Cinta Yang Takkan Berubah

Cinta Yang Takkan Berubah
Gelisah dan Khawatir


__ADS_3

Sophia kini merasakan kegelisahan dan kekhawatiran yang amat besar didalam hatinya. Bahkan mungkin melebihi kegelisahan dari seorang ibu kandung terhadap anaknya. Rasa sayang dan cintanya kepada Mateo tak perlu diragukan lagi. Bentuk perhatian dan kepeduliannya kepada Mateo adalah cermin hati seorang ibu kepada anaknya. Bukan hanya kepada Mateo tetapi juga kepada anak-anak Panti lainnya, kasihnya tak pernah berkesudahan. Sepanjang perjalanan hatinya tidak tenang. Untungnya tadi bossnya tidak menghalanginya untuk pulang lebih awal.


Stephen yang kini tinggal sendiri di kantornya nampak sedang memikirkan sesuatu. Ya dia sedang memikirkan tentang Sophia. Bukankah Pak Robert salah satu Manager kepercayaannya di perusahaan itu, pernah mengatakan kepada dirinya sebelumnya, jika asistennya tersebut masih single dan belum pernah menikah.? Tapi kok dia bilang kalau anaknya sedang sakit?


Ataukah dia yang salah dengar?


Ah tidak mungkin dia salah dengar, telinganya belum setua itu sehingga tidak bisa mendengar dengan baik apa yang dikatakan oleh Pak Robert tempo hari.


Mungkinkah ada sesuatu yang belum diketahui olehnya dengan benar? Mungkin juga perempuan itu menyimpan sebuah rahasia tentang kehidupannya.


Lalu dihubunginya Managernya itu dan memintanya untuk segera datang keruangannya.


Sophia sudah tiba di rumah sakit. Rumah sakit itu adalah salah satu rumah sakit terbaik di kota itu. Karena pelayanannya yang baik dan menyenangkan bagi banyak pasiennya. Ibu Maria tadi sudah mengirimkan pesan nama ruangan tempat Mateo diperiksa oleh pihak rumah sakit.


Dengan langkah tergesa-gesa Sophia mencari-cari ruangan yang dimaksud. Kebetulan disana ada seorang dokter masih terlihat muda yang melihat Sophia seperti sedang mencari-cari sesuatu. Di jumpainya Sophia yang masih bingung mencari ruangan tersebut. Lalu diajaknya Sophia berbicara.


" Permisi mbak, boleh saya bantu? tawarnya dengan penuh keramahan dan kelembutan.


Sophia berbalik dan melihat ke arah sang dokter.

__ADS_1


" Dokter, saya sedang mencari ruangan Melati, tempat anak saya dirawat! ucapnya dengan wajah gelisahnya.


" Oh, ruangannya ada disebelah timur ruangan ini. Nanti anda lurus aja lalu putar ke arah kanan ruangannya disitu." si dokter menunjuk ke arah yang dimaksud.


" Terima kasih dokter! balas Sophia dan segera meninggalkan dokter itu. Sedangkan dokter itu masih terus menatap ke arah punggung Sophia hingga dia hilang dari pandangannya.


Dari kejauhan dilihatnya Ibu Maria yang sedang dalam kegelisahan, berdiri di depan pintu ruangan tempat Mateo diperiksanya oleh dokter.


Sophia semakin mempercepat langkahnya agar segera sampai di tempat Bu Maria.


" Ibu, bagaimana dengan Mateo? Apa dia baik-baik saja? Tanya sophia dengan takut-takut sambil memegang lengan wanita tua itu. Napasnya masih ngos-ngosan akibat berlari sepanjang lorong tadi.


" Mereka masih memeriksa Mateo didalam. Ibu sudah menunggu dari tadi tapi dokternya juga belum keluar." jawab Ibu Maria dengan raut wajah sedih yang tidak bisa disembunyikan. Di elusnya pundak Sophia agar wanita muda itu lebih tenang dan tidak perlu khawatir sekali. Selama ini Mateo jarang sakit dan tidak pernah masuk rumah sakit. Ini adalah kali pertama baginya masuk ke rumah sakit dan harus dirawat. Sophia cemas jika Mateo akan merasa takut didalam sana seorang diri.


" Bagaimana anak saya dok? Dia baik-baik saja kan dok? Sophia bertanya dengan tidak sabar.


Dokter itu pun hanya tersenyum saja menimpali pertanyaan Sophia.


