
Virginia terlihat frustasi dan tidak karuan. Biasanya dia tampil glamour, tapi kali ini penampilannya acak-acakan. Bagaimana tidak frustasi, keinginannya untuk memiliki pria idamannya sepertinya telah gagal total. Stephen benar-benar telah menolaknya. Padahal dia telah berusaha semaksimal mungkin. Tampil dengan sempurna demi menarik hati Stephen. Namun segala usaha dan perjuangannya hanyalah sia-sia. Stephen tak mampu ditaklukkan olehnya.
Lalu apakah dia harus menyerah? Seorang wanita sempurna seperti Virginia tidak mengenal kata menyerah. Seorang Virginia tidak boleh pernah kalah, apalagi dalam urusan percintaan. Itu sangat merendahkan harga dirinya sebagai perfect woman dan menurunkan standard kesempurnaan yang sejak dulu melekat pada dirinya.
Rasa sakit dan malu yang dirasakannya saat ini harus mendapat pembalasannya. Pria yang telah berani memperlakukannya dengan buruk harus menanggung akibatnya. Dengan senyum liciknya, pasti Virginia telah memikirkan sesuatu yang brilliant dalam otak kecilnya itu. Virginia segera bangkit dari kursi malasnya dengan semangat yang telah bangkit kembali dia menuju ke kamar mandi membersihkan diri, berdandan secantik mungkin dan segera melaksanakan aksinya.
Hari ini Sophia berencana memasak makanan spesial untuk suami dan putranya Mateo. Pagi-pagi setelah Stephen dan Mateo berangkat kerja dan sekolah, Sophia berencana belanja di traditional market. Belanja beberapa keperluan dapurnya yang tidak ada di supermarket. Sophia memesan taksi online, kebetulan supir pribadi yang sebelumnya dipekerjakan oleh suaminya untuk membantu Sophia jika ada keperluan di luar rumah sedang ijin ada urusan keluarga.
Sophia yang sudah terbiasa mandiri tidak terlalu pusing akan hal-hal sepele seperti ini. Apalagi jaman sekarang taksi online berseliweran dimana-mana. Dijamin aman dan terpercaya. Tidak butuh waktu lama, hanya 5 menit setelah pemesanan, taksi online sudah tiba di depan rumah. Sophia yang sebelumnya sudah menunggu di depan agar si sopir tidak menunggunya terlalu lama langsung masuk ke dalam mobil.
Pasar tradisional tidak begitu jauh hanya butuh waktu 15-20 menit kecuali macet. 20 menit kemudian, Sophia sudah sibuk memilih belanjaan yang diperlukannya untuk memasak hari ini. Tak lupa beberapa persediaan untuk beberapa hari kedepan yang bisa disimpan di freezer. Karena tidak mungkin dia harus ke pasar setiap hari. Sophia harus berkeliling dari pedagang yang satu ke pedagang yang lain. Dengan senyum ramah Sophia menyapa, menawar dan membeli, membuat para pedagang terlihat senang dan suka ketika Sophia berbelanja.
Keranjang belanjaannya sudah terisi penuh. Dirasa sudah cukup, Sophia kembali memesan taksi online. Waktunya untuk pulang dan menyiapkan makanan untuk kedua orang terkasihnya itu. Ketika taksi online pesanannya tiba, Sophia memasukkan belanjaannya ke dalam bagasi belakang. Kemudian Sophia masuk ke dalam taksi dan mobil pun melaju meninggalkan lokasi pasar yang masih begitu ramai dengan pembeli dan tentu para pedagangnya.
Setelah tiba di depan rumahnya, Sophia segera turun dan segera menurunkan belanjaan dari bagasi. Baru saja Sophia menutup pintu taksi dan mengucapkan terima kasih kepada si sopir dan taksi itu segera pergi, sebuah mobil mewah berhenti tepat disamping Sophia. Sophia yang penasaran berhenti sejenak menyaksikan siapa gerangan pemilik mobil itu. Pintu mobil depan terbuka. Sebuah kaki mulus dan putih dengan high heels merah keluar terlebih dahulu diikuti kaki yang satunya. Lalu kemudian kepala yang ditutupi dengan topi ala-ala putri kerajaan. Sophia tidak bisa menebak wajah dibalik topi besar tersebut.
Setelah pemilik tubuh itu berdiri tepat dihadapannya, melepaskan kaca mata hitam dari wajahnya, Sophia baru bisa mengenalinya. Sedikit kaget karena wanita itu tiba-tiba muncul di rumahnya disaat suaminya sedang di kantor. Karena sepengetahuannya, wanita itu hanya punya urusan dengan suaminya. Lalu kenapa dia datang ke rumah Sophia? Mereka berdua tak punya urusan apapun.
Sophia hanya diam saja, tidak menyapa ataupun bertanya. Melihat Sophia yang sepertinya tidak menunjukkan reaksi apapun memutuskan untuk memulai percakapan.
