Cinta Yang Takkan Berubah

Cinta Yang Takkan Berubah
Pertemuan


__ADS_3

Maya merasa seperti berada diatas angin. Stephen memberinya kesempatan untuk membuktikan omongannya tersebut. Dan hatinya kini diliputi pertanyaan yang sangat besar. " Mateo manakah yang dikatakan oleh wanita itu? Karena Mateo adalah nama yang familiar baginya. Apakah Mateo yang dimaksud adalah anak yang sama? Atau adakah Mateo yang lain?


Apalagi mengingat Mateo yang dikenalnya selama ini memang memiliki beberapa kemiripan dengan dirinya. Awalnya dia hanya mengira jika itu hanyalah sebuah kebetulan semata. Akan tetapi jika semakin diperhatikan kemiripan itu sungguh-sungguh sulit untuk dibedakan.


Ditambah lagi Mateo adalah seorang anak Panti asuhan. Menurut cerita Sophia, Mateo di serahkan langsung oleh neneknya sendiri.


Melihat penampilan wanita tadi, nampaknya dia adalah wanita berkelas, dari sikap dan gayanya menunjukkan jika dirinya sangat menjaga penampilannya. Itu artinya dia adalah seorang wanita berada dan kaya raya. Jika dia kaya raya kenapa dia menyerahkan anaknya sendiri ke Panti asuhan, bukankah itu sangat miris.? Atau kah dia sengaja menjual anaknya sendiri?


Keraguan dalam hati Stephen tentu beralasan. Karena ada hal-hal yang kurang masuk di akal. Setelah sekian tahun lamanya, mengapa baru sekarang perempuan itu datang kepadanya? Mengapa disaat dia sudah hamil karena peristiwa malam itu, kenapa dia tidak segera datang kepadanya?


Tapi ada hal yang sangat penting untuk dipikirkan saat ini. Seandainya yang dikatakan oleh wanita itu adalah benar maka setidaknya dia harus bertanggung jawab, lalu bagaimana dengan Sophia? Apakah dia bisa menerima semua kenyataan ini?


Karena tentunya hal ini tidak adil baginya. Meskipun Stephen tahu, Sophia adalah gadis yang baik dan berhati lembut.


Stephen mendesah gelisah.


" Ahhh.. mengapa semua ini harus muncul disaat aku sudah memiliki kebahagiaan bersama Sophia dan Mateo.! Terlintas wajah Sophia dan Mateo dalam benaknya. Wajah yang manis dan penuh kasih sayang.


Hari berikutnya....


Maya kembali berkunjung ke Panti asuhan. Bagaimanapun caranya dia harus bisa membawa Mateo kembali kepadanya. Sebagai wanita yang licik dan jahat, Maya sudah memikirkan berbagai banyak macam cara agar keinginannya itu berhasil. Sekalipun itu harus melakukan dengan cara yang salah.


Dengan sikap arogannya dia datang dan segera menemui Ibu Maria sebagai pemilik Panti. Dalam benaknya telah tersusun dan terangkai dengan rapi apa yang akan disampaikannya kepada Ibu Maria.


"Kedatangan saya kali ini, Ibu pasti sudah tahu apa maksud dan tujuannya. Dan saya akan menegaskan kembali supaya Ibu lebih mengerti lagi! Ucap Maya dengan sikapnya yang sombong.


Sedangkan Ibu Maria hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia membiarkan wanita itu untuk menyampaikan apa yang dikehendakinya.


"Saya sebagai ibu kandung dari Mateo, punya hak atas putra saya. Dan saya ingin menjemput anak saya kembali. Sekian lama saya mencari-cari keberadaan putra kesayanganku karena Ibuku yang telah memisahkan saya dengan putra saya. Dan saya yakin Tuhan yang telah memberi saya petunjuk sehingga saya bisa bertamu kembali dengan putra saya! Ucap Maya dengan penuh dramatis. Mimik wajahnya dibuat sesedih mungkin. Tapi tetap saja kelihatan sandiwaranya.


" Apa Anda yakin jika kedatangan Anda ketempat ini murni karena suara hati seorang ibu yang menyayangi dan merindukan putranya? Atau Anda punya maksud dan tujuan tertentu? Bu Maria bertanya dengan berterus terang. Karena Bu Maria ingin kejujuran dan keterbukaan dari wanita itu.

__ADS_1


" Tentu saja saya menyayangi putra saya. Ibu mana yang tidak sayang anak yang sudah dikandungnya selama 9 bulan dan harus mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkannya ke dunia ini? Ujarnya dengan meyakinkan.


Ternyata wanita itu dapat juga berpikir bijak.


"Iya, Anda benar. Tidak ada Ibu dimanapun didunia yang tega membuang anaknya sendiri. Kecuali ibu yang tidak punya hati dan lebih kejam dari hewan.!


Mendengar ucapan Ibu Maria, Maya hampir saja marah karena merasa tersinggung. Tentu saja dia tersinggung karena disamakan dengan hewan, meski Ibu Maria tidak menyebutkan namanya.


" Iya, ibu Maria benar sekali. Karena itu saya datang untuk menjemput putra saya.! Ucapnya pura-pura setuju dengan pendapat Ibu Maria.


" Tapi bagaimana jika kami tidak bisa menyerahkan Mateo kembali kepada anda? Ucap Bu Maria kemudian.


" Maksud ibu bagaimana? Tanya Angela dengan tidak senang.


