
Matahari pagi nampak mendung bersembunyi di balik awan gelap. Padahal tadi masih nampak cerah dan langit biru terlihat bersih tanpa jejak awan. Sophia dan Mateo sedang berbelanja di sebuah swalayan namun berkonsep pasar tradisional. Sophia yang selalu rajin berbelanja karena dia selalu berusaha untuk setia menyiapkan makanan yang diolahnya sendiri di dapurnya. Kali ini Sophia mengajak Mateo sekaligus agar mereka berdua lebih banyak menghabiskan waktu bersama.
Sophia begitu telaten memilih bahan -bahan makanan yang segar dan sehat yang akan di olahnya sendiri. Lebih bersih, lebih sehat dan tentunya lebih nikmat. Mateo juga setia mendampingi sang ibu dan memperhatikan dengan baik apa-apa saja yang sudah masuk ke dalam keranjang belanjaan mereka. Setelah merasa isi keranjang cukup dan bahan yang diperlukan sudah lengkap mereka menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Terlihat meja kasir antri oleh beberapa pelanggan yang juga sudah selesai berbelanja. Sophia dan Mateo ikut mengantri menunggu giliran.
Mata Mateo tanpa sengaja menangkap sosok seorang wanita yang cukup dikenalnya. Wanita itu ternyata adalah Maya, ibu kandungnya. Suatu kebetulan sekali, Maya juga berada di tempat itu. Mateo berusaha mengalihkan perhatiannya, jangan sampai wanita itu juga melihatnya. Namun ternyata, apa yang tidak diharapkannya malah terjadi. Maya melihat keberadaannya bersama dengan Sophia. Melihat Mateo ada ditempat itu, Maya tersenyum sumringah. Dia pun langsung datang menemui Sophia dan Mateo lalu menyapa mereka dengan kesopan santunan yang terdengar tidak tulus.
" Hey, anak mama yang ganteng. Kenapa kamu ada di sini? Apa ibu tirimu ini menjadikan kamu pembantunya?" Ucap Maya sembarangan sehingga menarik perhatian beberapa pelanggan yang ada di tempat itu.
Sophia yang tidak menyadari kehadiran Maya, membuatnya sedikit terkejut ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu.
"Mbak, tolong jangan bicara sembarangan.! balas Sophia dengan nada suara yang masih lembut dan tenang.
" Bicara sembarangan bagaimana? Benar kan kamu itu ibu tirinya anak saya Mateo! pancing Maya. Beberapa pasang mata mulai menajamkan telinga mereka mendengar pembicaraan keduanya. Sudah jadi hal lumrah bagi orang-orang di negara ini, sangat kepo dengan urusan orang lain. Sophia yang tidak mau terpancing amarah nya berusaha untuk tetap tenang dan sabar.
Mateo yang sudah mengerti peristiwa yang terjadi mencoba untuk melindungi sang ibu dari wanita jahat itu sekalipun wanita itu adalah ibu kandungnya.
" Tante, tolong pergi dari sini. Jangan ganggu Mama saya.! ucap Mateo dengan suaranya yang keras.
" Hey, tante? Siapa Tantemu. Aku ini mama kandung kamu! ucap Maya dengan nada mulai meninggi.
" Tolong Mbak. Saya tidak ingin mencari ribut di sini. Kasihan Mateo, dia masih kecil! Sophia masih berusaha tetap tenang dan lembut menghadapi wanita itu.
" Mama, Mateo bukan anak kecil lagi. Mateo sudah besar. Mateo akan melindungi Mama dari orang-orang jahat ini! ucap Mateo dengan bersikap dewasa. Anak itu memang bisa diandalkan. Meski usianya masih kecil tapi pemikirannya sudah cukup dewasa.
" Wahh, ternyata kamu hebat juga ya mencuci otak anak saya, sehingga anak saya nurut sama kamu.! tuduh Maya.
__ADS_1
Namun orang-orang ditempat itu mulai menyadari, siapa yang berkata benar dan siapa yang memfitnah. Melihat gelagat dan mendengar setiap perkataan Maya, mereka bisa mengetahui kebenaran dari setiap perkataannya. Mereka pun memandangi wajah Maya dengan tatapan tajam. Maya yang merasa risih di tatap seperti itu mulai tidak tenang.
" Apa kalian lihat-lihat? Belum puas ya melihat wajah cantik saya? ucap Maya dengan perasaan dongkol. Satu persatu mereka yang ada di tempat itu, mulai mencibirnya.
" Bagaimana seorang ibu kandung seperti itu? bisik seorang kepada teman disampingnya.
" Iya, pantas saja anaknya tidak menyukainya.! yang lain ikut menimpali.
