Cinta Yang Takkan Berubah

Cinta Yang Takkan Berubah
Kenapa Aku Dilahirkan Ke Dunia Ini ?


__ADS_3

Sophia yang tidak tahu jikalau Stephen telah berhasil membawa Mateo pulang masih mengurung diri di dalam kamarnya. Menatap langit-langit kosong dengan tatapan hampa. Betapa merindu itu tak hanya berat tetapi menyakitkan. Seandainya kata rindu tidak diciptakan agar tidak merasakan sesak seperti saat ini.


Sophia yang larut dalam pikiran kosongnya tidak menyadarinya jika Stephen sudah berada dibelakangnya sejak dari tadi. Dan Stephen tidak sendirian. Mateo berdiri tepat disampingnya. Stephen mendekati Sophia lalu memegang bahunya. Sophia tersadar dari lamunannya karena sentuhan lembut Stephen.


Sophia menoleh ke arah Stephen, dan dia tidak menyadarkan kehadiran Mateo disana karena tubuh Stephen yang menutupi Mateo. Sophia mencoba tersenyum meski senyum itu terlihat perih.


Stephen membalas senyum itu dengan senyuman manis.


" Sayang, Aku ada kejutan untuk kamu ! ucap Stephen untuk menghibur wanitanya itu.


" Kejutan apa? Tanya Sophia berusaha untuk bersemangat.


Stephen menggeser tubuhnya kesamping sehingga Sophia bisa melihat ada orang lain bersama mereka di dalam kamar itu. Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah.


" Mateo sayang! Sophia dengan refleks beranjak dari tempatnya meriah tubuh Mateo dan merangkulnya dengan erat. Sangat-sangat erat seakan tidak mau melepasnya lagi. Mateo pun memeluk wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibunya itu.


Air mata menetes tak mengenal tempatnya lagi. Sophia menangis bahagia karena putranya sudah kembali. Putra tersayangnya sekarang ada di dalam pelukannya kembali.


Mateo pun tak luput dari uraian air mata. Dia tak menyangka akan bisa kembali lagi berkumpul dengan orang-orang yang disayanginya.


Stephen pun turut merayakan kebahagiaan ini. Dirangkulnya kedua orang kesayangannya itu. Ditumpahkannya semua kebahagiaan dan kasih sayangnya dalam pelukan hangat. Sungguh hatinya tak dapat berkata-kata untuk mengungkapkan suka cita yang ada dalam hatinya saat ini.


Setelah acara berpelukan ala teletubies itu berlangsung cukup lama, Stephen melonggarkan pelukannya, demikian juga Sophia. Direngkuhnya wajah Mateo dengan kedua tangannya, ditatapnya mata biru bening Mateo dengan lekat. Rasanya tak percaya, Mateo benar-benar ada dihadapannya sekarang.


" Sayang, maafkan mama. Mama tidak bisa menjagamu dengan baik. Mama membiarkan kamu di bawa oleh mereka dan memisahkan kita. Maafkan mama! Sophia menyesali kelalaiannya yang telah membiarkan Maya membawa Mateo pergi.


Sophia memeriksa tubuh Mateo dari ujung rambut sampai ujung kaki. Meski hanya baru beberapa hari saja tapi tubuh itu terlihat lebih kurusan. Wajah tirusnya semakin mengecil dan tulang pipinya seperti menonjol. Kulit putihnya juga terlihat pucat. Sophia meraba seluruh tubuh Mateo. Rasa bersalah menyeruak dalam hati dan pikirannya. Mateo pasti diperlakukan dengan buruk. Tidak dirawat dengan baik sehingga tubuhnya terlihat kurang sehat.


Mateo pasti menderita di tempat itu. Entah terbuat dari apa hati wanita itu yang telah melahirkannya ke dunia ini. Tidak ada rasa cinta sama sekali. Bahkan dengan darah dagingnya sendiri. Sungguh tak berperasaan sama sekali.


" Kamu pasti lapar kan sayang.? Mama masak yang istimewa untuk Mateo. Yuk ikut mama.! Sophia membawa Mateo turun ke dapur. Dengan semangat Sophia menyiapkan bahan makanan kesukaan Mateo. Hari ini dia akan menyiapkan makanan istimewa untuk Mateo, apapun permintaan anak itu akan dipenuhinya.


