Cinta Yang Takkan Berubah

Cinta Yang Takkan Berubah
Anggota Baru


__ADS_3

Keluarga Wijaya terlihat sangat bahagia sekali menyambut kehadiran anggota baru dalam keluarga mereka. Sophia pun mendapat perhatian lebih khusus lagi terutama dari Stephen. Perhatian extra demi kesehatan dan keselamatan Sophia dan buah hati mereka berdua. Kedatangan Ibu Maria juga memberikan semangat dan kebahagiaan kepada Sophia. Apalagi bagi seorang ibu muda ada muncul keinginan yang sangat sulit untuk dimengerti oleh akal budi manusia. Ada saatnya muncul kerinduan akan belaian dan kasih sayang dari orang tua mereka terlebih dari seorang ibu. Mereka ingin di manja, selalu diperhatikan, dan disayangi.


Sophia pun merasakan hal yang sama. Ibu Maria yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri, Sophia pun ingin disayang dan dimanja layaknya kasih sayang dan perhatian dari ibu Maria. Kedatangan Ibu Maria memang sangat berarti baginya saat ini. Stephen turut bahagia melihat istrinya itu juga bahagia.


" Kamu harus hati-hati ya nak. Jaga kandungannya dengan baik. Apalagi ini adalah kehamilanmu yang pertama pasti kamu akan merasa was-was dan khawatir.! Nasehat Ibu Maria.


" Iya Bu, Sophia mengerti! Jawabnya lembut.


" Kamu harus fokus dengan kesehatan dirimu sendiri dan kandunganmu. Jangan terlalu memikirkan orang lain untuk sekarang ini ! nasehat Kevin yang tidak mau ketinggalan.


" Iya, mengerti! Jawab Sophia menuruti perkataan Kevin.


Stephen yang melihat kedekatan diantara mereka sebenarnya memercikkan sedikit api cemburu. Namun dia mencoba untuk tidak menunjukkannya. Karena tentu saja hal itu sangat tidak beralasan. Mengingat hubungan diantara Sophia dengan keluarga Ibu Maria sudah tidak bisa diragukan lagi kedekatan diantara mereka. Ibu Maria sendiri sudah menganggap Sophia seperti putri kandungnya dan tentu saja Sophia juga memperlakukan Kevin sebagai saudaranya sendiri. Meski dulu pernah Kevin mengakui perasaannya kepada Sophia. Namun takdir berkata lain. Sophia sudah dijodohkan dengan pria lain yang begitu tulus mencintainya.


" Kalau Ibu tidak keberatan, ibu bisa menginap di sini untuk sementara menemani Sophia." ucap Stephen dengan tulus dari hatinya karena dia bisa merasakan jika Sophia pasti merindukan sosok seorang ibu dalam diri ibu Maria untuk sekarang ini.


" Ibu juga sebenarnya ingin menemani putri ibu yang cantik ini. Tapi ibu juga tidak bisa meninggalkan anak-anak terlalu lama. Hanya, ibu akan berusaha untuk lebih sering mengunjungi kalian.! jawab Ibu Maria namun bukan bermaksud untuk menolak permintaan Stephen.


" Ya Bu, kami mengerti! balas Sophia.


" Aku juga berjanji, selama aku masih ada di sini, aku dan ibu akan sering mengunjungi kalian.! Sambung Kevin.


Mendengar perkataan Kevin sedikit terdengar tidak menyenangkan di telinga Stephen. Meski Kevin adalah putra kandung dari ibu Maria tetap saja ada rasa yang kurang disukai oleh Stephen. Naluri kelaki-lakiannya dan sebagai seorang suami tentu saja ada perasaan cemburu. Hal yang wajar dan normal jika suami cemburu ketika melihat istri yang dicintainya sangat dekat dengan pria lain. Apalagi jika pria lain itu pernah punya rasa kepada istrinya itu. Siapa tahu jika rasa itu masih ada tersimpan dalam hatinya hingga saat ini.

__ADS_1


Ibu Maria sebagai seorang tua yang sudah berpengalaman dengan hal seperti itu ketika melihat ekspresi wajah Stephen bisa menyadari dan mengerti apa yang ada dalam benaknya Stephen saat ini.


" Kalau begitu, Ibu dan Kevin pamit pulang dulu ya. Anak-anak pasti kecarian.! Bu Maria pamit kepada Stephen dan Sophia.


" Makasih ya Bu atas kunjungannya, kami sangat senang ibu luangkan waktu untuk mengunjungi kami! Ucap Stephen.


" Tidak perlu berterimakasih, seperti orang asing saja. Kita ini keluarga dan sudah jadi kewajiban seorang ibu untuk mengunjunginya putrinya! Balas Ibu Maria dengan bijak. Sophia dan Stephen tersenyum bahagia menanggapi ucapan Ibu Maria.


" Salam untuk Mateo. Besok ibu akan usahakan untuk berkunjung lagi.! Lanjut Ibu Maria.


" Baik Bu.! Jawab Stephen. Bu Maria dan Kevin beranjak dari tempat itu meninggalkan Sophia dan Stephen.


" Jaga kesehatan baik-baik ya. Ingat ada kehidupan lain dalam tubuh mu.! Ucap Kevin kepada Sophia dengan setengah berbisik. Sophia mengangguk mengiyakannya. Stephen yang sekilas pandang memperhatikannya sedikit terusik rasa cemburu. Namun dia tetap berusaha tenang dan tidak terpancing.


