Cinta Yang Takkan Berubah

Cinta Yang Takkan Berubah
Petualang Cinta


__ADS_3

Stephen sedang mengkhayal di dalam ruang kerjanya. Sejak tadi asistennya memanggil-memanggil namanya namun tak ada sahutan sama sekali.


Hingga akhirnya dengan suara teriakan mampu menyadarkan pria itu dari khayalannya.


" Hai, Paaaaaaak......!


Stephen terkejut tersadar dari khayalannya. Entah apa yang dikhayalkannya di siang bolong begini.


" Hei, apa kamu tidak bisa berbicara dengan lembut dan pelan.? Haruskah berteriak sekencang itu.? Aku tidak tuli jadi masih bisa mendengarkan suaramu! Wajahnya sewot karena tidak senang diteriaki oleh asistennya itu yang membuat dirinya terkejut.


" Ya maaf Pak. Habisnya dari tadi dipanggilin nggk nyahut-nyahut. Diteriaki baru respon.! Asistennya itu membela diri.


"Ada apa? Tanya Stephen kemudian.


" Ini proposal yang perlu Bapak tanda tangani.! Diserahkannya beberapa dokumen dihadapan Stephen untuk di tanda tangani segera.


Tanpa membaca terlebih dahulu, Stephen membuka dokumen itu dan langsung menandatanganinya.


" Nggk di baca dulu Pak? Tanya asistennya itu mengingatkan.


" Nggk perlu deh kayaknya. Itu tanggung jawab kamu toh?


Asistennya itu hanya bisa tersenyum pasrah. Namanya Bos suka-suka dong. Percuma ada anak buah kalau nggk bisa diandalkan.


Setelah kertas-kertas itu selesai ditanda-tangani, asisten kepercayaannya itu pun meninggalkan sang boss dan melanjutkan kembali pekerjaannya yang lain.


Stephen kembali termenung. Pikirannya melayang memikirkan sesuatu. Jiwa dan raganya memang berada di tempat itu tetapi pikirannya berada di tempat lain.


Dan ternyata Stephen masih terngiang-ngiang dengan sosok perempuan yang telah menjadi rekan bisnisnya itu. Pesonanya telah menyihir pikiran Stephen sehingga membuat pria beristri itu benar-benar tersihir.


Sophia sedang menyiapkan makan malam untuk keluarga kecilnya itu. Malam ini Sophia memasak makanan kesukaan suami dan putra kesayangannya itu. Tidak harus menunggu moment yang spesial untuk menghidangkan makanan yang istimewa karena setiap hari adalah moment yang spesial bersama dengan orang-orang yang dicintainya itu.


Meja makan tertata dengan menarik. Hidangan sudah tersedia. Tinggal menunggu beberapa menit lagi Stephen pulang dari kantor dan mereka akan makan malam bersama.


Mateo tak mau ketinggalan untuk membantu Mamanya itu menyiapkan makan malam spesial ini. Wajahnya tampak bahagia karena bisa membantu Mamanya itu meski bantuan yang diberikannya tidaklah seberapa.


30 menit berlalu, Stephen belum pulang. Biasanya jam segini dia sudah dirumah, membersihkan diri sebentar kemudian dilanjutkan dengan makan malam bersama.

__ADS_1


Sophia melirik jam yang menempel di sudut dinding rumahnya itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 wib dan Stephen belum juga muncul.


Biasanya jika ada lembur di kantor dia akan memberitahu kan kepada Sophia sehingga tak perlu menunggunya pulang untuk makan malam. Tapi sampai sekarang tidak ada satu pesan pun masuk di ponselnya.


Sophia mencoba berpikir positive. Mungkin suaminya itu sedang ada pekerjaan mendadak yang membuatnya harus lembur dan tidak sempat mengirimkan pesan kepadanya.


Tapi 1 jam kemudian belum juga ada kabar berita. Sophia sudah berusaha menghubunginya namun tidak dapat dihubungi sama sekali. Apakah mungkin Stephen ada rapat mendadak sehingga ponselnya pun harus dinonaktifkan? Tapi Stephen tidak pernah begitu sebelumnya.


Dia adalah orang yang bertanggung jawab. Tidak mau membuat orang lain khawatir akan dirinya apalagi membuat Sophia cemas dan khawatir seperti ini. Itu bukanlah karakter seorang Stephen.


Sophia yang merasa gelisah, mulai berpikiran buruk. Jangan sampai terjadi sesuatu yang burukkah menimpa suaminya itu.


Sophia memutuskan untuk mencari suaminya itu ke kantornya.


" Anak mama tunggu sebentar di rumah ya, Mama mau lihat ayah ke kantor dulu ya! Pesan Sophia pada Mateo. Mateo pun menuruti perkataan Sophia.


Cuaca di luar cukup dingin karena hari sudah malam. Angin bertiup cukup kencang. Sophia tak lupa memakai syal dan baju tebal. Sophia agak sensitif dengan udara dingin.


Dengan naik taksi online Sophia menuju ke kantor Stephen. Tak berapa lama Sophia tiba di kantor suaminya itu. Seorang Petugas keamanan sedang berjaga disana.


