Cinta Yang Takkan Berubah

Cinta Yang Takkan Berubah
Cinta Seorang Ibu


__ADS_3

Semenjak kembali lagi ke rumah itu, (rumah yang tidak layak disebut sebagai rumah, karena tidak ada kasih sayang, kehangatan, cinta dan perhatian di dalamnya ) Mateo sama sekali tidak di perbolehkan untuk keluar dari dalam kamarnya. Kamar yang dimaksud adalah sebuah ruangan kecil tidak lebih dari 2x4 meter, sebuah tempat tidur kayu yang di alas dengan kasur busa yang sudah mulai usang. Pada saat jam makan, seorang pembantu akan mengantarkan makanan ke dalam kamar. Makanan yang sangat tidak bergizi. Nasi putih, lauk tahu-tempe, sayur beberapa potong rasa hambar Dan air minum satu gelas.


Entah kenapa ada Ibu yang sekejam itu kepada anak kandungnya sendiri. Yang memperlakukan anaknya seperti hewan peliharaan.


Dalam ruangan sempit dan kotor itu Mateo menahan segala kedukaan dan penderitaannya. Demi sang mama, Sophia dia rela berkorban. Dia tidak ingin mamanya itu disakiti bahkan sampai dilukai oleh ibu kandungnya yang kejam itu.


Dalam hatinya ia berdoa kepada sang Khalik agar mamanya, Sophia senantiasa dilindungi dari orang-orang jahat yang selalu mengincarnya. Setelah bersama selama kurang lebih satu tahun, Mateo sudah menganggap Sophia sebagai ibu kandungnya sendiri. Karena darinya lah ia merasakan kasih sayang seorang ibu. Cinta dan perhatian tak pernah berkekurangan darinya. Hangatnya sebuah pelukan seorang ibu selalu memberinya kenyamanan dan mengajarkannya arti kebahagiaan yang sesungguhnya.


Setiap dalam kesempatan, Sophia tidak akan lupa untuk mengucapkan I love you, mama sayang kamu, kesayangan mama, dan berbagai kata manis lainnya yang memberinya semangat hidup baru, kekuatan baru dan yang terpenting adalah kebahagiaan yang sejati.


Dalam kesepiannya itu, Mateo mengenangkan semua kebahagiaan yang telah dicecapnya bersama dengan mamanya itu. Dan tak terasa bulir air mata mengucur di wajah manisnya.


Pepatah kuno mengatakan ikatan darah lebih kental dari air. Tetapi ikatan yang terjalin antara Mateo dan Sophia bahkan melebihi ikatan darah. Dan bahkan berbanding terbalik dengan fakta dimana Maya yang jelas-jelas adalah ibu kandung tapi hatinya tak lebih baik dari seekor hewan yang masih menyayangi anak-anaknya.


Maya baru saja pulang shopping. Dengan dandanan menor dan baju super seksi kurang bahan.


" Bibi,! teriaknya menggema di seluruh ruangan di rumah itu.


Dengan tergopoh-gopoh ART tersebut berlari dari dapur karena sedang sibuk menyiapkan makan malam.


" Iya Nyonya! jawabnya lalu berdiri membungkuk di hadapan wanita bengis itu.


" Bagaimana Mateo? Sudah kasih makan? Tanya wanita itu tanpa perasaan seorang ibu kepada anaknya.


"Sudah Nyonya. Seperti biasanya! sambil menunjukkan senyum palsunya.


" Baguslah! Jangan sampai dia kurus karena kelaparan. Makanan selalu bersisa kan?


ART itu menundukkan kepalanya sambil berkata. " Iya Nyonya!


Lalu dengan tingkah sombongnya meninggalkan pembantunya itu yang masih menundukkan tubuhnya.


" Dasar, wanita jahat. Nggak punya hati nurani! gumam pembantu itu pada dirinya sendiri.


Sophia sedang duduk termenung di balkon kamar Stephen sambil memandang langit malam yang hampa dan gelap. Setelah kepergian Mateo, Stephen meminta Sophia untuk tinggal bersamanya, supaya dia bisa mengawasinya lebih dekat. Karena dia tahu bathin Sophia sangat terguncang dengan kepergian Mateo. Hubungan kedua mahluk Tuhan itu sungguh sangat erat. Hati keduanya seakan sudah menjadi satu.