Setelah kedatangan Mateo, wajah Sophia kembali cerah, bersinar dengan terang. Mateo memang telah menjadi bagian dari hidupnya. Separuh dari hidupnya. Ketika separuh dari hidupnya pergi, maka jiwanya seperti setengah mati. Namun ketika separuh hidupnya telah kembali, maka jiwanya akan hidup kembali.


Stephen yang seolah terlupakan, tak melepaskan pandangannya sedetikpun dari kedua kekasih jiwanya itu. Bibirnya tidak lepas dari senyuman kebahagiaan. Hatinya merasa tenang saat ini. Kini mereka telah bersama kembali.

__ADS_1


Dan dalam hatinya Stephen berjanji, tidak akan membiarkan orang-orang yang disayanginya itu menderita lagi. Tidak akan dibiarkannya siapapun melukai atau menyakiti mereka.


Stephen berjanji akan selalu melindungi dan menjaga mereka dengan seluruh jiwa raganya.


Janji seorang pria sejati tidak akan pernah mengingkarinya.


Melihat kebahagiaan di wajah kesayangannya itu, Stephen pun ikut bergabung. Dia bertanya pada Sophia apa yang bisa dikerjakannya. Sophia lalu memberinya tugas membersihkan sayur-sayuran dan membersihkan peralatan dapur yang akan mereka gunakan.


Saat ini adalah saat yang istimewa bagi mereka. Tawa dan canda menghiasi kegiatan mereka bertiga. Tidak peduli dengan dapur yang mulai berantakan karena ulah mereka.


Stephen yang usil dengan menjahili Sophia yang serius memasak atau dengan tingkah Sophia yang menggoda Stephen saat membereskan pekerjaannya. Mateo pun bertindak sebagai wasit yang memisahkan kedua insan dewasa itu yang malah bertingkah seperti bocah berumur sembilan tahun.


Hari ini adalah hari mereka bertiga. Hari khusus keluarga cemara. Wajah yang belepotan dengan tepung putih sebagai pengganti bedak. Dunia seakan hanya milik mereka saja. Seandainya kali ini penderitaan mencoba untuk memasuki kehidupan mereka, Stephen yang akan pasang badan untuk melindungi mereka.


Karena Stephen tidak ingin kecolongan lagi. Sudah cukup derita yang mereka alami. Hanya beberapa hari saja tetapi dampaknya tidak bagus untuk mereka.


Hidangan telah tersedia di atas meja makan. Mateo sudah tidak sabar ingin segera menyantapnya. Sophia mengerti jika putranya itu tak sabar lagi menyantap hidangan yang menggugah selera itu.


Sophia langsung menghidangkan makanan di atas piring Mateo. Mateo yang rindu dengan masakan mama Sophia langsung menyantapnya dengan lahap. Sophia terharu tak dapatkan menahan air mata. Betapa malangnya Mateo mempunyai ibu kandung yang tidak mencintainya sama sekali.


Stephen yang melihat tetes air mata dari netra indah Sophia pun turut terharu. Juga merasa bersalah yang amat besar. Karena bagaimanapun juga dia turut andil membuat Mateo mengalami penderitaan. Dia pantas disebut sebagai pria yang tidak bertanggung jawab. Tidak layak di sebut sebagai seorang ayah.


Stephen bangkit dari tempat duduknya, diraihnya bahu Sophia dan dibelainya dengan lembut dan hangat. Dia ingin memberi penguatan kepada wanitanya itu bahwa dia tidak sendirian lagi. Ada dia yang akan selalu menemaninya untuk merawat, menjaga, melindungi dan menyayangi Mateo.


Sophia menggenggam tangan Stephen, lalu menatap wajah pria sambil tersenyum seakan berkata, " Terima kasih, selalu ada bersama kami!


Sekejap saja makanan yang ada di piring Mateo lenyap tak bersisa. Mateo seperti anak yang tidak makan berhari-hari.


" Sayang, mau nambah lagi makanannya? Sophia senang sekaligus haru melihat Mateo yang begitu lahapnya menyantap masakannya itu. Dihapusnya sisa air mata di pipinya, jangan sampai mateo melihat jika darinya sedang menangis.