" Iya, benar.! sambung yang lainnya.
Mendengar komentar pedas dari orang-orang yang ada di sana, Maya pun memilih untuk pergi meninggalkan Sophia dan Mateo.
" Mama! panggil Mateo. " Mama tidak perlu khawatir, Mateo janji akan selalu melindungi Mama sampai kapanpun.! Mateo berbicara seperti anak laki-laki dewasa yang perhatian dengan ibunya. Sophia terharu mendengar perkataan Mateo. Anak sekecil itu sudah punya pemikiran layaknya orang dewasa.
Dan tidak dapat dihindari lagi akhirnya kaki Sophia tergores oleh roda motor itu. Sedangkan sopir mereka yang baru saja masuk ke dalam mobil hendak menyalakan kendaraan tidak bisa berbuat apa-apa. Ingin bertindak juga sudah terlambat.
Sophia pun mencoba menahan rasa sakit jangan sampai Mateo melihatnya kesakitan. Karena anak itu pasti akan khawatir. Setelah melakukan aksinya motor itu melaju dengan sangat kencang sehingga dengan secepat kilat menghilang dari pandangan.
" Kamu tidak apa-apa kan sayang? tanya Sophia dengan rasa khawatir, takut jika Mateo kenapa-kenapa akibat ulah si pemotor tadi.
" Mateo baik-baik saja Ma.! jawab Mateo sehingga Sophia tidak merasa khawatir lagi. Hanya saja sakit di kakinya mulai terasa. Panas dan berdenyut. Lalu sang sopir pribadi mereka yang sedari tadi hanya bisa melihat peristiwa tersebut langsung menghubungi Stephen tanpa sepengetahuan Sophia.
Ketika Sophia mendengar si sopir berbicara dengan suaminya dalam televon, Sophia langsung menghentikannya.
" Pak, jangan beritahu suami saya. Jangan sampai dia tahu. Nanti dia bisa khawatir! ujar Sophia.
__ADS_1
Namun terlambat untuk menghentikannya. Stephen sudah mendengarkan pembicaraan mereka. Tak lama kemudian Sophia dan Mateo sudah tiba di rumah. Sopir mereka langsung membantu Sophia mengangkat kantong belanjaan dan membawanya ke dapur. Sophia dan Mateo berjalan beriringan menuju ruang tamu. Baru saja mereka duduk, Stephen muncul dengan tergesa-gesa. Napasnya terengah-engah sepertinya dia habis berlari tadi.
" Sayang, kalian tidak apa-apa? Apa yang terjadi! tanya Stephen dengan napas yang tidak teratur.
Sophia menenangkan suaminya itu terlebih dahulu.
" Mas, duduk dulu. Tarik napas biar tenang.!
" Bagaimana bisa Mas tenang kalau terjadi sesuatu pada kalian.! ujar nya masih dengan rasa cemas.
" Kami baik-baik saja kok. Mas lihat kan kami tidak terjadi apa-apa! Ucap Sophia terus menenangkan suaminya itu.
" Ayah, tadi ada orang yang mau menabrak Mama! ucap Mateo spontan dan Sophia tidak sempat lagi untuk melarang anaknya itu untuk berbicara.
" Apa, kalian mau ditabrak? Tapi kalian tidak apa-apa kan. Tidak ada yang luka atau lecet kan? ucapnya semakin khawatir setelah mendengar ucapan Mateo.
" Tidak apa-apa kok Mas. Kita baik-baik saja. Tidak terjadi apa-apa kok. Beneran deh. Mas lihat sendiri kan kami baik-baik saja.! ucap Sophia masih berusaha menutup-nutupinya.
Stephen langsung memeluk keduanya. Cukup senang melihat keduanya ternyata baik-baik saja.
" Saya janji tidak akan membiarkan siapapun untuk mencelakai kalian. Ayah janji akan selalu melindungi kalian! janji Stephen. Tentu saja hatinya sangat cemas dan khawatir jika terjadi hal buruk menimpa istri dan putranya itu. Karena mereka adalah cinta dan kehidupannya. Bagaimana mungkin dia bisa membiarkan orang-orang yang dikasihinya menderita karena orang lain.?
Sophia yang tersentuh dan terharu, semakin yakin akan cinta suaminya itu. Sekalipun kakinya sebenarnya masih merasa sakit dan perih, namun dia masih terlihat kuat dan bahkan tersenyum bahagia.
Tentu saja hatinya bahagia karena pria yang dicintainya itu begitu sayang dan perhatian kepadanya dan putranya itu. Baginya kebahagiaan itu sudah terasa cukup.
__ADS_1