Cinta Yang Takkan Berubah

Cinta Yang Takkan Berubah
Setia


__ADS_3

Malam harinya, Sophia bersama dengan Stephen dan putra mereka Mateo menikmati makan malam yang spesial. Makanan yang mereka nikmati malam ini semuanya adalah hasil karya dari sang istri tercinta, Sophia. Mateo begitu bahagia karena bisa menikmati kebersamaan bersama kedua orang tuanya. Moment yang dulu hampir langka terjadi dalam keluarga mereka. Tapi sepertinya moment-moment seperti ini akan sering terjadi lagi. Apalagi ketika Papanya sudah berjanji akan selalu meluangkan waktu untuk mereka berdua.


Apapun yang terjadi Papanya akan menyediakan waktu untuknya kapanpun dia membutuhkan kehadiran papanya. Sophia tentu paling bahagia karena harapannya sepertinya akan terkabul. Peristiwa yang terjadi siang tadi tidak diceritakannya kepada Stephen. Cukup hanya dia saja yang mengenalnya. Sophia tahu jika suaminya itu memang hampir saja melakukan kekhilafan namun syukurlah dia segera menyadarinya dan segera menghentikannya.


Sophia hanya ingin memulai kembali dari awal dengan lebih baik lagi. Melupakan masa lalu yang cukup menyedihkan untuk dikenangkan. Dia juga bukan wanita yang sempurna. Mungkin ada kekurangan dalam dirinya yang tidak diketahuinya sehingga membuat suaminya itu hampir berpaling darinya. Itulah sebabnya dia tidak ingin hanya menyalahkan suaminya itu.


Yang terpenting saat ini adalah suaminya telah kembali menjadi suami yang dulu pertama kali mereka bersama. Suami yang mencintai dirinya dengan tulus dan suci. Suami yangel memberinya kebahagiaan bukan hanya kata-kata tapi juga lewat tindakan. Suami yang pernah berjanji kepadanya akan terus setia untuk selamanya.


Seperti janji yang mereka ucapkan di altar pernikahan. Setia dalam untung dan malang, sehat dan sakit, kaya dan miskin. Saling mencintai, menghormati dan mengasihi sampai maut memisahkan. Mengucapkan janji itu memang gampang, namun prakteknya tak semudah membalik telapak tangan. Tapi bagi Sophia sendiri, janji adalah sumpah. Sekali hidupnya telah mengikat diri dengan janji setia, maka tak ada jalan baginya untuk mengingkarinya.


Malam semakin larut. Langit nampak indah bertaburan kilau bintang dan benda ruang angkasa yang menghiasi galaksi bima sakti. Mateo telah terbenam dalam lautan mimpi-mimpinya. Sedangkan Sophia dan Stephen menghabiskan waktu berdua dibawah langit malam. Angin malam yang meniup, membelai gelapnya semesta. Menyentuh pori-pori, menusuk dan menggigil dingin. Malam ini memang terasa dingin.


Stephen memperhatikan Sophia yang sepertinya menggigil dingin oleh belaian sang angin. Dia pun mendekat lalu mendekap tubuh mungil nan indah itu.


" Kamu kedinginan sayang?" ujarnya dengan lembut dan terdengar mesra.

__ADS_1


Sophia tersenyum sembari mengangguk pelan.


" Sini peluk suamimu ini. Siap memberikan kehangatan!" ucap Stephen dengan hangatnya. Sophia bahkan merasa senang mendengarnya. Pelukan Stephen semakin erat dan Sophia mulai merasa lebih hangat dan nyaman. Sophia membalas pelukan suaminya itu dengan erat, hangat dan penuh cinta. Rasanya moment ini ingin berhenti disaat ini saja, tak ingin berakhir. Sophia ingin mendekap suaminya ini lebih lama lagi. Membenamkan dirinya dalam tubuh kekar sang suami yang memberinya sejuta rasa yang membahagiakan. Bila ditanya kepadanya," Apa yang kamu inginkan saat ini dalam hidupmu? Dengan lantang Sophia pasti menjawab, " Berada dipelukan suaminya seperti saat ini."


Di saat seperti ini Sophia merasa semakin lebih dekat dengan suaminya itu. Raga mereka yang menyatu seakan mengungkapkan perasaan cinta yang ada dalam hati mereka. Tak ingin terlepas. Dan sepertinya mereka memang sudah cukup lama tak berhubungan intim. Setelah sekian lama mereka menikah, hanya beberapa kali mereka melakukan hubungan suami istri.


Bukan karena Stephen yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, tapi juga Sophia yang selama ini lebih fokus dengan Mateo. Meski Mateo bukan anak dari rahimnya tapi Sophia melebihi seorang ibu kandung bagi Mateo.


Dalam kemesraan malam yang dingin ini, tiba-tiba Stephen membisikkan sesuatu di telinga Sophia.


