
Beberapa kali assisten pribadinya itu memanggil nama Stephen namun pria yang sedang dimabuk kasmaran itu tidak mendengar sama sekali. Raganya mungkin ada ditempat ini tetapi hati dan pikirannya melayang entah kemana-mana. Dan akhirnya kesabarannya habis sudah. Sang asisten yang memang sudah sangat dekat dan akrab dengan Stephen meneriaki bossnya itu dengan suara keras. Dan mungkin suara itu yang paling keras.
Tentu saja Stephen sangat kaget mendengar suara teriakan asistennya itu. Dengan wajah kaget plus marah ditatapnya sang asisten. Nyalinya langsung ciut karena diancam dengan tatapan tajam seperti ingin membunuh saja. Kemudian dia tersenyum nyengir sebagai tanda merasa bersalah karena sudah meneriaki bossnya itu.
" Kamu itu kalau mau teriak kira-kira dong. Kaget kan bikin jantungan. Lagian aku tidak budeg, telingaku masih normal!" protesnya dengan kesal dan juga sedikit marah.
" Maaf boss, tapi dari tadi aku panggil boss nggk nyahut. Malah senyum-senyum sendiri. Aku kira boss lagi kesurupan makanya aku teriakin supaya rohnya kabur!" Ucapnya tanpa ada rasa takut dimarahi oleh bossnya itu.
" Dasar loe ya, kamu kira aku kesurupan. Sembarang saja kalau ngomong. Sepertinya kamu yang kesurupan makanya teriak-teriak begitu!" balas Stephen masih dengan kekesalannya. Asistennya itu malah hanya menjawab dengan tertawa saja. Dia pun segera memberikan laporan yang sedang dipegangnya dari tadi. Sebagai seorang pimpinan perusahaan, Stephen selalu melakukan pekerjaannya dengan profesional. Laporan tersebut segera diperiksanya dan diselesaikannya dengan cepat.
Tak perlu diragukan lagi jika Stephen adalah seorang CEO, direktur perusahaan, seorang pemimpin, dan juga rekan bisnis yang kompeten disegala bidang. Pekerjaan apapun akan diselesaikannya dengan tepat waktu dan hasilnya selalu membuat banyak pihak salut dan hormat kepadanya. Di tengah kesibukannya tanpa disadari waktu telah berlalu. Sophia ternyata sudah datang sejak tadi. Namun karena melihat suaminya itu fokus dengan pekerjaannya dia bermaksud untuk tidak mengganggunya.
Sophia duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Tanpa bicara sophia malah menonton suaminya itu bekerja. Sepertinya dia menikmati suasana santai seperti ini. Melihat sang suami sibuk dengan pekerjaannya memberinya sensasi tersendiri. Stephen yang sama sekali tidak menyadari kehadiran istrinya masih fokus dengan beberapa laporan yang butuh perbaikan.
Kemudian Stephen mengangkat kepalanya, menatap sejenak dihadapannya. Ketika dilihatnya wajah istrinya Stephen mengangguk sambil tersenyum. Lalu fokus kembali dengan pekerjaannya. Ternyata dia tidak sadar jika yang ada dihadapannya itu adalah istrinya sendiri. Sophia membalas senyuman Stephen dengan senyuman yang sama.
Setelah beberapa detik, Stephen baru tersadar. Perlahan diangkatnya wajahnya dan dipandanginya kembali wajah istrinya itu.
" Sayaaaang.....!" panggilnya dengan teriakan kecil. Stephen bangkit dari tempat duduknya.
" Sejak kapan kamu ada disini? Stephen heran sekaligus bingung karena istrinya itu tiba-tiba sudah duduk manis di dalam kantornya. Stephen langsung memeluk Sophia dengan mesra dan penuh kerinduan. Wajah Sophia tak luput dari serbuan ciuman manis Stephen. "Kamu sengaja diam-diam ya. Dari tadi kamu pasti sudah menonton suamimu ini sedang bekerja, iya kan!"
__ADS_1
Sophia tertawa bahagia melihat tingkah suaminya yang menggemaskan itu. Tak disangka-sangka suaminya itu bisa juga berekspresi semenggemaskan itu.
" Sayang serius sekali tadi bekerjanya, jadi aku tidak ingin mengganggu konsentrasi nya. Makanya aku diam aja tadi.!" Sophia membalas pelukan Stephen. Betapa bahagianya dirinya jika mereka selalu seperti ini.
" Kamu bawa makanan apa hari ini sayang?" Stephen sudah tidak sabar ingin menyantap masakan sang istri.
