
Angela sedang sibuk berbelanja disebuah butik terkenal dan termahal di kota itu. Bagi Angela uang tidak jadi masalah. Hampir setiap hari dia rutin berbelanja. Barang yang baru saja dibeli dengan harga yang selangit tapi jika sudah dirasa bosan, dia akan memuseumkannya dan membeli yang baru lagi. Horang kaya mah bebas mau berbuat apa saja.
Saat sedang asyik memilih pakaian, matanya menangkap sosok bayangan Stephen memasuki restaurant yang persis berada tepat didepan butik tersebut. Namun Stephen tidak seorang diri. Seorang wanita bersama-sama dengan dia. Hanya berdua saja. Angela jadi curiga, dan penasaran siapa gerangan wanita yang bersama dengan Stephen. Penampilan wanita itu biasa-biasa saja. Wajahnya juganya tidak cantik. Tidak mungkin Stephen berkencan dengan wanita seperti dia. Tidak selevel sama sekali. Tapi kok Stephen mau-maunya sih jalan sama wanita dengan penampilan yang biasa-biasa seperti itu? Apa dia tidak merasa malu sama sekali?
Angela yang begitu sangat penasaran, memutuskan untuk membuntuti Stephen dan wanita itu. Dilepaskannya pakaian yang ada ditangannya itu, lalu dia segera keluar dari dalam butik. Kemudian dia masuk ke dalam restaurant dan berpura-pura sebagai salah seorang pelanggan. Dicarinya tempat yang agak tersembunyi namun masih bisa memata-matai Stephen. Sebenarnya dia berharap bisa lebih dekat dengan mereka berdua agar bisa mendengarkan apa pembicaraan mereka. Namun sepertinya semesta tak merestui. Stephen dan Sophia masuk ke ruangan khusus VIP. Tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam ruangan. Dengan wajah cemberut Angela memesan coffee latte, duduk sendiri disana sambil menunggu Stephen dan Sophia sampai mereka keluar.
Sedangkan Stephen dan Sophia sesungguhnya mereka berdua mengadakan meeting dengan seorang klien di restaurant tersebut sambil makan siang. Angela yang malang malah berpikir jika Stephen sedang berkencan dengan wanita itu. Dengan wajah cemberut dia duduk sendiri sembari menikmati coffee latte kesukaannya.
Stephen dan Sophia sedang berdua di dalam mobil. Tidak ada pembicaraan, tidak ada percakapan. Hanya diam membisu.
Lalu Stephen membuka perbincangan diantara mereka. Sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit konyol.
" Sophia, apa kamu sudah punya pacar?
" Hah??? Sophia memandang bossnya itu dengan tatapan heran. Tumben bossnya itu bertanya hal yang tidak penting seperti itu.
" Mmmmmm..... emang kenapa Tuan muda? Bukannya menjawab, Sophia malah balik bertanya.
" Soalnya aku tidak pernah lihat kamu dijemput atau jalan sama seseorang." ucap Stephen sedikit berbohong. Karena malam itu dia pernah melihat Sophia berjalan dengan seorang pria.
__ADS_1
" Ohh begitu." ujar Sophia sambil tersenyum.
" Kebetulan saya belum punya pacar Tuan muda, tapi kalau Tuan muda punya kenalan boleh juga tuh dikenalkan dengan saya. " jawab Sophia dengan santainya. Entah keberanian darimana datangnya sehingga dia berkata demikian kepada bossnya itu. Kenapa tiba-tiba dia berbicara seolah-olah dia sedang berbicara dengan temannya.
Melihat keberaniannya Sophia yang tiba-tiba spontan membuat Stephen pun juga berbicara dengan lebih santai dan enjoy.
"Ya, kalau kamu mau aku bisa kenalkan dengan teman-teman saya. Teman-teman saya kebetulan banyak yang jomblo dan lagi cari pasangan hidup! ucap Stephen.
" Truss, Tuan muda sendiri? Kan masih jomblo juga, nggk berminat untuk cari pasangan juga? Sophia yang dengan polosnya bertanya Seperti itu membuat Stephen menjadi salah tingkah. Karena sesungguhnya tujuan dari pertanyaan yang ditujukannya kepada Sophia hanyalah untuk dirinya sendiri.
