
Suasana hati Stephen mulai tak menentu. Perasaan cemburu sekaligus was-was menyusup dalam hatinya semenjak Kevin mengeluarkan ultimatum saat di restaurant malam itu. Bagaimana mungkin dia akan melepaskan Sophia dan Mateo yang jelas-jelas dicintainya dengan sepenuh hatinya. Dan tidak akan pernah dia menyerahkan Sophia ataupun Mateo kepada siapapun sekalipun itu Kevin. Takkan pernah.
Namun hatinya juga terombang-ambing dengan kehadiran Virginia. Wanita itu sepertinya telah menyihir dirinya sehingga tidak mampu untuk menolak pesonanya. Hatinya memang memberontak tetapi pikiran dan raganya tak mampu dikendalikannya. Setiap kali wanita itu muncul maka pikiran dan hatinya tak bisa diajak kompromi.
Seperti saat ini, disaat dirinya sedang berjuang untuk mengatasi masalah dalam dirinya sendiri, Virginia muncul dengan pesonanya yang menggoda. Wanita itu masuk begitu saja, seolah-olah dia adalah nyonya di tempat itu. Dengan gayanya yang sangat elegan dan berkelas membuat yang memandangnya pasti akan terpesona. Dengan langkahnya bak model profesional, memberikan rasa kagum bagi mata yang memandangnya.
Bahkan jika Stephen dan Virginia dipasangkan, semesta pasti akan merestuinya. Mereka berdua terlihat sangat sempurna jika dipasangkan. Bahkan karyawan-karyawan yang bekerja di bawah kepemimpinan Stephen, malah terkadang menjodoh-jodohkan keduanya sebagai pasangan serasi sejagat raya. Mereka lupa jika bos besar mereka itu sudah punya istri. Meski tak secantik Virginia. Tapi tak kalah menarik dari wanita itu. Secara fisik, Virginia boleh unggul tapi Sophia lebih unggul jika diuji dari inner beauty nya. Jadi tak perlu heran jika tak sedikit pria yang tertarik dengan kepribadian Sophia. Setidaknya Sophia masih layak untuk diajak ikut arisan.
" Sepertinya hari ini kita tidak ada janji meeting?" Stephen berusaha untuk bersikap profesional. Stephen mencoba untuk menahan dirinya agar lebih menguasai hati dan pikirannya.
" Ya, saya tahu. Makanya saya datang kemari. Dengan begitu kita tidak harus membicarakan tentang pekerjaan kan.?" Pandangan matanya seakan menggoda dan memang bermaksud untuk menggoda. Senyumannya pun dibuat-buat semanis mungkin. Dan bagaimana mungkin Stephen bisa bertahan untuk tidak tergoda.? Karena Stephen adalah seorang pria biasa, pria normal.
Dia bukanlah seorang pria hebat yang setia dan bucin dengan wanita yang dicintainya seperti pria-pria yang diceritakan dalam novel-novel romantis. Dimana tokoh utama pria nya selalu disosokkan sebagai pria yang awalnya dingin, angkuh dan sombong namun ketika telah jatuh cinta dengan tokoh utama wanita si pria berubah menjadi sosok pria yang sangat setia dan bucin mati terhadap tokoh wanitanya.
Stephen sangat mencintai Sophia, tak bisa dipungkiri. Namun naluri kelaki-lakiannya sering kali tak dapat di kontrolnya dengan baik. Tapi bukan berarti Stephen adalah pria playboy, pria buaya yang suka bermain perempuan. Karena Stephen juga tidak sembarangan untuk menyukai seseorang.
Virginia dengan langkahnya yang seksi dan menggoda mendekati tempat duduk Stephen. Jari jemarinya yang lentik lemah gemulai langsung saja meraba pundak Stephen yang kekar lalu membelai punggungnya dengan lembut dan terkesan menggoda. Dan Stephen yang hanya diam saja tak bereaksi sama sekali bahkan tidak berniat untuk menghentikannya. Padahal hatinya sesungguhnya ingin menolaknya. Tapi tubuhnya menyukainya.
Antara dilema, karena hati, pikiran dan raganya yang selalu saling bertentangan. Stephen memejamkan matanya dan sekilas bayangan wajah Sophia terlintas dalam benaknya. Wajah Sophia yang tersenyum manis kepadanya. Wajah yang lembut, tulus dan setia. Dan seketika itu perasaan bersalah merayap dalam hati Stephen.
__ADS_1
Stephen membuka matanya, mengingat wajah bahagia istri dan putranya yang setia menunggunya di rumah. Stephan bangkit dari tempat duduknya, membuat tubuh Virginia yang berusaha merapat kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh ke belakang. Virginia pun kaget melihat ekspresi Stephen yang mendadak berubah.