" Makanan kesukaan kamu dong.!" jawab Sophia dengan pancaran mata bahagia sambil membuka bekal makan siang sang suami. Nampak binar-binar cinta dalam sorot mata Sophia saat memandang suaminya itu. Tentu saja dia sangat mencintai suaminya itu tanpa perlu ditanya apa alasannya. Karena mencintai seorang tak butuh untuk mencari alasan. Sophia bahkan tidak peduli dengan gosip, omongan orang yang menjelekkan suaminya itu.
Stephen begitu bersemangat menikmati makan siang bersama istrinya yang manis. Bahkan makanannya habis tak tersisa. Tentu saja sophia sangat senang. Karena masakannya ternyata enak, sehingga membuat Sophia merasa bersyukur.
" Masakanmü semakin lama kok semakin enak sih sayang!" puji Stephen dengan jujur.
" Kamu semakin pintar memuji ya sayang!" ujar Sophia dengan wajah cerah dan sumringah.
" Jadi selama ini kurang cinta dan kasih sayang ya.?" sindir Sophia pada dirinya sendiri.
" Bukan gitu sayang. Malah cintanya semakin besar, semakin dalam, semakin segala-galanya.!" Stephen semakin pandai melancarkan gombalannya. Meski sebenarnya itu bukanlah suatu gombalan, melainkan ungkapan ketulusan hati.
" Terima kasih sayang, aku selalu berharap keluarga kita senantiasa saling mencintai dan semoga semakin diberkati oleh Yang Maha Kuasa.!" Doa dan harapan Sophia bagi keluarga kecilnya itu.
" Setelah makan siang ini, kita jemput Mateo pulang sekolah ya.!" ajak Stephen tiba-tiba.
__ADS_1
" Jemput sama-sama?" tanya Sophia memperjelas.
" Iya, kita jemputkah Mateo berdua!" Stephen meyakinkan.
" Tapi, mas kan masih ada pekerjaan?" Sophia mengingatkan suaminya itu.
" Kan masih ada asisten mas yang bisa menghandlenya.!"
" Trus, kita mau kemana?" Sophia mengerti jika suaminya itu sudah mengajaknya untuk menjemput Mateo maka pasti tujuannya adalah rekreasi.
" Kita pergi ke taman hiburan. Sudah lama kita tidak rekreasi bersama. Anggap saja membayar hutang-hutangku selama ini yang selalu sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan perusahaan.!" Stephen memperlihatkan wajah penyesalan yang amat dalam. Sekaligus sebagai bentuk permintaan maaf karena telah hampir saja mengkhianati istrinya itu. Sophia meraih jemari perkasa itu dan menggenggamnya dengan hangat dan penuh kelembutan. Dia tahu dan mengerti makna dari tatapan penyesalan suaminya itu.
Hati yang lemah lembut dan pintu maaf yang begitu luas, menjadikan sosok Sophia begitu cantik dan mempesona. Membuat rasa bersalah dalam hati suaminya begitu dalam. Sungguh sangat menyesal karena hampir saja dirinya menjadi pria brengsek yang tidak bisa menjaga kesetiaan cinta dan kasih sayang seorang wanita yang tulus dan penyayang.
" Sayang, aku mohon kepadamu jika suatu saat nanti aku khilaf dan melakukan kesalahan kecil ataupun kesalahan besar, aku hanya pinta satu hal, tolong sayang, kamu tetap bersabar dan tidak meninggalkanku. Apapun kesalahanku, aku berharap, kamu selalu memaafkan diriku dan tidak akan meninggalkanku. Bolehkan sayang?" pinta Stephen dengan penuh harapan dan kepercayaan.
Sebelum menjawab pertanyaan Stephen, Sophia malah tersenyum manis kepada suaminya itu. Bagi wanita biasa, permintaan Stephen memang cukup berat. Wanita mana yang mau hidup menderita bersama suami yang mengkhianatinya. Hati wanita itu pasti sangat hancur.
" Sayang, aku mungkin bukan wanita sempurna, kuat dan bisa diandalkan setiap saat. Aku juga wanita yang lemah dan bisa terluka. Tapi aku selalu berusaha untuk tetap setia dan kuat untuk menjaga cinta di dalam hatiku.!" Ucap Sophia dengan jujur dan tulus.
Stephen bisa merasakan kejujuran dari hati istrinya itu. Memang seperti malaikat. Stephen membalas tatapan Sophia dengan kelembutan dan kasih sayang. Dibalasnya genggaman tangan Sophia. Hatinya sudah berjanji tidak akan lagi menyakiti hati istrinya itu. Membuat janji itu memang mudah, tetapi disaat kita harus menepatinya tantangannya Begitulah berat dan sulit.
__ADS_1
Namun Stephen telah berjanji dan dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Dan dia siap untuk menerima konsekuensi atas perbuatannya itu.