Ketika yang seorang merasakan duka yang seorang lainpun akan ikut merasakannya juga. Ketika seorang merasa bahagia maka yang seorang lainpun turut merasakan. Dan malam ini, Sophia merasakan sakit dan perih tidak hanya di dalam hatinya, tetapi juga seluruh raganya.

__ADS_1


Air matanya tiba-tiba jatuh tak tertahan. Netra beningnya itu tak mampu menahan kedukaan yang amat teramat dalam. Sophia larut dalam dunianya sendiri. Termenung dan merenung tanpa tahu apa yang sedang terjadi. Pikirannya seperti kosong.


Bahkan Stephen yang sudah pulang dari kantor sama sekali tidak dihiraukannya.


Stephen menatap Sophia dengan tatapan sendu. Hatinya pilu melihat keadaan Sophia seperti itu. Seakan tidak ada gairah hidup.


Perlahan dia mendekat kepada Sophia. Lalu dirangkulnya wanitanya itu kedalaman hangat pelukannya.


Memberi kenyamanan dan ketenangan agar Sophia tidak merasa sendirian. Masih ada dirinya bersama dengannya. Yang akan selalu menemaninya sampai kapan pun.


Sophia yang merasakan sentuhan lembut dan hangat memasrahkan dirinya dalam pelukan Stephen. Seakan dia sedang meletakkan beban kesedihan yang begitu berat untuk ditanggungnya sendiri. Seakan dia tidak sanggup lagi untuk menghadapinya.


Stephen semakin mengeratkan pelukannya, sebagai tanda jika dia tidak akan membiarkan Sophia menanggungnya seorang diri. Menyiratkan agar Sophia selalu percaya kepadanya.


Terdengar sebuah panggilan masuk di ponsel Stephen. Nama salah satu asisten kepercayaannya muncul di layar ponselnya.


" Ya halo. Ada berita apa? Tanya Stephen langsung ke intinya. Saat-saat kritis seperti sekarang ini basa basi disingkarkan dahulu.


Karena masalah yang sedang dihadapanku oleh Sophia dan terlebih dirinya perlu penanganan yang serius dan Haruskah bertindak dengan segera. Tidak dapat di tunda-tunda. Karena jika sampai terlambat sedikit saja maka tidak akan bisa diselesaikan lagi dan yang ada hanyalah penyesalan.


" Sayang, masuk yuk. Di sini anginnya kencang nanti kamu masuk angin.! Dipapahnya Sophia supaya segera bangkit dari sana dan dibawanya ke pembaringan. Dibaringkannya Sophia di atas bed, diselimutinya agar tubuhnya hangat. Lalu dikecupnya kening dan pipi Sophia.


Sophia pun langsung menutup kedua netranya dan karena lelah hati, pikiran dan raga dia pun segera jatuh tertidur.


Ditatapnya wajah letih Sophia. Wajah dan netranya sembab karena terlalu banyak mengeluarkan air mata.


" Sabar sebentar lagi ya sayang. Aku tidak akan membiarkan kamu menderita lebih lama lagi. Wanita itu harus mendapat hukumannya karena sudah memisahkan kamu dan Mateo.! bisik Stephen di telinga Sophia. Tapi sesungguhnya kata-kata itu lebih ditujukan kepada dirinya sendiri.


Stephen segera beranjak dari sana. Sophia sudah terlelap dalam tidurnya. Lalu Stephen menghubungi seseorang. Misi harus segera dilaksanakan. Perempuan ular itu harus di beri pelajaran.


Keesokan harinya.


Maya baru saja bangun dari tidur panjangnya. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 siang. Semalaman dia begadang karena asyik menonton drakor. Dengan pakaian tidur mini dia menuju ke dapur, mencari minuman di dalam lemari es.


Saat sedang nikmatnya meneguk air lewat tenggorokannya yang kehausan setelah bangun tidur terdengar bunyi bel berkali-kali.


" Siapa yang pagi-pagi sudah bertamu? benaknya bertanya penasaran.

