Cinta Yang Takkan Berubah

Cinta Yang Takkan Berubah
Aku Ibu Kandungnya


__ADS_3

Sophia dan Mateo sedang asyik berjalan menuju ke Panti asuhan. Sedangkan seorang wanita dari tadi mengawasi mereka dari kejauhan. Matanya bagaikan mata elang yang sedang mengintai mangsanya dan menunggu waktu yang tepat untuk menerkamnya.


Mata wanita itu mengeja tulisan yang terlukis di papan plangkat yang tegak berseru di panti masuk Panti asuhan setelah Sophia dan Mateo memasuki halaman panti.


Panti Asuhan "Kasih". Wanita itu teringat kala itu, kira-kira satu atau dua tahun yang lalu ketika ibunya mengatakan kepadanya jika anaknya itu sudah diserahkan di Panti asuhan. Dan nama panti asuhan itu adalah Panti Asuhan "Kasih". Dan tidak salah lagi jika pria kecil yang berjalan dengan gadis itu adalah putranya. Meskipun wajahnya terlihat lebih bersinar dan segar tetap saja dia masih bisa mengenalinya dari kejauhan. Karena bagaimanapun dia pernah merawatnya meski hanya beberapa tahun. Hanya karena ingin menikah lagi dengan pria kaya raya dia rela menyerahkan putranya itu ke Panti asuhan.


Sungguh miris, seorang ibu yang sudah melahirkan dan merawat anaknya sejak lahir begitu teganya membuang anaknya demi harta. Tapi siapa sangka pernikahan yang diharapkan pun gagal. Sudah kehilangan anak dan juga kehilangan impiannya menjadi istri pria kaya raya. Karma berlaku dengan segera.


Diraihnya handphonenya dari dalam tasnya lalu dia menghubungi seseorang. Setelah terdengar bunyi panggilan masuk, terdengar suara dari seberang.


" Ya halo?


" Haloo Mah. Aku ada kabar baik untuk kita dan aku yakin ini adalah kabar yang paling baik saat ini! Mimik wajahnya memperlihatkan wajah serakah dan nangis.


" Kabar baik apa itu? Tanya dari senyuman dengan rasa penasaran.


" Mamah masih ingat kan dengan cucu mama?


" Yeaahhh..... Mamah masih ingatlah. Meski nggk penting banget.! Ada apa tiba-tiba kamu tanyakan tentang anakmu itu? jawab suara yang dipanggilnya dengan sebutan Mamah itu. Entah hatinya terbuat dari mana sehingga tidak ada sedikitpun rasa kasih dalam dirinya. Padahal yang sedang mereka bicarakan saat ini adalah darah dagingnya sendiri.


" Mah, aku punya rencana yang sangat besar. Dan rencana ini akan membawa kita menuju harta karun yang selama ini sudah ada didepan mata. Hanya saja kita tidak bisa meraihnya. Tapi kali ini aku yakin pasti akan berhasil.! ucapnya dengan senyum liciknya.


" Rencana apa sih yang membuat kamu bersemangat begitu? Mamah jadi penasaran nih!


" Mah, aku ada rencana ...bla.... bla... bla..! Wanita itu berbicara panjang lebar tentang sebuah rencana yang sedang berkeliaran dalam pikirannya saat ini.


Setelah pembicaraan mereka berakhir dia langsung menutup telvonnya dan segera turun dari dalam mobil. Dengan rasa percaya diri yang tinggi perempuan itu bermaksud menjumpai pemilik Panti asuhan tersebut. Diperhatikannya sejenak seluruh lokasi panti tersebut. Terlihat sederhana tapi dari kesederhanaan itu memancar aura positive. Lingkungannya begitu asri dan tenang. Meski berada di tengah-tengah perkotaan dan dikelilingi gedung-gedung yang mewah, ketika menginjakkan kaki di tempat ini jauh dari ramai riuhnya dunia disekitarnya. Beberapa batang pohon buah yang cukup besar dan subur membuat suasana di panti lebih sejuk dan segar. Halaman rumput yang tidak begitu luas memberi suguhan pemandangan yang lembut dan nyaman.


Tanaman-tanaman bunga juga nampak indah dan menarik hati. Pemilik Panti ini memang orang yang telaten dan rajin. Semua tertata dengan rapi dan indah. Meskipun penghuni panti sebagian besar adalah anak-anak kecil atau balita, mereka mampir merawatnya dengan baik.


" Eheemm...! perempuan itu mengatur napas sebelum menekan bel.

__ADS_1


" ning... nong.... ning.... nong...! dia merapikan pakaiannya agar terlihat necis.


Kurang lebih 5 menit, terdengar suara kaki dari balik pintu. Engsel pintu bergerak pelan dan pintu pun terbuka. Sophia muncul dari balik pintu.


" Selamat pagi, selamat datang di panti kami! sapa Sophia dengan ramah sebagai bentuk tata krama jika ada tamu yang datang berkunjung.


" Ya selamat pagi! balas perempuan itu dengan ekspresi yang tidak mengenakkan untuk didengar.


" Ada apa ya bu? Tanya Sophia menanyakan maksud dan tujuan kedatangan wanita itu.


Biasanya tamu atau donatur yang datang berkunjung terlebih dahulu memberitahukannya kepada pihak panti sehingga kedatangan mereka dapat disambut dengan baik oleh semua penghuni panti. Walaupun ada yang datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan mereka dengan mudahnya dapat dikenali dari aura positive mereka.


