
Sejak peristiwa hari itu, Stephen semakin ketat mengawasi Sophia dan Mateo. Beberapa pengawal diperintahnya untuk menjaga keduanya secara diam-diam. Karena dia tahu Sophia tidak akan mau dikawal oleh begitu banyak penjaga. Maka Stephen berinisiatif untuk melindungi keduanya tanpa sepengetahuan mereka berdua.
Matahari pagi nampak begitu cerah dan hangat. Bias cahayanya menembus sudut-sudut ruangan kamar Stephen dan Sophia. Stephen bangun lebih awal memperhatikan wajah istrinya yang begitu lelapnya, namun terlihat cantik di matanya. Dibelainya wajah Sophia dengan lembut dan penuh cinta. Sophia yang seakan merasakan ada sentuhan di wajahnya nampak menggeliat pelan. Lalu perlahan kelopak matanya terbuka.
Melihat wajah tampan sang suami, Sophia tersenyum bahagia. Bahagia karena tatapan pertamanya di pagi hari ini adalah seseorang yang disayanginya.
Namun belum lama senyum bahagia itu terlukis di bibirnya, tiba-tiba perutnya merasa mual dan gembung.
Sophia langsung bangkit dari tempat tidurnya, berlari menuju kamar mandi karena dirinya seakan ingin memuntahkan sesuatu dari dalam perutnya. Stephen yang juga kaget, ikut berlari mengikuti istrinya itu ke dalam kamar mandi. Sophia yang muntah-muntah namun tak ada sesuatu apapun yang keluar dari mulutnya, Stephen langsung membantu memijit bahu dan leher Sophia mengira Sophia sedang masuk angin sehingga perutnya kembung dan mual.
Tapi wajah Sophia mulai nampak pucat. Perutnya malah bertambah nyeri. Membuat Stephen jadi khawatir. Karena takut dan bingung, karena sebelumnya Sophia tidak pernah mengalami hal seperti itu, Stephen langsung mengangkat tubuh Sophia. Dalam pikirannya saat ini adalah membawa Sophia ke rumah sakit.
Di luar pintu ruang pemeriksaan Stephen tidak bisa duduk tenang. Rasa khawatirnya cukup besar mengingat kejadian ini baru pertama kali terjadi. Tak berapa lama kemudian seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Stephen langsung menemuinya dan menghadang sang dokter dengan pertanyaan.
" Dokter. bagaimana dengan istri Saya. Apa yang terjadi? terlihat wajahnya yang begitu khawatir dan cemas.
Sang dokter yang bisa memahami kekhawatiran Stephen berusaha untuk menenangkannya.
" Puji Tuhan, istri anda baik-baik saja. Saya ucapkan selamat karena sebenarnya istri anda sedang hamil. Dan ini memasuki minggu ketiganya."
Mendengar penuturan sang dokter, betapa bahagianya hati Stephen. Bahkan rasanya kebahagiaan itu berlipat-lipat ganda. Ternyata kekhawatirannya adalah kabar yang membahagiakan.
" Tapi pak, kondisi rahim istri bapak sepertinya ada sedikit bermasalah. Mungkin akan lebih baik jika segera diperiksakan ke dokter kandungan.! Terlihat mimik serius dari wajah sang dokter. Membuat hati Stephen sedikit gundah. Namun tak menyurutkan kebahagiaan yang dirasakannya saat ini.
Stephen segera bergegas masuk ke dalam ruangan tempat Sophia di rawat. Melihat Sophia yang terbaring lemah Stephen merasa kasihan dan sedih. Tapi dia tidak boleh menunjukkannya dihadapan Sophia. Sophia tidak boleh berpikiran khawatir. Karena akan sangat berpengaruh pada kesehatan janin dalam kandungannya. Kecupan manis mendarat di pipi lembut Sophia membuatnya terbangun dari tidurnya.
" Mas.! panggilnya dengan lembut.
__ADS_1
" Bagaimana perasaanmu sayang? Apakah kamu merasakan sakit sayang? ucap Stephen dengan penuh perhatian. Mengingat kata-kata dokter barusan membuatnya harus extra perhatian.
" Aku baik-baik aja kok Mas. Sudah tidak merasakan mual atau nyeri seperti tadi! jawab Sophia menenangkan hati suaminya itu. Dia belum menyadari jika sebenarnya dirinya sedang hamil.
" Sayang, ada kabar bahagia untuk kita! ucap Stephen membuat Sophia penasaran.
" Kabar bahagia apa itu Mas? tanya Sophia yang sungguh penasaran.
" Kata dokter yang memeriksa kamu tadi, kalau kamu itu sebenarnya sedang hamil sayang!
" Apa Mas hamil? Sophia kaget dan seakan tidak percaya mendengar perkataan suaminya itu.
" Iya sayang, kamu sedang hamil. Sudah tiga Minggu! Stephen meyakinkan istrinya itu.
Tidak terasa air matanya menetes. Tentunya itu adalah air mata kebahagiaan. Stephen lalu memeluk istrinya itu dengan cinta dan kehangatan. Membiarkannya peneguhan dan dukungan. Dan juga ingin menunjukkan kepada isterinya itu jika dirinya juga sangat berbahagia dengan berita ini.
