
Virginia yang tidak terima diputuskan secara sepihak oleh Stephen tentu saja tidak akan tinggal diam. Harga dirinya seakan direndahkan oleh pria itu. Tidak salah jika hatinya memberontak dan mengundang dendam membara. Selama ini dia tidak pernah diperlakukan seburuk ini oleh pria manapun. Karena dalam kamusnya tak ada namanya Virginia dicampakkan oleh seorang pria. Yang benar adalah Virginia mencampakkan pria-pria yang tak sesuai dengan seleranya.
Menikmati kemewahan sejak dari lahir, segala kebutuhannya telah tersedia bahkan semua keinginannya selalu terpenuhi. Apapun yang dikehendakinya pasti akan dikabulkan. Tak Terkecuali. Dan ketika salah satu keinginannya tidak terpenuhi, maka dia akan menjadi sangat marah dan kecewa.
Karena perlakuan yang terlalu dimanjakan dan selalu menjadi pusat perhatian, membuat karakter Virginia menjadi pribadi yang angkuh, arogan dan egois. Dirinya harus menjadi yang pertama dan utama. Sekalipun orang lain sedang sekarat, Virginia tidak perduli sama sekali. Asalkan keinginannya harus terpenuhi terlebih dahulu.
Akhirnya Virginia keluar dari kantor Stephen, tetapi dengan membawa hati yang tersakiti dan segores dendam yang dikemudian hari akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Melihat wajah Virginia yang penuh amarah ketika meninggalkan kantor Stephen, para karyawan di kantor itu pun bertanya-tanya apa yang sedang terjadi? Apakah telah terjadi konflik diantara keduanya sehingga membuat wanita cantik itu sangat emosi. Bahkan kecantikan wajah itu tidak mampu untuk menutupi betapa mengerikannya wajah wanita itu dalam keadaan marah seperti itu.
Seketika itu penilaian mereka tentang wanita itu berubah dalam sekejap. Dan pada akhirnya mereka pun membanding-bandingkannya dengan istri bos mereka, Sophia, yang ternyata sangat jauh berbeda.
" Cantik-cantik tapi menyeramkan!" ujar karyawan yang satu. " Percuma wajah cantik tapi hati tidak cantik!" yang lain mengomentari. " Istri boss kita memang tidak ada duanya, cantik luar dalam!" puji yang lainnya. Begitulah ciri-ciri manusia, tak pernah merasa puas dengan suatu hal. Selalu menilai satu dengan yang lain, membanding-bandingkan, dan terkadang paling menyesakkan jika sudah menghakimi orang lain padahal tidak tahu kesulitan apa yang sedang dihadapi oleh mereka.
Virginia menyadari jika sekarang tatapan orang-orang yang ada di tempat itu terhadap dirinya sudah berubah. Di lihat dari cara mereka menatap Virginia. Sesaat lalu mereka masih menatap kagum pada dirinya dan sekarang tatapan mereka malah terlihat takut dan jijik. "Manusia-manusia munafik!" maki Virginia dalam hatinya.
Setelah Virginia pergi, Stephen mencoba menarik napas sejenak. Menenangkan hati dan pikirannya. Kejadian hari ini adalah pembelajaran penting baginya. Sekuat apapun godaan yang datang seharusnya dia bisa lebih kuat. Dia harus bisa menjaga kepercayaan dan kesetiaan istrinya yang selalu mempercayai dirinya dan menaruh harapan kepadanya dengan seluruh hidup mereka.
Stephen kemudian menghubungi Sophia lewat ponselnya. Baru dering pertama, terdengar suara merdu Sophia menjawab panggilan suaminya itu.
" Halo, iya mas ada apa?"
__ADS_1
Mendengar suara lembut sang istri, Stephen langsung tersenyum bahagia. Hanya dengan mendengar suara sang istri saja bisa membuatnya sebahagia itu. Jadi bagaimana mungkin dia bisa begitu tega akan mengkhianati wanita berhati malaikat itu?
" Sayang, kamu lagi ngapain?" Stephen bersikap romantis berbeda dari biasanya. Membuat Sophia yang mendengarnya sedikit penasaran.
" Hanya beres beres rumah saja mas. Tumben nih mas Stephen telvon truss nanya gituan?" tanya Sophia untuk menjawab rasa penasarannya.
" Aku rindu kamu sayang!" jawab Stephen dengan tulus dari dalam hatinya. Iya, tiba-tiba saja dia merindukan Sophia setelah mendengarkan suaranya yang lembut dan merdu itu.
Sophia tertawa lucu mendengarkan perkataan Stephen. Saat-saat begini suaminya itu malah menggombal.
" Mas, gombalannya nggk lucu tahu.!" jawab Sophia dari seberang.
" Kok gombal sih sayang. Mas serius loh.!" Stephen merasa lucu juga karena Sophia malah menuduhnya gombal.
