Cinta Yang Takkan Berubah

Cinta Yang Takkan Berubah
Berdua Dengan Seseorang


__ADS_3

Setelah meninggalkan Harvey seorang diri di restaurant, Stephen berjalan seorang diri menyusuri sepanjang jalan kota yang gemerlap dengan hiasan lampu-lampu berwarna-warni. Menambah semarak kota itu di malam hari. Meski tanpa arah dan tujuan yang pasti, dia melangkahkan kakinya, menikmati kerlap-kerlip lampu jalanan ibu kota. Dia menyadari jika sikapnya tadi memang tidak baik. Meski wanita itu pernah menyakiti hatinya, bukan berarti dia harus membalas menyakitinya. Tapi yang terjadi sudah terjadi. Jika nanti mereka bertemu kembali mungkin dia mencoba untuk meminta maaf. Tapi bukan untuk memberinya kesempatan.


Stephen berjalan santai, dia berencana akan menghabiskan malam ini dengan menikmati udara malam, menenangkan pikiran, mencari hiburan yang mungkin bisa mengalihkan pikirannya sejenak dari rutinitasnya selama ini. Sekali-kali ikut menyaksikan suasana di malam hari yang ternyata menghadirkan banyak hal yang tidak pernah ia lihat atau alami sebelumnya. Orang ramai berlalu lalang, berpasang-pasangan dengan teman, pacar atau bahkan dengan suami atau istri.


Saat pandangannya asyik melihat keramaian orang-orang dan objek-objek lainnya, matanya tertuju pada seseorang. Sepertinya dia mengenal sosok itu. Sosoknya terlihat seperti Sophia. Stephen semakin mendekat untuk memastikan penglihatannya apakah sosok itu benar-benar Sophia atau bukan.

__ADS_1


Dan setelah semakin dekat dan semakin jelas, sosok itu adalah memang Sophia. Tapi dia tidak sendiri, seorang pria berjalan bersamanya. Merekapun berdua berjalan begitu dekat dan rapat. Mereka juga terlihat begitu akrab nampak dari gerak-gerik mereka dan mimik wajah mereka yang terlihat senang saat sedang berbicara.


Stephen pun diam-diam mengikuti mereka dari belakang. Seperti seorang mata-mata yang sedang mengintai buruannya. Keduanya lalu masuk ke dalam sebuah toko kue dan roti. Stephen duduk di bangku yang ada didepan toko itu menunggu mereka keluar dari sana. Tidak berapa lama mereka berdua keluar dari toko tersebut menenteng beberapa bungkusan makanan. Dan kembali melanjutkan langkah mereka berjalan disepanjang trotoar. Stephen berusaha menyembunyikan wajahnya agar tidak terlihat oleh Sophia. Hatinya semakin penasaran dengan sosok pria yang bersama-sama dengan Sophia saat ini.


Seperti ada yang menggerakkan dirinya untuk tetap mengikuti kedua mahluk Tuhan itu. Mengawasi setiap gerak-gerik mereka. Jangan sampai ada yang terlewatkan. Setelah beberapa lama kemudian, Sophia dan pria itu memasuki suatu jalan kecil sebuah perumahan sederhana. Melewati dua pintu rumah, lalu mereka memasuki sebuah halaman rumah berpagar yang cukup luas. Di depan pintu pagar halaman rumah itu terpancang tiang dengan tulisan diatasnya, " Rumah Sanggar dan Panti Asuhan KASIH, ".

__ADS_1


Dalam pikirannya muncul suatu pertanyaan, siapa gerangan pria yang berjalan dengan Sophia itu. Tak ada rasa canggung atau jaga jarak diantara mereka berdua. Mungkinkah pria itu adalah kekasihya.?


Seandainya pun pria itu adalah kekasihya, tentunya tidak jadi masalah. Tapi mengapa Stephen sepertinya merasa tidak nyaman dan tidak senang ketika melihat pemandangan seperti ini.


Meski rasa penasaran dalam hatinya belum terjawab, Stephen pun akhirnya memilih untuk meninggalkan tempat itu. Pertanyaan demi pertanyaan yang bertengger di kepalanya dibiarkannya merasuki relung pikirannya. Sebagai seorang pria dewasa yang normal dan masih berstatus jomblo ada sebersit perasaan cemburu menilisik dihatinya. Cemburu karena dirinya hanya mampu melihat bawahannya bermesraan dengan pasangannya.

__ADS_1


Seandainya Sophia dan pria itu adalah sepasang kekasih, maka dia harus bisa menjaga jarak agar tidak terjadi suatu kesalahpahaman. Jangan sampai pria itu cemburu melihat Sophia bersama dengan pria tampan sepertinya. Entahlah pikiran seperti apa yang merasukinya saat ini.


Siapa mengira bahwa malam ini ada kisah baru yang akan dimulai. Kisah hati yang telah dirancang oleh Sang Cinta. Dua hati yang saling melengkapi.


__ADS_2