia kalah dengan seorang gadis seperti Sophia?
Jika sampai Virginia tidak bisa merebut hati Stephen maka jangan sebut namanya Virginia. Karena itu adalah suatu penghinaan baginya.
Entah ide apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Tapi yang pasti senyum licik tersungging dari bibir seksinya.
Sementara itu.
Sophia sedang duduk termenung di atas tepi tempat tidurnya. Tiba-tiba saja muncul pikiran buruk dalam benaknya tentang suaminya dengan wanita penggoda itu.
Bagaimana tidak kepikiran olehnya. Sudah berapa kali netranya menangkap kebersamaan suaminya dengan wanita itu. Dan itu baru yang tertangkap oleh penglihatannya sendiri. Bagaimana dengan yang tak terlihat olehnya selama ini. Tidak ada yang tahu.
Sophia selalu berusaha untuk tidak berpikiran negative terhadap suaminya itu. Baginya sebagai seorang istri haruslah percaya kepada suaminya.
Karena tanpa sebuah kepercayaan niscaya bahtera rumah tangga mereka akan selalu dirundung oleh kecurigaan dan keraguan. Jika ragu dan curiga mulai menghiasi biduk rumah tangga maka tidak akan ada lagi kenyamanan dan kebahagiaan dalam rumah tangga tersebut.
Namun sebagai wanita biasa, melihat suaminya bersama dengan wanita lain tentu muncul berbagai pikiran yang tak mengenakkan dalam benaknya. Apalagi wanita itu cantik dan menggoda.
Sophia lalu bangkit dan mengerjakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Dicobanya ditepiskannya pikiran-pikiran buruk itu dari dalam benaknya. Menyibukkan dirinya dengan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga agar pikirannya tidak terbebani.
Optimis dan percaya pada suaminya yang takkan mungkin mengkhianati cinta mereka. Saat Sophia sedang fokus dengan pekerjaannya, sebuah pesan masuk di ponselnya. Pesan dari nomor tak dikenal.
__ADS_1
" Cafe " Romantic " jl. Palm. Ada kejutan untuk kamu. Sekarang! bunyi pesan yang masuk di ponsel Sophia.
Sophia tidak mengerti apa maksud dari pesan tersebut. Tapi ada rasa penasaran. Ada apa di cafe itu? Dan siapa pemilik nomor pengirim pesan ini? Dari pada pikirannya dipenuhi rasa penasaran maka Sophia memutuskan untuk pergi ke tempat itu.
Sophia segera mengganti pakaiannya. Entah kenapa tiba-tiba dia ingin tampil lebih cantik dari biasanya. Dipilihnya dress merah tanpa lengan, leher v bermotif bunga di sisi lengan kirinya. Sophia nampak anggun. Dengan rambut digerai dan jepitan kecil di ujung rambut sebelah kanan.
Penampilannya sedikit berbeda dari biasanya. Entah dorongan dari mana sehingga muncul ide dalam benaknya untuk berpenampilan seperti itu. Bukan Sophia yang seperti biasanya. Apakah mungkin karena telah muncul benih-benih cemburu dalam hatinya sehingga merasa takut kalah saing ?
Jika perasaan wanita sudah mulai terusik mungkin beginilah salah satu reaksinya. Setelah merasa cukup cantik, Sophia pun segera berangkat. Dengan memesan taksi online Sophia pun menuju tempat yang disebutkan dalam pesan tersebut.
Hanya butuh waktu 20 menit, taksi yang dinaiki oleh Sophia tiba di tempat tujuan. Setelah membayar ongkos taksi Sophia mengucapkan terima kasih lalu segera masuk ke dalam Cafe. Tapi Shopia tidak tahu siapa yang harus dicarinya dan apa yang sedang dicarinya.
Melihat kedatangannya seorang pelayan wanita mendatanginya dan mempersilahkannya untuk mengambil tempat duduk di dalam ruangan cafe itu. Sophia yang masih kebingungan memilih untuk duduk di mana saja.
Sophia yang tidak mengerti apa-apa hanya memesan lemon tea hangat kesukaannya. Pelayan itu lalu pergi meninggalkan Sophia sendiri.
Sophia melihat sekelilingnya. Tidak terlalu banyak orang, tapi ada beberapa pasangan yang sepertinya sedang menghabiskan waktu romantis. Dan ketika netranya mengitari ruangan itu, terlihat olehnya sosok yang seakan dikenalnya.