" Malam Pak! Sapa Sophia ramah. Meski Sophia adalah seorang istri pemimpin perusahaan dia selalu menganggap semua karyawan sama.


" Nyonya ada apa ya malam-malam gini berkunjung ke kantor? Tanya Petugas itu dengan tetap berusaha bersikap sopan dan hormat.


" Oh, hanya ingin berkunjung saja Pak. Sudah lama juga tidak pernah datang ke kantor! Sophia menjawab demikian agar tetap menjaga harga diri suaminya. Jika dia jawab datang untuk melihat suaminya bagaimana penilaian dan pendapat karyawannya itu terhadap suaminya nanti.?


" Tapi Nya, kantor Pak Stephen sudah tutup sejak tadi sore. Kalau tidak salah Pak Stephen sudah pulang kira-kira 1 atau 2 jam yang lalu.!


Jawaban Petugas keamanan itu sedikit mengejutkan bagi Sophia.


" Jadinya Stephen sudah pulang dari tadi? Tapi kemana dia pergi? Kenapa belum tiba di rumah hingga larut malam begitu.?


" Ohh itu, iya Pak tadi suami saya sudah pulang kok! Saya hanya pengen jalan-jalan saja dan kebetulan lewat daerah ini, terus berkunjung ke sini.! Bohong Sophia.


Sekalipun Sophia berusaha menutupinya tapi sorot matanya tak bisa berbohong.


Petugas itu dapat melihat guratan di wajah Sophia. Dia bisa merasakan jika Nyonya nya itu sedangkan membohonginya

__ADS_1


Sophia melirik arloji imut di tangan kirinya.


" Oh ya Pak, ternyata sudah larut nih, saya harus pulang ke rumah. Terima kasih ya Pak atas waktunya!


Petugas itu menundukkan kepalanya memberi hormat.


Sophia beranjak dari sana, dengan langkah gontai sambil berpikir " "Kemana suaminya itu kira-kira berada?


Sophia memilih untuk tidak langsung pulang ke rumah. Dengan langkah gontai dan lelah Sophia berjalan di sepanjang pedestrian di sekitar jalan raya tersebut.


Saat berjalan dengan mode malas sambil memperhatikan bangunan-bangunan yang berada di sisi kiri kanan jalan itu, ada beberapa bangunan pertokoan yang berdiri disepanjang sisi jalan bagaikan jamur di musim hujan.


Beberapa restaurant mahal juga tersedia disana. Sophia bingung harus mencari kemana lagi. Ataukah mungkin Stephen sudah pulang? Mereka bisa saja berselisih di jalan tadi. Tapi Petugas itu bilang tadi jika Stephen sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Seharusnya sudah ada di rumah sejak tadi.


Dengan langkah gontai Sophia melangkahkan kakinya. Tiba-tiba netranya menangkap suatu pemandangan yang cukup mengejutkan. Di dalam sebuah restaurant berdinding kaca nampak dari luar sepasang manusia sedang duduk berdua menikmati makan malam yang kelihatannya lezat sekali.


Sophia memusatkan pandangannya mencoba memastikan jika penglihatannya tidak salah. Sophia ingin meyakinkan hatinya jika yang dilihatnya itu adalah benar-benar dia.


Dia nampak tertawa lebar bahagia sekali sambil menikmati makanannya. Baru kali ini dia tertawa selebar itu. Biasanya dia hanya tertawa biasa saja atau sekedar tersenyum simpul.


Melihat pemandangan baru seperti itu membuat hatinya bertanya-tanya. " Apakah selama ini dia belum pernah merasakan kebahagiaan yang bisa membuatnya tertawa sepuas itu?


Sophia terpaku berdiri dalam diam. Menyaksikan hal yang mengejutkan seperti ini tentu saja memberi sedikit duka dihatinya. Lalu Sophia's memutuskan untuk pulang saja. Tidak mungkin dia menemui keduanya? Apa kata orang nanti? Mereka bisa saja berpikiran buruk tentang suaminya itu jika saja dia menemui mereka.


Walau bagaimanapun sebagai seorang istri dia harus menjaga kehormatan suaminya. Jangan sampai suaminya dipermalukan oleh karena kelalaiannya.


Sophia pun meninggalkan tempat itu. Membiarkan lelaki itu menikmati makan malamnya.


Sesampainya di rumah, Mateo yang masih dengan sabar menunggu mama dan Ayahnya itu kembali hanya menatap dengan heran dan bertanya-tanya, "Mengapa mamanya pulang sendiri dan wajahnya nampak sedih?


" Mama, kenapa wajah mama sedih? Ayah kok belum pulang juga? Mateo kan sudah lapar sekali nungguin mama dan ayah! bocah kecil itu mencoba menyampaikan keluhannya.


Sophia tidak menjawabnya hanya membalas dengan senyuman.


Diambilnya piring Mateo lalu diisinya dengan makanan yang sudah ada di atas meja.


Sedang dalam hatinya bertanya-tanya, " Mengapa suaminya itu tidak memberitahunya jika dia ada makan malam dengan orang lain.!

__ADS_1


Sophia masih berusaha berpikiran positive terhadap suaminya itu. Bisa saja dia sedang menikmati makan malam dengan koleganya. Yah mungkin saja.


__ADS_2