
Sebenarnya Sophia terkadang merasa insecure ketika berhadapan dengan mantan-mantan suaminya itu. Wajah-wajah yang cantik, berpenampilan sangat menarik bahkan sangat menggoda di mata lelaki.
Bila dibandingkan dengan dirinya mungkin tidak sebanding. Penampilannya biasa-biasa saja. Meski wajahnya kata orang imut dan lucu tapi tetap saja mantan-mantan Stephen lebih cantik dan menggoda iman.
Sophia sedang merenung sendiri di kamar mereka. Stephen sedang tidak ada di rumah. Mateo masih di sekolah. Setelah selesai beberes rumah Sophia beristirahat sejenak. Lalu membayangkan hal-hal diluar nalarnya. Beginilah jadinya kalau ditinggal sendirian, sepi, dan hanya duduk termenung.
Tapi, sebenarnya Sophia harus bersyukur. Bukankah kini yang menjadi pendamping hidup Stephen adalah dirinya? Meski dulu Stephen dikelilingi oleh wanita-wanita cantik, sexy nan menggoda, tetapi suaminya itu telah menjatuhkan pilihan hatinya dengan memilih dirinya menjadi istrinya, menjadi ibu dari anak-anaknya, menjadi pasangan hidupnya.
Dalam mengarungi bahtera rumah tangga memanglah tak semudah atau semulus jalan tol tanpa hambatan. Selalu ada batu kerikil yang menghalangi jalan. Yang ketika terinjak akan terasa sakit dan perih.
Namun, disaat sakit dan perih itulah kita semakin dikuatkan, semakin tegar dan semakin berani untuk menghadapi tantangan yang lainnya.
Ketika badai melanda bahtera rumah tangga, suami sebagai kepala rumah tangga yang menjadi nahkoda dan istri sebagai penumpangnya, harus saling percaya satu sama lain.
Saling mendukung, saling mengingatkan dan saling menghormati. Dengan demikian suami istri akan saling memahami satu sama lain. Kelemahan dan kelebihan masing-masing harus menjadi kekuatan mereka dalam menyempurnakan kualitas hubungan mereka.
Saat Sophia dalam khayalannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Stephen muncul di layar ponselnya.
" Halo mas...! Sapa Sophia.
" Kamu lagi ngapain sayang!? Tanya Stephen dari seberang.
" Nggak ngapain Mas! Baru selesai beberes rumah aja! jawab Sophia begitu polosnya.
" Jangan terlalu sibuk dengan kerjaan kamu sayang.! Stephen mengingatkan Sophia.
" Nggak kok Mas!
"Hemmm... baiklah. Aku rindu kamu.!
" Hehhehe.... aku juga rindu Mas..!!
Sesekali memang perlu untuk bermanja. Mengungkapkan rasa cinta dan sayang kepada pasangan. Dengan demikian semakin menguatkan dan mempererat ikatan hubungan dengan pasangan.
Setelah saling melepas rindu lewat udara, Stephen pun kembali fokus dengan pekerjaannya. Dan Sophia masih dengan suasana hati yang
sama.
Kemudian notifikasi pesan masuk berdering. Pesan dari Stephen.
" Sayang, nanti setelah jemput Mateo dari sekolah langsung datang ke kantor ya. Kita makan siang bersama !
Sophia pun langsung membalasnya.
" Iya sayang!
Bukankah sebentar lagi Mateo pulang sekolah? Artinya sudah waktunya bersiap-siap. Sophia pun segera bersiap diri.
__ADS_1
Mateo sudah menunggu beberapa menit yang lalu, kemudian Sophia datang.
"Mama.....!! Panggil Mateo serakah melihat wajah sang mama dari kejauhan.
" Iya sayang....!!! Sophia menyambut Mateo dengan senyumannya yang paling manis.
" Mama hari ini cantik sekali! puji Mateo.
" Ouhh... mama jadi tersanjung. Terima kasih sayangnya mama! balas Sophia. Diraihnya pergelangan tangan kiri Mateo lalu mereka beranjak dari sana.
" Hari ini ke kantor ayah. Ayah ajak kita makan siang bersama! ucap Sophia.
" Horeee.. asyiiiikkkk... Ayah memang super hero.! puji Mateo.
Sophia senang mendengarnya. Mateo memang penuh dengan ekspresi ketika akan mengungkapkan sesuatu yang ada di hatinya.
Dan mereka pun menuju ke kantor Ayah Stephen.
Setibanya di kantor sang Ayah, Mateo berlari menuju ruangan sang ayah.
Stephen yang masih berada di ruang meeting tersenyum gembira ketika Mateo memasuki ruangannya.
" Baiklah meeting hari ini kita akhiri sampai disini. Saya harap performa kalian untuk pekerjaan apapun bisa lebih baik lagi. Tunjukkan jika kalian adalah orang-orang terbaik di perusahaan ini. Dan saya yakin kalian adalah yang terbaik! Stephen dengan penuh wibawa dan bijaksana memberi semangat kepada karyawannya itu. Sebagai seorang pimpinan dia harus mampu menjadi inspirator bagi anggotanya. Sehingga anak buahnya itu mampu menjadi pribadi-pribadi yang bertanggung jawab dalam setiap tugas yang telah diembankan kepada mereka.
Peserta meeting membubarkan diri setelah pimpinan rapat mempersilahkan mereka untuk meninggalkan ruang rapat.
Stephen pun segera menemui Mateo dan Sophia yang sudah menunggu di ruangannya.
Stephen menggendong Mateo dalam pelukannya.
" Ternyata anak ayah sudah besar sekarang ya. Sebentar lagi sama tingginya dengan ayah.! Diciumnya pipi tembem Mateo.