" Anda ibunya Mateo? Sophia menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Anda tidak perlu khawatir, Mateo baik-baik saja sekarang. Dia hanya demam biasa." beritahu sang dokter untuk menenangkan hati Sophia yang begitu gelisah sekali.


" Syukurlah! seru Ibu Maria dengan senangnya.


Sophia pun ikut tersenyum bahagia. Didekapnya wanita paruh baya itu dengan perasaan bahagia. Puji Tuhan Mateo tidak mengalami sakit yang berat.


" Anda boleh masuk untuk menemaninya hanya saja dia masih tidur karena pengaruh obat yang dia minum." ujar sang dokter lagi. Setelah mengatakan itu dia pun beranjak dari sana.


" Kalau begitu saya permisi dulu, semoga anaknya sehat terus dan tumbuh dengan baik." ucap sang dokter.


" Terima kasih banyak dokter! balas Sophia dan Ibu Maria hampir bersamaan. Mereka berdua segera masuk ke dalam ruangan tempat Mateo dirawat. Di dalam ruangan yang serba putih itu, Mateo berbaring lemah. Wajah putihnya nampak pucat. Selang jarum infus mengalir ditangan mungilnya yang mungkin cukup menyakitkan bagi anak seusianya.


Melihat keadaan Mateo seperti itu membuat kedua mata bening Sophia memancar lara. Bocah malang yang menderita. Entah apakah kedua orang tua kandungnya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Mateo saat ini? Atau mereka sama sekali sudah melupakannya. Sophia teringat saat dia masih kecil. Ketika dia mengalami sakit, kedua orang tuanya dengan penuh perhatian dan kasih sayang akan menjaga dan merawatnya. Meski dirinya harus kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya begitu cepat disaat dia masih berumur 12 tahun akibat kecelakaan. Tapi dia tidak akan pernah lupa akan kasih sayang yang diberikan oleh orang tuanya kepada dirinya.


Sedangkan bocah malang ini yang belum mengerti apa-apa, yang masih butuh akan cinta dan kasih sayang orang tuanya harus terpaksa dipisahkan dari ayah dan ibunya bahkan dari keluarganya. Harus mengalami penderitaan yang akan diingatnya seumur hidupnya.


Hanya satu malam saja Mateo menginap di rumah sakit, dia sudah diperbolehkan pulang kembali rumahnya oleh dokter. Dari hasil pemeriksaan, dokternya menyampaikan jika Mateo tidak memiliki penyakit yang serius. Demamnya kemarin hanyalah demam biasa saja. Mungkin saja demamnya itu disebabkan oleh perasaan dan pikirannya yang sedang mengingat-ingat orang tuanya. Mungkin dia sedang merindukan mereka. Ibu Maria dan Sophia mengerti maksud penjelasan dari sang dokter. Tapi sang dokter masih tetap menganjurkan mereka untuk melakukan medical check up untuk memastikan kesehatannya Mateo. Kini mereka sudah ada dirumahnya Sophia. Mateo langsung dibaringkannya di kamarnya. Dirinya tampak lebih tenang, segar dan santai.


Rumah sakit memang bukanlah tempat yang menyenangkan bagi anak-anak. Dengan aroma karbol rumah sakit yang tidak disukai oleh hidung kecil mereka. Bahkan orang dewasa pun banyak yang tidak menyukai rumah sakit. Sophia segera menyiapkan makanan kesukaan Mateo, agar saat bangun nanti dia dapat segera menyantapnya. Demi fokus menjaga Mateo, Sophia meminta ijin cuti 1 hari dari bossnya itu. Untung saja Stephen adalah seorang boss yang pengertian. Meski dari luar nampak dingin dan seperti sombong. Namun bila menyangkut hal-hal yang bersifat kemanusiaan seperti yang dialami oleh Sophia, Stephen tak perlu diajak kompromi. Hatinya tidaklah terbuat dari batu.

__ADS_1


Karena pada dasarnya hati Stephen juga bisa sangat sentimental dan halus tapi tetap terlihat jantan. Boleh disebut dia adalah laki-laki "macho" yang humanis. Seperti sebuah ungkapan yang pernah ditulis oleh seorang bijaksana, " lembek seperti lilin dan lebih keras dibanding intan, lebih menyayangi dari pada seorang ibu dan lebih kejam dibanding musuh."


Apalagi setelah mengetahui cerita yang sebenarnya dari Pak Robert tentang kehidupan pribadi seorang Sophia. Hati kecilnya itu menyimpan suatu keinginan. Dan apapun keinginannya itu sebagai seorang Stephen dia pasti akan memenuhinya.


__ADS_2