" Mateo sudah diserahkan kepada kami oleh ibu anda sendiri dan untuk saat ini Mateo adalah tanggung jawab kami. Jadi Anda tidak bisa datang dengan tiba-tiba Dan meminta kami untuk menyerahkan Mateo begitu saja kepada Anda! Bu Maria mencoba menjelaskan kepada Maya.


" Tapi saya adalah ibu kandungnya. Dan saya tidak pernah mengijinkan ibu saya untuk menyerahkan putra saya ke Panti asuhan.! Maya bersikukuh dengan pendapatnya sendiri.


" Kami mempunyai surat perjanjian yang telah ditanda-tangani oleh ibu Anda sendiri. Dan dalam perjanjiannya ibu Anda dengan sadar dan bertanggung jawab menyerahkan sepenuhnya Mateo untuk diasuh dan dirawat oleh yayasan kami seumur hidupnya minimal sampai dia dewasa.! Bu Maria mengingatkan kembali isi perjanjian yang sudah disepakati oleh Maya Ibunya Mateom.


" Perjanjian tetap perjanjian dan telah ditanda-tangani diatas Meterai!


" Tapi saya bisa menuntut Anda dengan tuduhan perdagangan anak. Saya bisa melaporkan Anda kepada pihak yang berwajib akan hal itu! Ancam Angela.


"Itu adalah tuduhan palsu. Lagipula jika Anda melaporkan kami maka Ibu Anda sendiri juga yang akan dianggap sebagai pelakunya.!


" Kenapa tidak? Jika ibu saya tega menjual anak saya sendiri, maka saya juga akan tega menjebloskan ibu saya ke dalam penjara.! ujarnya dengan sangat meyakinkan.


Kata Mayaa kemudian


" Saya akan tetap memperjuangkan hak saya sebagai seorang ibu. Jika ibu tidak bersedia memenuhi keinginan seorang ibu seperti saya, maka saya akan menggunakan pengacara untuk membela hak saya. Saya tidak bermain-main dengan ucapan saya karena saya tahu ini adalah hak saya.!

__ADS_1


Bu Maria tidak berkata apa-apa lagi. Di satu sisi Bu Maria juga tidak ingin sama sekali memisahkan ibu dari anaknya. Tapi disisi lain Bu Maria tidak percaya dengan ucapan wanita yang ada dihadapannya ini.


Tapi jika perempuan itu bertindak seperti yang diucapkannya tentu itu akan sangat menyulitkan yayasan. Reputasi yayasan terlebih Panti Asuhan akan menjadi taruhannya.


Ibu Maria tidak ingin Panti asuhan mendapat stigma buruk dari masyarakat jika sampai perempuan itu menang.


Ibu Maria pun berkata demikian,


" Saya tidak bisa begitu saja menyerahkan Mateo kepada Anda. Kami sudah menjadi keluarga dan kami saling menyayangi.!


Maya terdiam sejenak. Tapi bukan karena hatinya tersentuh oleh perkataan Bu Maria, tetapi dia sedang memikirkan kata apa lagi yang harus diucapkannya untuk membuatmu wanita tua itu semakin tersudut.


" Saya bisa mengerti semua itu. Karena saya juga seorang ibu punya hati dan perasaan. Tapi saya juga ingin membahagiakan putra saya dengan merawatnya seumur hidup saya! Ucap Maya dengan wajah yang dibuat sesendu mungkin.


Bu Maria mendesah lembut. Wanita tua itu mencoba menata hatinya agar tetap tenang dan bisa berpikir dengan baik agar tidak menyakiti satu sama lain.


" Kalau begitu, Anda boleh tunggu sebentar. Saya akan membawa Mateo untuk bertemu dengan Anda. Tapi saya harap Anda bisa bersikap biasa saja, jangan sampai membuat Mateo shock dan takut.! ujar Bu Maria mengingatkan Maya.


Maya pun mengangguk pertanda setuju.


5 menit kemudian.


Mateo berjalan dibelakang Bu Maria dengan tangan kanannya menggenggam tangan kiri Bu Maria. Kaki mungilnya melangkah dengan langkah lemah. Maya menunggu dengan sedikit gugup. Entah bagaimana reaksi anak itu jika melihat wajahnya lagi? Apakah dia masih ingat wajah ibu yang telah melahirkannya dan merawatnya walau hanya selama 5 tahun saja?


Langkah anak itu semakin mendekat. Kepalanya yang tertunduk memandang lantai seakan sedang mencari sesuatu. Langkahnya baru berhenti setelah Bu Maria juga berhenti melangkah.


Mateo mengangkat wajahnya. Lalu pandangannya tertuju kepada Maya yang sedang duduk menunggu dengan wajah tegang.


Pandangan mereka saling beradu. Menatap begitu dalam dan tajam. Mateo seakan tak berkedip ketika memandang Maya. Ingatannya tertuju pada seseorang. Dia mencoba mengingatnya dengan jelas wajah wanita dihadapannya itu.


Meski baru berumur 5 tahun ingatannya cukup kuat untuk mengingat sesuatu. Selama kurang lebih 4 tahun bersama dengan Sang Ibu tentu saja meninggalkan sedikit ingatan dalam memorinya.

__ADS_1


Semakin dicobanya untuk mengingat dan bayangan itu akhirnya muncul dalam ingatannya.


" Mama! panggilnya. Pelan namun sangat jelas.


__ADS_2