Cinta Yang Takkan Berubah

Cinta Yang Takkan Berubah
Hari Ke-Tujuh.


__ADS_3

Hari ke-tujuh setelah kedatangan sang CEO baru. Para karyawati yang dulunya terlihat cuek dan tidak terlalu peduli dengan suasana dikantor yang penting datang ke kantor tepat waktu, kerjakan tugas dengan baik lalu bergegas pulang jika jam kantor sudah usai. Kini suasananya sedikit berubah dari biasanya. Para karyawati khususnya mereka yang masih single dan belum menikah mulai pasang aksi. Datang ke kantor lebih awal, berpakaian dengan gaya yang sedikit mencolok, memakai pewangi yang harumnya radius sepuluh meter sudah tercium. Dandanannya yang terlihat lebih menor dari biasanya dengan make up tebal dan warna menyala.


Bukannya menarik perhatian malah terlihat seperti badut. Hanya Sophia yang masih bersikap seperti biasanya. Mulai dari pakaian, dandanan, sikap dan tingkah lakunya sama sekali tidak ada yang berubah. Dia tetap saja bersikap sewajarnya.


Berharap CEO tampan itu melirik mereka dan menaruh perhatian walau hanya untuk sejenak saja. Namun realitanya Stephen sama sekali tidak mau peduli. Bahkan dia jarang sekali terlihat berkomunkasi dengan para karyawannya. Hanya orang-orang tertentu saja yang diajaknya untuk berbicara. Saat melakukan interaksi dengan karyawan-karyawan di kantornya pun hanya sekedar say hello saja. Sedangkan dengan Sophia tentu saja lebih sering berkomunikasi karena Sophia adalah asisten pribadinya. Tentu lebih banyak melakukan komunikasi. Meski hanya berbicara masalah urusan dikantor. Sophia juga harus setia stand by jika sewaktu-waktu bosnya itu memanggil atau memerlukan dirinya.


Para karyawati lainnya pun mulai mencari-cari Sophia hanya untuk sekedar bertanya tentang CEO tampan itu. Rasa kepo mereka yang tinggi membuat diri mereka semakin penasaran untuk lebih mengenal dan dekat dengan sang CEO. Tapi memang dasarnya Sophia yang tidak terlalu senang bergosip ria hanya memberi jawaban ala kadarnya saja.


Membuat teman-teman sejawatnya itu tidak puas dan semakin penasaran. Wajah-wajah merekapun terlihat tersenyum kecut setiap kali Sophia menjawab asal keingintahuan mereka.


Siang itu Sophia bersama dengan sang CEO sedang memeriksa sebuah laporan masuk dari beberapa perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan mereka. Lalu tiba-tiba terdengar suara bunyi dering telvon milik Sophia. Sophia melirik ke arah sang boss berharap bossnya itu tidak marah karena merasa terganggu dengan bunyi dering telvonnya itu.

__ADS_1


" Kenapa tidak angkat telvonnya? tegurnya karena Sophia yang sama sekali tidak bergerak untuk mengangkatnya. Sophia melihat layar telvonnya tertera nama Ibu Maria disana. " Tumben Ibu Maria menelvonnya siang-siang begini? pikir Sophia seakan bertanya pada dirinya sendiri. Diangkatnya telvonnya itu, dan terdengar suara Ibu dari seberang.


" Halo bu, selamat siang. Ada apa ya bu? balas Sophia.


" Nak, maaf ya ibu telvon kamu saat lagi kerja! ucap Ibu Maria.


" Nggk papa kok bu. Saya nggk terlalu sibuk kok." balasnya lagi.


"Ibu mau kasih kabar kalau sekarang ibu lagi ada di puskesmas. Mateo tiba-tiba sakit panas. Demamnya tinggi. Kata bu mantri, Mateo harus di bawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan." Mendengarkan berita dari Ibu Maria yang tiba-tiba mengabarinya kalau Mateo sakit membuatnya jadi khawatir. Ekspresi wajahnya terlihat menjadi cemas dan khawatir.


Grego yang dari tadi juga ikut mendengarkan pembicaraan Sophia dengan seseorang di dalam telvon itu segera menghentikan aktivitasnya. Dia pun ikut fokus mendengarkan pembicaraan serius yang sedang berlangsung di hadapannya itu.

__ADS_1


" Ibu juga belum tahu nak. Panasnya juga belum turun sama sekali. Padahal Ibu Bidan sudah memberinya obat penurun panas." jawab Ibu Maria dengan sama cemasnya.


" Kata Bu Bidan lebih baik jika Mateo dibawa aja langsung ke rumah sakit." jelas Ibu Maria.


" Kalau begitu ibu bawa aja Mateo langsung ke rumah sakit ya bu. Nanti aku langsung nyusul ke rumah sakit ya bu! ujarnya tanpa lagi sadar jika dia tidak sendirian di kantor itu. Rasa cemas dan khawatir yang memenuhi pikirannya membuatnya tidak lagi memikirkan hal-hal yang lain.


Setelah pembicaraan di telvon putus, Sophia hampir saja ingin segera berlari dari tempat itu. Baru saja kakinya melangkah lalu pandangannya tertuju pada seseorang yang ada dihadapannya, dia baru tersadar jika dia sekarang ada dikantor diruangan boss nya itu.


" Maaf Pak. Bukannya saya bermaksud tidak sopan, tapi saya sedang ada keperluan mendadak dan ingin ijin pamit pulang duluan ya Pak.? Wajahnya terlihat panik.


" Anak saya tiba-tiba jatuh sakit Pak dan sekarang lagi perjalanan ke rumah sakit." ucap Sophia dengan nada cemas dan tidak tenang.

__ADS_1


" Tadi yang telvon itu Ibu Panti saya." Sophia berusaha menjelaskan kepada bossnya itu agar tidak ada salah paham dan bossnya itu percaya kepadanya kalau dia sedang tidak berbohong. Wajahnya semakin terlihat gelisah dan tidak sabar ingin segera pergi. Naluri keibuannya memang tidak bisa disembunyikan. Dia hadir secara natural dan tidak bisa dibuat-buat. Stephen yang memahami kondisi Sophia dan seakan merasakan kecemasan yang sedang dirasakan oleh Sophia saat ini, tanpa berpikir panjang lagi langsung mengijinkannya untuk segera pergi menjumpai anaknya itu.


" Kamu boleh pergi sekarang, anakmu pasti sangat membutuhkanmu saat ini. Pekerjaan ini masih bisa kita lanjutkan besok." Stephen terlihat begitu bijaksana dan berwibawa. Dibalik sikap dinginnya ternyata hatinya lembut dan hangat. Sophia pun menunduk hormat dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan bossnya itu. Dengan segera dia pergi meninggalkan Stephen seorang diri. Dirinya sudah tidak sabar ingin segera melihat Mateo.


__ADS_2