Tapi tamu pagi ini, perempuan muda dengan gaya yang cukup blink-blink, auranya nampak panas dan kelabu.


" Saya ingin bertemu pemilik Panti Asuhan ini! ucapnya dengan gaya angkuhnya.


" Oh, silahkan masuk dulu! Sophia menjawab masih dengan sikap ramahnya.


Tidak berapa lama Ibu Panti sudah datang, tapi dia sendiri. Sophia tinggal bersama dengan anak-anak yang lain dan menemani mereka sejenak sebelum dia berangkat kerja.


Sudah 45 menit berlalu, sepertinya belum ada tanda-tanda Ibu Panti keluar dari ruang tamu.


Sepertinya pembicaraan dengan tamu tersebut cukup serius. Sophia pun tidak mungkin menunggu lebih lama lagi. Sophia pun pamit kepada teman-temannya yang berjaga bersama dengan anak-anak Panti. Dipeluknya dan diciumnya Mateo, lalu dia pun segera berangkat.


Ketika sudah berada diluar halaman panti, betapa terkejutnya dia melihat Stephen sudah ada disana menunggunya.


"Kok kamu ada disini? Tanya dia sedikit terkejut tetapi senang.


" Jemput kamu. Tadi aku ke tempat kamu tapi sudah tidak ada jadi aku kesini deh! jawab Stephen dengan senyuman manisnya yang memabukkan itu.


" Untuk apa kamu jemput aku, kan aku biasa pergi sendiri lagian dekat juga kok! ujar Sophia dengan wajah sumringah.

__ADS_1


" Pengen aja jemput kamu. Kan nggk ada salahnya jemput pacar sendiri!


Sophia senyum-senyum sendiri mendengar Stephen mengucapkan kata pacar. Mendengar kata-kata romantis dari Stephen membuat Sophia jadi salah tingkah. Meski masih ada rasa malu dan canggung, Sophia tetap berusaha mencoba tenang dan bersikap santai.


Tapi pancaran kebahagiaan dari wajah Sophia tidak dapat disembunyikan. Stephen langsung membukakan pintu depan dan mempersilahkan Sophia untuk masuk ke dalam mobil.


"Terima kasih! ucap Sophia dengan suara hampir seperti berbisik.


Stephen segera masuk dan mobil pun melaju.


Sementara itu di ruangan tempat Ibu Panti dan tamu perempuan yang kelihatan sedang bersitegang karena sesuatu hal..


" Apa maksud dan tujuan anda datang kesini dan tiba-tiba mengakui sebagai ibu kandungnya Mateo. Sedangkan selama ini anda tidak pernah datang walau hanya untuk sekedar berkunjung. Anda tidak peduli sama sekali dengan keadaan Mateo di tempat ini. Apa itu yang anda maksud sebagian seorang ibu? ujar Ibu Panti dengan perasaan jengkel dan marah.


Bagaimana tidak. Perempuan itu tiba-tiba datang mengaku diri sebagai ibu kandung Mateo. Dengan topang wajah memelas mencoba menunjukkan ekspresi kesedihannya agar ibu Panti asuhan tergerak hatinya dan merasa berbelas kasih dengan perasaannya.


" Anda mengaku sebagai ibu kandung Mateo, apa yang anda harapkan dari saya jikalau anda memang ibu kandungnya Mateo.?? Tanya Ibu Panti dengan tegas dan terus terang


" Saya rindu dengan dia. Sejak ibu saya menyerahkan anak saya ke Panti ini hidup saya tidak bisa tenang. Saya selalu dihantui rasa bersalah.! Perempuan itu berkata dengan ekspresi memelas.


Namun meskipun dia menunjukkan ekspresi wajah sedih, sangat kelihatan dengan jelas jika ekspresi tersebut hanyalah sandiwara. Perempuan itu tidak cocok menjadi seorang aktris karena aktingnya begitu buruk.


Ibu Panti bisa melihat dan merasakan jika dalam diri perempuan itu tidak ada ketulusan sama sekali. Semua perkataannya hanyalah kepalsuan dan sandiwara belaka.


Kemudian Ibu Panti berkata kepada perempuan itu.


" Saya tidak tahu apa tujuan sebenarnya anda datang ke tempat ini. Dan Saya juga tidak akan mencari tahu. Tapi yang perlu anda ketahui, bahwa anak-anak di panti ini adalah anak-anak Saya sekarang. Jadi anda tidak punya hak lagi atas mereka. Disaat anda sudah membuangnya disaat itu juga anda bukan lagi keluarganya. Tapi jangan khawatir, Saya bukanlah orang yang tidak punya hati nurani. Saya tetap mengijinkan anda untuk menjenguk Mateo jika suatu saat anda rindu dan ingin bertemu dengannya.!


Mendengar kata-kata Ibu Panti, perempuan itu terlihat kesal. Dengan perasaan dongkol dia berdiri dan segera beranjak dari sana. Tidak mengurangi rasa sopan perempuan itu pergi sambil mengucapkan salam pamit.


" Permisi, aku masih ada urusan penting. Terima kasih! Perempuan itu pamit dengan wajah jutek dan kesal karena tujuannya tidak tercapai sesuai dengan harapan dan keinginannya.

__ADS_1


__ADS_2