Mateo menggeleng lalu memegang perutnya menandakan jika dia sudah merasa kenyang.


Sophia pun membereskan sisa makanan di atas meja.


Stephen dan Mateo duduk bersantai di ruang tamu sambil menonton televisi. Sophia menyelesaikan membersihkan peralatan dapur.

__ADS_1


Setelah selesai, Sophia ikut bergabung bersama mereka. Saat mereka sedang fokus melihat acara di televisi, tiba-tiba Mateo berdiri menghadap kedua orang yang disayanginya itu.


" Bolehkah Mateo bertanya? Mimik wajah Mateo terlihat sangat serius. Dipandanginya keduanya bergantian.


" Mau tanya apa sayang? Tanya Sophia.


Mateo *******-***** jemarinya. Terlihat jika dia merasa ragu. Tapi dia harus menanyakan hal itu.


"Mengapa Mateo harus dilahirkan ke dunia ini ? Jika memang Mateo tidak diharapkan. Mateo tahu jika Mateo dilahirkan bukan karena cinta. Mateo hadir di dunia ini karena sebuah kesalahan. Bukankah begitu?


Sophia terdiam terpaku. Hatinya seperti terhujam tombak. Sakit dan perih mendengar ucapan Mateo. Hati dan bathin anak itupun pastinya lebih terluka lagi. Apalagi setelah mengetahui kebenaran tentang keduanya orang tuanya itu.


Terlebih Stephen. Raganya bagaikan membeku. Hatinya lebih terluka bagai ditusuk-tusuk pedang yang tajam. Luka dan berdarah. Perkataan Mateo bagaikan pisau tajam yang menembus jantungnya.


Tak dapat menahan sakitnya karena rasa bersalah yang begitu menghujami hatinya, Stephen menumpahkan air matanya. Stephen menangisi terisak-isak. Dia tak lagi merasa malu, tak peduli dengan wibawanya sebagai seorang pria yang dikenal kuat dan tegas.


Air mata itu tertumpah tak terkendali. Bahkan raganya bergetar, berguncang karena isak tangisnya yang terdengar sangat memilukan. Sophia pun tak dapat menahan lagi sesak didadanya. Tangisnya tertumpah mengucur deras. Sungguh, tak terucap dengan kata-kata.


Stephen bangkit dari duduknya, diraihnya tubuh Mateo dan dirangkulnya erat. Dengan derai air mata Stephen sangat menyesali apa yang telah terjadi. Meski dia tidak pernah mengharapkan peristiwa pahit ini terjadi dalam kehidupannya.


Tapi semua ini terjadi karena kesalahannya juga.


Mateo bisa merasakan duka yang begitu memilukan dalam derai air mata itu. Dihapusnya air mata itu dengan jari-jari mungilnya. Dia bagaikan seorang ayah yang sedang menghapus air mata putranya.


" Ayah, jangan menangis. Maafkan Mateo membuat ayah bersedih! ucap Mateo menghibur ayahnya itu.


Mendengar kata-kata itu, Stephen semakin bersedih. Yang seharusnya meminta maaf adalah dirinya bukan Mateo.


" Ayah yang seharusnya meminta maaf. Ayah telah melakukan kesalahan. Ayah telah menyakiti kalian semua. Ayah sangat menyesal. Ayah mencintai Mateo. Bahkan sangat mencintai Mateo. Ayah tidak akan bisa hidup lagi jika kehilangan Mateo.! ungkap Stephen dari lubuk hatinya yang terdalam.


" Bagaimana dengan mama Sophia? Tanya Mateo lagi.


" Iya sayang. Ayah juga mencintai mama Sophia sama seperti ayah mencintai Mateo. Ayah sangat mencintai kalian berdua. Mama Sophia dan Mateo adalah hidup ayah. Tanpa kalian ayah tidak berarti apa-apa. Ayah bukan siapa-siapa. Kalian adalah jantung dan hati ayah yang akan selalu ada di dalam hidup ayah. Sampai selama-lamanya.!


Sophia pun turut bergabung. Mereka bertiga kembali berpelukan. Pelukan yang sangat erat. Penuh cinta dan kehangatan. Sungguh ketiga insan itu memang tercipta untuk saling melengkapi satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2