Stephen pun tertawa. Istrinya itu memang sangat menggemaskan. Stephen semakin menyadari mengapa dirinya begitu mencintai istrinya itu. Setiap hal yang berkaitan dengan istrinya itu layak untuk dicintai.
" Sayang, siang ini aku pengen makan siang buatan kamu. Boleh ya?" Stephen berkata dan terdengar manja.
" Boleh dong mas. Biasanya kan aku juga masakin mas makan siang. Hanya saja beberapa hari belakangan ini mas meminta makan siangnya tidak perlu diantar karena sibuk di luar kantor.!" jawaban Sophia sedikit menohok dalam hati Stephen. Perasaan bersalah merasuki hatinya. Hampir saja dirinya menjadi pria brengsek hanya karena nikmat duniawi sesaat.
__ADS_1
" Cepat datang ya sayang. Jangan lama-lama. Mas tidak hanya rindu makan siang buatan kamu. Karena yang paling mas rindukan adalah wanita yang memasak makanan untuk mas dengan rasa penuh cinta dan kasih sayang!" Tiba-tiba saja Stephen sangat mahir menggombal. Meski sebenarnya itu adalah sebuah bentuk pujian.
Sophia malah tertawa terbahak-bahak mendengar pujian dari suaminya itu. Mungkin terdengar sedikit aneh karena Stephen jarang mengucapkan kata-kata romantis seperti itu.
Namun Stephen sudah berjanji pada dirinya mulai saat ini. Dalam sehari pun dia tidak akan melewatkan waktu tanpa mengucapkan kalimat -kalimat mesra dan romantis untuk istrinya itu. Dan tidak hanya lewat kata-kata semata.
Stephen akan berusaha bersikap dan bertindak untuk menunjukkan rasa sayangnya kepada istrinya dan putranya. Dia tidak akan melewatkan setiap moment kebersamaan mereka tanpa kata cinta dan perbuatan sayang. Belum ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik.
Setelah Sophia mengakhiri panggilan telvon dari suaminya itu, Stephen malah senyum-senyum sendiri. Dia merasa konyol dengan apa yang dilakukannya barusan. Tapi kekonyolannya tersebut malah membuatnya merasa bahagia. Dengan begini bukankah dia merasa lebih bebas dan nyaman. Tak perlu merasa bersalah, ataupun harus menanggung dosa karena mengkhianati pernikahannya.
Entah setan apa yang telah merasukinya sehingga untuk sesaat dia hampir jatuh ke dalam godaan yang menyesatkan. Selama ini dia mampu menahan diri dari godaan wanita-wanita cantik diluar sana yang berusaha merayunya dengan berbagai cara. Tak kalah cantik dan seksi dari Virginia. Namun semua itu bisa ditepisnya dan di tolaknya dengan tegas dan berani. Hanya satu kesalahannya dulu ketika dia jatuh kedalam jebakan ibu kandungnya Mateo. Sehingga Mateo lahir ke dunia ini. Setelah itu dia tak pernah sekalipun melirik atau memandang wanita cantik untuk dijadikan kekasih hatinya.
Hanya kehadiran seorang Sophia yang mampu meluluhkan hatinya dan membuatnya tak ragu-ragu untuk menikahinya. Hari-hari hidupnya terasa bahagia dan lebih bermakna dengan kehadiran gadis sederhana tapi memikat dan mempesona. Tak sedetikpun dia merasa kesepian, merasa hampa atau kecewa ketika bersama Sophia. Tapi entah mengapa hatinya sesaat tersesat. Kapal hatinya oleng oleh rayuan maut Virginia.
Dan kini, mendadak hatinya merindu. Sangat merindu kepada istrinya tercinta. Tak sabar rasanya menunggu Sophia agar segera muncul dihadapannya saat ini. Hasrat hatinya ingin memeluk sang istri, mendekapnya dengan penuh cinta. Ingin diutarakannya kalimat-kalimat romantis dan mesra di telinga sang istri, mengecup, membelai dan menyayanginya dengan segenap jiwa dan raganya.
Tiba-tiba saja dia seperti jatuh cinta kembali dengan Sophia. Jatuh cinta lebih dalam dan lebih dalam lagi. Ternyata jatuh cinta untuk yang kedua kalinya dengan orang yang sama, rasanya lebih menantang dan menggairahkan.
Sophia memang bukan wanita biasa. Dia wanita yang luar biasa. Dia bagaikan malaikat yang dikirimkan oleh Tuhan kepadanya. Dan suatu kesalahan besar jika sampai Stephen mengkhianati cinta Sophia hanya karena seorang wanita biasa yang hanya mengandalkan kecantikan fisik.
__ADS_1
Melihat Stephen tersenyum-senyum sendiri, membuat asisten pribadinya yang baru saja masuk dan ingin memberikan laporan kerja menatapnya dengan tatapan heran. Jangan sampai bossnya itu kerasukan roh atau jin sesat sehingga senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
" Permisi Pak!" panggilnya dengan suara lumayan keras berharap bossnya itu mendengar dan dia pun segera tersadar.