Cinta Yang Takkan Berubah

Cinta Yang Takkan Berubah
Sejak Awal


__ADS_3

Sejak Awal bertemu dengan Sophia, Stephen memang sudah memperhatikan jika Sophia memiliki suatu aura yang cukup istimewa di dalam dirinya. Ada aura tertentu indah memancar dari dalam dirinya disaat dia sedang membicarakan sesuatu atau sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan disaat Sophia sedang terdiam pun kadang aura itu muncul sendirinya. Sophia seorang gadis yang lemah lembut, manis dan sopan, ceria dan gembira. Semua itu semakin melengkapi kecantikan alaminya. Hanya ada satu hal yang belum disadari oleh Stephen, jika gadis yang sering memperhatikannya di toko buku adalah orang yang sama. Meski pada awal bertemu dia sudah merasa jika wajah Sophia terlihat familiar.


Dengan penuh kasih sayang, Sophia menyuapi Mateo agar dia mau menghabiskan makanannya. Mateo sendiri juga merasa tidak betah berlama-lama terbaring di tempat tidur. Rasa bosan dan jenuh membuatnya ingin segera bermain-main bersama dengan teman-temannya di panti.


" Mama, Mateo ingin bermain dengan Reno, Juan, Bagas dan teman-teman yang lain.! rengeknya manja.


" Iya sayang, kamu bisa bermain lagi bersama dengan teman-temanmu, tapi kamu harus sehat dulu. Makanya banyak makan trus minum obatnya, supaya cepat sembuh, sehat dan bisa ketemu sama teman-teman." bujuk Sophia.


Mateo mengangguk senang. Dia memang anak yang baik dan penurut, mudah untuk dibujuk. Bocah yang pintar dan bijak ini memang tidak terlalu ribet untuk di urus. Tidak mau menyusahkan orang lain. Dia selalu mendengarkan apa yang dikatakan oleh ibunya ataupun Ibu Maria.


Terkadang muncul juga sikap dewasanya yang membuat Sophia dan Bu Maria senyum-senyum terkagum. Mereka juga merasa heran, entah darimana Mateo belajar bertingkah layaknya orang dewasa.


Mateo mulai mengantuk karena pengaruh obat yang baru saja diminumnya. Matanya nampak lelah. Dan dia mulai tertidur.


Lalu Sophie pun melakukan pekerjaannya yang lain. Membersihkan rumah, membereskan pakaian kotor, menyiram bunga di Taman.


Mumpung ada kesempatan hari ini jadi takkan disia-siakannya.


Mateo masih terlelap dalam tidurnya, sedangkan Sophia sudah selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangganya. Sophia merasa lelah dan ingin membaringkan tubuhnya sejenak di atas sofa. Melepaskan lelah dan penat sesudah pekerjaan hari ini.


Pekerjaan rumah tangga adalah tugas yang memang tidak ada akhirnya. Bukan pekerjaan berat memang tetapi tetap juga melelahkan. Jadi jangan pernah anggap remeh para perempuan yang bekerja sebagai ibu rumah tangga.


Saat tubuhnya baru saja akan dibaringkannya di atas sofa, tiba-tiba terdengar suara bel rumah berbunyi.

__ADS_1


" Ning..... nong.... ning.... nong.... "


Sophia tersentak dan segera duduk kembali. Siapa gerangan siang-siang begini datang bertamu ke rumahnya? Tidak mungkin Ibu Maria karena beliau pasti sedang sibuk di panti. Dan biasanya juga beliau datang ke rumah Sophia waktu sore atau menjelang malam. Suara bunyi bel terdengar lagi.


"Ning... nong.... ning... nong.... "


Sophie akhirnya bangkit dari sofa dan pergi untuk membukakan pintu melihat gerangan siapa yang datang. Ketika pintu terbuka, betapa terkejutnya Sophia melihat sosok yang berdiri dihadapannya sekarang.


" Pak Stephen? serunya setengah meragu. Ya tentu saja dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seorang CEO datang langsung ke rumahnya. Memangnya dia siapa? Hanya seorang karyawan biasa yang baru saja diangkat jadi asisten CEO. Bukan orang penting atau punya kedudukan tinggi. Sophia masih terdiam berdiri mematung memandang wajah bossnya itu. Tidak ada reaksi sama sekali. Hingga akhirnya Stephen buka suara.


