
Malam ini Stephen mengajak Sophia dan Mateo untuk dinner bersama. Untuk pertama kalinya bagi mereka bertiga dinner bersama. Walau bagaimanapun Mateo sudah menganggap Sophia adalah Mamanya yang artinya Stephen tidak bisa mengabaikan keberadaan Mateo dalam hubungannya dengan Sophia. Stephen pun mencoba untuk melakukan pendekatan kepada bocah imut itu. Bukan karena semata-mata agar hubungannya dengan Sophia berjalan lancar tetapi dari dalam hatinya memang ada suatu keinginan untuk mengenal lebih dekat sosok Mateo. Karena jauh di dalam lubuk hatinya ada sesuatu yang menggetarkan hatinya setiap kali dia memandang bocah itu.
Seperti ada sebuah ikatan yang menyatukan keduanya. Hal itulah yang membuatnya untuk bisa lebih akrab dengan Mateo. Kesempatan itu semakin besar seiring dengan status hubungan antara dirinya dengan Sophia. Setidaknya intensitas perjumpaannya dengan Mateo akan semakin banyak.
Dengan kemeja kotak garis biru gelap dipadu celana jeans lengkap dengan memakai sepatu, Mateo nampak semakin gagah dan tampan. Sophia yang mendandani Mateo sangat terkesima untuk sesaat. Karena dengan penampilannya seperti itu Mateo seakan-akan terlihat seperti seseorang.
Sophia berpikir dengan keras siapa gerangan orang yang begitu mirip dengan Mateo. Karena wajah Mateo terlihat begitu familiar dihadapannya. Sophia mencoba mengingat-ingat dengan jelas. Tapi semakin dia coba dengan keras, semakin sulit diingatnya.
Stephen sudah menunggu di depan pintu rumahnya. Hatinya sedikit gugup menunggu kemunculan Sophia dan Mateo. Padahal ini bukan pertemuan yang pertama tetapi ada saja sesuatu yang membuat dirinya merasa gugup dan grogi.
Diperhatikannya pakaian yang dikenakannya. Jangan sampai ada yang salah dan memberikan penilaian yang kurang baik dihadapan Sophia terlebih Mateo.
Meski pada awal pertemuan mereka, Mateo terlihat sangat baik dan sopan. Anak itu juga nampak lebih dewasa dari seusianya. Pikirannya mampu menilai sesuatu dengan baik dan benar.
Sophia menggandeng tangan Mateo. Mereka berjalan bersama menuju pintu. Sophia juga sudah tidak sabar lagi ingin segera bertemu dengan Stephen. Sophia membuka pintu rumahnya, wajah Stephen yang mempesona terpampang disana. Mereka saling memberi senyuman. Tanpa mengucapkan sepatah katapun. Mereka berdua seolah-olah terbius oleh tatapan masing-masing.
Mateopun yang melihat kedua orang dewasa itu yang saling terdiam dalam pandangan mereka masing-masing mencoba untuk menyadarkan keduanya.
" Eheemm. " Mateo berdehem dengan cukup keras. Sehingga kedua insan yang sedang saling mengagumi itu tersadar jika saat ini di tempat itu tidak hanya ada mereka berdua saja. Ada Mateo juga disana.
Setelah tersadar dari rasa kagumnya, Stephen langsung mengajak keduanya untuk segera masuk kedalam mobil.
Stephen pun membukakan pintu mobil dan mempersilahkan keduanya masuk ke dalam mobil. Mateo duduk di depan disamping Stephen dan Sophia duduk di belakang.
Mobil segera melaju membelah jalanan ibu kota. Kerlap-kerlip lampu jalanan ibu kota memberi warna-warni yang cerah dan meriah menghiasi pemandangan kota itu. Mateo begitu menikmatinya terlihat dari sorotan matanya yang bahagia. Karena jarang-jarang Mateo dapat menikmati suasana malam seperti ini.
Hanya butuh waktu 15 menit, mereka sudah sampai di tempat yang dituju. Sebuah restaurant keluarga disalah satu Hotel berbintang yang ada di kota itu.
Interior restaurantnya begitu mewah, elegant dan juga menyenangkan. Mateo begitu menyukainya. Terlihat dari raut wajahnya yang memancarkan kegembiraan. Sophia tahu jika Mateo menyukai tempat itu. Dia semakin merasa kagum kepada Stephen yang sepertinya tahu menarik perhatian seorang anak dan menyenangkan hati mereka.
Pelayanan di restaurant tersebut cukup memuaskan. Mereka dilayani dengan begitu ramah dan sopan. Pelayanannya juga cepat dan menyenangkan.
Mateo menikmati dengan lahap hidangan yang disediakan di atas meja mereka. Sophia pun turut senang melihat Mateo yang sangat menyukai apapun yang disajikan oleh para pelayan itu.
__ADS_1
Stephen pun mencoba untuk lebih akrab dengan Mateo dengan berusaha mengajaknya berbicara. Dan Mateo pun dengan senang hati menyambutnya.