__ADS_1
" Kamu pasti tahu siapa saya kan?" tanya Virginia dengan percaya dirinya. Terkesan sombong dan angkuh. Bukannya menyapa dengan baik atau say hello dan memperkenalkan diri terlebih dulu karena datang ke rumah orang, dia malah bersikap seperti arogan dan mengancam.
" Maaf, saya tidak mengenal anda!" jawaban Sophia menohok membuatnya jadi ciut tapi masih merasa angkuh.
" Sepertinya saya harus memperkenalkan diri. Sayang sekali kamu tidak mengenal wanita cantik seperti saya!" Dengan sombongnya dia malah memuji dirinya sendiri. Sophia yang mendengarnya merasa sedikit agak geli. Memang sih dia cantik, tapi terasa aneh kedengarannya.
Sophia hanya menanggapinya dengan santai. Bersikap seperti biasa saja. Menghadapi hal-hal seperti ini bukan sesuatu hal berat baginya.
" Nama saya Virginia, wanita tercantik dikota ini. Dan saya adalah calon istri dari Tuan Stephen Wijaya.!" Virginia menekan kata ketika menyebut nama Stephen. Dengan harapan Sophia terkejut dan frustasi.
Namun Sophia bukan wanita lemah yang gampang dipropokasi oleh mereka-mereka yang menganggap dirinya wanita hebat dan berkuasa.
Bahkan Virginia yang mencoba mengintimidasi Sophia malah berbalik merasa diintimidasi.
Wajahnya terlihat merah padam karena mulai merasa emosi. Namun Virginia tidak kehabisan akal.
" Kamu jangan bangga dengan statusmu sebagai istrinya Stephen. Asal kamu tahu, suamimu itu bukan pria yang mencintaimu dengan tulus. Buktinya dia malah berselingkuh.!" Virginia kembali melancarkan aksinya.
" Dari mana anda tahu suami saya berselingkuh?" Sophia juga mulai memancing emosi Virginia.
__ADS_1
" Karena saya adalah selingkuhan suami anda.! Dengan bangganya Virginia memperkenalkan dirinya sebagai selingkuhan Stephen.
Bukannya marah atau merasa sedih dan kecewa karena mengetahui suaminya berselingkuh, Sophia malah tertawa. Menertawakan kebodohan wanita yang mengaku sebagai selingkuhan suaminya itu.
" Kamu malah tertawa mengetahui suamimu berselingkuh? Kamu pikir saya sedang bercanda!" ucap Virginia mulai emosi meninggi. Karena apa yang diharapkannya tidak sesuai dengan kenyataannya. Reaksi Sophia malah diluar dugaannya.
" Lalu kenapa kalau suami saya berselingkuh? Apa saya harus menangis, menjerit atau marah-marah nggk karuan? Kalau suami saya berselingkuh berarti saya juga harus intropeksi diri. Berarti ada yang kurang dalam diri saya. Bukan malah menyalahkan suami saya.!" Dengan bijak Sophia membalas semua perkataan-perkataan Virginia.
Virginia pun terkaget-kaget. Dia tidak habis pikir, Sophia akan memberikan jawaban yang begitu menohok dirinya. Terbuat dari apakah hati wanita itu sehingga mampu berbicara seperti itu.? Jika itu adalah wanita lain dihadapkan dengan persoalan seperti ini pasti akan merasa sakit hati dan sangat terpukul.
" Saya mengatakan yang sebenarnya. Kalau suami mu tercinta itu bukanlah pria yang setia. Dia sama dengan pria brengsek di luar sana yang suka bermain cinta dengan perempuan lain. Jadi sebaiknya kamu jaga dan awasi suamimu itu dengan benar. Atau kamu akan menyesal setelah ditinggalkan olehnya.!" Virginia berkata seolah-olah sedang menasehati namun sekaligus seperti mengancam.
" Terima kasih atas nasehat dan juga peringatan yang anda sampaikan kepada saya. Saya akan mendengarkannya.!" jawab Sophia masih dengan sikapnya yang tenang dan santai.
Karena merasa tak ada lagi yang perlu dikatakannya kepada Sophia, Virginia pun langsung masuk ke dalam mobilnya. Tanpa ucapan permisi atau salam perpisahan, dia masuk begitu saja ke dalam mobilnya dengan wajahnya yang kesal dan jutek. Sepertinya usahanya kali ini pun sia-sia juga. Wajahnya kelihatan marah dan jengkel. Kekesalannya dilampiaskannya kepada sopirnya yang tidak tahu apa-apa.
" AYOO JALAN... NUNGGU APA LAGI?" bentaknya membuat si sopir terkejut dan kaget. Dan si sopir hanya bisa mengelus dada dan berbicara dalam bathinnya. " Nasib, nasib jadi orang bawahan selalu jadi tempat pelampiasan amarah orang lain."
Sophia masih berdiri menyaksikan mobil itu pergi dan menghilang dari pandangannya. Setelah itu dia baru masuk ke dalam rumah. Hampir saja ia lupa dengan barang belanjaannya, dan meninggalkannya disana. Syukur dia segera sadar lalu masuk ke dalam rumah tidak lupa belanjaan yang dibelinya tadi.
__ADS_1