" Baik Mas.! balas Sophia mengiyakan ucapan Stephen.
"Kalau begitu kita pulang ke rumah. Dokter Bram pasti sudah dalam perjalanan.! Stephen merangkul bahu istrinya itu membantunya berdiri dan menuntun langkahnya keluar dari ruang rawat itu. Setelah mendapat kabar tentang kehamilan Sophia, ternyata Stephen langsung menghubungi keluarga besarnya. Menyampaikan kabar gembira bahwa keturunan Wijaya yang baru telah lahir ke dunia ini. Yang tentunya disambut dengan gembira oleh mereka semua.
Bahkan Mateo yang lebih berbahagia lagi. Dia akan menjadi seorang kakak. Sebentar lagi dia akan mempunyai seorang adik. Mateo tidak terlalu peduli apakah adiknya itu laki-laki atau perempuan. Yang penting adalah dia sudah menjadi kakak. Dan dia berjanji pada dirinya sendiri akan menjadi kakak yang baik untuk adiknya nanti.
Sesampainya di rumah Mateo langsung menyambut sang Mama dengan perasaan bahagia yang tak terungkapkan lewat kata-kata. Dipeluknya sang ibu dengan penuh cinta, lalu dibelainya perut sang Mama dengan lembut dan kasih sayang.
"Ma, adik bayinya ada di perut Mama ya? Adik bayi pasti lucu sekali. Mateo senang punya adik bayi! ucap Mateo dengan bangganya sebagai ekspresi kebahagiaan yang dirasakannya saat ini.
" Iya sayang. Dedek bayinya lagi tidur di perut Mama.! sambung Sophia
__ADS_1
" Mateo sebentar lagi kan sudah punya adik baru, dan Mateo akan menjadi seorang kakak.! lanjut Stephen.
" Mateo harus bisa jadi kakak yang baik untuk adiknya nanti! lanjut Stephen.
" Tentu dong Ayah. Mateo pasti akan menjaga dan melindungi adik bayi. Mateo janji! Sikap dewasanya muncul lagi, membuat kedua orang tuanya itu merasa haru sekaligus bangga.
Keesokan harinya, Ibu Maria datang berkunjung setelah mendengar kabar jika Sophia sedang hamil. Hatinya sangat berbahagia mendengar berita baik ini. Tapi Ibu Maria tidak datang sendiri. Kevin ikut bersamanya. Kebetulan Kevin baru kembali dari luar kota untuk mengunjungi ibunya itu. Dan ketika dia mendengar berita itu dari sang ibu dia pun memutuskan untuk ikut berkunjung ke rumah Sophia.
Di lain sisi dia juga sebenarnya sedang merindukan Sophia. Walau bagaimanapun, Sophia pernah mengisi hatinya yang kosong dan hingga saat ini juga ternyata masih kosong.
Sungguh terasa sulit untuknya jatuh cinta lagi kepada gadis-gadis disekitarnya. Meski tidak sedikit yang menaruh hati kepadanya. Tapi entah mengapa begitu mudah baginya dulu ketika jatuh cinta kepada Sophia.
Sophia yang baru saja membuka pintu merasa terharu dan bahagia karena Ibu Maria yang datang untuk mengunjunginya. Sophia sedikit terkejut ketika melihat pria yang datang bersama dengan Ibu Maria.
" Mas Kevin, selamat jumpa. Apa kabarnya? tanya Sophia mencoba menghangatkan suasana.
" Seperti kamu lihat aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Aku dengar dari ibu kalau kamu sedang hamil! Kevin bersikap lebih dewasa dan terdengar begitu hangat. Sophia selalu berharap yang terbaik untuk Kevin. Dan doanya agar Kevin mendapatkan kebahagiaannya.
" Puji Tuhan Mas. Sudah tiga Minggu.! jawab Sophia dengan senyuman bahagianya.
Ibu Maria dan Kevin memasuki rumah itu tanpa perlu lagi merasa canggung atau segan. Karena mereka tak lagi menganggap diri sebagai orang luar atau orang asing. Karena mereka adalah satu keluarga. Ibu dan Putri, Kakak dan Adik. Mateo yang baru saja keluar dari kamarnya ketika melihat Ibu Maria dan Kevin, dia langsung berlari sambil berteriak memanggil nama keduanya.
" Oma Maria, Paman Kevin! Kevin langsung memeluk mereka bergantian.
" Mateo rindu dengan Oma dan Paman. Kenapa nggak pernah datang lagi. Sudah tidak sayang Mateo dan Mama lagi ya! ucap bocah itu spontanitas dari dalam hatinya.
Kevin merangkul Mateo lalu mendudukkannya di atas pangkuannya.
__ADS_1
" Tentu saja Paman rindu sekali dengan Mateo. Apalagi Oma sangat merindukan pangeran kecil kami ini! hibur Kevin. Sinar bahagia terlihat jelas di wajah mereka.