Tubuh itu membelakanginya, sehingga wajahnya tidak terlihat dengan jelas. Tapi perempuan yang duduk di depan tubuh pria itu wajahnya nampak jelas. Bukankah wanita itu rekan bisnis suaminya. Lalu pria yang ada dihadapannya itu siapa?
Sophia semakin memperhatikan, mulai dari pakaian pria itu mirip dengan pakaian yang dipakai oleh suaminya hari ini. Dan gaya potongan rambut itu juga terlihat mirip dengan gaya rambut suaminya.
Perasaan Sophia semakin tidak tenang. Apalagi wanita itu nampak tersenyum mesra dan genit kepada pria di depannya itu. Gerak tubuh wanita itu juga terlihat menggoda. Sophia ingin membuang pandangannya dan tidak ingin melihat kelakuan wanita itu. Tapi hati kecilnya penasaran dengan sosok pria itu. Pria yang mirip dengan suaminya meski terlihat dari belakang saja.
__ADS_1
Wanita itu lalu berdiri, berjalan mendekati tempat duduk pria itu. Dan langkah jalannya yang sangat-sangat menggoda itu bisa membuat pria yang melihatnya pasti tergiur. Kemudian jari-jemarinya yang gemulai menyentuh wajah pria itu seperti sedang mengusap sesuatu diwajahnya.
Wajahnya pun mendekat bahkan sangat dekat dengan wajah pria itu, seolah wanita itu ingin mencium bibir pria itu. Sophia membuang pandangannya ke arah lain. Seakan tidak rela melihat adegan dewasa itu. Namun hasrat ingin tahunya lebih besar. Diliriknya kembali ke arah kedua insan yang sedang beradegan romantis itu.
Dan alangkah terkejutnya dia, ketika disaksikannya sosok pria itu. Wanita itu menarik tangan si pria hingga berdiri lalu si pria berbalik kemudian si wanita langsung menggandeng tangannya dengan mesra.
Sophia tak percaya jika pria yang sedang digandeng oleh wanita itu adalah Stephen suaminya. Sophia berusaha untuk meyakinkan pandangan matanya jika yang dilihatnya saat ini adalah orang lain bukan suaminya.
Semakin dilihatnya semakin jelas terlihat jika pria itu memang benar-benar adalah Stephen suaminya. Sophia tentu saja berusaha untuk tidak percaya karena sepengetahuannya suaminya itu sedang bekerja di kantor saat ini.
Tidak mungkin dia meninggalkan pekerjaannya hanya untuk pergi makan berdua dengan seorang wanita. Tapi mau dipercaya bagaimana pun apa yang dilihatnya saat ini benar-benar nyata. Dia tidak sedang bermimpi ataupun mengkhayal. Ini nyata.
Si pelayan muncul dengan segelas lemon tea hangat. Tapi fokus Sophia masih kepada kedua sosok yang tidak jauh dari hadapannya itu. Sophia tidak sadar jika si pelayan telah meletakkan pesanannya di atas meja dan pergi kembali melakukan pekerjaannya yang lain.
Sampai akhirnya kedua orang tersebut meninggalkan tempat itu, dan Sophia tak henti-hentinya menatap keduanya. Hingga keduanya hilang dari pandangannya. Sophia terduduk lemas. Tidak tahu harus berpikir apa. Tidak ingin berprasangka buruk tetapi sikap keduanya yang terlihat oleh netranya nyata adanya.
Disaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bukan karena mendengar cerita dari orang lain. Hatinya pun berontak. Sisi sucinya mengingatkan dirinya untuk tidak langsung menghakimi sebelum bertanya langsung kepada suaminya itu.
Akan tetapi sisi jahatnya meyakinkan dirinya jika suaminya itu telah benar-benar berselingkuh. Dan hal itu sungguh sangat keterlaluan dan tidak bisa ditolerir.
Maka terjadilah perang bathin dalam diri Sophia. Antara percaya dan tidak dengan apa yang telah dilihatnya itu. Sakit hati dan luka tentu saja muncul dalam hatinya. Ingin menangis tapi malu jika dilihat oleh banyak orang apalagi ditempat umum seperti ini.
Lalu Sophia bangkit, dikeluarkannya satu lembar uang kertas biru dari dompetnya dan diletakkan dibawah gelas minumannya itu . Kemudian dia pergi dengan hati yang luka dan perih.
__ADS_1