" Kamu kenapa?" tanya Virginia dengan wajah kesal. " Aku hampir saja mau jatuh, tahu nggk! protesnya lagi.
Stephen menatap tajam ke arah Virginia. Ditatapnya lekat sekaligus hati dan pikirannya seperti sedang menghimpun kekuatan untuk menyampaikan sesuatu kepada wanita itu.
" Maafkan saya, tapi sepertinya saya harus menghentikan semua ini sebelum terjadi masalah yang lebih besar lagi.!" Stephen sedang menegaskan kepada Virginia tentang hubungan yang terjalin diantara mereka.
" Maksud kamu apa.?" Virginia nampak was-was mendengar perkataan Stephen.
" Tolong anda bersikap layaknya rekan bisnis. Hanyalah rekan bisnis, tidak ada hubungan yang lain-lain.!" Sekali lagi Stephen menegaskan dan membuat Virginia merasa sakit hati.
Namun Stephen sudah meneguhkan hatinya tidak akan terpancing dengan perkataan-perkataan Virginia yang memang sangat menggoda. Bibir wanita itu seperti punya racun yang membius dan mematikan siapa saja yang mendengarnya.
" Saya memang bersalah karna sudah membiarkan anda masuk dalam kehidupan saya dan mengijinkan anda untuk memasukinya. Tapi kini saya sadar jika itu juga telah menyakiti hati istri dan putra saya. Saya telah melukai hati dan perasaan orang-orang yang aku sayangi.!" Stephen mengungkapkan penyesalannya dengan begitu tulus dan jujur. Dia sungguh-sungguh telah menyesal.
" Kenapa baru sekarang kamu menyesalinya? Kenapa di awal kamu memberikan peluang untuk hatiku. lalu sekarang kamu malah menendangnya begitu saja.!" protes Virginia dengan kekecawaan yang amat dalam. Perkataan Stephen benar-benar telah mengusik hatinya. Dan egonya tidak bisa menerimanya begitu saja. Karena baginya ini adalah sebuah penghinaan.
Virginia tidak terima diperlakukan seperti sampah yang dibuang begitu saja.
__ADS_1
" Tapi sepertinya hubungan kita juga belum begitu mendalam. Jadi tidak ada yang perlu merasa tersakiti. Sebelum hubungan kita menjadi masalah yang akan menyakiti banyak pihak, lebih baik diputuskan sekarang saja.!" Seperti mendapatkan kekuatan baru setelah mengingat istri dan putranya, Stephen terlihat lebih tegas dan percaya diri.
Dengan wajah marah, kesal dan juga kecewa Virginia menyampaikan amarahnya kepada Stephen.
" Kamu pikir, aku ini wanita yang bisa kamu campakkan begitu saja setelah kamu sudah tidak merasakan apa-apa lagi? Dengan entengnya kamu melempar diriku jauh-jauh seolah-olah aku hanya sekedar pengganggu kehidupan kamu dan keluarga kamu? BEGITU HAH?
Wajah Virginia nampak merah karena emosi dan marah. Napasnya terengah-engah karena merasa kecewa dan sakit hati. Virginia tidak bisa menerima begitu saja perlakuan pria itu kepadanya.
" Tapi kita tidak melakukan apapun. Kita hanya berhubungan biasa saja. Hanya saja jika semakin dibiarkan Bisa-bisa menjadi masalah besar. Dan sebelum itu terjadi kita harus menghentikannya.!" Stephen semakin tegas dan berani. Tidak lagi merasa plin plan atau ragu-ragu seperti sebelumnya. Mungkin itu adalah kekuatan dari doa-doa Sophia selama ini. Meski dalam kesesakan , Sophia tak pernah menyerah. Hatinya tetap tegar dan percaya jika suaminya tidak akan pernah meninggalkan mereka demi wanita lain.
Sophia selalu berdoa kepada Tuhannya agar suaminya itu selalu dalam perlindungan-Nya, dan diberi kekuatan untuk menghadapi godaan yang setiap saat mengintai suaminya itu. Dan Tuhan tidak akan membiarkan hambanya yang selalu meminta kepadanya dengan tulus dan rendah hati.
" Apa kamu sudah tidak menginginkan kerja sama antara perusahaan kita lagi?" ancam Virginia. Berharap Stephen akan luluh dan mengubah pemikirannya.
" Saya tidak bermaksud mencampuri antara urusan kantor dengan urusan pribadi!" ujar Stephen tanpa merasa takut dengan ancaman Virginia." Tapi jikalau anda merasa keberatan, saya siap menerima resikonya!" lanjut Stephen kemudian.
Mendengar cara bicara Stephen yang begitu formal, seolah-olah mereka berdua adalah orang asing membuat Virginia merasa muak. Dan dia mulai berpikir jika Stephen sepertinya tidak mudah untuk dipengaruhi lagi.
"
__ADS_1