
Pagi yang indah dan cerah setelah sepanjang malam diajak kencan oleh sang hujan. Sophia beranjak dari mimpinya dan menyongsong mentari pagi dengan senyuman. Mateo masih terlelap di atas tempat tidurnya. Sophia segera bergegas ke kamar mandi, membersihkan dirinya. Setelah itu menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Sejak Mateo tinggal bersamanya dia harus memasak sarapan pagi. Paling tidak sarapan roti plus susu dan salad sayur kesukaannya. Untungnya Mateo pun menyukai menu yang sama dengan menu kesukaannya. Dalam beberapa hal mereka memang memiliki kesamaan.
Sophia melihat kalender yang tergantung di dinding. Hari ini hari Minggu, dia akan berkunjung ke rumah Tuhan. Bersyukur untuk segala anugerahnya yang telah ia terima sepanjang hidupnya hingga saat ini. Dia memang bukanlah seorang malaikat atau orang suci, tapi dia hanya percaya untuk berbuat hal yang menurutnya baik. Bukan untuk mendapatkan tempat di surga ataupun karena takut pada neraka. Dia hanya tahu jika kita berbuat baik akan menyenangkan dan membahagiakan bagi diri kita sendiri dan juga bagi mereka yang menerima kebaikan dari diri kita. Bukan pula untuk mengharapkan imbalan atau balasan dari atas kebaikan yang telah kita lakukan.
__ADS_1
Setelah selesai menyiapkan sarapan, dia pergi kekamar untuk membangunkan Mateo. Ternyata pria kecil itu sudah terbangun dari tadi. Dipapahnya Mateo dari tempat tidur.
" Jagoan mama sudah bangun ya. Yuk sayang kita sarapan dulu lalu kita mandi setelah itu." ucapnya dengan keibuan.
Hari pertama di bulan ketiga. awal minggu. Seperti biasanya Sophia hendak memulai pekerjaannya. Sebelum berangkat ketempat kerjanya terlintas dibenaknya untuk menyaksikan berita hari ini di televisi. Dan berita pertama yang disaksikan olehnya adalah peristiwa perang yang terjadi akhir-akhir ini di sebuah negeri nun jauh disana. Perang yang tak berkesudahan yang sudah banyak menelan korban jiwa dan yang paling banyak menjadi korban dan lebih menderita adalah anak-anak.
__ADS_1
Mereka harus kehilangan orang tua, keluarga dan kehilangan masa kecilnya. Sesaat Sophia terdiam dalam bisu dan hening. Dan tanpa terasa air mata menetes dari kedua bola matanya. Hatinya tidak dapat menahan rasa sedih Dan haru yang menyesakkan dada. Hanya ada satu pertanyaan yang mengisi benaknya saat ini. " Apakah manusia sudah kehilangan hati nuraninya? "
Berapa banyak lagi anak-anak yang akan menjadi korban akibat keegoisan manusia-manusia dewasa? Entah berapa banyak lagi Mateo yang kehilangan kasih sayang dari keluarga mereka. Tapi ingin bertanya pada siapa. Adakah Sang Pencipta sudah tak lagi peduli sehingga membiarkan setiap peristiwa buruk itu terjadi.? Entahlah, banyak hal yang tidak bisa dipahami oleh otak kecil manusia kita ini. Bahkan tidak sedikit yang kehilangan iman dan kepercayaannya. Memilih untuk menjadi seorang atheis sudah menjadi pilihan yang tidak lagi ditabukan.
Sophia segera mematikan televisinya. Dilihatnya Mateo sudah menunggunya dari tadi berdiri dengan manisnya di depan pintu. Dia pun tersenyum ke arah Mateo dan segera beranjak dari sana tidak lupa menghapus sisa-sisa air mata di pipinya. Dia tidak ingin Mateo melihat ada air mata di wajahnya. Digenggamnya tangan mungil Mateo, keluar dari rumah menguncinya dan melangkah pergi menuju Panti. Sepanjang perjalanan, beberapa pasang mata masih saja memandang ke arah mereka berdua dengan tatapan curiga dan tanda tanya. Selalu saja mereka bertanya-tanya tentang bagaimana kisah cerita cinta dan kehidupannya. Apalagi di usianya yang tak lagi muda. Seharusnya dia sudah memiliki sebuah kisah cinta yang dapat diceritakannya. Lalu kini muncul seorang anak di tengah kehidupannya yang tidak menentu. Semakin menambah kecurigaan dari pikiran orang-orang yang tidak mengenalinya dengan baik.
__ADS_1