" Sayang, kamu harus ingat pesan Ibu Maria, kamu tidak boleh capek, kerja terlalu berat atau terlalu banyak kesibukan lainnya. Kamu harus fokus dengan janin dalam kandungan. Dan soal Mateo, kamu tidak perlu khawatir ada oma dan opanya yang akan membantu untuk merawatnya! Nasehat Stephen mengingatkan Sophia.


" Ya mas aku mengerti. Tapi aku bisa jaga diri dengan baik. Urusan Mateo aku juga masih bisa mengurusnya. Tidak perlu merepotkan Mama dan Papa atau anggota keluarga lainnya.! Ucap Sophia menenangkan suaminya itu.


" Mama dan Papa tidak akan merasa direpotkan. Mereka malah akan sangat senang untuk menjaga Mateo. Apalagi mereka akan mendapatkan anggota keluarga yang baru, mereka sangat bahagia sekali.! Bujuk Stephen tapi dengan tegas agar Sophia mau mendengarkan perkataannya.


" Tapi aku nggk bisa merasa nyaman dan tenang kalau tidak berbuat apa-apa sayang. Pasti akan sangat membosankan dan itu tidak menyenangkan.! Rengek manja Sophia.


" Kamu bisa melakukan hal-hal kecil lainnya sayang. Tapi bukan pekerjaan yang akan membuat kamu merasa lelah dan capek. Ingatkan kata dokter, kandungan kamu harus diperhatikan baik-baik.! Stephen tetap pada pendiriannya. Dia tidak ingin Sophia mengalami hal-hal yang tidak diinginkan yang bisa membahayakan kandungannya.

__ADS_1


" Tapi mengurus Mateo kan masih bisa sayang.! Rengeknya lagi.


" Dengar sayang, Mateo itu sudah besar, dia sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Mama dan Papa hanya akan menjaganya saja. Dan kamu tahu kan Mateo seperti apa. Yang ada dia akan menolak dirawat sama kamu karena Mateo pasti yang akan menjaga dan merawat kamu.! ucap Stephen.


" Hemmm! Sophia menunjukkan wajah sedihnya. Stephen lalu memeluk Sophia, membelainya dengan lembut dan hangat. Dikecupnya keningnya


" Apa kamu takut Mateo akan menjauh dari kamu karena merasa kekurangan kasih sayang dan perhatian? Ucap Stephen dengan wajah tersenyum.


Sophia menganggukkan kepalanya.


" Kamu harus yakin kalau Mateo tidak akan pernah membenci ibunya yang paling dicintainya. Mateo anak yang pintar dan sudah mengerti. Pikirannya sudah dewasa meski usianya masih kecil. Bukankah selama ini kamu yang merawat dan menjaganya dengan penuh kasih sayang. Dan kasih sayang yang kamu berikan kepadanya tidak akan hilang untuk semudah itu.! Ucap Stephen, memberikan pengertian dan penjelasan kepada Sophia.


" Aku tahu sayang, tapi tetap saja aku tidak tenang jika tidak bersama Mateo! Ucap Sophia masih dengan raut wajah yang sedih dan memelas.


Stephen bisa mengerti dan merasakan apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan oleh Sophia. Dengan kasih sayang didekapnya istri tercintanya itu. Memberinya kenyamanan dan ketenangan. Dan dalam dekapan suami tercinta, Sophia merasa nyaman dan bahagia. Dipejamkannya matanya untuk merasakan cinta dan perhatian dari sang suami. Dalam hati dan benaknya Sophia sangat bersyukur karena dikirimkan oleh Tuhan seorang suami yang begitu baik dan mencintainya dengan tulus dan sepenuh hati.


Seperti biasa di pagi hari yang sangat indah dan cerah, Sophia bangun seperti biasanya, menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Sinar matahari masuk melalui celah-celah tirai jendela membias menyapa wajah tampan Stephen yang masih nampak terlelap dalam mimpinya. Hangatnya sang surya menyentuh kulitnya yang bersih memaksanya untuk bangun. Mata besarnya yang tajam terbuka perlahan, tangan kekarnya tapi lembut meraba-raba tempat tidur mencari sosok isterinya. Tapi tempat tidur disebelahnya malah kosong. Dia tidak melihat sosok istrinya disaat matanya terbuka di pagi ini.


Stephen langsung bangun dari tempat tidurnya, mencari isterinya yang hilang dari sisinya. Ada sedikit rasa was-was ketika dia tidak menemukan belahan jiwanya berada disampingnya.


Dengan langkah tergesa Stephen keluar dari kamarnya, mencari sosok sang isteri di setiap sudut rumah itu. Sebelum melihat sosok Sophia, masih terlihat raut khawatir dan gelisah. Namun dia tidak mau memikirkan hal-hal buruk yang bisa saja menimpa istrinya itu. Setelah beberapa ruangan dilihatnya namun isterinya itu tak nampak juga, langkahnya semakin tergesa. Rasa khawatir mulai meningkat. Kemanakah isterinya itu pergi pagi-pagi seperti ini dengan dalam keadaan hamil seperti itu. Sebagai seorang suami dan ayah tentulah kekhawatiran dalam dirinya tak dapat diabaikannya.


" Sayang...sayang...! Teriaknya memanggil istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2