Suasana makan malam keluarga kecil itu begitu menyenangkan. Wajah-wajah mereka terlihat bahagia dan gembira.
Semoga kebahagiaan malam ini tidak hanya selesai sampai di sini saja. Namun senantiasa menaungi kehidupan mereka untuk selanjutnya.
Sedangkan di tempat lain....
Angela selama beberapa pekan ini hanya mengurung dirinya di dalam kamarnya. Rasa sakit, benci dan dendam semakin menggerogoti hati, jiwa dan pikirannya. Saat ini yang ada dalam benaknya adalah bagaimana caranya untuk bisa membalaskan rasa sakit hati yang telah melukai hatinya.
Sebilah pisau yang ada di tangan kanannya tak henti-hentinya di tusukkannya ke wajah Sophia dalam foto yang ada digenggaman tangan kirinya. Dengan penuh amarah dan dendam membara terpancar dari bola matanya yang merah menyala.
Kemudian dia berteriak dengan sangat kencang sehingga semua penghuni di rumah itu mendengar teriakannya. Tapi itu bukanlah sesuatu yang aneh lagi di dalam rumah itu. Karena sudah menjadi kebiasaannya untuk berteriak sekencang-kencangnya disaat dia sedang mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan atau sedang mengalami frustasi ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Untung saja para penghuni di rumah itu memiliki kesabaran dan ketabahan untuk menghadapi Nona Muda mereka yang punya karakter pemarah dan emotional.
Setelah merasa puas dengan aksinya itu, Angela pun menghubungi seseorang lewat ponselnya.
Dengan tatapan membunuh dan senyum angkuh Angela memikirkan sesuatu yang tidak baik dalam pikirannya.
Terpancar keyakinan dalam sorotan matanya bahwa keinginannya kali ini pasti akan terwujud. Dan sudah pasti hatinya akan merasa bahagia sekali karena itu.
" Hahahahahaha......! tiba-tiba saja Angela tertawa terbahak-bahak. Suasana hatinya yang murka tadi berubah dengan sekejap. Meski tawanya itu terdengar sedikit mengerikan karena bagi orang normal itu bukanlah tawa yang menyenangkan.
Rumah itu pun memiliki aura yang suram dan kelam. Sesuai dengan karakter si pemilik rumahnya. Para pelayan yang ada di dalam rumah itu hanya mencoba bertahan karena mereka memang membutuhkan pekerjaan dan uang demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Karena bagi orang-orang seperti mereka yang tidak memiliki pendidikan yang tinggi sangatlah sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.
Untuk itulah mengapa mereka tetap bertahan di rumah itu. Demi sesuap nasi untuk sejengkal perut anak cucu yang ada di rumah mereka. Apalagi mereka juga mendapatkan gaji yang lumayan tinggi.
Di restaurant....
Meja makan sudah terlihat bersih dan kosong. Hanya tinggal beberapa paket dessert dan minuman segar.
" Bagaimana Mateo, apa kamu suka dengan makanan yang disediakan om-om pelayan tadi? Tanya Stephen kepada Mateo yang terlihat kenyang dan puas.
__ADS_1
" Suka Om.! jawabnya dengan ekspresi bahagia.
Stephen kembali membalas dengan tersenyum manis.
" Nanti kalau Om ajak Mateo makan lagi, Mateo mau nggak? Tanya Stephen meminta pendapat bocah itu.
" Mau dong Om! jawabnya begitu antusiasnya. Sambungnya lagi,
" Sudah lama Mateo tidak makan seperti ini, bersama Mama seperti dulu waktu Mateo masih kecil!
Hati Sophia tersentuh mendengar ucapan bocah malang itu.
" Kok hanya Mama? Papanya kemana? korek Stephen ingin lebih tahu lagi tentang bocah itu.
" Mateo nggk tahu Om, karena Mama nggk pernah cerita tentang Papanya Mateo. Tapi Mateo pernah dengar Mama bicara dengan Oma bilang kalau Papa Mateo tidak pernah tahu kalau Mama punya Mateo. Mama juga bilang kalau Papanya Mateo itu orang yang terkenal dan kaya raya karena itu Mama tidak berani untuk memberitahukan Papa kalau Mateo adalah anaknya Papa Wijaya!
Jawaban Mateo yang panjang lebar sedikit mengejutkan bagi Stephen. Apalagi ditambah nama Wijaya yang disebut oleh Mateo sebagai nama Ayahnya.
" Mateo tahu nama Papanya Mateo? Tanya Stephen dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Tahu Om. Mama pernah bilang sama Oma dan Mateo dengar.!
" Nama Papanya Mateo siapa?
Mateo berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu.
Dan kemudian Mateo menjawabnya dengan yakin dan percaya dengan suara yang begitu lantang...
" Kata Mama nama Papanya Mateo itu, Wijaya. Namanya panjang Om, Mateo tidak ingat. Yang Mateo ingat hanya Wijayanya saja. Sama dengan nama Mateo.! jelas Mateo.
Stephen menerka-nerka dalam hati.
" Siapa gerangan pria yang berinisial Wijaya tersebut.?
__ADS_1