Stephen pun terdiam sejenak. Lalu menarik napas dengan sedikit berat.
Sophia pun tertawa lucu. Menertawakan dirinya sendiri yang sudah lancang terhadap bossnya itu.
" Hehehehe.... maaf Tuan muda. Tidak bermaksud apa-apa kok." ujarnya dengan perasaan tidak enak kepada bossnya itu.
" Bagaimana kabar Mateo? Sudah rindu ingin melihatnya lagi! Tanya Stephen mencairkan suasana kembali.
" Mateo sudah sehat dan sekarang sudah bisa bermain-main lagi bersama anak-anak di panti! jawab Sophia.
__ADS_1
" Kapan-kapan saya ingin berjumpa dengan Mateo dan ajak dia jalan-jalan bolehkan? Tanya Stephen meminta persetujuan Sophia.
" Ohh, boleh-boleh saja kok Tuan muda, Mateo pasti senang ada yang ajak jalan-jalan. Soalnya sudah lama dia pengen diajak jalan-jalan ,tapi tak pernah ada waktu yang tepat." jawab Sophia dengan senangnya.
Stephen juga terlihat senang nampak dari senyum diwajahnya. Namun yang membuat dirinya lebih senang karena jawaban Sophia yang belum punya pasangan. Jadi pria yang waktu itu jalan bersamanya adalah mungkin hanya teman atau sahabatnya. Atau mungkin masih saudara.
Apakah ini suatu tanda-tanda jika hatinya menaruh rasa kepada Sophia?
Entah apa yang membuatnya tertarik akan sosok seorang Sophia. Gadis biasa yang berpenampilan sederhana. Tidak seperti Angela gadis cantik dan menarik. Dan jika disandingkan dengan dirinya sangatlah sempurna. Tapi hatinya yang pernah tersakiti, tak lagi menaruh hati dan perasaan. Bahkan tidak lagi ada yang tersisa di hatinya untuk wanita itu. Telah sirna dan hilang untuk selamanya. Kecantikan dan kekayaan tidak lagi menarik dimatanya. Dia lebih tertarik dan menyukai hal-hal yang sederhana namun memberi kenyamanan dan kebahagiaan. Dan hal itu ia temukan dalam diri seorang Sophia.
Gadis yang sederhana, memiliki hati yang tulus dan murni, memancarkan aura yang membahagiakan bagi yang melihatnya. Hatinya yang lembut, jujur dan polos mampu membuat hati pria yang keras dan membatu menjadi lembut dan melunak. Mampu membuka hati yang mungkin sudah lama tertutup dan memberi ketenangan dan kenyamanan bagi hati yang pernah tersakiti.
Karena seorang Stephen, pria berhati dingin dan cuek mampu diubah oleh seorang Sophia.
Hanya saja jalan yang akan dilalui tidaklah semudah yang diharapkan. Karena mereka tidak pernah tahu tantangan berat apa yang akan mereka hadapi nantinya. Sedangkan Sophia yang tidak berharap bermimpi yang indah dan muluk-muluk hanya senantiasa berpasrah pada rencana Tuhan dalam hidupnya. Baginya asalkan dapat hidup bahagia bersama-sama dengan Mateo dan anak-anak Panti lainnya itu sudah lebih dari cukup.
Dia hanya meminta kepada Sang Pemberi Hidup agar dirinya dan orang-orang yang disayanginya senantiasa dilindungi, diberi kesehatan dan dijauhkan dari penderitaan. Namun jika harus menderita cukuplah dia yang mengalaminya dan semoga dirinya selalu diberi kekuatan untuk itu.
Karena sebagai gadis yang berhati lembut dan rapuh dia tidak sanggup jika sampai harus menyaksikan anak-anak Panti hidup dalam penderitaan. Itulah sebabnya dia selalu berusaha tersenyum bahagia saat berada diantara mereka. Karena mereka sudah hidup tanpa kasih sayang orang tua, jangan sampai mereka juga tidak merasakan kegembiraan dan kebahagiaan.
__ADS_1
Dia juga sangat bersyukur karena Ibu Maria sangat menyayangi anak-anak Panti sehingga anak-anak masih bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Setidaknya mereka masih punya seorang ibu yang perhatian dan mencintai mereka.