" Apa kita hanya akan berdiri saja disini sepanjang hari ini? Sophia pun tersadar dari kebekuan dan kebisuannya. Dengan rasa gugup dan ragu Sophia mempersilahkan bossnya itulah untuk masuk.


" Maaf Pak, mari masuk!


Stephen pun melangkah masuk setelah dipersilahkan oleh tuan rumah. Diserahkannya parcel buah yang dibawanya dari tadi dan diterima Sophia dengan perasaan segan dan juga sedikit takut.


Memang baru pertama kali Stephen memasuki rumah ini tapi hati dan pikirannya begitu nyaman dan ingin berlama-lama disana.


Sophia hanya berdiri saja melihat kelakuan bossnya itu. Dia tidak tahu harus berkata apa dan berbuat apa. Kedatangan Stephen yang tiba-tiba ke rumahnya, membuatnya seperti orang bingung dan linglung. Dia tidak tahu ada tujuan apa bossnya itu datang ke rumahnya. Baru satu hari dia meminta ijin tidak masuk kantor, tidak mungkin gara-gara itu bossnya itu datang untuk memecatnya.


Ketika pikirannya masih diliputi berbagai pertanyaan Stephen kembali memecah keheningan diantara mereka.


" Bagaimana keadaan anak kamu? Apakah dia baik-baik saja? Tanya Stephen mencairkan suasana canggung diantara mereka.

__ADS_1


" Sudah mulai membaik pak.! jawabnya singkat dan jelas. Meski masih terlihat rasa tegang dalam dirinya.


" Oh...! Stephen mengangguk.


Suasana kembali hening. Mereka berdua bagai dua insan yang membisu yang tidak bisa berbicara. Tidak tahu harus mau mengatakan apa lagi Stephen pun berpura-pura meminta segelas air.


" Bolehkah saya meminta air minum? Saya merasa haus.! ucapnya. Mendengar itu Sophia menjadi semakin salah tingkah. Itu ibarat sindiran kepada Tuan rumah yang tidak memperhatikan tamunya. Sebagai Tuan rumah seharusnya lebih bersikap sopan dan ramah menawarkan tamunya minum, tapi dia malah diam mematung. Wajahnya terlihat memerah seperti kepiting rebus karena merasa malu.


" Sebentar ya Pak saya ambilkan minum dulu! ucapnya dengan tingkahnya yang malu-malu.


Stephen sendiri juga sebenarnya merasa bingung. Mengapa dia menjadi gugup begini. Kemana aura karismatiknya yang dingin, angkuh, dan cuek itu?


Sophia muncul dengan segelas air diatas nampan. Diletakkannya di atas meja persis dihadapan Stephen.


" Silahkan diminum pak! Sophia mempersilahkan bossnya itu untuk meminum air minum yang dibawanya itu.


Stephen pun langsung meminumnya sampai habis. Dia benar-benar seperti orang yang kehausan. Sophia kembali terdiam dan bingung. Entah apa lagi yang harus dikatakannya. Perbendaharaan kata-kata di dalam otaknya tiba-tiba saja lenyap. Kosong tak bersisa.


" Boleh aku melihat anakmu? pinta Stephen memecah keheningan diantara mereka berdua.


" Boleh Pak. Tapi Mateo sepertinya masih tidur? ucap Sophia.


" Ohh, tidak apa-apa, saya tidak akan mengganggu. Saya hanya ingin melihat wajahnya'! ucap Stephens

__ADS_1


Sophia pun mempersilahkan bossnya itu untuk ikut dengannya memutuskan ke kamar Mateo. Entah mengapa pula Stephen ingin melihat wajah Gio. Dia hanya mengikuti apa yang hatinya kehendaki.


Sophia membuka pintu kamar Mateo dan membawa Stephen masuk serta ke dalam. Mateo masih tertidur dengan lelapnya. Stephen semakin mendekat ingin melihat wajah Mateo dengan lebih jelas. Wajah lelap Mateo terlihat sangat jelas dan betapa terkejutnya Stephen ketika melihat wajah itu untuk pertama kalinya. Bagaimana tidak terkejut karena wajah Mateo sangat mirip sekali dengan wajahnya saat dia masih kecil. Bentuk garis wajah, hidung mancungnya dan bibirnya yang mungil sama persis dengan wajah kecilnya.


__ADS_2