__ADS_1


Lima menit kemudian salah satu pembantunya datang tergopoh-gopoh ingin melapor kepada Nyonya nya itu.


" Nyonya ada tamu. Katanya dari kepolisian dan pengadilan.! lapor pembantu itu.


Mendengar kata polisi dan pengadilan jantungnya mendadak berdetak kencang. Ada rasa takut dan cemas yang memuncah dalam hatinya. Dan keringat mengucur deras di wajahnya.


" Jangan-jangan mereka telah melapor ke polisi ? tebaknya dalam hati.


Maya lalu berpesan kepada pembantunya itu.


" Kalau mereka bertanya tentang saya, bilang saja kalau saya lagi di luar kota!


Mimik wajah pembantunya itu berubah muram.


" Tapi saya tadi sudah terlanjur bilang kalau Nyonya ada di rumah Nya! jawab pembantunya itu ketakutan karena dia tahu pastinya Nyonyanya itu akan memarahinya habis-habisan.


" Dasar idiot. Gitu aja harus diajari. Atau kamu sengaja melapor supaya mereka menangkap saya begitu hah? bentaknya dengan kasar.


Pembantunya itu hanya bisa menunduk ketakutan. Memang dia sudah terbiasa dibentak oleh majikannya itu. Sebagai pembantu dia hanya bisa menerima segala perlakuan buruk yang dilakukan oleh majikannya.


Dalam suasana ketakutan, Maya bingung harus berbuat apa. Tidak mungkin lagi baginya untuk kabur sekarang. Tapi dia juga tidak punya keberanian untuk mengikutinya seorang diri. Ibunya juga sedang tidak ada di rumah saat ini.


Habislah sudah. Sepertinya riwayatnya akan selesai hari ini juga. Maya bergegas kembali ke kamarnya. Dengan terpaksa harus mengganti pakaiannya karena tidak mungkin dia pergi menemui mereka menggunakan pakaian tidur sexy.


Stephen dan beberapa anak buahnya sudah menunggu di ruang tamu rumah Maya. Beberapa saat yang lalu, ketika mereka sudah berada di ruangan itu, Stephen sudah terlebih dahulu memerintahkan anak buahnya yang lain untuk memeriksa setiap sudut di rumah itu mencari keberadaan Mateo. Tentu saja tanpa sepengetahuan pemilik rumah. Sedangkan Stephen dengan orang-orangnya yang lain akan mengalihkan perhatian penghuni di rumah itu.


Sebagai seorang pengusaha besar dan sukses, disegani oleh para kolega-koleganya dan ditakuti oleh musuh-musuhnya, Stephen mudah saja kalau hanya untuk menghadapi orang seperti Maya. Mereka tidak ada apa-apanya. Tapi tetap saja dia harus berhati-hati. Karena walau bagaimanapun wanita itu adalah ibu kandung dari putranya sendiri. Setidaknya wanita itu telah memberinya harta yang paling berharga yakni seorang putra.


Walaupun Stephen dikenal pribadi yang dingin dan kejam oleh lawan bisnisnya, tetapi dalam kehidupan pribadinya dia juga memiliki hati dan perasaan.


Apalagi setelah bertemu dengan Sophia dan mengetahui jika dia memiliki seorang putra. Hati dan perasaannya semakin diasah.


Tak berapa lama kemudian Maya muncul dihadapan mereka. Meski wanita itulah dilanda ketakutan, dengan sangat terpaksa diberanikannya dirinya untuk menemui orang-orang itu. Dalam keadaan genting seperti ini ternyata didalam hatinya masih ingat untuk berdoa kepada Tuhannya.


Maya melihat ke arah Stephen. Tatapan pria itu seakan hendak menerkamnya dan menelannya bulat-bulat. Maya pun melangkah sambil menundukkan kepalanya. Maya duduk di sofa yang masih kosong. Berusaha tegar tapi tubuh gemetaran.


" Nyonya Maya....! suara Stephen tegas dan berkarakter. Mendengar suara itu Maya ketakutan dan rasanya ingin menguburkan dirinya di dalam kubur saja.

__ADS_1


__ADS_2