" Sayang, sepertinya kita sudah lama tak bercinta. Dan sudah waktunya kita memberikan Mateo adik baru. Bagaimana menurutmu?" Bisikan itu terasa menggoda di telinga Sophia. Membuat hasratnya mendadak bangkit dari tidurnya. Sophia pun tersadar kan olehnya. Mungkin selama ini dia telah mengabaikan masalah ini, sehingga suaminya itu pasti merindukannya dan diluar kesadarannya mencoba mencari ditempat lain.


Sophia pun membalas kemesraan suaminya itu. Tubuhnya yang masih berada dalam pelukan sang suami turut bereaksi ketika menerima sentuhan demi sentuhan sayang, belaian demi belaian mesra dan kecupan-kecupan romantis. Malam ini sepertinya akan menjadi malam yang panas dan panjang. Ketika dua insan manusia sedang dimabuk asmara dan hasrat untuk bercinta sudah mulai membara, maka tak ada satu alasan pun untuk menghentikannya. Kecuali antara hidup dan mati.


Lihatlah langit malam pun seakan ikut merasakan gelora cinta yang sedang melanda kedua anak manusia itu. Alam semesta bahkan memberikan dukungannya dengan cuaca yang terasa dingin menggoda. Menusuk hingga pori-pori yang merindukan kehangatan. Maka malam ini penyatuan antara dua anak manusia mendapat restu dari semesta dan jagad raya.

__ADS_1


Matahari pagi bersinar dengan hangatnya. Bias-bias cahayanya menyusup lewat celah-celah jendela kamar. Sophia masih terlelap dalam pelukan hangat suaminya. Nampak guratan bahagia terpancar diwajah lelapnya. Demikian halnya dengan Stephen. Wajahnya tersenyum bahagia bahkan pada saat tidurnya. Penyatuan tadi malam sepertinya sangat memuaskan. Sehingga keduanya merasa puas sekalipun melelahkan. Keduanya seakan tak ingin melepaskan diri. Meski matahari pagi mulai meninggi, kicauan burungpun sahut menyahut bersiul merdu. Nikmat surgawi memang tidak akan pernah mengecewakan. Dan kini tinggal berharap menunggu hasil benih cinta mereka.


" Mama... Papa ....!" suara Mateo yang menggelegar akhirnya mengakhiri suasana romantis kedua orang tuanya itu. Mateo pun menaiki tempat tidur dan berbaring diantara mereka. Memisahkan keduanya dengan harapan mereka pun bangun dari mimpi indah mereka dan memperhatikan dirinya yang sudah kelaparan.


Apakah kedua orang tuanya itu sudah melupakan jika mereka punya seorang putra? Sudah siang begini mereka malah asyik tidur sambil berpelukan. Tidak ingat ada orang lain dirumah ini yang masih membutuhkan perhatian dari mereka.


" Sayang, selamat pagi!" sapa Sophia dengan suara yang masih berat. Stephen bergerak dengan masih mode malas. Muka bantalnya masih terlihat tampan.


" Pagi sayang papa!" sapa Stephen juga.


Sophia bangun dari peraduannya. Dibawanya Mateo kedalam pelukannya. Dikecupnya kening putranya itu dengan kasih sayang.


" Anak mama sudah bangun ya. Maaf ya sayang mama terlambat bangun. Kamu pasti sudah kelaparan sekarang. Mama masak sarapan dulu ya.!" Sophia turun dari pembaringannya. Lalu menuju dapur menjalankan tugasnya sebagai ibu dan istri yang bertanggung jawab.


Sedangkan Stephen malah asyik bermain dengan Mateo di tempat tidur. Tawa mereka membahana memecah kesunyian pagi ini. Hari baru memang harus diawali dengan hal-hal yang baik dan positif. Agar sepanjang hari juga menghadirkan hal-hal yang baik. Tawa bahagia adalah obat menghilangkan segala duka. Mendengar tawa bahagia dari orang yang disayanginya tentu saja menular dalam hati Sophia. Meskipun dia tidak tahu apa yang sedang ditertawakan oleh keduanya tapi dia pun merasa ingin ikut tertawa. Betapa baik dan indahnya hidup dalam cinta kasih.

__ADS_1


Sungguh kebahagiaan hari ini semoga tidak akan pernah berakhir. Seandainya waktu bisa dihentikan, Sophia meminta satu hal dalam hatinya agar moment saat ini bisa berhenti dalam waktu yang lama agar ia pun bisa merasakannya dengan lebih puas. Sophia bersyukur dalam hatinya karena harapan-harapannya satu persatu sepertinya dikabulkan oleh Tuhan. Doa-doanya tak luput dari berkat Tuhan.


Sophia memejamkan matanya, bersyukur pada yang Mahakuasa untuk segala pemberianNya yang telah diterimanya selama ini.


__ADS_2