Sophia yang melihat kedekatan ayah dan anak itu, betapa bahagianya hatinya menyaksikannya. Semoga saja kebahagiaan ini bisa bertahan selama-lamanya.
" Eheemm....., mama dilupain nih. Kalau ayah dan anak sudah kompak begini mama tuh pasti nggk diingat lagi.! rengek Sophia pura-pura cemburu.
Stephen mendekat kepada Sophia sambil menggendong Mateo. Kemudian dipeluknya Sophia tanpa melepaskan pelukannya dari Mateo.
" Kalian berdua adalah kebahagiaan ayah yang paling berharga. Dan selamanya tidak akan pernah ayah lupakan.! Stephen mengecup kedua kesayangannya itu berganti-gantian.
Itulah kebahagiaan yang sempurna. Bukan banyaknya harta atau kekayaan tetapi cinta dan kasih sayang yang tulus dan suci. Itulah kebahagiaan yang sejati.
Sophia, Stephen dan Mateo, mereka bertiga sedang menikmati makan siang keluarga yang hangat dan penuh cinta. Lihatlah aura kebahagiaan terpancar dari wajah mereka. Membuat berpasang-pasang mata yang ada di restaurant itu menjadi iri akan kebahagiaan yang mereka sedang rasakan saat ini.
__ADS_1
Tawa dan canda terdengar gembira sekali disela-sela nikmatnya hidangan yang ada dihadapan mereka itu.
Stephen juga tanpa malu dan canggung menunjukkan sisi romantisnya kepada Sophia yang disambut dengan malu-malu oleh Sophia.
Mateo pun tak mau kalah dengan sang ayah. Dia juga mau menunjukkan rasa cintanya kepada sang mama. Sebagai ungkapan kasih sayang yang begitu besar dalam hatinya untuk sang mama yang sangat dikaguminya itu.
Kurang lebih 45 menit mereka menghabiskan waktu makan siang bersama. Quality time sederhana tapi sangat mengesankan.
Waktu makan siang telah usai. Stephen kembali ke kantornya. Sophia dan Mateo pulang ke rumah.
Ketika sudah berada di depan pintu ke kantornya, langkah Stephen dihadang oleh seorang wanita dengan pakaian yang sedikit sexy.
Angela tiba-tiba muncul dihadapan Stephen. Dengan wajah arogannya, tangan berkacak pinggang menghalangi langkah Stephen yang hendak masuk ke ruangannya.
" Kenapa kamu bisa masuk ke kantor saya? Tanya Stephen dengan berusaha tenang dan lembut.
" Aku mau bicara sama kamu?
" Urusan apa? Saya kira kita tidak ada hubungan apapun! Stephen masih mencoba untuk tetap bersikap tenang dan lembut.
" Urusan kita belum selesai. Aku keberatan dengan semua yang kau putuskan sendiri tanpa persetujuanku! Ucap Angela dengan nada marah.
" Aku tidak peduli sama sekali apapun tentang dirimu. Hubungan kita telah berakhir sejak kamu putuskan untuk pergi dari kehidupanku. Sejak kamu memilih kesenanganmu sendiri dari pada mempertahankan hubungan kita.! Ucap Stephen mengingatkan Angela atas apa yang telah dilakukannya dulu.
" Tapi aku kan sudah kembali dan bahkan sudah meminta maaf kepadamu! Angela berusaha membenarkan dirinya.
" So, kamu pikir dengan begitu semuanya akan kembali seperti dulu lagi sesuai dengan kehendak hatimu sendiri? Begitukah? Stephen mulai meninggikan nada bicaranya.
Angela terdiam dengan wajah cemberutnya.
" Kamu kira apapun yang kamu mau maka semua akan terpenuhi? Dan hanya kemauanmu yang harus dituruti?
Angela semakin terdiam.
" Camkan baik -baik perkataanku ini. Kita sudah tidak punya hubungan apapun. Tidak ada sama sekali. Jadi jangan sekali-sekali kamu mengaku-ngaku sebagai seorang yang punya hubungan dengan saya. Sekalipun hanya sebagai teman, kita tidak ada hubungan pertemanan. Saya tidak ingin punya hubungan dengan orang yang telah melukai orang-orang yang kusayangi.! Stephen dengan tegas mengingatkan Angela.
" Jangan sampai aku bertindak lebih kejam kepada kamu. Kali ini aku mengampuni kamu tapi untuk lain kali mungkin tidak.! Ingat itu baik-baik.! Ancam Stephen.
Nampak wajah Angela ketakutan mendengar ucapan Stephen. Lelaki itu memang tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Dan Angela sudah tidak punya ruang lagi disana. Maka jalan satu-satunya adalah segera menghilang dari sana. Dan jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi. Atau kamu akan menerima akibat yang buruk karena itu.
Dengan langkah gontai Angela meninggalkan tempat itu. Stephen langsung masuk ke dalam kantornya, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Angela. Dengan wajah kusut, Angela melangkahkan kakinya. Usahanya sia-sia sudah. Tak ada lagi harapan.
Lagi pula Angela benar-benar nekat. Sudah tahu jikalau Stephen sudah menikah dengan Sophia yang artinya dia sudah tidak punya harapan lagi.
Dan baru saja Stephen meletakkan bokongnya di atas kursi kerjaannya, tiba-tiba muncul masalah lain lagi.
Wanita yang bernama Tiara, tanpa basa, tanpa permisi langsung masuk ke dalam kantornya
" Hai Steph.. Apa kabarmu. Kita bertemu lagi!! Sapanya tanpa sopan santun sekalipun.
__ADS_1
Ketika netranya menatap wajah wanita dihadapannya itu, Stephen pun mendesah kesal.
" Masalah satu pergi, muncul masalah baru! resahnya dalam hati.